Showing posts with label Daily Life. Show all posts
Showing posts with label Daily Life. Show all posts

01/01/2020

HELLO 2020


Hai,
Senyum dulu.

Hari pertama tahun 2020. Alhamdulillah, wa syukurillah Allah masih kasih kesempatan untuk tetap bisa merasakan nikmat-Nya.


Well, seharian tadi niatnya beres-beres donk ya, apa apa diatur lagi, niatnya sih pen bongkar kamar, re-putting sekaligus mensortir barang-barang yang sekiranya sudah tidak layak pakai, atau yang sudah out of taste. Hehe. Saya kepingin buat kamar saya itu lebih lapang dengan mengurangi barang-barang yang use-less. Termasuk buku-buku yang sdh out-off genre buat saya.

Dan lalu, saya nemu buku diari HAPPY EXISTENCE dong, buku Diary saya jaman usia 20-an. Pas dibuka, beugh!!! Isinya memori semua, kebanyakan sih yang pait-pait, ya iyalah saya adalah manusia yang imajinasinya sangat liar ketika sedang dalam kondisi tersakiti, hehe.. malu sih bacanya, dulu saya selebay itu yak. Duh. Saya lupa sih beli dan punya buku ini kapan, tapi tulisan pertama itu tercatat ditanggal 13 Oktober 2011, dan saya mulai berhenti menulis itu di bulan Januari 2016. Lama juga saya make buku itu, 5 tahun. Masih banyak halaman kosong, sepertinya manggil-manggil buat diisi deh. Hehe, tadi sudah coba sih nulis-nulis lagi tapi tiba tiba kaku, dan sepertinya tangan saya lebih doyan buat ngetik. Haha. Makanya, belum juga selesai nulis, saya langsung buka laptop.. pindah aja deh.

Mungkin ini bukan resolusi yah, karena khusus ditahun 2020 ini saya gak ada yang namanya resolusi-resolusi, saya pembelajar, gak musti pergantian tahun yang menjadi trigger saya untuk berubah ini itu, masang target ini itu, ya I'ii do it when I needed, everytime.. not must be at the beginning of the year. Kembali ke topik, tentang hal yang bukan resolusi tapi memang sekarang saya butuh amat sangat untuk ber-meditasi lewat tulisan. Maunya sih, kalau bisa setiap hari kembali rutin nulis. Ya gapapa sebaris dua baris, asal toxic yang ada dalam pikiran bisa kebuang. Yang hari ini ya selesaikan hari ini, lalu tidur, bangun bangun ya bener-bener a new day..

Ntah kapan dimulainya, saya ngerasa sekarang tuh saya jauh lebih bawel, lebih cerewet. Setiap hari mau ngomong aja, ini itu, mungkin karena saya juga kecanduan Podcast ya, jadi dikepala tuh materi muter-muter, mikirin ini mikirin itu, hasil pikirannya pengen aja di keluarkan gitu. Ya mau buat podcast juga, haha.. kayaknya belum pantas deh. Suara saya burukkk!!! Dan lagi, kalau cuman buat karena ingin ingin doang mah, buat apa.. ntar juga hilang. Saya kan manusia maha pembosan. Hehe. Ya kecuali nulis kek gini, saya taulah.. ini sudah jadi hal sangat menyenangkan buat saya, sometimes being my healing. So.. I will do it, when I wanna do it. I love writing, not for people.. but for my self.

Akhir kata, happy writing for my self
Then.. happy reading for you gaes. Yakali masih ada yang baca. Haha.

25/01/2019

Cerita Awal Tahun


Hi, 2019..
Thankyou for being so hard at the beginning

Well, ini baru permulaan ditahun 2019, dan sejauh ini sepertinya saya harus menarik nafas panjang-panjang, berulang-ulang. Huft. Begitu banyak cerita yang sepertinya sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mungkin tidak begitu mendetail, tapi saya akan coba menuliskan se-sederhananya saja;

29/06/2017

Belanja Tanaman



Uceng menghubungi saya via BBM, mengajak untuk sama-sama berburu kaktus diseputaran wilayah Makassar. Awalnya saya heran, setelah hampir 3-tahun tidak pernah bertemu dan bertukar kabar tiba-tiba kami akan bertemu dan berburu kaktus. Kecuali bahwa mungkin dia menemukan banyak jejak love dan komentar dari akun instagram saya di akun-akun instagram pecinta/penjual kaktus.

31/05/2017

Introduce my new gun; Canon EOS M3


Ternyata saya butuh 3 tahun 1 bulan untuk menunaikan keinginan saya untuk memiliki kamera mirorrless seperti yang telah saya tuliskan di-Postingan ini. Fiuh. Tapi, seperti yang saya percaya dan yakini semua hal yang kejadian dan tidak kejadian itu dirancang sama Allah, sang pemilik skenario kehidupan.

01/12/2015

Panen november


Alhamdulillah, finally saya bisa menyelesaikan target menabung bulanan yang saya tiru dari laman internet. Metodenya sih sederhana saja, cukup ambil wadah lalu tempelkan kertas yang telah ditulisi pembagian tanggal dalam sebulan. Lalu, wadah itu diisi setiap hari sesuai tanggal pada hari itu dikali 1000. Beri tanda untuk mempermudah pantauan. Jika konsisten, dalam sebulan bisa menghasilkan 400ribu sekian (malas nambahnambah). Saving with fun!

Panen pertama ini lumayan dapat banyak, karena selain saya konsisten menabung sesuai tanggal pun saya memasukkan pendapatan lainlain ke tumblrpink ini. Siapa sangka, recehan kembalian seribu dua ribu, jatah pulsa sepuluh ribu duapuluh ribu dan sebagainya yang nilainya kadang dianggap remeh, justru kalau dikumpulkan dalam sebulan menghasilkan besaran yang cukup membuat takjub. The power of respect. Oia, jika ada yang mau mencoba mengikuti metode ini, ada baiknya jika sudah terkumpul banyak tabungan ini jangan langsung dibelanjakan, cukup dipanen per-1/2/3 bulan lalu di lumbung padikan. Mungkin ditempat yang aman, yang jauh dari jangkauan fikiran membobol saat terdesak. Haha.

Semoga kita bisa konsisten dengan menabung, apapun metodenya
Selamat menabung :)

21/11/2014

Masalah tidur

Belakangan ini tidur saya sedikit bermasalah.

Katakanlah, tidur normal saya adalah dari jam sepuluh malam dan akan terbangun di jam lima subuh, dengan atau tanpa alarm. Nah, sekarang saya selalu saja terbangun beberapa kali sebelum waktunya saya harus bangun pagi, setiap terbangun saya memperhatikan jam dan sepengamatan saya biasanya saya terjaga pada jam satu atau jam tiga dini hari, lalu entah tertidur pada jam berapanya dan akan bangun lagi pada pukul lima subuh, dengan atau tanpa alarm.

Hal ini tentu saja sangat MENGGANGGU aktivitas saya sehari-hari, utamanya saat-saat weekdays. Kalau dibilang ngantuk sih tidak, hanya saja saya cepat merasakan capek. Untungnya, selama saya menjalani masa-masa tidur bermasalah ini beberapa kali saya ditemanin sama Aulia; teman satu genggongan di Prajab kemarin. Ditemanin ngobrol apa aja, bisa bonus curhat pulak dan akan tertidur dengan sendirinya tanpa sempat ucap undur diri dari obrolan. Haha, lumayanlah... BIG THANKS YA UL, UR BESTLAAAH!

Well, sudah dua minggu ini pula saya tidak pulang ke Rumah. Rindu!

04/10/2014

Dikata pilih pilih

Kemarin saya rada sedikit sebel sama supir angkot. Sebelnya bukan yang pake ngomel sih, sebel sambil senyum aja.. Jadi ceritanya kan saya menunggu angkot dari terminal malengkeri menuju kantor di jalan Cendrawasih. Saya tahu jelas, angkot ke cendrawasih itu kodenya B dengan garis putih dibadan angkotnya, saya pun tahu kalau banyak banget jalan muter-muter semau pak supir angkot untuk menuju ke cendrawasih itu sendiri. Entah itu untuk menghindari macet, mau nganterin penumpang lain atau sekedar mencari penumpang. Dan satu yang pasti, bukan hanya satu angkot kode B yang ada di terminal itu.

Kebenaran kemarin memang sedang macet, banyak kendaraan yang tertahan di depan kampus UNM Parangtambung. Angkot yang mau saya tumpangi pun adanya cuman sebiji, tapi sembari mangkal menunggu penumpang sampai mobilnya full. Seperti biasanya. Saya paling maleslah naik angkot yang mangkal kayak gitu, walau sudah dipanggil-paggil saya menolak naik sambil terus jalan.. tiap hari juga kayak gini, mending saya jalan agak jauhan biar kalau dapat angkot yang langsung jalan saja. Kalau ditempat mangkal biasanya sok ngaku "langsung jalan" tapi tetep aja di PHP, mobilnya sok di gas maju mundur seolah-olah sudah mau berangkat tapi tetep gak jalan-jalan sampai angkotnya penuh.

Tak berapa lama, angkot yang tadi itu akhirnya jalan juga kemudian berhenti tepat didepan tempat saya berdiri menunggu. Angkotnya belum penuh, masih ada tempat untuk saya kalau mau naik. Sebelum naik saya memastikan lagi, cendrawasih kan pak? dijawabnya "iya", ambil jalan lurus kan pak? ndak pake belok-belok dulu? dijawabnya "mau ke dayung dulu, baru ke cendrawsih". Dan saya menolak naik. Si bapaknya malah ngomel, dibilangnya saya terlalu pilih-pilih.. sementara saat itu angkot jurusan cendrawsih yang ada cuman punya dia.

Dan saya kembali dalam posisi menunggu angkot ditepi jalan. 5menit.. 10menit.. yang sebenarnya bisalah ketutup dengan ikut diangkot yang mau "muter-muter dulu" tadi. Tapi gak lah, saya walau berdiri melawan debu dan panas matahari pagi tetep merasa mendingan menunggu agak lama. Tujuan saya jelas, saya pun tidak terburu-buru dan saya tau bangetlah rasanya ikut muter-muter gak jelas kayak gitu. Sempat sih mau ambil jalan pintas, naik taksi aja kali yah??? hihi.. tapi kemudian saya tawar-menawar lagi dengan kesabaran saya sendiri, duit pun pas-pasan, lalu saya lihat jam: hmm.. belum terlambat juga sih, bentar lagi pasti ada.. dan tak berapa lama, eng.. ing.. eng.. angkot kode B datang dari seberang. Bukan cuman satu malah, tapi satu per satu.

Angkot-angkot itu pun putar balik, mampir bentar di pangkalan. Tak lama angkotnya berhenti didepan saya, busett.. dah mau penuh saja. Saya kembali memastikan, cendrawasih pak? "iya", jalannya lurus kan pak? "iya", ugh.. finally. Kalau melangkah dalam yakin, pasti buahnya manis :))

Akhirnya angkot yang saya tumpangi sampai didepan kampus UNM. Macetttt parahhhhh. Tiba-tiba saya merasa kayak ada didalam cangkang kura-kura, laju kendaraan otomatis diperlambat, jalan satu-satu. Manalagi kendaraan lain yang reseknya minta ampun, klakson-klakson minta perhatian, minta jalan. Dipikirnya orang lain itu cuman mau parkir dijalan kali yah, padahalkan sama-sama punya tujuan, sama-sama terjebak macet.. Motor yang maen nyusup disela-sela kendaraan. Atau mobil-mobil yang seenaknya parkir dipinggir jalan. Amburadullah kondisi jalan di Makassar ini. Hmm, ternyata sabarnya nunggu itu belum seberapa dibanding sabar yang diperlukan dalam perjalanan, hidup itu keras cui.. untungnya supir angkot yang saya tumpangi itu bukan tipikal supir yang juga egois dan suka ngomel kotor.

Sayapun tidak ambil pusing dengan kekisruhan diluar saya itu. Selama dalam angkot adem ayem, let it flow aja sih.. duduk cantik, baca buku, denger musik, nanti juga sampai. Saya kemudian berfikir, senyum sendiri sih tepatnya, ini persis sama dengan kisah hidup dan hati guweh kaliyah. Haha. Rumit bingitsss..

Banyaklah orang-orang yang serupa supir angkot yang pertama tadi dikehidupan nyata saya, yang ndak bosan-bosan nanyain "kapan kawin?", dengan tatapan menyepelehkan menuduh saya terlalu pilih-pilih. Padahal memang, haha.. Kan sudah dibilang, saya tau apa yang saya mau, tujuan saya pun jelas. Ditambah lagi selalu ada doa Ibu, dan rasa yakin luar biasa kepada-Nya atas hidup saya. Ngapain muter-muter gak jelas coba? saya kan tidak terburu-buru.. dapat atau gak, cepat atau lambat, bukan kuasa saya. Jika menunggu saja saya tidak bersabar, lantas bagaimana saya bisa menangkis segala hal yang nantinya bisa mengganggu kenyamanan saya dalam perjalanan?

Saya tidak akan mendustakan segala nikmat yang ada untuk saya saat ini, urusan nanti ya nanti aja... kalau kata saya let it plow. Selama ada upaya, rejeki dan jodoh gak bakalan tertukarlah... YAKIIIIIIN pake BINGITSSSSSS :))

29/04/2014

RANDOM

Oke.. oke..

Saya dalam kondisi otak random macam beberapa minggu dan semakin rusuh dalam beberapa hari ini, saya mengalihkan pikiran dengan utak atik template tumblr, ketik-apus-ketik bio blogger, apa-apa yang bisa dibongkar terusnya dipasang lagi saya lakukan, pokoknya cari kerjaan yang gak guna sebenarnya tapi bikin saya benar-benar bisa "teralihkan". Apadeh saya ini.. LABIL!

Semakin sulit diajak ngemeng pulak! menemukan kenyamanan justru dalam hening dan sepi, sendiri. sesekali ada rasa rindu yang entah gimana cara atasinnya selain berdoa, mimpi anehlah, sedih tak berujunglah, galau dan galak! EMOSIONAL! padahal sebenarnya itu karena pikirannya saja yang “rieweh”, kebingungan bikin list-to-do.. rencana masa depan.. Ketakutan juga dan banyak ke-an lainnya yang sifatnya negatip.

Oh ALLAH-ku sayaaaaang.. Bikin saya superduper kuat dari biasanya, bikin saya tenang, slow.. slow..

MODE: butuh PIKNIK amat sangat!!! tapi entarlah abis ini..

23/04/2014

Warnet

Cuman mau bilang, kalau postingan ini walau tanpa isi diposting live via komputer salah satu warnet yang tetap berjaya di Kota kendari, wow.. sedikit takjub sebenarnya.. hari gini, dimana-mana warnet gulung tikar atau kalau ndak paling berubah wujud jadi rental PS. Warnet hebat!!!

Jadi ingat blog ini juga lahirannya di warnet depan kampus, bertahun-tahun lalu.. hihi.. dirawatnya juga lewat warnet, sejam dua jam, pake sisa-sisa uang jajan.. online bisanya sekali seminggu, atau kalau lagi ada tugas ya bisalah nyambi-nyambi, cari bahan plus bergaul didunia maya. Itupun kalau mau bergaul ya jodoh-jodohan kalau ndak ya musti janjian online pada hari, jam dan menit yang sama biar bisa ketemuan. Bener-bener butuh perjuangan, makanya memorable..

Sekarang, akses internet malah gampangnya luar biasa. Bisa bikin warnet malah dirumah sendiri, bukan ding jadinya "karnet", kamar internet.. hihi, maka dari itu aktivitas online jadi tak terbatas ruang dan waktu, jadinya juga membosankan, bergaulpun rasanya sudah beda, karena sekarang orang bisa online terus, kapan saja dimana saja, tidak ada waktu khusus.. jadinya ya berasa tidak khusus. Tidak ada lagi momen nunggu-nunggu orangnya online, momen kita senyum ngembang pas lihat icon bulat yang tadinya abu-abu masam menjadi kuning pake senyum manis.. haha, jadul emang.

Ini postingan apa coba, haha.. intinya saya punya banyak memori di balik kubikel bau asap rokok berukuran 1x1 meter ini. Kenangan yang akan selalu teringat-ingat kalau kapan-kapan ketemu warnet lagi, walau itu dikota orang, seperti malam ini.

Tidak akan ada yang bisa dilupakan dari ingatan..

:))

09/03/2014

Me, Photography and Nikon D3000

Kemarin saya janjian ketemu sama orang disalah satu warung kopi di Mari, kita transaksi, ngobrol-ngobrol soal kamera dan fotografi, tidak panjang sih, obrolan sederhana saja, maklumlah  walau sudah cukup lama pegang kamera DSLR pengetahuan saya tentang dunia per-fotografi-an itu ya gitu-gitu saja. Gak nambah, ketertarikan saya hanya banyak pada angel dan tone gambar, yang lain asli saya tidak begitu minat untuk eksplore lebih jauh. Bagi saya motret itu sama kayak dengar lagu, gak perlu tahu secara mendetail, asal enak aja, lihat/dengernya. Personal sih sifatnya, sesuai selera. Yang protes awas!!! :p

Okeh, kalimat diatas adalah hanyalah pembelaan semata dari seseorang yang MALAS BELAJAR!

Kembali kesoalan pertemuan tadi, jadi, saya itu ketemuan dengan suami junior saya dulu dikampus; Diana. Dalam banyak perbincangan via WAmesengger, SMS, dan teleponan akhirnya saya sepakat dan mantap untuk mengoper satu dari beberapa benda yang menjadi soulmate saya selama kurun waktu 3tahun 7bulan; Nikon D3000 + Lens Nikkor 18-55mm, beserta kelengkapan yang saya beli terpisah; tripod, filter UV dan tas kamera helolulu pink-hitam kesayangan. Sedih? Pastinya..


Me, photography and D3K


Sebenarnya saya tidak pernah membuka jalur promosi untuk menjual kamera kesayangan, hanya saja kurang lebih dua tahun yang lalu saya dan Diana ini pernah ngobrol dengan tema random seperti biasanya dan ujung-ujungnya bikin saya mengeluarkan pernyataan kurang lebih seperti ini “mauka kayaknya jual kameraku deh, mauka ganti dengan kamera yang speknya lebih tinggi” waktu itu mungkin saya ada dalam kondisi lapar mata, masih sering eksplore dunia per-fotografi-an, mulai setres dengan noise D3K, ngiler kalau liat hasil jepretan D90 apalagi teman-teman sesama pengguna D3K hanya dalam hitungan 3-5bulan kepemilikan sudah langsung upgrade ke D90, atau mupeng dengan kehalusan gambar-gambar yang diproduksi oleh kamera Canon dengan spek sejenislah; 1000D, 550D. Akh, rumput tetangga selalu lebih indah memang, padahal rumput sendiri yang kurang perhatian. 

Dari situlah sebenarnya, asal muasal saya mulai menarik diri dari dunia ngumpul-ngumpul sesama penyuka fotografi, online maupun offline. Hihi, kasian yak saya.. minder ini jatohnya. Haha.. tapi ndak lah, saya memilih untuk sendirian mengeksplore apa yang lebih dari senjata saya, komunitas-komunitas itu bikin iman saya rentan godaan buat ikut-ikutan upgrade, upgrade dan upgrade, cita-cita kalau ada duit mau ganti bodylah, beli lensa ini-itulah, beli flash, ah damn! sementara saya sadar sesadar-sadarnya pertambahan ilmu saya tidak sebanding dengan besarnya mau saya untuk upgrade dan lagi butuh modal yang cukup besar untuk terjun dihobby ini. Alhamdulillahnya, itu semua selalu hanya ada pada batas rencana, rencana dan rencana, karena memang saya KERE! Haha, sekalinya ada duit pun, niatan untuk upgrade akan tertutupi dengan hal lain yang sifatnya jauh lebih penting. Makanya sampai saya melepaskan kamera D3K, saya ternyata hanya nambah buat beli filter UV karena memang lebih difungsikan untuk melindungi lensa dari benturan, saya juga beli tripod murah, haha.. lumanyan bisa narsisan berjama’ah kalau lagi dalam rombongan dan tiba-tiba semuanya mengaku tidak ngerti bagaimana caranya pegang kamera DSLR, mendadak bangga dibilang katrok, haha.. bilang saja ndak mau ketinggalan foto, hadeuh -_-“

Keluar dari komunitas, bukan berarti saya berhenti motret, tetap lah saya suka foto-foto random apa saja yang ada didepan saya, klik-klik-klik, seolah-olah tidak perduli kalau kamera digital pun ada umur kliknya (shutter counter – SC), hehe.. apalagi sejak saya keranjingan jalan-jalan, beuh, kamera saya adalah benda yang tidak akan pernah tanggal dari badan saya. Kita merekam banyak moment, dibanyak tempat dengan berbagai macam ekspresi manusia, dan “mood” alam semesta. Saya mulai kagum dengan beberapa gambar yang ditake oleh diri saya sendiri. Dari sinilah saya kemudian faham dengan maksud seorang sahabat pada satu obrolan kami, bahwa: fotografi itu bukan soalan kamera apa yang dipakainya, tapi ide pemakainya. Akh, kece emang yah.. saya semakin cinta dengan dunia merekam gambar ini. Tapi saya tetap saja bebal, malas belajar soalan tekhnis lebih jauh. Tetap saja lebih banyak melihat-lihat gambar orang, apalagi kalau yang masuk dimajalah Exsposure, saya terperangah tanpa pernah benar-benar serius membaca keterangan penjelasnya. Akh, Syam… so you!


Yes or Not ???

Seminggu lalu, Diana menghubingi saya lagi dan menanyakan “masih mauki jual kamerata kak? Kalau iya, saya mau beli”, baca pesan singkat itu saya kemudian tersenyum.. saya pernah mengucapkan kata ingin menjual kamera saya hanya pada dua orang, salah satunya ya Diana ini. Lalu saya melupakannya begitu saja, dan sekarang tiba-tiba diingatkan lagi, tapi sudah dalam status “ditawar pembeli”. Saya ragu sebenarnya, antara mau bilang iya atau tidak.

Tidak. Pertimbangannya karena D3K ini adalah barang yang saya dapat dengan mengumpulkan penghasilan ditahun pertama saya bekerja. Apalagi kondisinya masih oke, sejauh ini tidak pernah ada masalah, sangat bersahabat bahkan. Saya juga sempat berfikir, dengan harga kamera keluaran terbaru yang semakin lama semakin melangit apa saya bisa dapat kamera dengan kualitas yang sama dengan budget pas-pasan?

Ya. Pertimbangannya karena saya mencintai fotografi, tapi saya mulai kelelahan menenteng kamera ukuran SLR kemana-mana. Mau beli kamera pocket, tapi dengan status ada kamera SLR itu sama dengan pemborosan, hidup berlebihan.. tadinya saya dilenakan dengan kamera bawaan Handphone Oblek saya yang kualitas gambarnya lumayanlah yah, tapi baru juga take beberapa kali hapenya sudah minta di-isi daya lagi, repotinlah jadinya. Apalagi sekarang saya ndak begitu minat lagi dengan dunia dibalik smartphone, jadi kemana-mana cuman bawa hape standart. Smartphonenya cuman dipake malam hari, itupun dialih fungsi jadi hotspot portable, sesekali dipakai balas-balasin watsapp/line dari teman. Haha.. Intinya, untuk saat ini dan kedepannya saya butuhlah kamera yang lebih ringkas, dan bisa dibawah kemana-mana tanpa repot dengan ukuran/berat dan ketahanan batterainya, kualitas gambar pun tetap jadi prioritas untuk saya. Titik.

Dan keputusanya adalah, YA!

Saya membeli kamera D3K itu tanggal 6 Agustus 2010 dengan harga 4,6juta. Ada postingannya disini. Lewat pembicaraan via telepon saya oper (bonus tripod dan tas) diharga 3juta, DEAL!! Tapi harus turun lagi karena kabel datanya entah dimana, terus karet view findernya itu saya lupa kalau kondisinya sobek, tas bawaan yang tiba-tiba resletingnya ngadat dan juga memory card yang mendadak nge-hang; tidak terbaca, padahal satu jam sebelum ketemu pembeli mereka masih baik-baik saja, oke saya anggap saja tas bawaan dan memory itu hanya ingin bekerja pada saya jadi setelah pindah tangan merekapun memutuskan untuk pensiun. Akh, jadi terharu… *lebay*

Karena saya pernah punya pengalaman buruk membeli barang second, yang langsung menyesal dihari kedua setelah membeli barang karena mendadak RUSAK TOTAL dan TIDAK BISA DIKEMBALIKAN. Saya pun tidak ingin orang lain punya pengalaman yang sama, apalagi itu dengan saya. Makanya saya kasih mereka pinjam kamera saya dulu, seminggulah batasnya, dipake saja dulu, kalau suka transfer kalau ndak ya dikembalikan. Toh memang bukan saya jual karena butuh duit, tapi lebih ke butuh kamera yang lebih mewadahi mau saya. Dan setelah dicoba, diperiksa dan didiskusikan lebih jauh; mesinnya masih OK, shutter countnya sudah lebih 20ribuan, wadaw, sadis juga saya makenya.. tapi setahu saya dan setelah saya searching lebih jauh ternyata untuk kamera D3K hitungan SC itu sekitar 50ribuan lebih, jadi menurut saya masih amanlah yah.

Dengan kerusakan-kerusakan minor yang ada, dan juga pengaruh hubungan emosional antara saya dan Diana yang begitu inginnya dengan D3K saya, dan juga mengingat saya yang entah kenapa dua kali dikasih lupa bawa kamera pada dua agenda liburan keluar kota saya sebelumnya (padahal kalo kemana-mana kamera ndak pernah ketinggalan, kecuali saya memang merencanakan tidak membawa), plus ini kamera memang sudah nganggur sejak bulan Januari 2014, jadi kita dealnya diangka 2,8jt. SAH!!!


Me vs. My wishlist..

Well, sebagai manusia normal tentunya kita masing-masing dikarunia rasa: ingin. Rasa yang kadang lebih besar dari rasa: butuh. Jatohnya malah kadang kita kabur, tumpang tindih, mana yang sekedar ingin mana yang benar-benar butuh. Bingung? Sama!!! haha..

Intinya sih, setelah melepaskan D3K saya kemudian memutuskan untuk move-on dari kamera DSLR yang berat dan ribet itu ke kamera semi pro dikelas prosumer atau mirrorless yang lebih enak dibawa kemana-mana. Pilihannya banyak banget, dengan range harga yang tidak murah ternyata. Untuk hal-hal yang benar-benar saya inginkan/butuhkan, saya tidak pernah ingin terburu-buru dulu untuk mendapatkannya. Saya malah butuh waktu, memilah dan memilih biar nantinya tidak menyesal. Seperti keputusan terbaik saya memilih D3K, setelah ribet meng-compare sana sini dengan kamera sekelasnya: Sony alpha 230 dan Canon 1000D, dijamannya.

Oia, saya mengincar salah satu dari mereka dibawah ini:
  1.  Ricoh GR
  2.  Sony RX100
  3. Canon powershoot G1x
  4. Canon powershoot G16
  5. Nikon coolpix p7700

Tapi dengan budget 2,8jt saya musti banyak-banyak bersabar dulu, sabarnya sambil baca-baca review biar makin mantap milihnya, sambil ngumpulin duit juga tentunya dan tak lupa berdoa agar ekonomi Negara kita semakin membaik, kesejahteraan meningkat, harga dollar turun dan yak satu dari mereka diatas pun akan jatuh ketangan saya dengan indah.

Amin.

25/02/2014

(Mencoba) belajar hidup sehat

"do something today that your future self will thank you for"
~Unknown

Apa usaha kamu untuk membuat hidupmu menjadi lebih berkualitas? Mungkin salah satu jawabannya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat, okey, dipostingan ini saya tidak lantas menjadi motivator kesehatan atau personal trainer, saya hanya ingin membagi pengalaman dan pengetahuan saya yang tidak seberapa tentang bagaimana membuat hidup menjadi lebih berkualitas.

Pada satu hari minggu, saya nonton TV dengan memutar channel secara acak, hingga tidak sengaja saya menemukan Reza rahardian sedang dalam satu perbincangan dengan seorang pembawa acara di metrotipi, saya belum ngeh dengan tema yang mereka bicarakan, saya hanya fokus ke rezanya, haha.. Reza itu pesonanya bisa bikin mimisan! *okay ini lebay*

Dr. Tan shot yen
Setelah si-host puas tanya-tanya ke Reza, pada segmen selanjutnya didatangkan seorang perempuan keturunan cina, Dr. Tan Shot Yen, ini pertama kali saya melihat beliau dan saya langsung dibuat terpukau. Saya suka dengan orang yang punya aura positif lebih, yang gaya bicaranya penuh dengan lonjakan semangat, you rock madam! Saya yang nonton dirumah pun menjadi lebih semangat. Itu baru visualisasinya, belum lagi dengan isi omongannya, makin rock! beliau membeberkan banyak asumsi-asumsi, disandingkan dengan fakta-fakta yang logic, tentang gaya hidup sehat.

Saya sepakat saya sepakat, se-pa-kat! Orang tua kita tidak mewariskan 100% penyakit melalui darahnya, tapi lebih kepada pola konsumsi, gaya hidup dan pembentukan mental. Its okay, mau care sama kesehatan mau ndak toh kita tetap mati jua. Perkara umur itu kuasa Allah sepenuhnya, tapi kita dikasih kebebasan untuk memilih bagaimana kita menjalani umur yang sudah dikasih itu dengan lebih baik, saya tidak membayangkan saat tua nanti saya jalan terbongkok-bongkok, atau lebih banyak waktu yang saya habiskan diatas tempat tidur saja. Demi Allah, saya ingin sehat, aktif dan tetap bermanfaat sampai mati.

Saya kemudian membayangkan bagaimana gaya hidup saya dalam kurun waktu 27 tahun, paling parah mungkin 7 tahun belakangan ini, dimana saya sudah lebih banyak makan diluar. Alhamdulillah masih dikasih imun tinggi, jarang sakit-sakitan. Tapi, saya merasa tetap berdosa kebadan sendiri. Tinggi 154cm, berat kisaran 60-62kg, stuck! susah turun dan sangat mungkin untuk naik. Absolutely yes, i'm fat! walaupun banyak orang sekitar saya yang mengatakan saya tidak seberapa gemuk, sudah cocok dengan tingginya. Ya, saya pun merasa tidak gemuk. Tapi itu mungkin cuman perasaan saya, secara matematis hitungan tinggi dan berat saya cukup menjadi alasan untuk saya seharusnya mulai bertobat.

And yes, i'm on diet program right know! makan tetap tiga kali sehari hanya komposisi dan porsinya dikurangi juga jamnya lebih diatur lagi, tidak ada ngemil, eh, maksud saya kurangi ngemil, puasa, banyak-banyak minum air putih pada jam-jam "keramat". Saya juga mulai me-rajinkan diri dengan aktivitas lari bersama para cecunguk dikantor; Ama, Sule dan Ichal di lapangan karebosi pada hari Jum'at setelah pulang kantor (kalau ndak hujan sik), tracknya lumayan bikin ngos-ngosan dan keringatan. Naik sepeda tetap jalan dihari sabtu sore atau minggu pagi, dan entah kenapa kalo sepedaan saya lebih suka sendirian muter-muter kota. Walaupun lebih banyak malasnya, oh Tuhan.. susey disiplin sama diri sendiri ternyata yah. Dan yang paling menyiksa jiwa dan raga sebenarnya adalah menolak ajakan traktiran, menolak gratisan, akh, kuat syam.. yang kuat!!!

Baru jalan beberapa bulan, efek visual belum begitu nampak memang, pelan dan pasti. Berat saya masih sama, saya merasa kondisi badan saya jauh lebih padat, gampang kenyang mungkin karena efek banyak minum dan yang paling oke adalah kondisi emosi saya jauh lebih stabil. Target saya bukan pada hitungan berkurangnya angka timbangan, tapi bagaimana saya membiasakan diri dengan gaya baru. Itu dululah. Makan makanan sehat dan banyak bergerak, mengerti dan paham setiap asupan yang dibutuhkan oleh tubuh. Tau apa yang dimasukkan, tau apa yang harus dikeluarkan. Jika ini terdengar ribet dan membatasi diri, sebenarnya iya. haha.. awalnya memang cobaan sekali, lama-lama akan terbiasa membiasakan diri menolak makanan yang menurut hati dan pikiranmu akan mendatangkan sesuatu yang buruk dimasa depanmu.

Simpel kan???

Tidak, ini tetaplah rumit.. Ya, memang rumit dan saya cukup nakal untuk itu. Tapi saya harus patuh dengan kerumitan ini, tidak boleh nakal, demi masa depan yang lebih baik. Semoga, ya Amin..


:))

24/02/2014

Just be smart

Ini bukan iklan, hanya saja gambar ini memukaukan saya *lebayatun*

Jika ada hal yang paling membuat saya excited belakangan ini adalah, home decorating. Oh yes, semakin hari semakin menarik. Tindakan saya cukup extreme, tidak hanya berselancar didunia maya dan melihat bagaimana otak-otak keren manusia yang diberikan oleh Tuhan termanifestasi dalam keindahan dekorasi ruang dan bangunan rancangan mereka, dalam seminggu pun jika ada waktu saya bisa dua sampai tiga kali mondar mandir ke Acehardware, Informa, Home solution, Jamsons, toko bahan bangunan, bahkan sampai ke ruko-ruko kecil yang menjual remeh-temeh alat pertukangan. Kadang ada yang mau jadi korban menemani hasrat saya, dan kadang saya pun menjajalinya sendirian. Hanya datang untuk melihat-lihat, bukan membeli. Haha.. oke, ini cukup gila, tapi kegilaan ini membuat saya bahagia.

Didunia maya sendiri, favorit saya adalah situs pribadi milik mbak Jen, mbak Krista, ada juga blog yang namanya Design Sponge; kalo yang ini saya favorit dengan tag Before and Afternya asli inspiring poll bikin niat ngacak-acak rumah sendiri, terus yang paling rajin update karena blognya juga dikerjain keroyokan adalah Apartemen therapy; sangat-sangat memanjakan mata dan fikiran. Saya juga jadi semakin keranjingan nonton film luar negeri, padahal konsentrasi ada pada furniture dan design rumah dalam tiap scene. Hehe, semakin absurd.

Selain itu saya juga gampang jatuh cinta dengan hal-hal yang berbau DIY dalam urusan jahit-menjahit dan pertukangan. Oke, tetap tidak dengan urusan masak-memasak. Entah itu busana ataupun kelengkapan rumah tangga. Saya tidak pakar dalam hal ini, tapi saya bisa dan saya mau, saya rasa itu cukup untuk saat ini. Cobalah masuk disitus pribadi milik mbak Kate, sebagai perempuan normal tidak mungkin anda tidak iri dengan kemampuan otak kanan dan kiri perempuan ini, gara-gara orang ini saya jadi kemana-mana nyari tempat kursus jahit yang sedikit pro di Makassar, dengan harapan kelak saya bisa bikin baju dan pernakpernik lucu untuk anak-anak saya. Tapi suseeeeeyyyy, yak untuk sementara saya mempermantap ilmu kristikan saja dululah, lumayan mengisi waktu luang disaat saya tak lagi begitu tertarik dengan aktifitas membaca.

Saya tahu diri, saya tak cukup kaya raya untuk membawa pulang semua furniture yang mbikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya hanya berfikir, barang-barang yang ada di toko-toko mahal sekelas toko-toko yang saya sebutkan diatas tak akan menjadi begitu mahal jika sang pemilik rumah cukup kreatif dan smart memadumadankan (istilah apa ini syam?). Dalam hal ini saya melegalkan duplikasi, mau yang total dari bahan, bentuk sampai finishing warnanya, ataupun yang masih semi-duplikat, thok nyontoh bentuknya saja. Saya rajin melihat-lihat untuk mengasah otak saya, alasan yang cukup membingungkan memang tapi cukup menyenangkan, toh suatu hari nanti akan tergunakan juga ilmunya. Punya Mama yang jago menjahit dan memasak, juga Bapak yang jago "nukang" bikin saya sedikit banyak mau nyontoh mereka, bahkan harus bisa lebih hebat dari mereka, hidup akan jauh lebih mudah, lebih mandiri, apa-apa bisa diberesin sendiri.


A home doesn't need to be big, just smart
-IKEA

Sepakat! yang butuh menjadi lebih besar itu, HATI. #eaaa

Intinya, kalau kata teman-teman cewek yang sempat saya "paksa" menemani saya muter-muter seminggu lalu, jalan-jalan ke Acehardware agak bahaya, pulang-pulang langsung mau nikah saja bawaannya. Haha. Ya, mungkin :p

10/01/2014

Hello again, Jekardahh!


Entahlah. Saya yang dilahirkan untuk menyusahkan hidup banyak orang, atau banyak orang yang dilahirkan untuk memudahkan hidup saya, Hamdalah..

***

Well, awal januari 2014 ini saya mengambil cuti tahunan cuman dua hari sih tapi lumayan untuk "refreshing" sejenak melupakan tetekbengek dunia perkantoran yang rentan komplain ini, haha.. Cuti kali ini saya pakai buat jalan ke Jakarta yah sekalian ada urusan penting juga disana. Ini persis seperti peribahasa sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui.

Karena perjalanan kali ini tanpa sponsor alias biaya sendiri, saya kemudian merencanakan untuk cari tumpangan. Oke, di Jakarta saya punya banyak kenalan dan teman yang mungkin bisa disusahi sedikit, tapi saya berasa kurang srek juga pada akhirnya, harus mandiri syam (saya membatin), yasudah saya cari hotel murah saja disekitaran tempat saya akan banyak menghabiskan waktu.

Tapi namanya rejeki yah, saya yang waktu itu curhat sama Odhani akhirnya dikenalkan dengan sahabat dia waktu masih kerja di Jakarta dulu, namanya Erna. Saya, Erna dan Odhan terlibat dalam grup yang dibentuk dadakan di whatsapp, kita ngobrol-ngobrollah disana, anaknya asyik, dan rencananya selama di jakarta nanti dia yang akan memberi saya tumpangan dan menemani saya kemanapun saya ingin. Asoy gak tuh, haha..

Sehari sebelum saya cuti, boss saya memanggil untuk bicara serius, dia menanyakan secara detail agenda saya selama saya berada di Jakarta nanti. Oke, saya jelaskanlah dengan sek-sa-ma. Jadi, ceritanya setelah urusan saya selesai di Jakarta sana, bapakboss akan menyusul dan besoknya setelah cuti saya berakhir kita akan ada dalam perjalanan dinas di Jakarta, jadi saya diminta jangan pulang dulu dan membawa serta smua berkas-berkas yang diperlukan nanti. Setibanya di Jakarta saya disuruh nginap di salah satu hotel yang namanya terdengar aneh, saya juga disuruh merental mobil selama di Jakarta, dan aksi paling ekstrim dia kemudian menelpon seseorang di Jakarta sana untuk memastikan saya tidak kerepotan sendiri. Saya tersenyum, ah sibapak ini selalu saja bisa bikin saya terharu biru.. bukan karena fasilitas yang dia kasih, tapi lebih ke perhatian dan pengertiannya, saya memang tidak menolaknya secara langsung, tapi saya tidak akan memanfaatkannya juga. Lagipula saya kan cuti, jadi saya tidak mau berurusan dengan semua hal tentang kantor, apapun itu.


Cuti hari pertama

Bangun sedikit siang dihari kerja ternyata enaknya luar biasa yah, haha.. flight saya sekitar jam sebelas jadi masih bisa leyeh-leyeh dulu. Jam sembilan meluncurlah saya kebandara, langit mendung, jalanan cukup lowong jadi bisa menikmati me time dalam perjalanan. Jam dua belas kurang waktu jakarta, pesawat saya parkir, zuhur dulu di bandara sebelum jalan. Tujuan pertama diseputaran jalan Sisingamangaraja, dari hasil tanya-tanya dan baca-baca, untuk menuju kelokasi tersebut saya musti naik damri dulu tujuan Blok M, biaya tiketnya 30.000IDR, turun di terminal Blok M. Sampai di Blok M, saya harus berjalan sekitar 500M untuk sampai lokasi tujuan. Sebenarnya bisa naik Kopaja tapi musti nyeberang jalan lebar bolak-balik dengan tingkat kemacetan yang bikin mumet, atau naik Ojek tapi musti lewat jalan mutar dulu barulah bisa sampai dilokasi. Saya mending jalan kaki lurus-lurus hanya sekali nyeberang perempatan, lumayan siang-siang, plus asap knalpot hitam kelam dan kendaraan yang serba berisik menemani saya menyusuri jalan Sisingamangaraja.

Urusan selesai. Sore ini Erna akan menjemput saya sepulang kantor. Saya menunggu di mushollah sembari Ashar, dan saya ketemu seseorang yang nampak kebingungan. Saya tanyalah dengan sek-sa-ma, dia menjawab dengan logat yang tidak asing ditelinga saya, anak Makassar yah? dia jawab: bukan, saya dari Bone. Senyum saya mengembang, ah Allah.. You're my best. Saya kemudian tanya-tanya tentang dirinya, dan ternyata dia di Jakarta ini sendirian, bingung mau kemana, mungkin akan menetap di Mushollah itu saja sampai besok katanya, belum lagi dia orang yang gampang panik, kumplit sudah. Saya merasa dia orang baik, polos tak bermotif. Saya mengajak dia ikut sama saya saja, dan dia mau-mau saja. Sama-sama anak hilang, haha.. tapi saya ada Erna yang sedari bandara tak henti-hentinya nge-sms untuk memastikan saya baik-baik saja.

Jam enam Erna akhirnya muncul juga, pertemuan pertama kami setelah hampir seminggu berkenalan dan ngobrol via whatsapp, cantik; smart; cerewet; masih muda dan jomblo, eh, single maksud saya, haha.. ndak ada cerita kikuk-kikukan, udah ngeblend saja suasana dan obrolannya. Tentang Nur, saya menceritakannya ke Erna. Sekedar meminta saran, saya otomatis akan membawa dia kemanapun saya pergi selama di Jakarta ini, saya batal menginap ditempat Erna karena saya bawa orang, ndak enak kan, sudah numpang bawa tumpangan juga. Terserah, kata Erna, kostan dia juga tak cukup besar untuk menampung kami bertiga. Selepas makan siang yang kesorean, plus Magrib-an, kami diantar buat cari hotel.

Perjuangan cari hotel pun tak kalah kocaknya, jadi kami bertiga memilih untuk jalan kaki mencari penginapan seputaran Blok M. Dua kali mondar-mandir dari terminal Blok M sampai perempatan jalan Sisingamangaraja, total kita ada jalan 1KM untuk sampai di hotel yang kita cari padahal tempatnya ada diseberang jalan tempat kami makan tadi. Haha, blunderrr.. capek sih, ngos-ngosan, tapi menertawakan kejadian ini bersama orang-orang yang baru saya kenal menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan.

Tiba di hotel, dan setelah mengurusi soalan administrasi kami istirahat dulu di kamar sekalian bersih-bersih badan. Erna tanya, mau kemana lagi? saya yang sudah amat sangat lelah minta untuk malam ini istirahat saja dulu biar besok urusan saya bisa maksimal, kita janjian besok malam setelah pulang kantor dia akan menjemput saya lagi dihotel untuk dibawa menikmati malam di kota Jakarta. ce-i-leh bahasanya, padahal kita janjian cuman mau nongkrong di daerah Tebet plus nonton di Blitz.. haha.

***

Cuti hari kedua

Selamat pagi Jakarta. Kota sumpek yang begitu dicintai oleh banyak orang, buktinya penduduknya melimpah ruah. Hehe.. asumsi asal. Pagi ini saya kembali dalam urusan mahapenting, bersama teman baru saya tentunya, Nur. Kalau kemarin cuaca Jakarta begitu terik, hari ini sedikit kalem, hujan diluar tapi masih titik-titik sih jadi kami tetap memutuskan untuk tetap berjalan kaki menuju lokasi kemarin. Disana rameeee, nantilah saya akan ceritakan lebih detail lagi tentang ini. Dari jam delapan, urusan kami selesai sekitar pukul sebelas siang. Hujan makin gede jadinya saya dan Nur yang berencana jalan-jalan ke kota Tua untuk menghabiskan waktu menunggu Erna batal. Kita pulang ke hotel saja dulu menaruh barang-barang. Abis itu kita nyeberang muter-muter Plaza Blok M trus ke Blok M Square buat cari makan siang. Mall, dimanapun kota/negaranya pemandangannya yah tetap sama, e-ta-la-se, kemewahan!

Kembali ke-hotel, menunggu Erna yang tak lama lagi akan datang katanya. Saya tanya Nur, dia pulangnya kapan? Besok, dan belum ada tiket jawabnya. Sambil tidur-tiduran, saya teleponlah travel kantor dan memesan satu tiket pulang untuk Nur, nanti dia bayarnya lewat saya. Setelah urusan Nur beres, orang travel tanya lagi besok saya mau pulang jam berapa? lah? saya kan pulang lusa subuh bareng Bapakboss, sudah ada kode bookingnya juga. Ternyata, sebelum saya telepon boss saya sudah lebih dulu konfirmasi ketravel kalau pulangnya dipercepat entah karena apa dan jam berapa, ditelepon balik juga susah terhubung.

Tak lama Bapakboss telepon, katanya setibanya di Bandara Soetta ada customer yang telepon dan mendadak harus meeting besok siang. Level pentinya lebih pentinglah dari urusan yang di Jakarta. Buset. Jadinya saya pun ikut pulang, kita beda penerbangan, karena ini dadakan Bapakboss dapat tiket untuk fligth jam sembilan pagi sementara saya harus bangun dini hari untuk mengejar flight jam lima subuh, dari Jakarta langsung ke kantor. Cuti habis dengan tragis. Hahaha.. amazing emang hidup guweeeh!!!

Setelah urusan tiket-me-niket ini beress, sebelum Erna sampai dihotel pun boss saya kembali menelepon untuk memastikan saya dapat tiket pulang besok pagi, tiket yang sebelumnya otomatis cancel dan hanya dapat pembebanan 50% dari harga. Lumanyun abisss. Setelah itu saya diminta untuk datang ke mall central park, makan malam, siyapppp Bapakbosss, saya pun menceritakan kalau saya tidak sendirian ada dua orang teman yang harus saya bawa serta.

Sebenarnya malam ini saya akan ada nongki-nongki di daerah tebet, lalu lanjut nonton di Blitz sebelum akhirnya pulang kampung! Tapi acara gagal sempurna, kita akhirnya makan malam sambil ngobrol-ngobrol dulu di CP bareng Bapakboss dan ketiga anaknya yang memang sudah lama tinggal dan menetap di Jakarta-Bandung. Umur kami tidak jauh beda, dan anak-anaknya mewarisi sifat humble Bapaknya, sudah sering ketemu juga jadi kami sudah lumayan akrab.

Setelah acara makan malam, kami bertiga misah dari rombongan. Jadi nontonkah? hmm.. waktu sudah tidak memungkinkan, besok subuh-subuh sudah musti ke Bandara, dan cita-cita saya nonton di Blitz pun sirna sudah. Haha, entah apa bedanya, padahal di Makassar pun bisa nonton kan yah? Jadinya kami cuman duduk cantik dipelataran CP, melihat atraksi air mancur yang timbul tenggelam mengikuti suara musik. Obrolan lebih didominasi oleh saya dan Erna, dan seperti biasa, Nur lebih banyak diam. Pukul sepuluh malam, Erna mengantarkan kami kembali ke hotel dengan taksi yang supirnya tak kalah amazing, saya menyebutnya dengan nama pak Tarno, bukan nama aseli hanya saja logatnya perciss dengan pak Tarno sang pesulap itu.

Entah, Erna ini didatangkan Allah untuk membalas kebaikan saya yang mana. Saya bahkan terlalu buruk dalam hal memberikan perhatian ke orang-orang. Saya heran saja, dari kemarin dia melayani saya seperti tuan puteri. Apa-apa dia, apa-apa dia. Paling menyebalkan adalah, kita selalu ngotot-ngototan kalau sudah urusan bayar-bayar, entah itu saat makan atau naik taksi. Dan seperti biasa, saya tidak pernah pandai untuk lebih ngotot, cukup dua kali dan jika dia tetap berkeras, maka pada desakan ketiga saya otomatis mundur dan membiarkan dia membereskan semuanya.

Singkat tapi bermakna, suatu hari nanti, entah sengaja atau tidak kita akan bertemu untuk saling memberi kebaikan. Terimakasih nengnayyyy, barakallah.

***

Dan akhirnya pulang

Jam tiga subuh, saya dan Nur terbangun tanpa musti dibangunkan oleh alarm yang kami set dihandphone masing-masing. Langsung mandi, dandan dan checkout. Taksi semalam sudah ada standby depan hotel, dari jam tiga sebenarnya dia sudah sms, katanya sudah ada dibawah dan siap mengantar kami ke bandara. Ciyee, pak tarno... sebenarnya semalam sewaktu dalam perjalanan pulang dia nguping pembicaraan kami, pas tau kalau subuh-subuh kami mau kebandara, dengan logat khas tegalnya dia main nyambung saja: besokk tak anterin ya mbak kebandaranya? ya kalau mau sih, tapi kalau cuman mau naik blue bird juga ndak apa, saya tak menolak atau mengiyakan, cuman bilang: titip nomer saja pak nanti kita hubungi lagi. Eh malah dianya yang minta nomer, yasudah, tukaran nomerlah dia sama si Nur. Ciyeee miskol-miskolan.. haha.

Feeling saya sama pak tarno ini baik-baik saja, waktu Nur tanya kita tetap naik taksinya? Iya sajalah! Dalam perjalanan menuju bandara, suasana hening. Tidak ada percakapan apa-apa, masih ngantuk sih. Barulah saat masuk gerbang Soetta, pak Tarno buat ulah lagi. haha, sopir kocak.
Tarno: mau kemana mbaknya?
Saya: Makassar ya pak, tau ndak terminal berapa?
Tarno: Makassar itu di Kalimantan kan mbak?
Saya: bukan, sulawesi pak..
Tarno: iya, sulawesi di Kalimantan kan ya?
Saya: enggak pak, Kalimantan itu beda sama Sulawesi..
Tarno: oh, kalo gitu Sumatera bukan yak?
Saya: bukan pak, bedaaa... *mulai sebelll
Masuk keterminal 1A, saya dan Nur bablas tidak sempat liat papan informasi
Tarno: kalo gitu saya tanyain dulu ya mbak..
Saya: oke.. *tetep duduk manis dimobil*
Tarno: oh, katanya diterminal 1B
masuk keterminal 1B, saya perhatikan papan informasi dengan seksama, sial! pak tarno berulah
Tarno: tak tanya lagi dulu ya mbak..
Saya: terminal untuk pemberangkatan ke sulawesi dimana ya pak? *kali ini saya ikutan turun, saya yang nanya*
Petugas: oh, di 1A buk.. 

Saat lihat jadwal penerbangan yang ada di terminal 1B, saya kemudian lemes sendiri, pak tarnooooooo... saya kan sudah bilang Makassar itu di Sulawesi, ini kenapa saya tetap dibawah ke terminal penerbangan ke Kalimantan sikkk??? saya curiganya, waktu tadi pak Tarno bertanya di terminal 1A, dia nanya dimana terminal keberangkatan ke Kalimantan makanya dioper ke terminal 1B. Huh! tapi kalau lihat mukanya yang masih sangat muda, polos dan benar-benar tanpa dosa, plus saya yang sudah mepet waktu, saya tidak memperpanjang soalan. Ya sudah, dia hanya minta maaf, saya bayar, dan angkut barang-barang dengan terburu-buru menuju terminal 1A. Lumayan bok, olahraga otot dan jantung pagi-pagi buta.

Ini adalah pengalaman pertama saya lari-larian dibandara, flight jam 5, dan saya check-in sepuluh menit sebelumnya. Saat tiba dibadan pesawat pun semua orang sudah duduk cantik, banyak mata memandang saya yang muncul dengan napas ngos-ngosan, bener-benerrrr ya.. tapi ndak apalah, sudah dipesawat juga. Waktunya istirahat, karena setiba di Makassar saya akan kembali pada kehidupan normal. Kembali pada rutinitas.

Haha, tadi acara pisah-pisahan sama Nur tidak lagi menjadi dramatis. Turun dari taksi saya langsung salaman, cipika-cipiki, and say see you later.. padahal kita menuju terminal yang sama, hanya saja penerbangan dia masih satu jam lagi. Dia masih bisa jalan dengan anggun dan duduk cantik di gate sambil menunggu terbang. Perjalanan kali ini, saya beruntung ketemu Nur, bisa ada temannya kesana kemari, walau lebih pasif lama-lama dia juga terbiasa dan bisalah diajak gila-gilaan. Haha, rusakin anak orang ini ceritanya. Thankyou.. thankyou..

Tiga hari yang luar biasa. Semakin membuat saya yakin, kalau tidak pernah ada hari yang selalu berjalan sama disetiap harinya. Hidup itu dinamis, bergerak, jika kita mau ikut bergerak.

Cheeeeeerss!

03/01/2014

Bibit sunflower dari Jogja

Diminggu ke-4, sunflower saya mati. Hampir setiap hari saya mengamati mereka dua kali dalam sehari, memastikan mereka tetap hidup dan bertumbuh, diminggu ke-3 daunnya menguning, mungkin karena kurang sinar matahari, setiap kali berangkat kekantor saya pesan ke Mama, minta tolong kalau sudah lewat jam sembilan sunflower saya dijemur biar dapat gizi untuk pertumbuhannya, tapi boro-boro dipindah keluar, hujan terus-terusan mengguyur Makassar, hampir seminggu seperti itu dan akhirnya mereka mati.

Kecewa sama diri sendiri, setiap kali melihat pot yang isinya tersisa tinggal tanah, selalu saja merasa diri ndak becus dan sama sekali ndak berbakat dalam hal tanam-tanaman. Kapok sih. Tapi saya selalu ingat pesan Bapak tempat saya belanja bibit sunflower kemarin, semoga berhasil, seolah-olah menanam bunga/buah/tanaman mulai dari menyemai bibit merupakan satu tantangan yang tidak semua orang bisa selesaikan dengan sempurna. Saya, jelas gagal.

Kekecewaan saya tidak begitu berlarut-larut, saya diserang kesibukan closing akhir tahun, tidak ada lagi cerita dipagi hari saya siram tanaman dulu sebelum mandi dan berangkat kekantor, diakhir pekan pun saya totally bedrest. Tidur seharian, jangankan siram tanaman, siram badan sendiri saja malas. Sedikit demi sedikit saya mulai lupa dengan cita-cita sederhana saya, punya sunflower sendiri.

Dan kemarin siang, pesan singkat dari nomor asing mendarat manis diponsel saya:

Saya baru tiba hari ini di Makassar. Ada saya bawa bibit sunflower, sebentar malam saya kasih nah.

Waktu saya membaca pesan itu, saya sedang mumet-mumetnya mengantri di rumah sakit dan seketika senyum saya mengembang, nomor asing, tapi saya tahu jelas siapa pengirim pesan tersebut. Uceng!

Setelah kirim-kiriman pesan dan kabar baik, kami sepakat untuk bertemu malam itu juga, bertransaksi, dia memberi saya bibit sunflower dan saya memaksa menunaikan janji saya untuk mentraktir dia mumpung dia lagi di Makassar, sudah lama sekali sebenarnya, terakhir kita ketemu waktu tahun 2011 bersamaan dengan berakhirnya masa magang dia dikantor. Waktu itu dia masih anak kuliahan culun, tapi baik sama saya, sama siapa saja dikantor, makanya kita tetap menjaga komunikasi, yah walau tidak begitu intens tapi cukup berkualitas. Sekarang dia sudah kece, anak esdua di-UGM, rantauan Jogja.. cie cieee..

Saya mengajak my bestpartner in crime, Mr. sulbroh untuk menemani saya. Uceng ini junior dia dikampus dulu, jadinya pasti bisa nimbrung dengan sempurna, sekalian ada yang antar juga kan #modus. Haha.. saya sama Sule datang ontime, kantor kami dekat dari TKP, jamtujuh teng uceng sms, posisi masih dijalan, terjebak macet gegara hujan belum juga reda. Asyik ngobrol sama Sule, eh tau-tau Uceng sudah ada dibelakang saya, lalu menjabat tangan Sule dan saya cuman kebagian senyum manis saja. Aiiihh, long time no see..

Belum juga duduk sempurna, saya disodorkan amplop putih, ada nama aseli uceng disitu sebagai penerima. Bibit? Iya, jawabnya. Ouwh, beli online? Iya, jawabnya lagi. Haha.. anak baik. Saya masih ingat, kurang lebih empat bulan lalu kita pernah ngobrol di-line, saya bilanglah kalau lagi suka dan mau tanam sunflower dan kalau bisa dicarikan bibit di Jogja karena susey cari di Makassar sini. Dia tidak menolak atau mengiyakan, hanya memastikan dia tidak menjanjikan apa-apa untuk saya. Saya pun bilang tidak akan konfirmasi kembali tentang sunflower ini, tidak akan menunggu juga, yah kalau memang ada tinggal dibawakan sajalah. Obrolan sederhana sebenarnya, tapi eksekusinya bikin saya jadi salut plus sumringah karena ternyata dia ingat semuanya, dia beli bibit sunflower, dan tanpa pernah konfirmasi kembali tau-tau menyampaikan langsung setibanya di Makassar. Wajar kalau saya terkejut.

Katanya di Jogja dia ndak nemu bibit sunflower makanya dia pesan online dari Magetan. Niatttt amatt beroooh!! contoh junior taat dan berbakti ini, haha.. Satu amplop isinya lima, empat sunflower dibagi rata, dua untuk saya dan dua untuk dia yang katanya mau dikasih ke Ibunya yang juga hobby tanamtanam, satu lagi ada free bibit morning glory dikasih kesaya, lembar tutornya juga dikasih kesaya tapi terlebih dahulu difoto sama dia, saya pun berpesan, tanam sunflowernya nanti lepas musim hujan saja takutnya tidak bisa tumbuh sempurna, salah-salah malah bisa sampai mati kayak punya saya yang kemarin.

Sepeninggal Sule yang musti pulang duluan gegara ditelpon sama isteri tercinta, kita sempat ngobrol-ngobrol banyak, dan saya selalu suka mendengarkan dengan khidmat jika seseorang menceritakan banyak hal tentang keluarganya, menceritakan tentang cita-cita dan impiannya dimasa datang, hal-hal yang menjadi prinsipnya dan banyak lagi yang bagi sebagian orang menganggapnya terlalu lebay, hehe.. entahlah, bagi saya ini menarik. Ketimbang duduk bersama dengan pikiran yang jauh kedalam dunia dibalik layar datar.

Saat mengantarkan saya pulang, sebelum turun dari tumpangan, Uceng sempat mengucapkan: Sampai jumpa lagi, yang entah kapan.. haha, saya cuman balas dengan senyum dan ucapan terimakasih kemudian menutup pintu. Entah kenapa statement tersebut begitu terngiang-ngiang dan lucu saja kalau diingat lagi. Sama seperti statement yang dia ucapkan sewaktu dia curhat tentang cewek yang terkadang masih saja membuatnya galau, saya menyemangatinya dengan ucapan klasik; jangan memaksakan, toh kalau jodoh pasti ketemuji itu. Dan dengan santainya dia menimpali saya, iya-yah kalau jodoh pasti akan ketemuji itu di pelaminan, entah sebagai pengantinnya atau tamu undangan. 

Wakakaka.. iya benerrrrr! Uceng Pongoro :p

Yang pasti sekarang, saya kembali semangat dong tanam sunflowernya.. tapi nantilah setelah saya lepas beberes segala kesibukan yang akhir-akhir ini bikin mabok tapi bahagia, lepas musim hujan pula. Untuk acara tanamtanaman kali ini saya akan lebih telaten dan cerdas lagi. Sunflowernya musti benar-benar bisa tumbuh menguning menantang matahari. Amin..

Thanks berat ceng ^^/

15/12/2013

[Garden] life.

Redchoi, usia 2 minggu
Bunga matahari, usia 2 minggu

Saya baru mengerti perasaan dilematis itu bagaimana setelah dua minggu lebih saya merawat mereka.

Dari 7 butir bibit bunga matahari, hanya empat yang hidup. 5 bibit redchoi, hanya dua yang hidup. Dan dari 4 bibit bunga nastrium tidak ada dari mereka yang menunjukkan bahwa mereka hidup. Perhatian saya justru ada pada mereka yang setiap hari bertumbuh sekian senti. Berharap mereka akan terus tumbuh, mereka hidup. Ini adalah yang pertama untuk saya, begitupun untuk Mama (senior saya ^^/), menanam tanaman mulai dari menyemai benih. Selama ini kami hanya mengandalkan tehnik stek dan cangkok untuk mengumpulkan banyak tanaman hijau dibelakang rumah, menghidupkan mereka yang sudah hidup. Tingkat pengharapan dan kekhawatiran pasti berbeda.

Tumbuhlah tumbuh, besarlah anak-anakku, temukan warnamu.


I love you all.

02/12/2013

RIP tante eta

Kemarin malam, perasaan saya sedikit gamang. Sebenarnya sudah hampir dua minggu saya dalam kondisi hati yang begitu rumit, mungkin saya sudah terlalu lama sok berdiri kuat dan tegar, atau mungkin saya memang kuat hanya saja saya merindukan sisi melankolis dari diri saya. Hanya sedang ingin bermanja-manja dengan perasaan.

Sampai akhirnya mama saya pulang terburu-buru dari tempat pengajiannya, membawa kabar duka. Tante eta meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji'un..

Saya pernah satu kali menulis tentang tante eta diblog ini, dia tetangga saya, seorang perempuan tangguh yang hidup hanya berdua dengan cucunya. Janda cerai, anaknya banyak, tapi tak satupun yang tinggal bersamanya. Setiap harinya tante eta menghidupi dirinya dan cucunya itu dengan mengumpulkan apa saja dari tempat sampah yang bisa dijualnya kembali. Hidup itu keras. Setiap hari tante eta ini selalu terdengar mengomel kemudian adu mulut dengan anak-anak kecil gara-gara cucunya diganggu dan dihina, atau sesekali terdengar tante eta ribut-ribut dengan tetangganya. Tidak jarang dia dikatai orang gila, pedih rasanya melihat yang seperti itu. Dipandang remeh, tidak berharga.

Perasaan yang sudah gamang, ditambah berita duka yang tak terduga itu membuat saya menangis. Saya sedih. Hffttt.. saya kemudian mengingat-ingat, setiap hari, setiap pagi saat saya keluar rumah menuju kantor, kami berpapasan dan dia selalu mengucapkan "selamat pagi nak" dengan senyumannya yang khas, kemudian memuji saya "cantiknya" atau sekedar menanyakan "tidak diantar?" kalau melihat saya berjalan kaki. Dan setiap sore, saat saya pulang tepat pukul lima dari kantor, didepan lorong dimana dia selalu duduk menikmati sore menemani cucunya main, dia akan menyambut saya dengan ucapan "pulang cepat nak?"

Tidak terlihat banyak duka yang mengantarkan kepergian tante eta. Kebanyakan hanya terlihat kaget, karena sampai satu hari sebelumnya tante eta bahkan masih terlihat mondar-mandir, rambutnya habis disemir hitam. Hanya tiba-tiba pencernaannya terganggu kemudian masuk rumah sakit dan malamnya selepas magrib dia sudah meninggal dunia. Adik saya bertanya "adaji yang menangis kodong?", ada.. saya! Hubungan kami memang tidak istimewa, tapi tante eta baik sama saya. Lewat senyuman dan sapaannya setiap hari itu lebih dari cukup untuk membuat saya merasa kehilangan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dimasalalu bu eta ini, sehingga dia menghabiskan masa tuanya dalam sepi dan hinaan orang. Tapi dia kuat. Ibu eta memberikan saya banyak pelajaran berharga, tentang bagaimana kita seharusnya bersikap kepada sesama manusia. Khususnya pada orang tua yang justru lebih membutuhkan banyak perhatian dan pengertian dimasa tuanya, dimana "jaman" bergerak jauh lebih cepat dari polapikir mereka.

Selamat jalan tante eta. Semoga Allah memberikan tempat terbaik menurut-Nya, Dia maha adil. Hanya saja ajal lebih dulu sampai dari hidayah sehingga tante tidak sempat mengenal-Nya dengan benar.

posted from Bloggeroid

09/11/2013

Malammingguan depan TV

Malam minggu ini saya habiskan dirumah saja, nyante-nyante. Dirumah juga lagi sepi sih, cuman ada Mama'i yang lagi sibuk dengan acara permak Gordennya dan Jannah yang juga lagi sibuk dengan bahan kuliahnya besok. Saya? Sibuk pencet-pencet remot TV.

Bicara tentang TV, khususnya acara-acara yang ditayangkan pas malam minggu seperti ini benar-benar membosankan. Disemua channel loh. Dirumah saya ndak langganan TV kabel jadinya cuman bisa menjangkau siaran-siaran skala lokal dan nasiojal saja, yang kebenaran sedang menayangkan hal-hal absurd (menurut saya). Mau nonton DVD juga ndak ada film baru, jadinya saya hanya nonton parade iklan dari satu channel ke channel lain. Walau cuman fokus sama iklannya, saya tau semua tayangan statiun TV disaat-saat primetime dimalam minggu ini. Sempatlah parkir semenit dua menit.

Disalah satu stasiun tv lokal, ada pak brewok lagi memuji-muji kinerja pak kumis yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya. Kalau ingat perang politik yang lumayan menganga selama tahun 2013 ini, saya cuman bisa berkomentar: Duniah oh dunia, panggung sandiwara. Kebenaran acara saling lempar pujapuji itu memang disiarkan langsung diatas panggung megah dengan background landmark kotaku tercintah.

Pindah channel nomor selanjutnya, dapat acara yang lebih absurd. Bahkan acara yang seperti ini ada di dua channel yang berbeda. Entah konsepnya apa, pembawa acaranya keroyokan, menertawakan hal-hal yang mungkin awalnya lucu, tapi makin lama makin membosankan, joget-joget. Sebenarnya saya mau bicara hati kehati sama produsernya, mau bilang "om.. om.. sesuatu yang selalu berulang-ulang itu jatohnya membosankan loh. Saya bosan. Ampun" tapi rating berbicara lain. Acara semacam ini makin jaya dan makin menjamur distasiun-stasiun TV lain. Selera nusantara.

Oke, pindah ke channel lain lagi. Sinetron! Tidaaakkk.. saya selalu gemesss liat sinetron. Liat orang yang diset baik pakai banget, dianiaya diam. Disiksa diam. Disakiti diam. Oh Tuhan, kenapa kesannya orang baik itu adalah orang yang menerima dilakukan semena-mena tanpa ada sedikitpun pembelaan diri atau perlawanan? Saya gemessss.. pindah channel, makin absurd. Huft.. anak-anak ituuu, yang setiap malamnya ada dalam adegan berkelahi, silat-silatan pake terbang kesana kemari, entah apakah memang cita-cita mereka mau jadi artis, apakah memang sudah mengerti fee/duit, ataukah ego orang tuanya. Kasihan kakak! Diusia dimana semestinya mereka bermain sekreatif mungkin untuk mengembangkan potensi otak, jiwa dan personality mereka, eh malah terkungkung oleh berlembar-lembar script kejar tayang. Apa coba bedanya anak-anak yang setiap malam ada diserial TV itu dengan anak-anak yang setiap hari ngamen dilampu merah? Selain gengsi tentunya.

Dichannel lain pun tak kalah tidak menariknya. Acara lawakan, film pendek semi horor, apalagi yah??? Hmm.. oh iyya ada juga acara talkshow yang mbahas soal lingkungan sementara pembicaranya menurut saya ndak begitu pantas berbicara dan berkomentar banyak mengingat dosa masalalu beliau yang belum tuntas-tuntas. Trauma orang-orang pun belum sepenuhnya pulih.

Sementara channel yang biasanya jadi favorit saya, ternyata sedang menayangkan orang-orang yang kedengarannya/kelihatannya begitu care dengan negara ini. Tapi saya suka ilfeel dengan orang yang banyak bicara, cuman bisa berkomentar pakai teori ini teori itu, mengarahkan opini publik, sindir menyindir, menunjukkan rasa yang seolah-olah tidak lagi ada sisa-sisa respect untuk Bapak kosong satu negara tercinta ini. Petaka! Mungkin saya awam dan tidak sama sekali mengerti dengan kerumitan-kerumitan negeri ini, entahlah, saya hanya merasa belum begitu sempurna untuk semerdeka itu menilai orang lain secara personal. Yah, hanya orang sempurna barangkali yang merasa bebas untuk menilai bahkan cenderung menjatuhkan dan menertawakan. Menganggap diri lebih baik dan lebih mampu. Mungkin.

Acara pencet-pencetnya selesai. Matikan TV. Ambil oblek, nulis.. TV dan social media, entah kenapa belakangan ini menjadi dua hal yang begitu membosankan untuk saya. Palsuhhh!

Malam minggu oh malam minggu
Riwayatmu kini, haha..

posted from Bloggeroid

29/10/2013

Digombal semesta

Ya, namanya juga gombal. Walau membahagiakan diawalnya ujung-ujungnya ya palsuuuh! Hihi.. tapi tak masaleeehhh, namanya juga hidup harus selalu berbaik sangka. Mungkin poinnya bukan saya mendapatkan apa yang saya kejar, tapi lebih dari itu.. saya mendapatkan begitu banyak perhatian, doa dan dukungan berlebih dari orang-orang yang ingin melihat saya menjadi seseorang yang lebih baik lagi kedepannya. Aseli bikin terharubiru: terimakasih Allah, saya istimewa.

Ada sedikit kecewa, tapi All is well.. yang saya pahami, mimpi itu beda dengan jalan menuju mimpi. Saya belum gagal, hanya mungkin masih salah jalan. Didepan sana masih banyak belokan, selama itu baik kenapa tidak kita jajal satu-per-satu?! Saya siap! Dan semesta, silahkan gombal saya lagi.. lagi.. dan lagi, gombalanmu energiku.

#odendeee
#kehidupanGa
#baladandaklulustkdkemenkeu

Hahaha :p
posted from Bloggeroid

14/10/2013

pendekkan angan-anganmu tinggikan cita-citamu, sebut itu mimpi besar kita.. lalu berdoalah berusahalah.. InsyaAllah, keberuntungan-keberuntungan itu masih milik kita, percayalah!

#dearmyself

04/09/2013

Best i ever had



Dear mommy, happy birthday..

Saya mencintaimu dengan cara saya mencintai, bagaimanapun itu semoga saya (selalu) bisa membanggakanmu, memeluk mimpi-mimpimu, membahagiakanmu, dan menjadi ladang jariah untukmu kelak.

Sehat dan mempesona selalu ya Mom, as always ;)
Barakallah fii umrik
Iloveyou,
Weloveyou..

#verylatepost
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.