Akhirnya saya bisa merasakan lagi
kebebasan, dari yang beberapa minggu belakangan ini benar-benar stuck dengan
segala rutinitas dan pemikiran yang berkutat pada hal itu-itu saja. I loose a
good topic to talk a lot with my officemates, to be honest i’m so bored with our
conversation. Tapi dari itu semua, hal yang paling menyita fikiran saya adalah
soal promosi dan tawaran-tawaran yang ikut besertanya.
Saat ini saya sedang berada dalam
kondisi A, tidak begitu nyaman memang tapi sejauh ini saya masih bisa
melaluinya, i challenge my self to pass it out. Lagi pula kemanapun saya, jadi
apapun saya dan senyaman apapun saya pada satu tempat masalah akan selalu ada,
mungkin seperti itulah hidup mendefinisikan dirinya. Lalu muncullah tawaran B,
C. Saya jelas bingung, semua pilihan didepan mata saya memiliki alasannya
masing-masing untuk saya ambil atau tidak.
Dilain sisi saya justru diserang
rasa takut bertubi-tubi. Bahwa ketika saya menerima tawaran B saya harus
menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru, sementara apa yang saya hadapi
saat ini belum benar-benar bisa saya taklukkan. Bahwa bila saya menerima
tawaran C saya akan menghianati janji saya pada sendiri, lagi pula terlalu
cepat untuk kembali ketempat yang pernah banyak mengecewakan saya. Bahwa jika
saya tetap pada pilihan A kemungkinan beberapa saat kedepan kondisinya akan
jauh berbeda dari apa yang saya jalani selama ini, atau yang paling menakutkan
adalah tidak diantara ketiganya. Saya seperti dihadapkan pada kotak yang terbungkus
rapi, tanpa tahu kejutan seperti apa yang ada didalamnya dan saya hanya boleh
memilih satu diantaranya.
Rasa takut yang menguasai diri saya
jelas karena iman saya sedang merangkak-rangkak, saya seperti tidak lagi
percaya bahwa Allah yang mengatur segala apa yang terjadi dalam hidup saya.
Terlalu banyak berfikir tentang masa depan juga kadang tidak baik. Harusnya
saya selalu ingat bagaimana saya menangis ketika saya kehilangan sesuatu yang
saya anggap baik, dan lalu tak berapa lama ternyata saya mendapatkan ganti
sesuatu yang jauh lebih baik? Saya malu pada diri sendiri, saya malu pada kawan
saya yang tidak bosan-bosannya mendengar hal-hal picik yang keluar dari
pemikiran-pemikiran saya. Hingga akhirnya saya lelah dengan diri saya sendiri,
dengan pikiran sendiri. Lalu menyimpulkan, hmm.. i'm ready for the shake of
Allah.
Dan lalu, takut saya entah hilang kemana,
saya merasa siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika saya tak
lagi menemukan kenyamanan yang sama, jika partner kerja saya tak lagi bisa
membersamai saya, jika atasan saya ternyata harus pindah duluan, dan jika saya
ternyata harus masuk pada lingkungan yang baru lagi.. saya siap, InsyaAllah.
Bagaimanapun, saya berterimakasih
atas kotak-kotak istimewa itu, walau membingungkan pada akhirnya tetapi saya
merasa kerja keras saya selama ini membuahkan hasil. Tapi, tanpa ada maksud
untuk menyombongkan diri, untuk saat ini saya tidak ingin memberikan kesempatan
kepada siapapun untuk mengukir budi dalam perjalanan karir saya.
Pinrang, September 2016

No comments:
Post a Comment