Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

01/04/2013

[Bromo] bromo, i'm in love...

Ini adalah perjalanan kedua kalinya, saya menginjakkan kaki lagi di Bromo. Masih tetap wah, memesona dan dingin.. alam semesta menundukkan kita disini, kebekuan justru menghangatkan. Semoga akan begitu selamanya..

Pananjakan 2: pose memeluk alam bebas :p
Kaki gunung Bromo: kawan-kawan seperjalanan, formasi lengkap
Padang Savana: Pose bersama pak Sopir dan kawan-kawan seperjalanan

Yang berbeda adalah orang-orang yang pergi bersama saya, orang-orang yang saya temui dalam perjalanan dan akhirnya menjadi teman perjalanan dan meninggalkan kenangan bersama. Klasiknya hidup memang seperti ini, kita akan berjalan dibanyak lintasan, kadang kita bertemu teman yang secara kebetulan melewati jalan yang sama sampai ada satu persimpangan yang akan memisahkan, kemudian ada jalan baru dimana kita akan bertemu dengan teman lain, menempuh jalan sampai kemudian ada persimpangan lagi. Tapi pada satu persimpangan terakhir, akan terbentang jalan terpanjang dan akan tersisa orang yang tidak biasa, yang tidak akan datang dan pergi begitu saja.. orang-orang yang dipilih oleh hati untuk menundukkan ego kita.

Bagi saya, perjalanan bukan ritual semata tapi lebih dari itu, perjalanan adalah pembelajaran mengenal banyak hal tentang diri kita sendiri. Yah mungkin memang benar jika segala sesuatu itu akan jauh lebih berarti ketika dihayati, diresapi...


Hei kawan, entah sendiri atau beriringan mari kita terus berjalan...



~Cokroaminoto

10/07/2012

[Bandung-Bromo][12.6] Parade Sunrise Pananjakan I

Salah satu kekuatan yang menarik saya untuk ingin mengunjungi wisata alam Bromo adalah view Sunrise dari Pananjakan. Sebelumnya saya sudah melihat-lihat beberapa gambar dari internet yang merekam detik-detik kedatangan sang Matahari dan WOW...

Bromo, 17 Juni 2012; Pukul 04:07 AM

Diluar kamar sudah terdengar suara orang-orang yang mulai sibuk bersiap-siap menuju kelokasi wisata yang telah mereka rencanakan, sebagian besar memang merencanakan untuk ke Pananjakan I & II, lokasi yang katanya paling oke untuk menyaksikan detik-detik terbitnya matahari.

Semalam saya dan Sule sepakat untuk menggunakan jasa pak Gono dan temannya untuk menggunakan Ojek menuju Pananjakan I sepaket dengan mengitari latan pasir menuju kawah Bromo, biayanya 150rb/pax. Harga itu sudah termasuk dengan biaya untuk mengantarkan kami ke terminal Probolinggo. Agak mahal, tapi kita nawarnya mentok. Mau sharing Jeep juga rata-rata pengunjung sudah datang dengan rombongannya masing-masing yah mau gak mau kita terima juga pada akhirnya.

WOW! ini luar biasa... jalur yang kami lewati untuk menuju ke Pananjakan I itu gila! Dalam kegelapan kami menembus lautan pasir yang sebenarnya tidak begitu bersahabat untuk dilalui kendaraan biasa, kecuali jika pengemudinya memang sudah ahli macam tukang ojek yang saya tumpangi. Belum lagi cuaca dingin yang menembus kulit, sebisa mungkin saya menutup permukaan kulit kecuali diarea mata, menggunakan 3 lapis baju dan 2 lapis celana, scarf, kupluk dan sarung tangan. Saya termasuk orang yang mudah kalah denga cuaca dingin, jadi agak sedikit khawatir sebenarnya.

Ada untungnya sih menggunakan Ojek, selain lebih murah yah bebas hambatan. Bayangkan saja ada ratusan Jeep yang antri untuk menuju ke Pananjakan, sementara matahari tidak mungkin menunggu. hehe, motor yang kami gunakan dengan begitu mudahnya menembus titik titik kemacetan, jalanan menanjak dan berbatu-batu semuanya lewat. Sedikit menghawatirkan sih, yah banyak berdoa saja. Jadi ingat pesan pak Mun kemarin, Kemanapun kita harus "ingat", bahaya dimana-mana.

Pukul lima lebih, bersama saya ada ratusan orang yang juga menanti Matahari. Terlau berdesak-desakan disini, tapi saya dengan mudahnya nyelip-nyelip diantara ratusan orang untuk bisa menyaksikan matahari. Buat apa jauh-jauh ke Bromo kalau cuman lihat Pantat dan Kepala orang. Haha! well, akhirnya saya bisa melihat Matahari itu datang dengan mata saya sendiri, Subhanallah... Indah... #speechless


Well, pemandangan sunrise paling mempesona adalah dari Pananjakan I, dari tempat tersebut pun kita dapat melihat dengan gagahnya gunung Bromo, Batok dan Semeru berdiri. Ada beberapa cara untuk bisa menjangkau daerah tersebut, diantaranya:

Trekking - Untuk yang memiliki fisik kuat tidak ada salahnya mencoba trekking di Bromo, sudah ada jalur-jalur yang disediakan. Alternatif ini tentunya gratis, hanya perlu membawa banyak air minum untuk persediaan. Dari informasi yang saya dapat untuk dapat menikmati view sunrise, trekking bisa dimulai pada pukul 02:00 Am.

Ojek - Ini adalah alternatif kendaraan yang saya gunakan. Harga mulai dari 100-150rb, tergantung Nego. Kenapa ojek? karena Naik Jeep Mahal! sementara saya hanya berdua dengan teman, yah setidaknya nilai lebih lain dari menggunakan Ojek adalah anti Macet. Berhubung menjelang sunrise ratusan Jeep serentak membawa wisatawan menuju Pananjakan. Oh iyya, kalau naik Ojek bisa singgah seenaknya di manapun kalian mau mengambil gambar. hahaha...

Jeep - Kebanyakan wisatawan menggunakan alternatif kendaraan ini untuk menuju kawasan wisata bromo, baik itu ke Penanajkan, kawah dan pasir berbisik. Harganya sekitaran 350-450rb, mahal tapi murah untuk yang mengunjungi bromo beramai-ramai. Hanya itu dia, bersabarlah saat menggunakan Jeep soalnya Macet.

Lah, view gunungnya mana? hmm... posisi berdiri saya tepat di arah matahari terbit (timur), sementara untuk view 3 gunung itu sedikit kekanan. Dan kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk bergeser kesana kemari, terlalu sesak dan berdesak-desakan.

Oke, setelah Pananjakan mulai longgar bergeserlah kami kearea dimana dari situ kita bisa melihat gugusan gunung Bromo, hmm... kereeeen!


Setelah puas menyaksikan parade sunrise dari Pananjakan I, kami bergegas meninggalkan tempat ini menuju lokasi selanjutnya. Kawah gunung Bromo! sepertinya semakin banyak manusia disini. Iyalah, mereka sama saja seperti saya pemburu keindahan alam. Indonesia itu cantik, cantik dan cantik!

09/07/2012

[Bandung-Bromo][12.6] Sampai di bromo, Alhamdulillah.

Pasar Tumpang - Malang, 16 Juni 2012; Pukul: 03:17 PM

Jeep yang kami sewa untuk menuju kawasan wisata gunung bromo sudah siap digunakan, Jeep yang tersedia hanya Jeep terbuka jadinya saya dan sule duduk berdua didepan, disamping Pak Mun, begitu beliau minta dipanggil.


Sebelumnya saya perkenalkan, Pak Mun ini adalah Sopir Jeep senior. Saat kami menanyakan umurnya beliau malah bingung, dia tidak tahu berapa angka pastinya bahkan tahun kelahiran sendiri pun tak diingatnya lagi. Ketika ditanya berapa lama beliau menjalankan profesinya, dengan lantangnya beliau mengucapkan kata 20tahun lebih, WOW! Saya lupa sih angka pastinya berapa tapi lamanya itu lebih dari umur kami berdua.

Mobil yang kami tumpangi adalah mobil Toyota Jeep antik, beliau mendapatkannya melalui bantuan Bank seharga 300rb rupiah, wow… itu tahun berapa yah? Mobil harganya cuman segitu? Hihi… pokoknya asli jadul! Orang pengait kunci pengaman pintu saja sudah rusak total, sebagai penggantinya pintunya diikat manual dengan menggunakan tali. Tapi walau begitu, performa mobilnya mantap! Ditambah bapaknya yang juga sudah menguasai medan, klop saja.

Jalan menuju bromo ini bisa dibilang sedikit menyeramkan jika dilalui oleh orang yang tidak biasa, melihat jalan yang rusak, sempit dan berbatasan langsung dengan tebing. Jalur yang kami ambil untuk masuk ke kawasan Bromo adalah jalur yang menyajikan view dua perkampungan secara berturut-turut yang lebih didominasi oleh perkebunan sayur yang benar-benar unik bentuknya, kemudian masuk ke bukit teletubbies dan lautan pasir.


Sebelumnya pun kami diberhentikan disatu tempat samping pos yang mana dari sana kami bisa melihat gunung semeru berdiri dengan gagahnya. Sayang saat itu kabut sedang tebal-tebalnya, sebentar saja pemandangan yang indah itu hilang dibalik kumpulan awan putih.


Dalam perjalanan kami dicegat oleh aktivitas syuting, lumayan menyita banyak waktu untuk menunggu mereka take beberapa scene. Huh! Itu syuting kok dijalan sihhh… kita kan jadi terhalang. Untung lokasinya juga menarik sehingga kami bongkar muat dan mengisi waktu dengan jeprat jepret. Pak Mun sepertinya banyak dikenal oleh orang-orang didaerah Bromo ini, kami sebagai tumpangannya pun mendapat sapaan akrab dari setiap mereka yang lewat. Hmm..


Sebelum melanjutkan perjalanan, saya mulai membongkar tas dan mengambil Jaket tebal yang saya sengaja beli di Bandung kemarin. Cuaca belum menampakkan perubahan drastis, matahari pun Nampak masih ngotot-ngototnya tapi hawanya mulai dingin. Brrrr… ini belum Bromo loh, sensasinya mulai terasa dari sini.

Pukul empat lebih, tibalah kami di daerah bukit teletubbies. Sebelumnya saya mendengar istilah ini dari mas Rawins saat nanya-nanya soal jalan ke Bromo dan see ternyata ini toh bukit yang katanya mirip dengan rumah serial anak Teletubbies yang terkenal tahun 2000an itu? Padang savanna, hijau, tertata rapi. Hihi… kereeeen! Subhanallah #speechless


Kami menikmati bukit teletubbies dari atas mobil. Saya sempat meminta pak Mun untuk memberhentikan mobil karena saya mau pindah di bak saja. Kan lebih terbuka, sehingga pandangan mata lebih luas. Dan benar saja, huaaaa… lebih keren dibanding jika dilihat dari dalam mobil. Belum lagi angin yang begitu sejuk menampar-nampar kami. Hmmm… saya begitu menikmati perjalanan ini.


Dari padang Savana, kami kemudian menyusuri area lautan pasir! Yeaaay… semua pasir, sejauh mata memandang yang ada cuman pasir. Disini kami meminta untuk berhenti dan menikmati lautan pasir yang begitu luas dan hanya ada saya, Sule, pak Mun dan Jeepnya. Tapi ada banyak jejak kaki disini, berikut dengan jejak ban motor dan Jeep. Saya membuka sepatu dan merasakan pasir yang teksturnya begitu lembut, hmmm… ini pastinya bukan pasir biasa, seandainya iyya truk-truk dari kota sudah berbondong-bondong datang kesini buat angkut pasir untuk dijadikan bahan bangunan.


Dari tempat kami berdiri, desa cemerolawang sudah terlihat dari kejauhan. Dan disisi yang berlawanan gunung Batok pun berdiri dengan seksinya, hihi… saya benar-benar baru sadar jika gunung yang selama ini saya kira gunung bromo ternyata adalah gunung batok. Saya coba mengabadikan siluet-siluet terbenamnya matahari dari balik gugusan pegunungan. Akh! Indah...


Pukul setengah enam, saya dan Sule sudah sampai di desa cemerolawang. Dari sini saya tak melihat sunset, yah lagi-lagi karena kabut tebal. Mungkin karena posisinya juga yang berlawanan arah dengan matahari terbenam, jadi yah saya hanya bisa menikmati pantulan Jingga. Sementara si Sule sibuk cari penginapan kedaerah bawah.


Karena kami datangnya dihari libur dan memang sedang liburan, jadinya penginapan serba penuh. Jadinya kami dapat penginapan didaerah belakang dengan harga 150rb, tanpa kipas angin dan AC. Mahal pemirsa! Hahaha… tapi emang di Bromo kipas angin, Ac sm kulkas laku?#kemudianmikir


Malam harinya, saya dan Sule keluar nyari makan. Mau bilang cari angin disini malah kebanyakan angin, suhunya kelewat dingin. Jaket saja tidak cukup, saya pakailah perlengkapan perang yang saya beli seharga 25rb terdiri dari Kaos tangan dan kupluk.


Kami tidak membawa makanan, dan apa-apa disini serba mahal. Masih ada sisa keripik tempe sih yang kami beli di persinggahan bus kemarin, lumayan buat camilan. Tapi karena perut melapar dan seharian hanya makan satu mangkok bakso malang di terminal Arjosari, kami makanlah ditempat yang tak begitu ramai. Sekalian membicarakan bagaimana rencana besok tentang perjalanan menuju Pananjakan I, kemudian kearea Bromo dan perjalanan pulang melalui Surabaya. Hmmm… can’t wait!

PS. Bromo itu, Mempesona!

24/06/2012

[Bandung-Bromo][12.6] Perjalanan lintas Jawa

Bandung, 15 Juni 2012; Pukul 02:10 PM

Saya dan Sule sudah ada dalam Bus yang akan membawa kami ke Malang. Perjalanan kali ini akan kami tempuh selama kurang lebih 16 Jam, melintasi beberapa kota dan kabupaten dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.


Bus Pahala Kencana ini (mungkin) sengaja didesign untuk perjalanan jauh, bagi saya sih sanga nyaman. Dengan harga yang lumayan mahal kita mendapatkan fasilitas berupa Kursi antar penumpang yang memiliki jarak yang membuat kita leluasa bergerak, Ac yang dingin, selimut dan bantal kecil, 2 kali pemutaran film kolosal, snack, makan malam dan sarapan. Oh iyya ditambah dengan keramahan petugas... hmm, paket komplit! Kalau mengingat-ingat lagi bagaimana susahnya mencari tiket dadakan tujuan Bandung-Malang kemudian menikmati fasilitas yang ada yah... harga 215rb/pax tidaklah menjadi mahal.


Ini menyenangkan! Berangkat dari Bandung di sore hari, melihat bagaimana aktivitas masyarakat diarea perkotaan makin lama makin menjauh menuju daerah dusun, melihat begitu kontrasnya "cara hidup" mulai dr cara berpakaian, permainan dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Mungkin sama dengan ditempat saya, tapi tetap saja sensasinya beda. Sayangnya rute yang kami lewati tidak menampakkan detik-detik matahari terbenam, yang terlihat hanyalah pantulan rona jingga kemerahan. Itu pun sudah sangat luar biasa untuk saya, Indah.

Malam mulai menutup aktivitas, dari jendela tidak ada lagi aktivitas yang terlihat. Hanya lampu yang menandakan bahwa daerah yang kami lalui itu memang berpenghuni tapi sunyi dimalam hari. Beda dengan kota yang tak pernah tidur barang sekejap pun. Karena saya yang suka parno saat melihat kegelapan maka tirai pun saya tutup, kemudian dibuka lagi oleh Sule dan saya tutup lagi. Setelah sedikit berdebat, hasil akhir menyatakan tirai harus terbuka. Itu artinya saya mengalah demi... yah demi saya sendiri, saya tidak mau menanggung sisa muntahan, yack! Karena ternyata Sule mual jika pandangannya dibatasi oleh Tirai. Padahal kalau dibuka juga mau liat apa malam-malam bgitu.

Sepanjang perjalanan saya dan Sule banyak bercerita. Tentang kantor, tentang kegemaran kita masing-masing, tentang orang-orang aneh, tentang apa saja yang menarik dibahas. Tempo kami tidak teratur, kadang saya tiba-tiba tertidur atau sebaliknya. Sesekali saling senggol untuk memperlihatkan "sesuatu" yang menarik perhatian dari balik Kaca Jendela. Hmmm...

Persinggahan pertma kami didaerah Kendal. Kalau gak salah ingat sih. Disana kami Ishoma. Tapi dari siang saya sudah tak begitu berselera untuk makan, dan kejadian malas makan seperti ini biasa saja bagi saya kalau sedang dalam masa travelling. Dan Sule mulai menjadi travelmate yang rese', memaksa  saya untuk makan, dealnya makanan yang jadi jatah saya dibungkus saja dan jika sewaktu-waktu saya lapar bisa saya makan dan akan siap senantiasa untuk dihabisi oleh dia. Hahaha.. okey!


Kembali ke Bus, saya membeli beberapa camilan dan melahap semuanya. Kemudian tertidur. Tak lama saya terbangun karena mendapat SMS dari Ratih "sudah dimana?" Hmm... "dihatimu" hehe... dan sms-anlah kami, mungkin karena tengah malam saya jadi tak berselera mengeluarkan suara. Sule juga sedang pulas. Dan SMS berakhir ketika parade sunrise dimulai, didaerah dimana ketika saya menengok ke arah kanan terlihat pegunungan dan menengok ke arah kiri yang ada adalah hamparan lautan. Itu samudera!



Lamongan, 16 Juni 2012; Pukul 10:43 AM

Saya terbangun ketika mendapat sms dari Ali (teman saat di Bandung), "gmana udah sampai malang?" Adduh, saya sedikit sadar semestinya jika semua berjalan sesuai jadwal jam segini saya sudah ada di Malang. Saya balas sms itu "belum, masih dilamongan nih"... "oh udah dekat kok", okey... setelah saya menanyakan langsung ke Bapak petugasnya jarak Lamongan - Malang itu sekitar 3 jam. Ini artinya prediksi waktu kemarin melenceng, Hmm... saya kembali dibuat sibuk dengan perhitungan waktu dan berharap sebelum Magrib saya sudah ada di Bromo.

Pasuruan, 16 Juni 2012; Pukul: 11:22 AM

Ini keren! Bus keluar dari Tol dan disajikan dengan menu pegunungan. Hmm, gunung apa itu yah? Bayangan tentang Bromo semakin dekat. Saya tiba-tiha teringat dengan jurnal yang pernah saya baca tentang petualangan ke Bromo, katanya ke Bromo itu lebih dekat jika melewati jalur Pasuruan. Dan saya pun menanyakan ke Embek (Teman Om Stupid Monkey), tentang alternatif melalui Pasuruan. Dan dari Embek saya mendapatkan informasi bahwa jalur Pasuruan itu kendaraan jarang, musti nunggu lama sementara waktu saya tak banyak. Lagi pula untuk lewat jalur tersebut juga harus ke Arjosari dulu, yah sama saja dengan rute saya sebelumnya. Masa musti putar balik? Hihi...


Terminal Arjosari - Malang, 16 Juni 2012; Pukul: 01:17 PM

Pokoknya saya mau makan bakso malang! Hehe... itu adalah kalimat pertama yang saya lontarkan ke Sule saat pertama kali kami melihat tulisan selamat datang di Kota Malang. Dan benar saja, setelah bongkar muat di Arjosari saya dan Sule langsung mencari Bakso diarea terminal. Rasanya? Hmm... sama aja sih, hihi. Tapi puaslah!


Setelah makan siang kami langsung menuju tempat angkutan Arjosari menuju Tumpang. Dan dapat! Gak berapa lama sih ngetamnya dan berangkatlah kami menuju Pasar Tumpang. Oh iyya angkot yang kami tumpangi ini berwarna putih, dan biayanya 5rb/pax. Mahal sih kalau mau dibandingkan dengan angkot di kota Makassar, yang jauh dekat harganya 3rb/pax.

Perjalanan dari Arjosari menuju Tumpang memakan waktu sekitar 30 menit, mungkin lebih lama karena angkot yang kami tumpangi rame. Turun 1 naik 3 org, hehe... over penumpang. Malah lucunya sengaja disediakan bangku cadangan yang bisa ditarik untuk penumpang tambahan. Total penumpang full itu sekitar 15orang, belum lagi didepan ada 3 orang. Wedew! Padahal untuk ukuran angkot itu cukup dengan formasi 4:6 ditambah 2 orang di depan.

Sebelumnya saya sudah mendapat pengarahan langsung dari Om Stupid Monkey tentang jalur ke Bromo, dan saya juga mendapat nomor kontak temannya yang tau betul bagaimaa bisa sampai dibromo. Ketika bongkar muat di pasar Tumpang, saya langsung saja minta diantarkan ke Alfamart tempat dimana orang-orang yang menyewakan Jeep itu nongkrong. Baru saja turun dari angkutan saya dihampiri oleh seseorang yang bernama Pandu, ngobrollah kami tentang bagaimana bisa sampai di bromo.

Okey, untuk bisa sampai Bromo kami harus menyewa Jeep dengan harga 450rb. Dan itu mahal! Saya kemudian membayangkan berapa harga lagi yang musti saya keluarkan untuk menyewa Jeep esok harinya untuk menikmati pesona bromo, dan jeep untuk kembali kepasar ini. Semakin mahal! Dan mulailah tawar menawar saya, sule dan pandu. Mau tidak mau saya menyewa Jeep menuju Bromo karena alternatif lain hanya ojek, 2 jam ngojek? Hmm... skip! Beruntung Pandu memberikan alternatif perjalanan pulang yang lainnya, melewati jalur Probolinggo. Selain harganya bisa lebih murah, kami akan pulang dengan rekaman view alam yang semakin kaya. Akh! Ini keren...

Setelah banyak ngobrol, Jeep bisa kami dapatkan dengan harga 400rb. Tidak bisa kurang lagi. Tak berapa lama, Jeep kami datang dibawa oleh seseorang yang kami kenal dengan nama Pak Mun. Seseorang yang sangat ramah dan "pacarita", senyumnya khas. Dia Bapak kami dalam perjalanan menuju Bromo.

***

Alternatif perjalanan dari Bandung menuju Bromo bisa dengan menggunakan Bus Pahala kencana harga sekitar 180-215rb, menuju terminal Arjosari. Diterminal Arjosari carilah angkutan putih yang menuju Pasar Tumpang, ongkosnya 5rb. Dari tumpang menuju Bromo bisa menyewa Ojek dengan harga 100-200rb atau menyewa Jeep dengan harga 400-450rb.

Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.