Showing posts with label Duty Life. Show all posts
Showing posts with label Duty Life. Show all posts

10/07/2017

What a mess!


Bulan juli tiba, itu artinya kerja ekstra untuk semua teman-teman keuangan di-instansi manapun mereka berada. Sinkronisasi Laporan Keuangan Semester I, sebagai bentuk pertanggung jawaban kegiatan selama bulan 01 s/d 06 2017. Lembur sehabis libur, sounds ZONK sekali yah. Haha. Saya sudah melewati 5 kali kegiatan sinkronisasi, didua kantor yang berbeda. Rasanya ya sama saja sih, bolak balik rekon, bikin laporan, lembur, semua demi apa? Ya demi penghasilan yang halalan dan toyyiban.. Negara sudah kasih gaji, sudah kasih makan dan tugas saya adalah mengabdi dan memberikan performa yang terbaik. Shedaap!

Untuk sinkronisasi semester I ditahun anggaran 2017 ini, saya kedatangan tamu istimewa dari Bone. Awalnya kita cuman tukar-tukar ilmu dan informasi via phone, tapi karena volume pekerjaan begitu besar sementara tenggat waktu yang diberikan amat sangat singkat, maka tercetuslah keinginannya untuk datang ke Pinrang dan kita kerjakan semua permintaan data dari pusat sama-sama. Perbaiki data sama-sama, bagaimanapun kedepannya saya dan dia adalah penanggung jawab level pelaksana atas segala kegiatan yang berkaitan dengan jabatan baru yang kami sama-sama emban dari kantor masing-masing, belum lama ini.



Dari yang awalnya cuman mau datang berkunjung, malah menginap, yang tadinya mau nginap hanya 1 malam, jadinya 3 malam 4 hari. Hoho. Super sekali teman saya ini, dia betul-betul mengerjakan tugasnya dengan baik dan tanpa menuntut orang lain perduli apa tidak. Kalau saya sendiri, tetap meminta bantuan dari Pak Bendahara dan Ibu Boss karena merasa bahwa pekerjaan ini bukan tunggal tanggung jawab saya sendiri, walaupun secara structural ada dibawah naungan pekerjaan saya. Tapi namanya kerja team, tidak ada orang yang mampu berdiri sendiri. Disinilah kita berproses, untuk berguna bagi orang lain dan bagaimana orang lain pun berguna buat kita. Lagi pula, honor juga sama-sama dinikmati kan yah, masa giliran kerja maunya lepas tangan. Kan, bangsat!

Saya punya mimpi, bahwa suatu hari nanti pandangan miring orang-orang tentang kinerja buruk PNS itu adalah salah besar. Minimal pandangan saya sendiri dulu-lah yang diluruskan, ternyata.. PNS itu tidak selamanya kerja kosong. Saya kadang lelah kakak, sama pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. But, I’m happy enough kok.

 Smile!😄

13/10/2016

Penyusunan pagu definitif Ta. 2017

Makassar, 10-12 Oktober 2016. Tiada hal yang lebih melelahkan dari yang beginian, tapi oleh mereka dibuat asik saja dengan caranya masing-masing, ada saja yang bisa menjadi bahan tertawaan bersama. Ini sudah menjadi resiko pekerjaan orang-orang keuangan disemua instansi pemerintahan, setiap tahunnya pada tiga periode penyusunan. Dan saya pribadi sudah melewati yang beginian dalam kurun dua tahun anggaran.

Dari meja ini, dari wajah-wajah lelah dan mumet seantero ruangan, saya (/kami) berharap bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara yang lebih baik lagi kedepannya.

12/09/2016

I'm ready for the shake of Allah


Akhirnya saya bisa merasakan lagi kebebasan, dari yang beberapa minggu belakangan ini benar-benar stuck dengan segala rutinitas dan pemikiran yang berkutat pada hal itu-itu saja. I loose a good topic to talk a lot with my officemates, to be honest i’m so bored with our conversation. Tapi dari itu semua, hal yang paling menyita fikiran saya adalah soal promosi dan tawaran-tawaran yang ikut besertanya.

Saat ini saya sedang berada dalam kondisi A, tidak begitu nyaman memang tapi sejauh ini saya masih bisa melaluinya, i challenge my self to pass it out. Lagi pula kemanapun saya, jadi apapun saya dan senyaman apapun saya pada satu tempat masalah akan selalu ada, mungkin seperti itulah hidup mendefinisikan dirinya. Lalu muncullah tawaran B, C. Saya jelas bingung, semua pilihan didepan mata saya memiliki alasannya masing-masing untuk saya ambil atau tidak.

Dilain sisi saya justru diserang rasa takut bertubi-tubi. Bahwa ketika saya menerima tawaran B saya harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru, sementara apa yang saya hadapi saat ini belum benar-benar bisa saya taklukkan. Bahwa bila saya menerima tawaran C saya akan menghianati janji saya pada sendiri, lagi pula terlalu cepat untuk kembali ketempat yang pernah banyak mengecewakan saya. Bahwa jika saya tetap pada pilihan A kemungkinan beberapa saat kedepan kondisinya akan jauh berbeda dari apa yang saya jalani selama ini, atau yang paling menakutkan adalah tidak diantara ketiganya. Saya seperti dihadapkan pada kotak yang terbungkus rapi, tanpa tahu kejutan seperti apa yang ada didalamnya dan saya hanya boleh memilih satu diantaranya.

Rasa takut yang menguasai diri saya jelas karena iman saya sedang merangkak-rangkak, saya seperti tidak lagi percaya bahwa Allah yang mengatur segala apa yang terjadi dalam hidup saya. Terlalu banyak berfikir tentang masa depan juga kadang tidak baik. Harusnya saya selalu ingat bagaimana saya menangis ketika saya kehilangan sesuatu yang saya anggap baik, dan lalu tak berapa lama ternyata saya mendapatkan ganti sesuatu yang jauh lebih baik? Saya malu pada diri sendiri, saya malu pada kawan saya yang tidak bosan-bosannya mendengar hal-hal picik yang keluar dari pemikiran-pemikiran saya. Hingga akhirnya saya lelah dengan diri saya sendiri, dengan pikiran sendiri. Lalu menyimpulkan, hmm.. i'm ready for the shake of Allah.

Dan lalu, takut saya entah hilang kemana, saya merasa siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika saya tak lagi menemukan kenyamanan yang sama, jika partner kerja saya tak lagi bisa membersamai saya, jika atasan saya ternyata harus pindah duluan, dan jika saya ternyata harus masuk pada lingkungan yang baru lagi.. saya siap, InsyaAllah.

Bagaimanapun, saya berterimakasih atas kotak-kotak istimewa itu, walau membingungkan pada akhirnya tetapi saya merasa kerja keras saya selama ini membuahkan hasil. Tapi, tanpa ada maksud untuk menyombongkan diri, untuk saat ini saya tidak ingin memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengukir budi dalam perjalanan karir saya.

Pinrang,   September 2016

27/02/2016

Janji patung Habibie - Ainun

Sekitar pertengahan tahun 2015 Pemerintah Kota Parepare menyelesaikan pembangunan Patung Habibie-Ainun yang terletak di Lapangan Andi Makkasau Parepare. Saat itu, lapangan benar-benar banjir kunjungan dari orang-orang dari segala penjuru, untuk melihat-lihat dan tentu saja mengabadikan gambar.

Suatu waktu saya pernah berjanji pada diri saya, bahwa saya hanya akan berfoto dengan latar belakang patung Habibie-Ainun saat saya akan meninggalkan kota ini untuk menuju kota dinas berikutnya. Lalu tibalah kunjungan sahabat saya ke kota Parepare, saya menemaninya menikmati malam di Kota ini, menyusuri sepanjang jalan andi makkasau, mengitari lapangan yang sedang ramai, lalu berhentilah kami di depan patung Habibie-Ainun. Jelas, tujuannya mengabadikan gambar didepan icon kota Parepare yang belum lama berdiri, siapa yang tidak kagum dan bangga dengan sosok pak Habibie dan Alm. ibu Ainun? dan saya pun ikut serta, sempat terlintas difikiran saya tentang janji saya sebelumnya, saya hanya tersenyum lalu mencoba mengabaikannya.

Lalu, tak berapa lama setelah kejadian itu SK mutasi saya turun. Sepertinya janji saya dan takdir saya bersatu padu melawan saya, saya harus segera meninggalkan kota Parepare. "apa-apaan ini?" gerutu saya dalam hati. Pahit. Tapi, dari kejadian ini saya belajar bahwa kita tidak semestinya meremehkan kata-kata sendiri, janji, harapan, doa apapun itu. Sekali dia terlontar dan mengangkasa, kita harus konsekuen dengan segala apa yang akan terjadi besertanya. 

Tidak ada pilihan lain, maka terimalah syaaam.. walau itu pedih diawalnya.

30/01/2016

Mutasi Pertama


Saya tidak pernah menyangka bahwa akhir dari lembur panjang terisolasi dalam rangka menyusun LK ķemarin akan menjadi sebegitu dramanya, mutasi depan mata.

Iya, hanya 1 tahun 3 bulan di Kota Parepare. Akhirnya saya mendapat kabar bahwa surat mutasi ke Kabupaten Pinrang sudah diterima atasan saya, mundur selangkah. Jauh, semakin jauh dari kota Makassar. Saya sedih, tentu saja. Saya kecewa, pasti. Lelah saya terkhianati. Maka saya menangis dan melampiaskan amarah saya. Lalu saya mengadu kepada Allah ta'ala. Kepada orang tua, kepada sahabat-sahabat dan kepada kepala kantor saya sendiri. Terlalu banyak kenapa dalam kepala saya.

But, life must go on. Saya berusaha mengambil hal positif. Mungkin, ada hikmah yang haŕus saya jemput sendiri ke Pinrang sana, sesuatu yang besar menanti saya, sesuatu yang akan mengejutkan saya luar biasa. Saya cukup merasa berharga dengan usaha Kepala kantor saya untuk mengajukan permohonan untuk revisi keputusan mutasi saya ke wilayah, atas marahnya beliau kepada orang-orang yang (barangkali) punya andil atas keputusan mutasi saya tanpa seizinnya.

Tidak ada yang salah dengan mutasi, pada beberapa kasus yang salah hanya "caranya". Seseorang merasa punya kuasa untuk mengatur jalan hidup orang lain, seolah dia lupa kalau ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Saya akan membuktikan kepada mereka, tanpa harus mendompleng nama orang tua saya bisa survive, bisa jadi orang dan seseorang. Tanpa harus menggeser saya bisa duduk. InsyaAllah. Orang kecil tidak selamanya kecil. Semua ada masanya, ada waktunya.

22/01/2016

(sok) sibuk awal tahun


Akhir tahun dan awal tahun adalah masa-masa paling hectic untuk mereka-mereka yang bekerja dibidang keuangan, baik itu diperusahaan swasta maupun pemerintahan. Akhir tahun merupakan periode penutupan sehingga segala transaksi yang tertinggal pada tahun berjalan harus segera diselesaikan, dan akan berlanjut di awal tahun sebagai dasar pembuatan laporan pertanggungjawaban kepada pihak lain berupa laporan keuangan dan laporan-laporan pendukungnya.

Dikantor saya sendiri, dari akhir tahun sampai hari ini masih sangat sibuk mengurus hal-hal yang terkait dengan penyelesaian pekerjaan tahun anggaran 2015 beserta pelaporannya di tahun 2016, apalagi ditambah dengan pendampingan dari tim pemeriksa internal dari kantor pusat (Inspektorat) dalam rangka persiapan menghadapi uji petik review BPK yang rencananya akan masuk awal tahun ini. Permintaan data dari kantor wilayah amat sangat banyak sebagai bahan sinkronisasi saat pendampingan nanti.

Maka welcome-lah, busy day.. welcome-lah, lembur..

Tapi, ada enaknya juga sih setidaknya tgl 25 s.d. tgl 31 januari ini saya dapat perdin ke kantor wilayah di Makassar dalam rangka pendampingan tersebut, alhamdulillah ya bisa pulang kerumah dan dalam waktu yang lama.

Maka nikmat Tuhan yang mana yang bisa saya dustakan?!

Beauty-tears, hoho.. :p

31/12/2015

Menjadi hebat


Ada kalanya menjadi anggota dalam tim kerja yang isinya orang-orang payah akan membuatmu kepayahan. Pun akan ada saatnya ke-muak-an mendominasi perasaan yang pelan-pelan mengikis rasa ikhlas, rasa ingin bekerja dan mengabdi dengan kesungguhan. Tapi tidak ada pilihan lain, pola seperti ini adalah lingkaran iblis yang entah kenapa tidak bisa dihilangkan justru di-budidayakan turun temurun. Menjadi berbeda menciptakan keterasingan. Orang hebat tidak akan jadi apa-apa, bukan siapa-siapa jika tidak "mampu" mendengarkan. Menjadi sabar mungkin satu-satunya jalan untuk bertahan. Maka jadilah sabar, mungkin dengan begitu kamu akan kuat hal yang justru jauh lebih hebat dari sekedar hebat.

When you feel tired of everythings around you, just remember why you started..

25/10/2015

Konsultasi teknis SKMPP 2015


Well seminggu lalu mendadak dapat undangan konsultasi teknis dari kantor pusat untuk para operator SKMPP, alhamdulillah.. walau sebenarnya saya sedikit malas perdin ke Jakarta, setidaknya adalah kesempatan bertemu teman-teman prajabatan se-nusantara, pasalnya dikebanyakan kantah yang menjadi operator adalah teman-teman angkatan saya, anak-anak baru yang dianggapnya lebih paham dengan soalan IT.
 

I'm so excited! soalnya ini adalah perjumpaan pertama setelah kami lepas diklat setahun lalu, mungkin karena itu pula setibanya di Jakarta bersama beberapa orang rombongan kanwil, saya selalu mencari kesempatan untuk "misah" dan berkumpul dengan mereka-mereka, saat breakfast, saat coffe break, bahkan waktu-waktu makan siang dan malam pun selalu disempatkan janjian bertemu. 4 hari 3 malam. Rasanya seperti diklat kembali, bedanya: disini tidak ada pressured

Sampai jumpa teman-teman, semoga jodoh bertemu kembali.

02/02/2015

1 Tahun

Baru ngeh ternyata sudah satu tahun saya resmi menjadi pegawai organik disatu instansi pelayan masyarakat. Masih adalah sedikit rasa takjub, pun masih banyak orang-orang yang belum juga bisa menerima kenyataan bahwa saya lulus tanpa membayar sepeserpun. Tapi itu bukan urusan saya untuk membuat mereka yakin. Dalam setahun ini saya melewati masa-masa yang luar biasa harus disyukuri.


Dimulai dari adegan menunggu kepastian pemanggilan setelah resmi nama saya sudah terpampang dalam list orang-orang lulus dan menunggu panggilan selanjutnya. Pengumuman bulan Desember 2013, pemberkasan bulan Januari 2014. Selebihnya kami disuruh menunggu tanpa tanda, beberapa teman sudah resign dari kantornya dan menjadi pengaguran dari awal tahu mereka lulus. Saya sendiri tetap bekerja. Membuat kesepakatan dengan Pak Supervisor bahwa saya bisa keluar secara mendadak jika sewaktu-waktu panggilan saya datang. Saya menunggu dalam sibuk. Tapi hati saya campur aduk, tak-terdefinisikan.

Minggu kedua Mei 2014, panggilan untuk ikut pembekalan di Jakarta dan diklat di Bogor datang juga. Drama hidup saya dimulai dari sini. Saya akan hidup dikota orang selama 3 bulan lamanya, tanpa penghasilan. Tidak ada pesangon dari kantor lama, sementara saya punya kewajiban rutin yang mengharuskan saya tetap berpenghasilan. Saya sempat berfikir untuk mundur saja, Bapak saya murka dibuatnya. Mamak memilih jalan negoisasi secara halus, menyentuh hati saya jauhhhh kedalam hingga menimbulkan percikan listrik yang pada akhirnya menyalakan bohlam dalam otak saya. Selama ini saya punya banyak teman baik yang benarbenar baik. Saya belajar untuk bercerita, menyimpan sebentar saja wajah riang saya. Sedikit berharap dapat solusi. Dan Allah itu tidak akan mencoba hambanya lebih dari takarannya.

Dan saya mulai mengikuti pendidikan. Satu minggu pertama saya beserta teman-teman lain mengikuti pembekalan di Rindam Jaya. Saya sebenar-benarnya sudah tidak sanggup dihari ke-3, tapi hanya dengan mendengarkan suara Bapak dan Mamak dirumah saya kembali berfikir. Mungkin ini sama sekali tidak membahagiakan saya, tapi saya bisa apa kalau hal itu justru membuat mereka bahagia sekaligus bangga. Fikiran yang sama sekali tidak membuat saya jadi lebih kuat, tapi membuat saya bertahan. Satu minggu, dan selesai.

Mei 2014 Prajabatan di Bogor. Ketidak senangan saya membuat saya menutup diri. Saya belajar setiap hari, layaknya sarden. Badan ada ditempat entah kepalanya dimana. Alhasil, saya tidak begitu nyaman dengan anak-anak sekelas, paling hanya beberapa orang. Selebihnya, saya malas untuk memulai. Hanya suara dibalik teleponlah yang menguatkan saya, selalu.

Juli 2014 DDP, di Bogor. Ini adalah diklat teknis tentang pengetahuan dasar setelah prajab. Kelas prajab dibongkar, dan bertemulah saya dengan orang-orang baru. Wow, entah energi dari mana sehingga dikelas ini saya kembali menemukan diri saya. Menemukan passion dan tujuan. Saya lebih terbuka, lebih ekspresif. Hasilnya? Saya punya beberapa teman yang belakangan jadi sahabat. Saya punya geng, sekaligus menjadi ketua geng. Setelah DDP selesai, kelas dibubarkan sementara waktu. Kita boleh pulang untuk berlebaran dengan keluarga dikota asal masing-masing. Saya pulang. Ketemu Bapak ketemu Mamak, masih dengan wajah bangga dan bahagia yang tak terjelaskan.

Agustus 2014, diklat keuangan di Bogor. Kembali ke Bogor dengan rasa rindu yang mulai mengumpul. Jadi ingat awal pertama ke Jakarta: saya sudah tanamkan dikepala untuk tidak mencari teman fokus belajar dan pulang bawa SK dan Ijazah. Tapi Allah tidak pernah merancang hidup saya berlalu biasa, selalu luar biasa diantara orangorang yang tak kalah luar biasanya.

Inipun drama, ketika kami yang sudah dekat dan akrab harus berpisah. Terkadang hidup itu sekejam ini yah, kita diketemukan untuk dipisahkan. Kembali ke kampung halaman masing-masing, dan segala kebersamaan itu pada akhirnya akan menjadi kenangan. Kemungkinan bertemu tanpa direncanakan 10%, bahkan ketika direncanakan sekalipun hanya ada di angka 50%. Oh Allah. Sakit sih, perih perih gimana gitu di hati. Tapi ini hidup. Jika kita tidak beranjak meninggalkan bisa jadi kita yang akan jauh tertinggal. Tidak semua bentuk cinta ditakdirkan selalu bersama.

September 2014. Waktunya bekerja nyata, setelah lama berbulanbulan disekolahkan oleh negara. Mengabdi. Saya dan teman-teman ternyata tidak langsung dioper ke satker masing-masing, kami harus “parkir” dikantor wilayah selama sebulan penuh. Oke, itu artinya kembali menyesuaikan lingkungan baru, orangorang baru dan ritme kerja baru. Selama sebulan, saya mendapatkan banyak hal. Entahlah, saya tidak berfikir akan jadi apa mereka pada akhirnya dihidup saya. Saya hanya mengikuti aliran sosialisasi ini saja, banyak belajar, banyak bertanya. Dan sayalah orang yang akan sangat rese’ saat penasaran dengan satu hal. Nanya gak abis abis.

Oktober 2014. Waktunya masuk satker masing-masing, diantar sama Bapak dan Mamak ke Parepare. kembali lagi menyesuaikan diri, orangorang baru, lingkungan baru dan bahasa baru tentunya. Disini saya belajar cepat, saya tidak butuh waktu lama untuk merasa aman dan nyaman. Punya genggongan, untuk makan bareng dan ketawa bareng. Sampai sekarang. Sometimes, saat saya merasa stuck! saya rindu untuk pulang, kalau bisa mau stay di kota kelahiran saja. Menikah dan beranak pinak disana. Karena sebesar apapun masalah itu, kalau sudah lihat wajah “keluarga” bawaannya adem. Cooling down.

Alhamdulillah.

01/12/2014

Apartemen B!


Mungkin kita sama-sama pernah dengar sebuah kutipan yang kurang lebih seperti ini:

Ketika segalanya berjalan tidak seperti yang kau inginkan, percayalah ada takdir yang bekerja-yang akan membawamu ke jalan yang lebih baik.
~herricahyadi

Kutipan tersebut adalah satu dari banyak kutipan yang mengajak kita untuk lebih memahami rencana Allah. Ya, kita selalu menganggap yang terbaik adalah apa yang kita inginkan sementara hanya Allah-lah yang tahu apa sebenarnya yang kita butuhkan, apa yang terbaik dan paling baik untuk kita. So classic!

Dan kutipan ini kembali lagi 'bermain' dalam kehidupan saya selama dipusdiklat. Tepatnya saat pembagian kamar, untuk saya tempati bersama dua kawan lainnya selama saya belajar dipusdiklat.

Rani Septalisa, Silta Emalia dan Syam. Begitu suara yang kemudian terdengar, akhirnya nama saya dipanggil juga. Segeralah saya membawa koper, ransel dan tentengan menuju sekretariat panitia untuk berkumpul dengan dua orang lainnya. Disana, kami kemudian diberi kunci dan diarahkan menuju kamar yang letaknya di gedung C, lantai 3. Wow! Saat-saat seperti ini, jangan pernah berharap untuk dibantu orang lain, semua orang repot dengan barangnya masing-masing, disini juga tidak ada porter jadi ya usahakan saja sendiri bagaimana bawaan kami masing-masing bisa sampai diatas dengan selamat. Haha. Sangat mengesankan, kami dan beberapa rombongan kamar lainnya antri ditangga menuju kamar, menyeret koper masing-masing. Saya memilih jalan dua kali, jadi kopernya dulu yang diseret keatas lalu turun lagi untuk mengambil barang lainnya. Fiuhhh, luar biasa menguras energi.

Sampainya dilantai 3, dikamar 301. Tepat didaun pintu terpampang nama-nama penghuni kamar, ya, 3 orang dan dari ketiga nama tersebut tidak ada nama kami. Dan setelah kami tanya kepanitia, ternyata memang benar kamar itu bukan untuk kami. Kamar kami dilantai 3 gedung sebelah, gedung B! gedung tambahan akibat kapasitas peserta yang melebihi kuota asrama. Itu artinya, saya, dua kawan kamar saya dan penghuni empat kamar lainnya harus pindah kegedung sebelah, tidak hanya kami tentunya, tapi semua barang-barang yang banyak dan beratnya minta ampun ini musti ikut dipindahkan juga. Dan, artinya lagi kami harus turun dari lantai 3 ke basement, lalu menyeberang ke gedung sebelah, lalu naik kelantai 3 lagi. Oke, sakitnyaitudisini #pegangbetis

Jangan pernah tanyakan bagaimana repotnya aktivitas kami pagi itu. Dengan seragam tentara lengkap, topi bundar dileher plus sepatu laras. Ada rasa ingin menggerutu, tapi sudahlah. Selain pindah memang kami tidak punya pilihan lain, kami turun dengan tertatih-tatih, beruntung saat dibasement ada beberapa peserta cowok yang ternyata tanpa dimintai tolong, berinisiatif untuk membantu kami, membawakan koper kami kelantai 3 gedung B.

Hop! kami tiba digedung B, gedung yang berisi 5 kamar darurat akibat over kuota. Melihat kondisi kamar-kamar di gedung B dimana beberapa jendela tidak ada kacanya, kondisi toiletnya yang masih onprogress, ditambah lagi letaknya yang seolah-olah terasing itu, membuat kami ngomel berjama'ah. Akh, kami bukan mengeluh tapi yah.. menuntut agar diperlakukan lebih layak. Dari 179peserta, hanya 15orang yang ada digedung ini. 164nya lagi ada digedung sebelah, menempati lantai 2, 3 dan 4. Fikiran kami sama, kenapa bukan 15peserta cowok saja yang dioper kegedung ini? kenapa harus kami, cewek-cewek? nanti kalau ada apa-apa bagaimana? begini, begitu, dan lain sebagainya. Haha.. kebiasaan manusia pada umumnya, menganggap orang lain lebih pantas untuk mendapatkan hal yang tidak menyenangkan. Hihi, pokoknya luculah kami waktu itu. Protes, protes dan protes.. tapi hanya protes kesesama kawan dikamar atau kamar sebelah. Coba protes kepanitia, kami bisa dapat hukuman mati! Haha.. #okeinilebay

Lantai 3 gedung B ini adalah gedung tua, dulunya adalah gudang kemudian dirombak menjadi kamar-kamar. Dindingnya saja dari asbes, jadi kalau kami rusuh dalam kamar otomatis terdengar dari kamar sebelah. Diluar kawasan yang disterilkan, terdapat satu ruangan yang digunakan sebagai ruang kelas. Dilantai duanya, ada dua kelas lagi, dan dilantai satunya adalah ruang tunggu dan sekretariat panitia. Suasana gedung ini ramai dipagi-sore hari, dan sepi dimalam hari.

Piknik di Apartemen #selfentertaining :p

Hampir dua bulan kami melewati hari dan malam di gedung ini. Kami menyebutnya Apartemen B! Dari yang awalnya ngomel gak ada juntrungannya, sampai ada rasa iri dengan anak-anak gedung sebelah lalu kemudian berubah merasakan nyaman karena kamar mandi kami jauh lebih banyak (2 kamar mandi + 4 mata shower), dekat dari kelas, dan yang paling penting adalah jauh dari gonjang-ganjing dunia persilatan. Iyalah, dipusdiklat kami hidup berdampingan dengan bergabagi macam karakter dan dengan motifnya masing-masing. Hidup kami tentram di apartemen ini, satu sama lain seolah tidak perduli dengan omongan/gossip yang ada dipusdiklat. 

Pada setiap kesempatan ngobrol kami hanya membicarakan diri kami, aturan yang diberlakukan diasrama dan menertawakan diri kami masing-masing. Jumlah kami sedikit, jadi bisa lebih kompak. Aturannya memang sekamar 3 orang, tapi diluar jam tidur semua anak bisa jadi ngumpul dikamar B.301 untuk sesi CURHAT karena kamar kami yang paling heboh dan berantakan dari kamar-kamar lainnya. Kebersamaan yang naik kepermukaan bukan dengan teman kamar masing-masing, tapi satu kesatuan apartemen B! anak-anak terbuang yang bahagia. Sedaaap :)



Photosession, Photograper by Jimbo

Banyak kenangan manis yang kami lewati digedung tua ini, apalagi kami melewati Ramadhan bersama. Kami buka puasa bersama diluar jadwal ciecie tapinya.., taraweh berjamaah walaupun pada akhirnya ricuh gegara gak ada yang mao jadi Imam selain Kekey, pun saat sahur tiba kami hanya mengambil nasi dari dapur kemudian makan bareng di asrama seadanya, kadang hanya dengan lauk abon dan boncabe. Hehe, luar biasaaaaa!

Di gedung B kami punya Pak Asep, Bapak serbabisa.. kepada Pak Aseplah anak-anak selalu bermanja-manja minta dibelikan segala macam mulai dari makanan sampai perlengkapan pribadi disaat-saat kami tidak bisa keluar dari asrama, cucian kami bersih dan wangi ditangan pak Asep, asrama kinclong disulap olehnya disetiap pagi hari walau malamnya akan diberantakin lagi oleh kami.

Kamar anak gadis, haha... B301!

Hal yang paling berkesan mungkin adalah ketika kami satu gedung, 15orang terlambat pada satu apel malam, kami dideret dalam satu barisan khusus dan setelah apel malam selesai kami diadili oleh panitia. Panitia hanya bisa geleng-geleng, kami sedikit takut tapi lebih banyak ketawa. Menertawakan kekonyolan kami, yah.. kami memang terkenal sebagai anak-anak yang sering lari-larian menjelang apel pagi dan malam hari, nyaris terlambat. Tapi kali ini, benar-benar terlambatnya fatal. Gimana enggak, setiap kali dandan menjelang apel kami menghabiskan banyak waktu lama didepan cermin yang digunakan bersama, sambil bercanda, dengar musik, nyanyi dan joget-joget gak jelas. Sekedar menghibur dirisendiri dan kawan-kawan segedung. Apel10menit, dandan 30 menit. Busettt gak tuh?! Hihi...

Akh, memori memori.


Postingan ini terkhusus untuk kawankawan se-Apartemen B! SILTA, RANI, DADA, EPIN, YESSIE, ANNUR, KEKEY, WILA, SUCI, YUNI, APREL, TYAS, ANIN dan MALA. Sakses ya kalian... :))

I'll always rember you, Beb! #cipokinsatusatu #mmmuuachhh!

23/10/2014

2W, di Parepare


Duapuluh satu oktober duaribu empat belas, genap dua minggu sudah saya dinas di kota Parepare. Rasanya itu, masih selalu ingin pulang. Padahal selepas dinas dihari Jum'at, selama dua minggu berturut-turut saya pulang ke Makassar pulang ke rumah dan kembali lagi ke Parepare di hari minggu sorenya. Capek sih, ngongkos juga, tapi suasana rumah itu tak bisa digantikan dengan apapun juga. Sementara jiwa saya nyamannya dengan pola pergi-pulang-pergi seperti itu.

Dua minggu ini pun kegiatan saya belum begitu beragam, cenderung monoton dan membosankan. Kerjaan dikantor pun belum begitu banyak, belum punya tanggungjawab. Tapi saya berkomitmen, setidak-sibuk apapun, saya tidak akan datang kantor terlambat, saya tidak akan mencuri-curi waktu. Datang tepat pukul delapan pagi teng! dan pulang setelah pukul empat sore. Hihi.. entah saya merasa harus menuntut diri saya jauh lebih banyak ketimbang waktu bekerja di perusahaan swasta kemarin.

Selama di Parepare;

  1. Saya belajar dengan cara memaksakan diri untuk bisa tidur sendirian, hasilnya.. BERHASIL! saya mensugesti diri dengan kalimat "sleep alone or you DIE!" haha, tidak ada pilihan lain memang.
  2. Pola tidur saya teratur dengan sendirinya, pukul sepuluh malam saya sudah menguap tak karuan (((ngantuk))) dan akan selalu terbangun di pukul lima subuh. Selalu begitu, dan begitu selalu.
  3. Hobby baru saya adalah beres-beres kamar, haha.. everybody's change dude!
  4. Berat badan saya turun, dalam dua minggu kena 4 kilo kurangnya. So waoww...
  5. Selama hidup "sendiri" seperti ini, saya jauh merasa lebih dekat dengan Allah. Terimakasih untuk jarak dan kesempatan untuk berjarak dengan siapapun orang-orang yang selalu ada untuk saya. 
  6. Saya mulai peduli dengan setiap rupiah yang keluar dari kantong/dompet saya, kalau yang dulunya asal jajan asal beli barang lucu, dan sebagainya.. sekarang musti dipikirin berkali-kali, bahkan untuk barang yang saya butuhkan sekalipun, kalau sifatnya tidak urgent saya tidak akan beli. Belajar mengelola uang, membelanjakannya lebih bijak.
  7. Saya punya notes khusus yang berisikan catatan-catatan hal-hal yang saya suka. Yang menggembirakan saya, yang membuat saya selalu berucap syukur.
  8. Saya berfikir (((belum bertindak))) untuk membeli gitar kayu, terus belajar gitaran. Hehe.. entahlah, semakin kesini saya semakin excited untuk bisa main gitar, mupeng to the max! apalagi sekarang saya sendiri kan yah, jadi harus cari cara untuk menghibur diri dengan melakukan hal-hal yang disenangi. Mau belajar nanam juga, mau kristikan lagi, hmm... banyak maunya saya nih :p

Sementara seperti ini saja dulu, pastinya akan ada banyak cerita tentang saya di kota kecil ini, tentang teman-teman, sahabat dan orang-orang spesial yang mungkin akan saya temukan disini. "Semoga betah syaaaammm..."

*smile!

    06/09/2014

    Yang tertinggal dipusdiklat Bogor


    : Kenangan

    Terimakasih untuk apapun yang telah kita lewati sama-sama, kalian ISTIMEWA gaesss.. memberi warna dihitam-putihnya hidup di pusdiklat. Kalian dah kaya' Tsunami, yang tetiba datang, hanya sebentar, tapi efeknya dahsyat kemana-mana. Memorable. Kita Ciecieee, kita patriot agraria unyu-unyu :p

    For sure.. someday, we'll miss this momment gaes
    Keep fight, strong and happy..

    InsyaAllah, masih ada JODOH antara kita.
    Sampai jumpa dicuti-cuti selanjutnya, NO PHP, NO TIPU-TIPU :))


    Backsound: Bird song, Letto.

    31/08/2014

    Diklat jabfung, H +7


    Well, besok pagi ujian pengadaan barang jasa. Sementara teman-teman yang lain pada sibuk belajar, saya justru melarikan diri kedunia maya ini. Sumfekkkkkk cuy! Ibarat kata sebuah kotak yang diisi barang-barang secara random dan terus-terusan, alhasil jadinya penuh tak-beraturan, ya bingunglah.

    Secara keseluruhan, dari rangkaian 4 diklat yang saya ikuti selama kurang lebih tiga bulan lamanya, otak saya hanya bisa menyerap materi tidak sampai 50%. Parah! Haha, tapi dari sini saya semakin memahami metoda pembelajaran yang paling cocok untuk saya. Praktik. Kalau dengar materi rasanya itu masuk telinga kiri, keluar telinga kiri pula. Susah nembus, jadinya mental. Kemudian merasa menjadi peserta paling bego sepusdiklat. Fiuh!

    Well, dari semalam pusdik heboh. Setelah penutupan disore harinya, farewell party dimalam harinya, disambung dengan tangan yang saling berjabat, pelukan-pelukan erat pertanda kita “hanya sampai disini”. Bikin sepiclesss, bikin mewek juga.. aih.. aih.. emosional sekaleeeh. Anak-anak formasi PGT dan HTPT sudah pulang duluan, malam ini pastinya ada yang sudah lehaleha dirumah, balas dendam atas tidur yang kurang selama di pusdiklat, ada yang mungkin masih diperjalanan berharap dengan segera sampai dirumah. Sementara kami, anak perencana masih sibuk berkutat dengan materi ujian.

    Tapi saya tidak mau berpusing-pusing dengan bahan ujian. Saya mau mereview sepak terjang saya dalam hal bergaul/menjalin hubungan pertemanan di pusdiklat ini. Yang awalnya saya banyak menutup diri, hingga membuat hari-hari saya dipusdik sangat-sangat membosankan, stuck! Saya ternyata butuh teman. Kemudian saya memutuskan membuka diri, bayangan ketakutan tentang “sakitnya” perpisahan saya hapuskan. Saya menemukan banyak teman, teman dan teman. Saya nyaman, saya tidak sendiri dan saya tidak boleh sendiri. Dan ketika kami tertawa dengan begitu bahagianya, dan adanya rasa “kehilangan” saat sudah waktunya berpisah, saya semakin sadar bahwa kami disini saling menemukan dengan cara kami masing-masing.

    Ditempat yang luar biasa ini, saya memahami bahwa dalam setiap pertemuan akan selalu ada akhir, pada setiap akhir adalah permulaan untuk sesuatu yang jauh lebih baik. Ini ilmu dasarnya, dan selanjutnya akan terimplementasi dalam hidup kita secara berulang dan terusmenerus, dalam level kesukaran yang berbeda-beda. AMAT SANGAT KLASIK cuy!

    Saya melewati 3 bulan yang istimewa. Tentang perpisahan, akh.. tidak usah banyak diambil pusing. Sakit memang, bikin dada sesak. Tapi ketika kita membayangkan indah-indah saat bersama, dan percaya hidup kita akan selalu dinaungi oleh kebaikan-kebaikan yang dititipkan Allah lewat orang-orang berhati nyaman, sakitnya itu hilang, berganti dengan rasa Syukur.

    Terimakasih Allah, untuk hidup yang atas Izin-Mu, bisa terlalui dengan amat sangat luarbiasa.

    Besok ujian, besoknya pulang kampung.
    asekkkasekkkjosss!

    28/08/2014

    Diklat Jabfung, H +4

    Menuju tidur, dengan kondisi fisik yang amat sangat lelah. Cuapeeek cuy!

    Well, saat ini saya sedang menjalani dua diklat sekaligus, dipagi sampai sore hari saya mengikuti diklat fungsional anggaran kemudian malam harinya dilanjut dengan diklat pengadaan barang dan jasa. Kegiatan belajar mengajar dimulai dari pukul 7:30AM sampai 10:00PM selama 8-hari, termasuk hari minggu nanti.

    Rasanya mengikuti diklat yang kejar tayang ini adalah, mumettt dan lapar. Kalo mumet pastilah ya, karena berkutat dengan istilah-istilah baru terkait dengan keuangan pemerintah, sistem, prosedur dan lain sebagainya terkait bidang pekerjaan kami nantinya. Dan kenapa lapar? Entahlah, bukan cuman saya sih teman teman lain pun merasa sama, gampang melapar. Kalau sudah dihadapan meja makan bawaannya kalap, sekali kedip tau-tau nasi dan lauk pauk ludesss. Paling mengandalkan rejeki anak soleh, mengumpulkan sisa-sisa makanan dari meja satu kemeja lainnya.. ekstrimnya kadang musti ngambil makanan dari meja panitia. Ini langka! secara di-diklat-diklat sebelumnya, selalu saja makanan sisa jauh lebih banyak dari makanan yang dimakan peserta.

    Sudah hari keempat, sudah mulai terbiasa dengan ritmenya. Diklat kali ini agak susah bergaul dengan anak-anak dari formasi lain. Yang biasanya lepas apel malam masih bisa kongkow dikantin ini malah masih harus mengikuti kelas kejar tayang. Bubar kelas, energi pun ikut bubaran.

    Angkatan VII, Diklat Fungsional PP&PA 2014

    Semangat! tinggal empat hari lagi...

    04/08/2014

    Hidup di Rindam jaya (6D)

    Dua bulan empat hari saya berada jauh dari rumah, terhitung mulai tanggal 18 Mei - 22 Juli 2014. Untuk sementara saya hidup di dua kota berisik, Jakarta dan Bogor. Keberadaan saya di dua kota tersebut adalah dalam rangka tugas belajar dari negara bersama 178 orang lainnya yang berasal dari sabang sampai merauke. Saya belum cerita disini soalan saya yang diterima menjadi salah satu abdi negara di salah satu lembaga negara non kementrian per tanggal 24 Desember 2013 lalu. Mungkin bagi beberapa orang yang mengenal saya, utamanya teman semasa SMA dan KULIAH takjub mendengar keputusan saya, ya dulu saya ada dalam barisan menolak menjadi PNS garis keras, tapi yah... semesta ini cair, hidup mengalir seperti air. Pada satu kesempatan, saya akhirnya memutuskan untuk resign, niat saya jelas ubah haluan.. menjadi PNS. Harapan saya tidak muluk-muluk, saya ingin bekerja-berpenghasilan-berkeluarga.

    Man proposes, GOD disposes.
    Semoga Allah menjaga saya..

    Hidup mengajarkan saya untuk tidak lagi mudah mempersilahkan orang-orang baru masuk dalam kehidupan saya. Untuk seorang yang posesif plus melankolik seperti saya, perpisahan itu sakit bung! Keberadaan kami disini jelas, ada untuk bersama kemudian akan dikirim kepenempatan masing-masing, dan kemudian hanya takdir yang bisa mempertemukan kami lagi.. Maka dari itu, sejak awal saya menginjakkan kaki di Markas besar Rindam Jaya Jakarta Timur, saya bertekad bahwa saya disini hanya untuk melaksanakan tahapan hidup saya demi menjadi bagian dari pelayan masyarakat. Belajar, bergaul seperlunya saja dan hati tidak boleh ikut-ikutan.

    Kehidupan di Rindam itu amat sangat keras, kami dilatih dan dididik layaknya calon tentara yang memang dipersiapkan untuk perang, untuk dibunuh.. akh, diawal-awal saya benar-benar tidak bisa menyesuaikan diri. Waktu sosialisasi kami pun sedikit. Saya hanya berbicara kepada orang yang memulai duluan, tidak ada sama sekali niatan saya untuk bergaul, dipikiran saya hanyalah saya harus bisa bertahan hidup ditempat ini. Ditempat yang mana saya hanya bisa menjadi diri saya sendiri hanya dalam hitungan empat jam setiap harinya, pukul 11:00PM-03:00AM. Sisanya saya menjadi robot dengan seragam hijau, sepatu laras yang rasanya kadang lebih berat dari beban hidup saya, kopel rim dan topi yang selalu harus ada diatas kepala. Ruang makan dan kamar mandi yang... ah, sudahlah. Saya mungkin akan selalu mengingat setiap moment selama di Rindam Jaya, tapi tidak akan merindukannya.

    Bapak saya tentara. Enam hari saya melihat dengan mata kelapa sendiri bagaimana tentara-tentara itu dilatih disini, membuat saya berfikir: kelak, anak saya tidak usah jadi tentara. Kasian. Tapi yah, setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing.. saya yakin, mereka para tentara-tentara baru itu pasti sudah siap jiwa dan raga menerima perlakuan yang bagi saya tidak masuk akal ini, tugas kenegaraan yang mereka emban nantinya menuntut fisik dan mental baja. Mereka memang hanya bisa diam dan menerima semua perintah dan sanksi dari para pelatih, melanggar perintah/aturan pelatih adalah dosa besar disini. Setiap dinding ditoilet dan barak "berbicara" banyak, mereka hanya bisa menulis dan menumpahkan semua perasaannya lewat media itu; kangen keluarga, suami/istri, anak, pacar, kehidupan dan kebebasan. Istimewanya adalah, dinding-dinding tersebut adalah hiburan tersendiri bagi saya, rasanya seperti membaca kehidupan para sosialita di akun sosial media. Mungkin lewat tulisan-tulisan ditoilet itu mereka hanya ingin memberi sinyal kepada orang-orang baru yang "terpaksa" harus melewati hari-hari dirindam, bahwa rasanya ya memang seperti itu. PAHIT tapi harus ditelan juga. You're not alone.

    Kami disini anak didik titipan instansi kami, latihan kami jauh berkali-kali lebih ringan dari mereka, kami masih bisa pegang hape dan menelepon orang-orang yang bisa menguatkan mental kami. Lewat telepon, setiap malam Mamak menemani saya. Sesekali Bapak ikut bercerita bahwa memang seperti itulah sukaduka menjadi tentara. Ah, sepenglihatan saya tidak ada sukanya pak.. hanya memang, situasi seperti ini hanya bisa kita lewati dengan mudah ketika kita berdamai dengan "kenyataan", saya mulai bisa menikmati alur hidup dirindam setelah hari ketiga, tepatnya setelah baju seragam ijo kami yang dipakai sejak dari hari senin sampai hari rabu malam dari pukul 03:00AM-10:00PM, dengan aktivitas yang luarbiasa mengalirkan keringat, mandi debu, selonjoran ditanah/lantai pada setiap sudut rindam jaya, setiap dalam kondisi baris ataupun saat kerumun dengan teman kelompok aroma kami bercampur dan tak terdefinisikan lagi apa jenis aroma campuran yang kami hasilkan, diperintahkan untuk dicuci.. melepaskan baju ijo itu rasanya seperti melepaskan 75% beban hidup saya dirindam, i'm aliveeee... *fiuhhh!

    Saya belajar banyak di Rindam Jaya, banyak banget.. 
    1. Belajar hidup dalam kesusahan dan ya, kata mereka kebersamaan dalam kesusahan.. apalah, intinya dirindam inilah makan nasi putih didorong pake aer putih, makan bukan karena lapar tapi karena badan butuh asupan energi, mandi superduper cepat karena waktu yang dikasih juga cuman sebentar, yang paling bikin setres toiletnya itu. Jauh dari kata sehat, tapi yang penting bisa boker sih sudah cukup. Ini rindam cuy, bukan hotel..
    2. Belajar pakai sepatu laras yang luar biasa ribetnya itu hanya dalam waktu tak kurang dari satu menit.
    3. Belajar merapikan tempat tidur, bersih dan kencang sampai kalo ada koin yang jatoh ke kasur koinnya mental saking kencengnya. Ini kalo sepreinya gak kenceng, terus masih ada barang-barang selain bantal disekitaran tempat tidur, gantungan handuk atau baju/kain, kita dapat ekstra push-up dan sit-up dibawah sinar matahari. Ada satu orang yang salah, semualah kena.
    4. Ini belajar apa bukan, entahlah. Pokoknya hanya dirindam inilah saya bisa tidur diruang kelas, tidur dalam barisan, dan paling sempurna tidur saat apel malam. Luar biasa bukan?! Skejul kami dirindam padat luarbiasa, dan sangat menguras energi sementara asupan makanan dan waktu istirahat tidak mengimbangi, wajarlah kami semua capek. Tidur itu manusiawi. Dan kami manusia, bukan robot..
    5. Pelajaran pamungkas dirindam jaya adalah disiplin dan kebersamaan. Semua materi yang sifatnya sangat teoritis itu, plus pelajaran baris-berbaris itu semua cuman kedok.. tidak akan ada pelajaran yang diperoleh jika fisik, otak dan mental tidak dalam kondisi yang "enak". 
    6. Tentara jago goyang dan nyani dangdutan, satu lagi.. OTAK MEREKA NGERESSS. Setres! Saya belajar senam komando ya sejenislah dengan goyang poco-poco, backsoundnya pakai lagu Rita sugiarto yang judulnya dua kursi, lagu dangdut yang belakangan sangat menghibur. Saya suka :))
    7. Saat apel, secara acak kami akan dipanggil untuk memimpin membacakan PANCASILA. Dan ternyata banyak diantara kami yang terbata-bata melafalkan pancasila, entah karena grogi, tidak fokus atau memang tidak hafal. Dari rindam inilah kemudian muncul gerombolan yang menamakan diri PKI, anggotanya mereka-mereka yang tidak bisa hafalkan pancasila. Buseeeet! Pelajarannya adalah, hmm.. kelompok akan terbentuk bukan hanya jika ada tujuan bersama, tapi juga latar belakang yang sama yang akhirnya juga melahirkan tujuan yang sama. Mungkin mereka mau ngapalin pancasila sama-sama. Entahlah.
    8. Terkadang, kita memang harus menjalani tahapan hidup yang bukan mau kita, tapi sadar/tidak sadar itu adalah pilihan kita. Ya itulah hidup, kalau kata teman saya: Tidak semua tentang kamu. 

    Pasukan Pleton 3!

    Itulah, saya dan semua hal yang saya alami di rindam jaya.. saya melewati enam hari diRindam jaya 19-24 Mei 2014 bersama teman-teman di pleton 3 yang entah siapa mereka, benar-benar kami satu sama lain tidak lagi sempat berkenalan pun kami hanya berfoto ria saat setelah outbond dan penutupan. Saat kulit sudah nyaris sama dengan warna tanah. Tidak ada sosialisasi yang berarti. Selain itu, saya juga menjadi bagian dari teman-teman yang tidur dibarak 1 berjumlah 46 orang perempuan yang berasal dari berbagai daerah. Senang bisa bersama kalian semua, walau saya tak sempat bicara dengan kalian satu persatu tapi setidaknya kita masih bisa menertawakan kesulitan yang kita lalui sama-sama dalam satu nada, dan yang paling penting kita bisa keluar dan dinyatakan sebagai Alumni Rindam Jaya dengan kondisi masih hidup, sehat jiwa sehat raga, ya.. walau kita semua kena penyakit yang sama: BIANG KERINGAT. 

    Tanggal 25 Mei 2014, dari Rindam Jaya kami diangkut dengan 4 unit mobil tentara bak besar ke Bogor untuk memasuki tahapan selanjutnya..

    RINDAM JAYAAAAAA!!!

    08/07/2014

    Prajab angkatan XLV, yess goo!


    Aci, Armawadin, Azizul, Andi, Ardian
     
     
     
     
     

    01/11/2013

    How's your day?

    How's your day?

    Kalimat yang secara bebas bisa diartikan "jadi, gimana hari ini?", kalimat yang tadinya terdengar biasa untuk kamu yang tak begitu suka bercerita tapi lama-lama menjadi sesuatu sekali saat kamu merindukan pertanyaan itu terdengar ditelingamu. Saat kamu sepertinya ingin menceritakan banyak hal. Atau saat kamu sadar bahwasanya kalimat itu, hanya akan dilontarkan oleh seseorang yang dengan semangat juang '45 menunjukkan rasa perdulinya terhadapmu. Tapi kamu batu. Haha..

    How's your day Syam?

    Balada closing bulanan. Bibir mana bibir.. haha ;D

    Seperti biasa. Dan akan selalu seperti biasanya, dikantor, dipenghujung bulan, dunia terasa begitu sesak. Semua orang tiba-tiba menuntut untuk diprioritaskan, dan ya.. termasuk diri-saya-sendiri. Saya sudah melalui empat puluh dua penghujung bulan ditempat ini, saya melaluinya mulai dengan gaya kasak-kusuk, sangat bersemangat, tak perduli, sempat juga punya perasaan desperado (baca: hilang harapan), dan hamdalah sekarang saya bisa melaluinya dengan lebih elegan. Walau sedikit terpancing emosi gara-gara lisboll yang entah kenapa hari ini operrr sensitip, ndak bisa diajak bicara, suara saya meninggi, dan dia mewek #doh! Tapi semua tetap bisa terselesaikan dengan e-le-gan-lah yaaa.. Customer puas, boss senang, hati riang, besok gajian. Pulang-pulang makan mie titi dulu, sampai rumah makan rujak lagi. Alhasil program diet berantakan, tapi tetap berucap Alhamdulillahhhh.. nikmat ini!

    So, how's your day?

    ~sym
    posted from Bloggeroid

    29/09/2012

    Jum'at be-ri-sik!!!

    Hari ini dikantor sangat-sangat rusuh. Ribut. Berisik. Panas. Kalau kata Fuad butuh disiram sirup ditambah es batu, baru klop. Preeet!

    Seperti hari jumat setiap minggunya. Hari dimana dari kantor pusat menetapkannya sebagai hari pencopotan. Jadi, setiap pesanan unit (SPK) yang telah mendapatkan matchingan unit akan segera dicopot atau ditarik kembali jika belum segera dilapor jual pada bulan berjalan. Biasanya tertahan karena ada berkas yang belum lengkaplah, dananya belum cukuplah, dan sebagainya dan sebagainya. Yah namanya marketing kan selalu memudah-mudahkan segala urusan untuk segera mungkin pesanan mereka mendapatkan matchingan unit, itu mengapa dihari jumat ruang admin bisa serta merta berubah wujud menjadi pasar. Telpon tak henti berdering. Manusia tak henti-hentinya bicara. Tawar menawar. Bujuk membujuk. Semua terlalu ingin diperhatikan. Ada yang mulai emosi pula. Dan jumat yang sangat ringkas berlalu, sedikit melamban #slowmotion: oh GOD i need space! Silent space! I wanna breath... huft!

    Setiap hari jumat, mulai pagi hari sampai sebelum shalat jumat akan selalu begitu. Apalagi sekarang akhir bulan wajarlah, ada target yang memburu dan boss yang menggonggong. Salah salah dapat SP1, nasib jadi marketing ya begitu. Tapi saya admin. Jadi, siapa peduli. Hanya saja mereka terlalu mengganggu saya hari ini, Be-ri-sik !!!

    Belum lagi jejak rusuh pagi tadi hilang, adalagi yang ribut-ribut. Ini bertengkar sih namanya, soalnya bukan lagi urusan pekerjaan. Dan nadanya sudah beda, sampai-sampai semua orang dari segala penjuru datang berkerumun. Adu mulut antara seorang marketing (cewek) dan sekuriti gara-gara salah navigasi waktu marketing itu mau parkir. Alhasil mobil doi lecet dan hatinya juga ikut lecet. Ributnya parah, karena sama-sama merasa butuh didengarkan. Haddeh! Kurang panas apalagi cobaaa. Pffffhhh!

    Kondisi seperti ini benar-benar bisa mengganggu konsentrasi saya. Errr. Serasa pengen dapat cuti seminggu, istirahat total sekalian vacation begitu. Hahaha. Sekarang dikantor suasanyanya sering begini, mungkin efek dari target dan aturan yang semakin hari semakin mencekik. Kalau saya sendiri belakangan banyakan nyanyi, ketawa sama minum air putih, biar saja disangka gila yang penting tidak sinting. Masih ada juga kok teman-teman admin yang otaknya tidak gampang memanas, ya selama masih bisa ditertawakan kenapa juga harus dicemberuti. Cuapeeek!!! 


    18:35. Fuad. Sule. Mie titi. Teh tawar. Teh botol. Gossip; menjadi penutup hari jumat yang be-ri-sik! Ini, akhir kata salam damai selalu
    #muaaaaaach

    05/07/2010

    Its Not About Job But About Responsibility

    Kira-kira hampir 3 tahun belakangan ini saya aktif bergelut di dunia kerja, dunia yang dinilai oleh banyak orang sangat kejam dan dari diri kita sangat2lah dituntut jiwa Profesionalisme dalam bekerja. Bagaimana pendapat saya? Waahhh… BERAT, namanya juga bekerja dalam satu tim yang terdiri dari banyak orang dan karakter, banyak keinginan2 yang potensi saling berbenturannya besar, banyak ego2 pribadi, tapi tak dipungkiri banyak pula pelajaran yang bisa di dapatkan dari dunia kerja itu sendiri baik itu dari pengalaman kita pribadi maupun orang lain.

    Ada yang pernah mengatakan pada saya, “kalau di dunia kerja jangan cari sahabat” ada juga yang bilang “jangan terlalu libatkan hati dalam hubungan dengan sesama rekan kerja”, hmm… kalau dipikir2 bisakah saya nyaman berada di tempat dengan kondisi sedemikian rupa? Se-profesionalis apapun visi saya dalam bekerja tetap saya butuh ruang2 untuk memuaskan dimensi kejiwaan saya, toh terkadang saya butuh untuk dimengerti bukankah “mengerti” itu lebih banyak melibatkan rasa dari logika?!

    Untuk pekerjaan baru saya kurang lebih 3bulan terakhir ini, so far saya merasa nyaman2 saja, sekali dua kali dihampiri rasa jenuh, capek dan ingin mengakhiri semuanya saja. Tapi tidak lama, seiring waktu saya menemukan seni bekerja sebagai seorang staff biasa yang masih bingung menentukan warna dan karakter, saya mulai menikmati satu persatu masalah2 yang datang, komplain2; teriakan2 kecil; tumbukan ego; pembunuhan karakter; deadline kerja baik itu dari customer, rekan kerja, atasan dan kantor pusat. Semuanya itu yang perlahan2 jadi pemicu saya untuk bekerja lebih baik lagi, yah mungkin terdengar klise dan klasik tapi itulah faktanya tanpa itu semua saya rasa menjadi staff biasa akan terasa semakin biasa saja. Datang, duduk, diambekerja, pacaran sama komputer, so so OrdinaryJOB mameeen!!!

    Yang harus saya lakukan kedepannya adalah menyelesaikan dan melaksanakan segala apa yang di percayakan perusahaan pada saya, ikuti arus tapi jangan sampai terbawa arus (mengutip kata Kak Ilo/Sdm Of HK), masih banyak hal yang harus saya pelajari agar tak melulu menjadi orang yang biasa saja. Saya ingin menjadi sosok luar biasa tapi bukan sebagai ambisi karena yang paling utama adalah belajar untuk ikhlas, Because its not about Job but about Responsibility. Saya percaya saya bergerak dibawah kekuatan besar, yang InsyaAllah membawa saya menjadi makhluk yang lebih baik. Amin ya Allah.

    27/04/2010

    Saya dan Dunia Kerja

    Hampir dua bulan saya bekerja di tempat yang baru, dan makin kesini saya makin banyak sadar tentang kelemahan2 saya dalam bekerja…

    Pertama tentang ketelitian, saya baru tahu kalau saya ini KUTIL alias kurang teliti. Yah, mungkin karena dulu itu saya hanya mengerjakan satu jenis pekerjaan saja, yang saya tatapi terus menerus sepanjang hari. Tak perlu bagi konsentrasi. Tapi sekarang beda, saya mengerjakan banyak jenis pekerjaan, belum saja selesai satu hal saya harus meninggalkannya untuk mengerjakan hal lain yang sifatnya lebih urgent, atau meninggalkan semua jika harus berhubungan dengan customer karena customer adalah BOSSnya si BOSS, alhasil terjadilah minus2 atau kadang2 saya melakukan pekerjaan double. Saya pun dibuat bingung sendiri, seperti ini yah yang namanya bagi fokus? Susahhh!!! Dan hampir dua bulan ini saya benar2 masih dalam tahap menyesuaikan diri.

    Kedua, hmmm… kalau ini sih masih masalah klasik dalam hidup saya. PELUPA, hahaha… tapi tak akutlah, saya hanya tak bisa mengingat secara detail terhadap sesuatu permasalah tertentu. Untuk hal ini saya bisalah menyiasatinya, saya punya buku agenda khusus yang jadi notes harian saya. Semua pekerjaan yang akan saya lakukan, yang telah saya lakukan dan pesan2 orang lain ada dalam buku itu. Itu sangat membantu saya untuk menyelesaikan pekerjaan2 saya dengan baik.

    Selebihnya, ada satu hal yang sangat saya tidak sukai adalah disalahkan untuk sesuaatu kondisi dimana saya telah berusaha mengendalikannya. Akkhh!!! Saya hanya manusia biasa yang punya titik batas kemampuan dan sangat membutuhkan sedikit saja pengertian.

    Yah finally cuman bisa bilang, semoga saya dipermudah untuk ikhlas dan amanah dalam menjalankan pekerjaan saya ini. Amin ya Allah.

    Happy sundayyyy all!
    Powered by Blogger.
    emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.