Showing posts with label Hongkong. Show all posts
Showing posts with label Hongkong. Show all posts

14/03/2013

[Hongkong-Macau][13.1] From Hongkong to Macau, welcome to the old city...

Sabtu, 26 Maret 2013
Hari ketiga

Pagi-pagi kami sudah musti siap-siap, dari semalam saya sudah packing jadi bangun sedikit terlambat tidak membuat saya terburu-buru. Pukul delapan, setelah sarapan kami berkumpul di lobby hotel. Semua barang sudah berjejer, tinggal menunggu bus dan pak Yau untuk membawa kami ke pelabuhan.

Saya mempersiapkan kamera, hari ini saya berniat berburu gambar ditempat manapun kami akan disinggahkan. Sepanjang jalan menuju pelabuhan saya gunakan untuk memotret bangunan dan aktivitas pagi hari. Orang Hongkong kebanyakan tetap bekerja dihari sabtu, dan baru libur dihari minggunya. Kata pak Yau, ada satu daerah namanya Victoria park dihari minggu dipadati oleh buruh migran asal indonesia (TKI), sama halnya seperti pekerja kantoran saat berlibur mereka diberi kesempatan untuk memanfaatkannya sebebas yang mereka inginkan, salah satunya berkumpul bersama teman-teman dari satu negara, rata-rata mereka datang dengan penampilan yang modis, tidak nampak seperti pembantu, dari pagi hingga petang mereka bercengkrama satu sama lain, ada malah yang memanfaatkan untuk mencari uang tambahan dengan berjualan makanan khas Indonesia.


Pukul sembilan, kami sudah tiba dipelabuhan. Ini adalah kali pertama saya naik kendaraan laut selama satu jam waktu tempuh Hongkong - Macau. Awalnya saya kira Macau dan Hongkong itu satu daerah administratif, barulah pada saat dipelabuhan Hongkong menuju gate ferry yang akan membawa kami menuju Macau kami harus melewati pintu imigrasi. Macau dan Hongkong adalah dua negata administratif Republik Rakyat Cina (RRC), masing-masing memiliki otonomi daerah sendiri. Keluar masuk Hongkong - Macau tetap harus melalui pintu imigrasi.


Pertama kali naik ferry, rasanya goyang-goyang. Seru sih, kapal yang saya tumpangi ini memuat banyak penumpang dimana untuk kelas VIPnya ditempatkan dilantai 2 kapal. Dari yang saya liat, kebanyakan diferry ini diisi oleh bapak-bapak yang dandanannya khas masyarakat pinggiran cina (yak, lagi-lagi teringat film), kalau di Hongkong kebanyakan kita melihat orang-orang modern yang berpenampilan stylish maka dikapal ini sebaliknya. Satu jam terombang ambing ternyata tidak membuat saya mual, saya malah tertidur karena bingung mau bikin apa.

Satu jam berlalu dan Hop! Welcome to Macau...

Macau terlihat sangat "berumur" sepanjang jalan kita disuguhi banyak bangunan bergaya Eropa, sisa-sisa jajahan Portugis. Cuacanya lebih dingin dari Hongkong, dan yang mengherankan adalah pada jam sibuk seperti ini kenapa kota ini justru terlihat seperti kota mati? Bangunan pertokoan dan cafe-cafe tertutup, tidak begitu nampak aktivitas orang-orang, jalan terlihat lowong..

Ce' Pauline
Selama di Macau kami ditemani oleh tour guide wanita yang bernama Pauline, we called her cece paulin. Orangnya rame, ceriwis lincah dan reaktif. Benar kata pak Yau, kalau kita bicara satu hal sama si cece ini jawabannya akan jadi sepuluh. Bawelnya poll, seperti tidak kehabisan tenaga. Saat dia kehabisan bahan untuk menerangkan setiap sudut kota macau maka dia akan bernyanyi dan mengundang teriakan menggoda dari rombongan kami... akh, tour guidenya juara!

Bayangan saya tentang Macau ada didalam film F4, pantainya yang indah dan suasana eropa dalam sebuah gedung, naik gondola mentusuri sungai kemudian kita dinyanyikan lagi seriosa oleh pengemudinya. Romantic! Tapi itu cuman imajinasi saya, sepanjang bicara cece pauline ini hanya menggembargemborkan soalan Macau adalah "las vegas" asia. Kota judi terbesar di asia, dan terdapat puluhan kasino besar. Orang terkaya di Macau adalah Stepen chau, istrinya ada delapan katanya dia mencari istri kesembilan. Siapa tau ada yang berminat? Haha..

12/03/2013

[Hongkong-Macau][13.1] Menikmati santapan Nusantara

Jum'at, 25 Januari 2013
Hari kedua

Untuk hari ini city tour akan diakhiri setelah makan malam. Dari victoria peak kami dibawah ke salah satu restoran yang cukup terkenal di Hongkong. Restoran Indonesia. Akhhh, mendengar kata Indonesia saya mendadak lapaaar! Dipikiran saya dan teman-teman, akhirnya makan enak...

tampakan depan resto
Kami tiba direstoran Indonesia sekita pukul empat lebih. Kami masih diberi waktu untuk belanja lagi di toko-toko yang berjejer disepanjang jalan, serasa di ciwalk bandung euy. Toko berjejer memajang display dari koleksi mereka yang paling oke, apalagi saat kami di Hongkong menjelang tahun baru cina makanya setiap toko memberi diskon tinggi agar barangnya habis terjual. Melihat barang yang memang lucu-lucu saya memutuskan untuk kembali keresto lebih awal. Godaannya tinggi, di restoran ada Pak Yau yang tengah menikmati soto ayam yang masih hangat. Sepertinya enak...

Restoran ini milik orang keturunan cina, pernah lama di Indonesia makanya mereka sangat fasih berbahasa Indonesia. Beberapa karyawannya pun sangat fasih berbahasa indonesia walau dengan tampang mandarin. Yang membuat saya terkesima adalah seorang kakek tua yang masih tampak semangat melayani para pengunjung walau dengan langkah patah-patah. Ini mungkin satu dari banyak orang tua yang memilih untuk tetap bekerja pada usia lanjutnya dari pada duduk-duduk saja dirumah. Selama masih bisa berjalan ya kenapa tidak :)

Mood restoran ini didesign hening, melihat sekeliling orang makan pelan-pelan, santun tanpa ada percakapan dan suara-suara yang mengganggu. Kebayang kalau sedang makan bersama teman-teman, tempat makan selalu menjadi tempat paling onar, sambil makan sambil ngobrol, tidak jarang malah kita makan sambil ketawa-ketawa, tidak memperdulikan kenyamanan pengunjung lain.

Pose nunggu makanan

Akhirnya makanan yang ditunggu-tunggu keluar, ada pecel, kari ayam, sop ayam, ayam goreng, telur rebus dan sayur santan. Jika dibandingkan dengan makanan sebelumnya, tentu saja makanan yang disini lebih nampol. Tapi kembali lagi, rasanya tetap beda. Mungkin bahannya memang tidak khas dari Indonesia, leher tidak pernah bisa berbohong, ini memang masakan Indonesia, tapi citarasa tetap Hongkong punya, lengket dileher... walau begitu, disemua meja makanan bersih tak bersisa. Sebagai makanan penutup kami disuguhkan segelas es cendol yang, enaaaaaaak! Sayang ukurannya kecil, pas minta tambah lagi satu gelasnya seharga 35HKD. Hmm, gak jadi: mendadak kenyang ;)

Dari restoran kita kemudian diantarkan ke Hotel. Masih jam tujuh malam, makanya teman-teman berniat untuk kembali ke ladies market untuk membeli apa yang masih bisa dibeli, soalnya ini adalah hari terakhir kami di Hongkong besok paginya sudah musti kepelabuhan untuk nyeberang ke Macau. Waktu diajak jalan saya memilih untuk stay dihotel menikmati me time dinegara orang, seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya jatuh cinta dengan design interior kamarnya, belum sempat berlama-lama dalam kamar.

Dikamar sendirian, saya menyalakan TV pada sembarang channel, memutar lagu-lagu kesukaan saya dari handphone.. kegaduhan yang selalu saya nikmati saat ada dikamar hotel: soalnya kalau tidak ada suara suka parno sendiri. Saya duduk dikursi yang menyatu dengan jendela besar, memegang buku yang tak sama sekali saya baca, hanya nengok keluar jendela: dari ketinggian lantai 9 saya tetap bisa menikmati satu sisi Hongkong yang tak pernah mati dimalam hari. Cantiknyaaaa...

Setelah packing, pukul dua belas lebih saya tidurr. Asli nyaman hotelnya...

[Hongkong-Macau][13.1] Jumbo Kingdom & Victoria Peak

Jum'at, 25 Januari 2013
Hari kedua

Dari toko perhiasan, sekitar pukul sebelas lebih kami dibawa menuju Restoran Jumbo Kingdom. Entah kenapa sesi makan di trip kali ini menjadi sesuatu yang tidak menarik buat saya, hehe...

Restoran Jumbo Kindom itu terletak di perairan Pelabuhan Aberdeen, sebuah restoran yang dibuat terapung dengan nuansa kerajaan cina. Untuk menuju restoran tersebut kita menaiki kapal kecil selama 5 menit. Lumayan membuat salah seorang teman saya mual. Tiba dipintu restoran, suasana kerajaan-kerajaan di film mandari begitu terasa. Lukisan didinding, interior ruangan menuju ruang makan, plus diujung ruang utama terdapat jejeran kursi raja yang bisa kita gunakan untuk berfoto. Pihak restoran pun memanfaatkannya, jika ingin berfoto dikursi tersebut lengkap dengan kostum raja cina harus bayar.

 

Tidak lama menunggu, makanan pun keluar satu persatu. Saya sudah lupa makan apa saja yang disajikan di Jumbo Kingdom ini, yang saya ingat saat itu saya hanya menikmati nasi plus abon yang selalu siap sedia ditas teman saya. Sisanya saya hanya memakan 2 jeruk dan 1cup teh tawar. Saat minta air putih, pelayannya malah joget-joget seraya mengucapkan "money... money... money". Sebenarnya sayang juga melihat makanan yang sebegitu banyaknya tidak habis, bahkan dibeberapa meja malah tidak tersentuh sama sekali, teman-teman saya lebih memilih menyeduh popmie, padahal sepertinya makanan direstoran ini sangat mahal. Inilah resiko tour pake travel, suka gak suka yah harus nurut... sudah sepaket, kan gratisan. Haha, iya juga sih. Tapi yang bayar kan kantor... tetap sayang duitnya *aaakh*


Santap siang selesai, waktunya melanjutkan perjalanan ke tempat yang paling spektakuler di Hongkong. Victoria peak! Yeay...

Victoria peak adalah tempat dimana kita bisa menikmati negara Hongkong dari ketinggian. Kalau sedari tadi kita melihat begitu bangak bangunan tunggi dari bawah mendongak keatas, nah disini untuk melihat bangunan tersebut kita tinggal menundukkan kepala. Selain bisa menikmati hongkong dari ketinggian, di victoria peak ini juga tempat museum madame tussauds berada, tau kan... tempat wisata yang memamerkan replika bintang ternama dunia dalam bentuk patung lilin yang nampak begitu hidup.


Untuk menuju victoria peak kita harus mengambil karcis untuk mengantri trem. Untung saja pak Yau punya "saham" disini sehingga kami hanya melewati jalur khusus yang tak perlu lama mengantri dan berdesakan seperti yang lainnya. Berjalan mulus disebelah orang-orang yang nampak kelelahan antri rasanya gak enak juga sih, tapi ya namanya jalur khusus jalur bebas hambatan. Saya rasa jalur ini pun didapat dengan harga khusus, jadi yah setimpallah yah. Hanya sebentar saja menunggu, trem yang memuat kapasitas 200orang sekali jalan itu datang dan berhamburanlah kami kedalamnya. Cari tempat duduk dan trem berjalan dikendarai oleh seorang wanita. Wow, wanita...


Jalur menuju vicoria peak ini sangat ekstrim. Saat nanjak, trem sempat berhenti entah apakah sengaja atau sedang ada masalah, tapi aksi berhenti ini sukses bikin beberapa orang nampak ketakutan karena kita berhenti di posisi tanjakan 80 derajat, gila.. rasanya seperti ingin tertumpah dari trem. Itulah kenapa saat ada dalam perjalanan pikiran buruk harus dibuang jauh-jauh, biar gak sering parno jika terjadi hal-hal diluar perkiraan.

Setelah berhenti beberapa menit trem akhirnya kembali melaju kencang. Subhanallah... indahnya kuasa Tuhan dipadu dengan kepintaran makhluknya membuat perjalanan menuju victoria peak begitu mengesankan. Pemandangannya juara! Yang seperti ini yang membuat saya kembali merasa bodoh, bisa-bisanya bawa kamera tapi baterainya malah ketinggalan dihotel. Hoho...

Finally victoria peak! Langsung ke madame tussauds. Antri lagi, sesi antri kali ini kita diminta satu-satu berpose dengan patungnya Jackie Chan yang nantinya bisa diambil hasilnya saat keluar dari museum, harus bayar tapinya. Itu kalau mau.

Sedikit tips kalau mau ke museum madame tussauds ini, kita harus punya partener minimal satu oranglah yah dan ingat kadar kenarsisannya harus sama karena disinilah bisa dilihat ego mereka yang narsis sejati, hanya mau difoto di semua karakter patung dengan berbagai pose pas diajak gantian malah ogah-ogahan. Hehe... saya melihatnya begitu. Banyak yang seperti itu. Dan beruntunglah yang berpasangan dengan saya, si Sule, karena saya kurang nyaman dengan patung-patung yang ada dimuseum ini. Keren sih, sempurna, sangat-sangat mirip tapi ketika saya menatap kebagian mata dan memegang detail kulit dan rambut patung-patung tersebut yah aneh saja. Ini bukan cerita horor, tapi memang tidak begitu nyaman...

Walau tidak senang, pada beberapa karakter saya tetap minta difoto: sama abang-abang the beatles, sama artis yang gak tau siapa namanya tuh plus sama abang ronaldinho. Hihi... sudah cuman tiga saja. Teman saya yang cowok-cowok agak ekstrim sih posenya, kebenaran banyak artis cewek yang cantik dan pakaiannya seksi, yah jadinya walau berfoto cuman sama patung tetap saja "usaha", hehe..

Keluar dari madam teussued, kami dibiarkan untuk berbelanja. Dan harus berkumpul ditaman pada pukul tiga. Belanja itu seperti sebuah naluri, bisa jadi sebagai penambah semangat dalam sebuah perjalanan. Haha, sesi kali ini saya pun ikut berbelanja pajangan boneka jepang, biar Sizuka ada temannya. Hehe... itu saja, setelah itu saya keluar dan menunggu rombongan bersama beberapa teman.

Dari kejauhan terlihat stand penjual eskrim, saya mendekat dan melihat harga 7HKD membuat saya tergiur. Saya minta satu cone dan memilih eskrim rasa mangga sebagai topingnya. Pas mau bayar, saya keliru.. ternyata 7HKD itu hanya untuk conenya saja. Dan untuk eskrimnya, yang hanya 1 scope kecil harganya 40HKD. Mampus! Jadi untuk 1 eskrim ukuran cornetto mininya walls di Indonesia itu nilainya 47HKD. Ih! Begonyaaaa... padahal saya sudah memperketat pengeluaran tapi ya kecolongan juga, ikh... saya sempat berdiri mematung (ceritanya shock) tapi tetap menikmati eskrim ditangan, enak sih memang dan kejutaaaan! Bukan cuman saya yang tertipu dengan display toko eskrim itu, bule yang membeli 4 untuk anak-anaknya pun merasa dirampok setelah meninggalkan stand eskrim. Hihi, jadi wisatawan dinegara asing memang harus ekstra hati-hati yah...

Satu lagi resiko ada dalam rombongan wisata yang banyak ibu-ibunya adalah, tidak tepat waktu. Ya iyalah, apalagi kita disuguhkan dengan banyak agenda belanja dan seperti yang kita ketahui kalau lagi belanja itu tidak baik kalau terburu-buru, musti pilah pilih, tawar menawar, belum lagi kalau banyak barang yang lucu-lucu. Dari pukul tiga yang ditargetkan untuk kembali ke bus, molor sampai 1 jam lebih. Makanya tour guide yang dari Indo sedikit kesal. Tapi namanya melayani yah tetap saja tidak bisa berbuat banyak selain mengingatkan agar tidak terjadi lagi, soalnya masih banyak agenda tour yang belum selesai.

Rombongan saya lengkap, kali ini kita turun tidak menggunakan trem tapi dengan bus yang entah dari mana datangnya. Masih bus yang sama dengan bus yang dua hari ini membawa kami. Turun dari victoria peak kami melewati jalur yang bebas dilalui oleh kendaraan umum, pemandangannya lebih menarik karen sisi kanan disuguhkan dengan pegunungan dan rumah-rumah mewah sementara sisi kirinya jurang yang bawahnya adalah kota hongkong, akh... masih saja kereen. Salah seorang tema harus menutup mata sepanjang perjalanan karena dia takut ketinggian, ketika dia melihat sedikit saja isi perutnya seperti ingin keluar.

[Hongkong-Macau][13.1] Avenue of star, de el el...

Jum'at, 25 Januari 2013
Hari kedua

Well, satu hal yang tidak menyenangkan dari perjalanan dengan menggunakan jasa travel adalah: Morning call! Errrr, walau biasanya saya bangun lebih cepat dari morning call tetap saja mengganggu dan kesannya memburu. Serasa akan ada apel pagi >.<

View depan hotel, room 908
Okey, hari pertama bangun pagi di Hongkong itu rasanya segar. Melihat keluar berharap ada matahari eh tau-tau cuman disuguhi bangunan bertingkat, didepan kamar saya ada dua flat yang bangunannya terlihat tua. Seperti kata Pak Yau, di Hongkong itu setiap rumah ada benderanya masing-masing (baca: jemuran). Tapi sepertinya Hongkong akan terlihat jauh lebih menarik tanpa adanya parade jemuran itu, hehe... mengganggu!

Setelah sarapan pagi, kami bergegas menuju lobby untuk menunggu bus yang akan membawa kami city tour di Hongkong. Keluar dari hotel cuaca dingin mulai terasa, anginnya menusuk tapi tidak sampai membuat badan menggigil. Kalau kata saya suhunya standart, pakai sweater saja cukup asal banyak bergerak pun pasti akan kegerahan juga. Alhamdulillahnya saya berjilbab, cukup dengan pakai pasminah berbahan tebal lumayan membuat badan lebih hangat. Pukul delapan lebih bus sudah tiba, diatas sana sudah ada pak Yau yang terlihat begitu segar...
 
  
Spot pertama yang kita tuju adalah Avenue of stars yang terletak didaerah Victoria Harbour, masih di pulau Kowloon dan kurang lebih hanya 30 menitan dari hotel tempat kami menginap.

Tiba di Avenue of star, kami bergegas turun dari bus. Sebelumnya kami diingatkan jangan mencar dulu karena akan ada pengambilan gambar rombongan dengan latar belakang kota hongkong. Begitu turun dari bus, beuh... dingiiiin... entah berapa derajat, yang membuat dingin adalah anginnya yang bertiup kencang. Yah tempatnya berbatasan langsung dengan laut, dan untuk menikmatinya kita harus menelusuri dengan berjalan kaki.


Avenue of star ini dibangun oleh pemerintah Hongkong sebagai penghargaan terhadap industri perfilm-an, makanya tidak heran jika sepanjang jalan kita akan disuguhi oleh patung-patung yang memvisualisasikan pembuatan film, kamera besar plus patung artis, selain itu dilantainya kita akan menemukan banyak cap tangan plus tandatangan dari bintang-bintang tersohor dari hongkong. Yang membuat Avenue of star ini terlihat lebih menarik sebenarnya adalah posisinya yang strategis, dari tempat kita berdiri kita disuguhi pemandangan laut dan jejeran bangunan tinggi. Tampak seperti model yang bersaing menunjukkan kemolekannya. Mungkin akan tampak lebih indah jika dikunjungi pada malam hari melihat atraksi lampu kerlap kerlip.

 

Sial bener saya disini, pertama baterai handycam saya abis dan tak sempat ngecas gara-gara semalam tas kamera saya tertinggal dikamar teman. Kedua, saya bawa kamera dan pas saya lihat eh baterainya tertinggal di koper dan itu ada di hotel. Ketiga, yang bisa diandalkan tinggallah kamera hape, itu juga lowbat... powerbank tak lagi mampu buat isi daya, biasanya memang saat cuaca dingin baterai jenis apapun dayanya akan lebih cepat habis. Jadinya hanya bisa menikmati pemandangan dengan mata telanjang, sempat beberapa kali ngejepret pake kamera teman. Tapi bagi mereka saya gila, karena lebih suka motret tidak jelas ketimbang motret mereka. Haha...

Oke, dari Avenue star kita kemudian dibawah kesebuah toko coklat yang terletak tidak begitu jauh. Saat masuk ketoko tersebut kita akan disajikan potongan coklat almond yang rasanya, ehekk... enak bangeeet! Saya berniat membeli banyak soalnya orang-orang rumah penggila coklat, tapi begitu lihat harganya, ehekk... mahal banget! Saya akhirnya memilah dan memilih, dengan uang 100HKD saya hanya dapat 2 bungkus coklat almondnya. Padahal duit segitu kalau dibelikan kaos Hongkong sudah dapat 7 lembar, tapi lagi-lagi ingat orang rumah. Saya tidak pernah makan coklat seenak ini sebelumnya, makanya bela-belain dibawa pulang biar mereka juga bisa mencobanya.

oleh-oleh coklat, mahal bleh >.<

Dari rumah coklat kami dibawah menuju toko perhiasan yang katanya milik Jackie chan, kalau dari luar bangunannya biasa banget pas masuk wadduh... luas dan mewah sekali. Sepertinya memang bangunan toko perhiasan ini didesign untuk dinikmati oleh wisatawan, dari tempat kita masuk kita akan disambut oleh batu besar berwarna ungu yang kata pak Yau bisa mendatangkan rejeki, kami disuruh memasukkan tangan kemudian mengusapkannya kekepala biar berkah katanya, teman saya banyak yang melakukannya berharap apa yang dikatakan pak Yau itu benar, dan saya hanya senyum melihat mereka sedikit desak-desakan, yah soal rejeki dan keberuntungan itu mah tergantung keyakinan kita saja. Setelah tempat batu itu kita akan masuk pada satu ruangan tertutup dimana kita dijelaskan banyak tentang batu-batu tersebut, lalu pintu terbuka dan tau-tau kita terarah masuk kebagian pembuatan perhiasan, dan berakhir di satu ruangan dimana perhiasan tersebut dipajang sedemikian menariknya. Bagi mereka yang menggemari aksesoris dijamin dibuat setress, harganya selangit bo!

 

Seperti yang saya katakan sebelumnya, penjual di Hongkong itu agresif dan "berbahaya", ada teman kantor saya yang dimarahi gara-gara menanyakan harga aksesoris, karena merasa terlalu mahal dia menawarnya dan ternyata tawarannya terlalu rendah. Haha.. sibapak langsung kabur. Tapi walau barang-barang yang dijualkan sangat-sangat mahal, ada juga teman kantor saya yang beli jam tangan. Jangan tanya saya soal cantik atau tidaknya, selera saya terlalu simpel untuk perempuan. Setelah kembali ke bus dan kita coba menghitung, tetnyata harga jam tangan mewah yang menurut saya biasa itu sekitar 3juta rupiah.

Tarik nafas... hembuskan..

11/03/2013

[Hongkong-Macau][13.1] Malam di Ladies market

Kamis, 24 Januari 2013
Hari pertama:

Setelah beres-beres barang, bersih bersih badan rombongan kami berkumpul di lobby hotel dan bergerak menuju Ladies Market. Padahal badan masih lumayan capek, tapi namanya mumpung di kampung orang jadi waktu dimanfaatkan maksimal untuk menyusuri jalan sepanjang kota.


Sebelumnya kami sudah diberitahu oleh pak Yau, untuk ke Ladies Market kita bisa menggunakan taxi, bayarannya tidak akan lebih dari 20HKD dan satu taksi itu memuat maksimal 5 orang jadi jatohnya akan murah. Waktu ke ladies market saya terpisah dengan teman-teman cewek, jadilah saya ngikut dirombongan cowok tapi ada bagusnya karena sebelum ke ladies market kita sengaja jalan-jalan dulu menelusuri sepanjang jalan dan gang-gang depan hotel. Disini pejalan kaki saja diatur, ada rambu-rambunya. Sepanjang jalan banyak pertokoan dengan aneka macam jualan, yang aneh itu jajanannya karena beraneka macam jeroan digoreng dengan bumbu-bumbu yang baru dilihat saja sudah bikin "enek", kali ini say no to culinary!

kalo yang ini cuman display, enak keliatannya :)

Setelah berkeliling, kami akhirnya menunggu taksi untuk membawa kami menuju ladies market. Taksi datang, dan kami hanya menyebutkan "ladies market" sopirnya langsug mengerti dan mempersilahkan kami naik. Didalam taksi saya duduk disamping sopir yang usianya kira-kira lebih dari 50 tahun. Tapi jangan salah, walau sudah tua kami sukses dibikin ngeri dengan gaya nyetirnya yang bisa dibilang ugal-ugalan. Parah! Kita mulai panik, jangan-jangan pak sopirnya mabok, tapi dia tetap tenang-tenang saja, tidak bereaksi sama sekali melihat kami. Saat ada dalam jalan tikungan berbelok, pak sopir tetap melaju kencang hingga nyaris mencium bibir jalan barulah melakukan manuver, sport jantung! Hosh... hosh... Hamdalah, 15 menit yang menegangkan. Akhirnya tiba juga di ladies market.

Ladies market adalah pasar tradisional masyarakat hongkong, disana banyak dijual pernak pernik khas hongkong tapi tidak bagi wisatawan saja barang-barang keperluan sehari-hari pun banyak ditemukan disana makanya pasar tersebut sesak oleh pengunjung dari berbagai macam etnis. Tak jarang saya menemukan orang-orang yang juga dari Indonesia yang tengah terlibat proses tawar menawar. Sepertinya memang pasar ini sudah menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi jika bertandang ke hongkong. Karena selain menjajakan barang-barang jualan, kita pun akan disuguhi atraksi yang menarik, seperti akrobat ada lagi aksi penyanyi jalan yang sukses menyihir banyak pengunjung singgah sebentar untuk menonton dan melupakan aktivitas belanja belanjinya.


Ladies market ini terdapat dalam dua gang, gang satunya dipenuhi oleh jualan handmade, aksesoris, kaos dan barang-barang yang bisa didapat dengan harga murah sementara digang satunya berjejer ruko-ruko yang dari bannernya memperlihatkan jika barang-tersebut mahal, branded! Yang perlu diingat bahwa rata-rata penjual yang ada di ladies market ini sangat agresif, sekali kita menanyakan barangnya kita akan dikejar hingga penawaran terakhir, hanya dilepaskan ketika mereka sukses melepaskan barangnya yang ditukarkan dengan uang dollar kita.  Sold out, you go! Jadi untuk mereka yang tak begitu jago tawar menawar sebaiknya jaga diri baik-baik, kalau tidak anda akan kalah telak! haha...

Puas menikmati "dunia malam" di hongkong, kami kemudian menuju perhentian taxi untuk kembali ke Hotel. Karena ladies market ini sangat luas dan padat makanya kami terpencar-pencar sesuai dengan teman se taxi. Nah kalau dengan mereka saja terpisah itu artinya, pulang sendiri. Apalagi kan selain memanfaatkan fasilitas wi-fi, kami tidak ada alat komunikasi selama berada di Hongkong.


Dalam perjalanan pulang lagi-lagi kami menumpangi taksi yang gaya nyetirnya seperti orang mabok, ugal-ugalan. Dan usut punya usut, setelah tiba di Hotel dan ngobrol-ngobrol didepan lorong kamar teman-teman yang lain pun merasakan hal yang sama, sopir taxi di Hongkong itu gayanya ugal-ugalan, serasa di area balapan. Saya jadi teringat beberapa film mandari, yang scenenya memperlihatkan polisi dan penjahat saling kejar-kejaran diatas mobil, yah memang pada dasarnya mereka jago balapan. Hahaha...

Pukul sebelas lebih kami masuk ke kamar masing-masing, time to rest! besok akan keliling-keliling Hongkong, yeay...

10/03/2013

[Hongkong-Macau][13.1] Rosedale hotel di pulau Kowloon

Kamis, 24 Januari 2013
Hari pertama
  
Tiba di Hongkong saya langsung terkesima dengan Bandaranya yang luar biasa besarnya. Saat kami menuju gedung terminal kedatangan suasana terasa sepi, bisa dibilang hanya ada orang-orang dari pesawat kami. Barulah saat melewati Imigrasi yang maha menegangkan itu, saya melihat banyak mata-mata sipit dengan bahasa yang terdengar asing dan lucu. Hehe...


Yang tak kalah lucu adalah, rombongan saya yang sejak dari Makassar sudah berpakaian ala-ala musim dingin dibuat tercengan dengan orang-orang yang berlalu lalang dibandara. Orang-orang bule malahan hanya pakai tanktop dengan paduan hotpants, atau orang-orang pribuminya sendiri mondar mandir dengan pakaian biasa berbahan tipis. Lah, katanya musim dingin? Hihi...

Pak Yau
Keluar dari Imigrasi kami disambut oleh seseorang yang wajahnya persis pemeran polisi yang biasanya ada difilm-film Jackie chan. Namanya pak Yau, wajahnya oriental abis dan kejutan... bahasa indonesianya juara! Dia banyak tahu istilah-istilah dari Medan dan Surabaya. Yah walau begitu pada pelafalan beberapa kata dia keteteran, semua kata yang menggunakan huruf "R" total diubah dengan "L", lidahnya tidak biasa.

Setelah selesai urusan bagasi, Pak Yau mengajak kami santap siang sekaligus malam. Sejak tadi memang kami melapar, menempuh perjalanan sebegini jauh dan lamanya. Kami diajak ke restoran cina yang entah apa namanya yang letaknya masih satu gedung dengan bandara, yang ada dibayangan saya adalah "enak" makan makanan ala-ala suki! Dan setelah makanan dikeluarkan satu persatu, mendadak saya mual. Tidak enak! Leher saya terlalu sensitif dengan masakan aneh-aneh, untung saja ada diantara kami yang membawa bekal ayam goreng kecap plus buras dari Indo. Saya minta sedikit, karena makanan restoran ini tak sama sekali bisa saya santap. Sementara yang lain, terlihat sangat berusaha menikmati makanannya. Hoho... ini baru permulaan ;)


Setelah makan kami bergegas menuju lobby, disana sudah ada bus yang akan membawa kami berkeliling Hongkong. Tapi eh tapi, saya yang kurang pengetahuan ini akhirnya tahu bahwa bandara Hongkong ini ternyata tidak terletak di Hongkong tapi di pulau Chek Lap Kok, untuk menuju pulau Hongkong harus menempuh jembatan yang begitu panjang. Tapi kami tidak langsung ke Hongkong, tapi kami dibawa menuju Pulau Kowloon tempat dimana hotel yang telah direservasi oleh pihak travel berada. Bisa dibilang wisata di Hongkong ini termasuk Island Hopping, karena kita dibawa dari satu pulau ke pulau yang lain, yang membuatnya berbeda adalah jika biasanya di Indonesia kita island hopping menggunakan boat, kali ini via darat melewati jembatan panjang atau underpass bawah laut. Kerenlah!

 

Well, dalam perjalanan menuju hotel kami disajikan pemandangan cahaya  lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi. Pak yau bilang itu adalah rumah, orang hongkong yah rumahnya seperti itu. Tanah di hongkong harganya mahal, makanya mereka hanya membeli flat, semakin tinggi letak lantainya harganya semakin mahal tapi jika memiliki riwayat penyakit jantung jangan coba-coba ambil tempat tinggi karena saat angin kencang rumah mereka kadang terasa goyang. Adalagi satu apartemen yang terlihat wah terletak ditengah pulau kecil, katanya untuk bisa masuk ke apartemen itu harus naik very dulu. Kalau punya kendaraan pribadi otomatis harus menyewa tanah lagi sebagai lahan parkir. Rempong ya orang hidup di hongkong.

Hal itu pulah yang menyebabkan kebanyakan orang hongkong yang berusia lanjut tetap memilih untuk bekerja walau dengan upah seadanya, jika tinggal dirumah yang hanya sepetak kanan kiri yang ada cuman tembok, menyebabkan mudah setress. Sangat tidak bagus untuk kesehatan, itulah mengapa usia produktif orang-orang hongkong lebih lama.

Pukul enam lebih, rombongan kami tiba di hotel. Dari informasi tourguide, hotel Rosedale yang terletak di jalan Tai Kok Tsui yang katanya adalah salah satu daerah lokal terkenal di pulau Kowloon ini merupakan hotel yang bisa dibilang masih baru. Interior lobby hotelnya didominasi oleh patung-patung abstrak, banyak ornamen lampu yang unik, hotel ini tak seberapa luas tapi dibangun menumbuh sehingga memuat banyak kamar. Saya jatuh cinta dengan interior kamarnya, kecil tapi diberi aksen luas dengan dominasi cermin dan jendela besar yang dibuat menyatu dengan kursi panjang. Sangat nyaman untuk baca buku. Saya sudah merekam detail dikepala saya, one day akan saya terapkan di kamar pribadi saya. Haha, kerennya pool!

Lampu lobby - eskalator menuju ruang tunggu - lorong kamar
Cowok-cowok memang susah rapih ya --"

Well, selain rombongan kantor saya di hotel ini pun ada rombongan wisatawan dari Indonesia, orang-orang Jakarta. Rasanya ya seperti dikampung sendiri :). Setelah sampai di Hotel, beres-beres barang trus bersih-bersih badan kami semua berkumpul di Lobby hotel, untuk ke spot selanjutnya: Ladies Market.
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.