Showing posts with label Bookshelf. Show all posts
Showing posts with label Bookshelf. Show all posts

16/07/2017

Men are from mars Women are from venus


‎"when men and women are able to respect and accept their differences then love has a chance to blossom"
John Gray, Men Are from Mars Women Are from Venus

03/03/2017

Entrepreneur


Tumpukan buku ini sepertinya menjadi saksi, menjadi tempat saya menitipkan mimpi-mimpi yang amat sangat menggebu-gebu sekitaran tahun 2007-2013. Menjadi seorang entrepreneur, memiliki usaha sendiri yang bisa menghasilkan dan mempekerjakan orang-orang. Being independent. Tapi ternyata, diakhir tahun 2013 takdir berkata lain. Usaha saya, kemauan saya dan segala yang saya lakukan justru membawa saya menjadi seorang ASN. Mengabdi adalah kerja utama saya, amat sangat jauh dari apa yang saya impikan awalnya. 

That’s life!

20/01/2016

If i stay



Buku yang pertama saya baca tahun 2016 ini adalah If I Stay karya Gayle Forman, pun menjadi buku berbahasa asing pertama yang saya baca diluar buku-buku teks kuliah. Masih canggung tentu saja, namanya juga masih belajar membiasakan diri dengan ratusan kata yang masih saya tebak-tebak artinya. Buku ini saya beli melalui teman yang sedang Perdin ke Jakarta, thankisss so machhh :)

Kenapa saya memilih buku berbahasa asing? 

Pertama; saya sangat tertarik dengan cerita yang ada dalam novel ini, awalnya sih saya mengenal judul If I Stay dalam bentuk film berdurasi 2 jam lebih, sempat juga saya tonton walau tak sampai tuntas; penilaian saya sih monoton cenderung membosankan, tapi semua review mengatakan bagus, masih ada sedikit rasa penasaran, apa iya sebagus itu? hingga saya temukan dalam versi novel. Mungkin novelnya akan lebih menarik, pikir saya dan karena saya tidak begitu tertarik membaca buku baik fiksi/non fiksi terjemahan maka saya nekat membeli Novel ini dalam bahasa aslinya, ya walau harganya ternyata jauh lebih mahal dibanding versi terjemahan. 

Kedua; saya sedang/masih dan akan terus berproses, membaca buku sambil belajar bahasa, ceritanya dapat ilmunya dapat. Insa Allah. Tetap konsisten meng-upgrade diri, walaupun dengan diri saya saat ini segalanya disekitar saya terlihat baik dan aman-aman saja. Belajar, belajar, belajar.. apapun itu, sekecil apapun usahanya, meninggalkan perkara kantor setelah jam kantor berakhir.

Sudah hampir dua minggu saya membaca, so far.. masih sedikit susah tapi mulai terbiasa. Lebih mudah ternyata mengerti percakapan bahasa asing saat menonton film, mungkin karena dalam pembelajaran visualisasi itu melibatkan gesture dan mimik pelakunya kali yah jadi tebaktebak tepat. Haha. Tapi, percaya dengan jargon ala bisa karena biasa, mungkin buku ini bukan buku cerita berbahasa asing terakhir yang saya beli, masih akan ada lagi, lagi dan lagi..

Smile!

05/01/2014

Sang Alkemis, halaman tigapuluh.


Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda tahu takdir mereka.
Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu ada daya misteri yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu. 
(paragraf 2-3)

Saya pribadi percaya, selalu ada jiwa anak-anak dalam diri setiap manusia. Maka dari itu, jangan matikan bocah ingusan Itu, karena itu adalah harta karun terbesar manusia yang selalu bisa memberikan energinya untuk terus berdiri pada banyak kekalahan, menganggap hidup tak ubahnya seperti bermain, tidak usah terlalu diambil pusing. Betapa menakutkannya menjadi tua, betapa membosankannya jika melulu menjadi dewasa. 

Tapi daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif, tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini: siapapun dirimu, apapun yang kau lakukan, kalau kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misimu di dunia ini.
(paragraf 5)

Mungkin benar, tidak ada yang benar-benar baik dan tidak ada yang benar-benar buruk didunia ini. Entahlah. Segala sesuatu memang harus sesuai dengan porsi dan takarannya. Bagaimanapun, bocah ingusan itu tak akan pernah bisa menangkap pelajaran-pelajaran yang ditebar oleh semesta melalui banyak kejadian-kejadian keras dalam hidup ini. Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan menangis dan merengek, apalagi hanya dengan menganggap semuanya baik-baik saja. Ya, segala sesuatu akan baik-baik saja, jika kita membuatnya baik.

Intinya buku ini keren. Mungkin amat sangat terlambat untuk bilang bahwa saya tertarik pada setiap kata yang ada dalam buku ini, mengingat banyak teman-teman saya sudah membaca dan mengatakan buku ini keren sejak jaman kuliah dulu. Hehe.. ya, bagi saya tidak ada yang namanya cepat atau lambat, yah semua hal, apapun itu akan datang pada waktu-waktunya sendiri, dimana dia akan menjadi jauh lebih baik karena memang baik, bukan karena euphoria/hasrat semata.

Well, hujan tak lagi turun diluar sana. Tapi cuaca dingin membuat saya sedikit kalem melewati hari-hari sibuk saya belakangan ini.. terimakasih Allah, masih dikasih sibuk, masih dikasih percaya untuk banyak belajar lagi. Jika menjadi kuat bisa mewakili rasa syukur untuk semua anugerah-Mu, maka saya memilih kuat dan cukup Engkau yang mahatahu tentang segala hal yang melemahkanku.


--Baji gau, 05 Januari 2014.

Hari ini Bapak ulang tahun, barakallahu Bapak.. Anakmu ini, bagaimanapun tetaplah anak-anak, tetaplah bocah ingusan. Terimakasih telah banyak mengajari saya bagaimana mencintai dengan tulus. Salam sayang dan hormat dari jauh.

24/10/2012

Test Pack

Test Pack edisi Revisi

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still loving them, then?
That’s way you need commitment
Don’t love someone because of what/how/who they are 
From now on, start loving someone, because you want to 
 
(Test Pack: Hal 196)

29/05/2012

Tentang Matahari


Membaca Sapardi, halaman: 57

Matahari itu? Ia akan selalu diatas sana
supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu itu
-SDD: tentang matahari-
mungkin seperti seseorang yang semakin lama semakin menghitam dalam ingatan, tapi ia tak benar-benar hilang karena ia ada dan akan selalu ada. kemudian menjelma menjadi bayang-bayang, yang akan selalu mengikutimu dalam (tidak)sadarmu, kemanapun kamu pergi...

untuk:
Alfia dan Xaga
the dream chatcher!

13/05/2012

[Supernova #3] Petir


Supernova #3

Buku ini saya habiskan hanya dalam hitungan jam, saat bangun tidur selepas shalat subuh dan selesai sebelum azan zuhur berkumandang. Cerita yang coba dipilih Dee sangat sederhana, dan begitu mengalir. Bahasa yang dipilihnya tak begitu kaya dengan istilah-istilah yang membuat dahi berkerut, hanya beberapa dialek sunda dan istilah2 kelistrikan yang sedikit membuat saya berhenti bernafas. Hihi, membaca buku ini membuat waktu serasa beku... tidak ada aktivitas selain membaca dan membaca, alhasil saya mandi pagi disiang hari #ups

Hmmm, apayah... saya masih dibuat tersenyum-senyum oleh lelucon-lelucon yang menyapa hidup saya beberapa hari ini. Oleh kepingan kejadian yang jika disatukan menjadi semacam pesan bahwa hidup ini sederhana saja, bahwa bahagia itu tak dapat diganggu gugat. Dan sekarang, dengan selesainya saya membaca buku ke-3 dari tetralogi Supernova milik Dee, senyum saya semakin lebar... hihi :))

“Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban” Hal: 299

Adalah Elektra Wijaya tokoh sentral dalam novel ini, seorang gadis keturunan Cina-Sunda. Elektra dibesarkan oleh Ayahnya, Pak Wijaya pemilik Wijaya Elektronik bersama seorang kakak perempuan bernama Watti yang memiliki hidup serba berkebalikan dengannya. Kehidupan bagi Elektra layaknya bioskop, dimana dia bisa menyudut menyepi dan menonton tanpa harus terlibat didalamnya. Sampai suatu hari ketika Ayahnya meninggal, Elektra sadar... tak satu orangpun bisa lolos dari Ombak kehidupan. Dan diapun mulai menjadi pemain, pelan dan pasti dia harus keluar dari posisi nyaman, gelap dan sepi kemudian menjadi bintang panggung dalam kehidupannya sendiri.

Elektra adalah seorang pengangguran, pemuja kemalasan dan begitu fanatik dengan tidur. Selain itu tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, padahal Elektra adalah jebolan univeraitas dengan gelar SE. Tapi diluar itu semua, Elektra memiliki kemampuan luar biasa dan dia sadari itu ketika dia menari bersama hujan dan tiba-tiba petir menyambar pohon yang tak jauh dari posisinya. Yah, Elektra memiliki muatan listrik dalam tubuhnya. Elektra bisa nyetrum.

Gerbang metamorfosis Elektra terbuka dimulai dari kejadian konyol perihal surat rekrutmen sebuah perguruan tinggi ilmu gaib yang meminta Elektra menjadi Asisten Dosen dengan beberapa syarat. Elektra yang mulai bosan dengan status sarjana pengangguran memutuskan untuk mencoba peruntungan itu, hahaha... yah walau pada akhirnya Elektra sadar jika surat itu hanyalah tipuan belaka, setidaknya dari situlah pertemuan demi pertemuan dilalui Elektra yang membawanya pada kehidupan baru, sebutlah beberapa tokoh: Ibu Sati yang mengajarkan Elektra untuk bisa mengendalikan kemampuannya, sekaligus menjadi Guru Spritualnya. Betrix teman kuliahnya dulu yang memperkenalkannya dengan dunia cyber, Keywoth-Bang Mi'un, Mas Yono dengan keunikannya masing-masing menjadi mitra bisnis sekaligus keluarga nonbiologisnya dan Mpreet alias Tony seorang maniak teknologi yang begitu... hmmm, apayah? Misterius! Kerenlah kata saya. Tanpa Mpreet ide bisa jadi tetap menjadi ide. Hanya ada Selekta Pop, bukan Elektra Pop.

Dan heyyyy.... pada keping terakhir buku ini, tokoh yang menjadi Favorit saya di Supernova #2, BONG! Dia muncul sebagai sepupu Mpreet yang tak sengaja bertemu di friendster dan berkunjung ke "Elektra Pop" untuk menemui Mpreet. Dengan membawa misi, menyembuhkan Bodhy, tokoh sentral dalam Novel kedua.

Dan novel ini berakhir dengan ending yang menganga... saya ikutan menganga! Huh, kepoo dengan kelanjutan ceritanya. Bagaimana dengan Partikel? Mungkin jawabannya ada disitu, Hmmm...

posted from Bloggeroid

05/05/2012

[Supernova #2] Akar


Supernova #2

Sedikit geleng-geleng baca novel ini. Bukan karena bahasanya yang ternyata tidak seberat Novel pertama, tapi lebih pada kejadian-kejadian konyol yang coba digambarkan oleh Dee sepanjang perjalanan sang Akar, Bodhy.

Well, sebelumnya saya belum pernah baca novel ini. Delapan tahun yang lalu saya cuman mentok dan benar-benar terpesona pada Supernova seri pertama; Kesatria, Putri dan Bintang jatuh. Senior-senior saya yang juga lebih dahulu membacanya rata-rata memberikan komentar yang kurang menarik, tidak sebagus yang pertama katanya dengan mimik muka kecewa. Saya seperti terhipnotis dan saya benar-benar tak pernah menyentuh novel ini.

Berbeda dengan Buku pertamanya yang bisa saya santap hanya dalam dua malam, buku Akar ini yang dari tampilan fisik lebih tipis justru saya selesaikan hampir seminggu. Apakah kurang menarik? Ohh tentu tidak, justru saya benar-benar menikmati perjalanan sang tokoh utama mencari kesejatian setelah lepas dari wihara tempatnya "lahir" dan menghabiskan masa remajanya.

Bodhy, adalah tokoh utama dalam serial ini. Sang akar dengan keanehan-keanehannya. Saya membayangkan Bodhy ini serupa Ang di film Avatar, berkepala gundul dengan tonjolan-tonjolan aneh. Bodhy bisa jadi tidak lahir dari rahim seorang ibu, hehe... entahlah! Dia ditemukan oleh seorang Biksu dalam sebuah peti dibawah pohon asam, orang tersebut yang akhirnya menjadi orangtuanya, guru sekaligus muridnya. Dia adalah Guru Liong.

Perjalanan hidup Bodhy dimulai saat dia memutuskan untuk meninggalkan wihara. Mencari kesejatian. Pergi sejauh-jauhnya tanpa tujuan yang jelas dan pasti. Dan dalam perjalanan inilah Bodhy banyak menemukan teman-teman yang dengan karakternya masing-masing mampu membuat novel ini menjadi lebih kuat. Semisal, Bong anak punk yang memiliki kharisma luar biasa dimata pengikut-pengikutnya yang tak sengaja ditemukannya saat kebingungan di Jakarta. Bong yang terlihat berantakan adalah bentuk pemberontakan yang tidak semata-mata karena ikut-ikutan, seperti kata Bodhy: Bong itu cerdas, berwawasan, Bong itu membaca! Bong mengerti realitas, Bong mengerti apa yang harus dia lakukan dalam keterbatasannya sebagai Individu. Dan Bong tahu betul kenapa pada akhirnya dia memilih jalan hidup seperti itu. Sayang, kisah tentang Bong tak banyak diceritakan dalam Novel ini.

Pada halaman-halaman berikutnya justru saya banyak tertarik pada tokoh Kell. Seseorang yang dipertemukan oleh "kondisi" mungkin juga "takdir" pada Bodhy. Kell adalah manusia aneh yang digambarkan berwajah tampan, yang mengajarkan ilmu tatto pada Bodhy. Yang tak bisa merasakan mati sebelum tubuhnya ditatto oleh Bodhy, Kell yang selama berbulan-bulan hidup bersama Bodhy hanya untuk memindahkan Ilmunya, setelah Bodhy bisa kemudian mereka berpisah dan pada akhirnya memang benar Mati ditangan Bodhy. Hmmm, sebenarnya tentang Kell ini tak bisa saya gambarkan dengan baik. Dia terlalu mempesonakan saya, sedikit membingungkan sih sebenarnya, terlalu banyak kata2 kasar yang tak henti keluar dari "mulutnya" hahaa... bacalah dan temukan dia benar sangat mempesona! Saya menikmati bagaimana hubungan Bodhy dan Kell terbentuk, saling menghargai dalam cacimaki. Nice!

Dihalaman lain ada Tristan, yang pada pertemuan pertamanya dengan Bodhy adalah seorang Backpaker dan pada pertemuan kedua dia berkepala gundul memutuskan untuk menjadi Biksu dan tergila-gila untuk menemukan sang Budha. Ada juga Star, gadis cantik yang membuatnya jatuh cinta tapi gadis tersebut malah jatuh cinta pada kepalanya. Hehehe... semua tentang star seperti lelucon! Cinta tanpa romansa, cinta Bodhy pada Star mewujud pada pasword emailnya yang akan mengeluarkan simbol bintang ketika ia ketik. Ada banyak lagi tokoh-tokoh ajaib lainnya yang menemani perjalanan Bodhy, melintas batas antar negara. Kadang saya dibuat begitu antusias, kadang sama sekali tidak menarik.

Membaca novel ini seperti membaca kisah-kisah perjalanan backpaker melakoni trip panjangnya. Mungkin hanya sedikit dibalut kalimat-kalimat sastra, percakapan-percakapan "dalam" dan kejadian yang terlampau konyol. Selebihnya, tak ubahnya seperti peta kecil wilayah Asia tenggara. Indonesia-Malaysia-Laos-Bangkok-Kamboja-Indonesia. Saya tercengang dengan kemampuan Dee meramu tempat-tempat yang didatangi oleh Bodhy, beserta bahasa yang dia gunakan. Hmmm, penulis pastinya punya wawasan yang lebih luas dari tokoh yang coba dibangunnya... salute to Dee!

"Kita tak pernah tahu apa yang kita rindukan sampai sesuatu itu tiba didepan mata" - Bodhy, dalam sebuah percakapan dengan pikirannya entah halaman berapa.

Makassar | 05/05/2012

posted from Bloggeroid

29/04/2012

[Supernova #1] Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh


Supernova #1

Buku ini sebelumnya pernah saya baca, tepatnya delapan tahun yang lalu saat untuk pertama kalinya saya membiasakan diri untuk membaca buku diluar teksbook, diluar kurikulum. Buku yang memperkenalkan saya pada sosok Dewi Lestari diluar kemampuan bernyanyinya, and see... hanya satu buku dan itu membuat saya begitu tergila-gila dengan pemikiran perempuan yang akrab disapa Dee. Dia begitu mempesona tanpa sedikitpun membiarkan rasa iri dalam diri saya muncul sebagai sesama perempuan yang sangat mencintai dunia tulis-menulis.

Butuh 2 malam selepas jam kantor hingga saya bisa kembali merasakan sensasi setiap patah-patahan peristiwa yang coba disajikan dalam Novel ini. Hampir sama dengan delapan tahun silan, saya tetap tak begitu mengerti (perduli) dengan perbincangan-perbincangan antara Ruben dan Dimas, pasangan Gay yang berotak Jenius. Bahkan terkesan terlalu kurang kerjaan, mengait2kan hidup dengan angka, dengan ilmu fisika, matematika dan teori-teori yang, huft... apalah!

Ini seperti Novel didalam Novel. Dimana dalam Novel ini, Dimas dan Ruben mencoba membuat mahakarya sebuah Cerita yang "menggugah", hasil kesepakatan 10tahun silam saat mereka masih mengenyam pendidikan ditanah Rantau. Dan ikrar itupun dibuat nyata, dalam satu cerita yang diberi judul: Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh.

Garis besar yang saya tangkap dari Novel dalam Novel ini adalah:

Pertama, perihal Rectoverso yang lebih gamblang dibahas pada halaman 193-195. Setiap manusia memiliki sisi hampa dalam dirinya, tidak utuh, sadar atau tidak. Sisi dimana manusia akan terus menerka dan mencari-cari bagian yang "hilang" dari diri mereka. Dan beranggapan bahwa sesuatu yang hilang itu terletak diluar diri mereka. Dan bagaimana jika ternyata sesuatu itu ada dalam diri kita sendiri, dia sangat dekat dan tak berjarak. Hanya butuh kita-manusia, sebagai pelaku aktif untuk merubah perspektif. Lalu kemudian berhenti untuk merasa hampa dan minta orang lain untuk melengkapi "kehampaan" itu. Mungkin bahasa sederhananya, yang juga sering digunakan oleh para Motivator bahwa kenalilah dirimu.

Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satupun yang dapat berpisah satu sama lain | Hal: 195.

Temukan kenop anda dan Putar.

Kedua, hal lain dalam Novel bertelur ini yang juga menarik perhatian saya adalah, tentang konsep pernikahan dalam hal ini ikatan komitmen yang sebelumnya tertanam indah dalam benak saya kembali porakporanda, dengan tumbal kebebasan yang sebenar-benarnya bebas. Hahaha, terdengar naif memang tapi itulah kenyataannya. Saya masih meraba-raba tentang pernikahan itu sendiri, apakah benar indah seperti apa yang selalu digambarkan indah oleh pasangan muda, atau menyakitkan seperti yang diperlihatkan oleh sahabat saya sendiri atau justru pernikahan benar berisi banyak pengorbanan-pengorbanan seperti yang selalu saja saya lihat nyata.

Dan bagaimana jika benar bahwa jika kita bisa melepaskan ketertarikan terhadap sesuatu, maka semakin dekat kita dengan keutuhan itu sendiri. Hmmm, mungkin ini yang disebut Ikhlas. Karena tidak ada sesuatu hal pun didunia ini yang benar-benar milik kita. Semua hanya fatamorgana, entah dengan perasaan cinta itu sendiri.

Dan saya baru sadar, saya amat mencintainya. Tapi saya lebih mencintai diri saya sendiri. Saya mencintai diri saya yang mencinta | Hal: 231

Dan, buku ini adalah kegilaan. Dee menciptakan karakter Ruben dan Dimas sepasang Gay jenius dan picisan, yang melalui dua sosok itu lahir pula Feree seorang Pria Idaman yang jatuh cinta pada Rana seorang perempuan yang sudah menikah. Bagaimanapun, cinta akan selalu menemukan tuannya. Hingga pada akhirnya Rana kembali pada Irwin, suaminya. Dan Ferre menemukan sosok Diva, pelacur bertarif dollar yang ternyata satu apartemen dengannya.

syam | thanks to Dee yang telah mengembalikan selera baca saya

posted from Bloggeroid

12/03/2012

Negeri 5 Menara! Akhirnya

Rencana saya untuk pulang cepat hari ini gagal. Saya baru bisa keluar dari kantor setelah pukul 05.30, itupun saya tak langsung pulang. Saya sengaja singgah ditoko buku yang letaknya tak jauh dari kantor saya. Saya ingin membeli sebuah buku, bestseller tapi seama ini saya abaikan begitu saja... Negeri 5 Menara.

Well, ini gara-garanya Jumat minggu lalu saya menonton film negeri 5 menara bersama neni dan ratih. Banyak penonton yang pada akhirnya mengeluarkan kata pamungkas "akh beda dengan bukunya" setelah menonton film ini. Kalau saya pribadi berbeda, karena saya sama sekali tak punya gambaran apa-apa tentang jalan cerita yang coba diangkat dalam film ini. Saya belum pernah membaca bukunya walau dari dulu teman-teman saya heboh dengan kekerenan buku ini, entah... pokoknya saya tak begitu berminat.

Dan kenapa pada akhirnya saya membeli buku ini? Padahal daftar bacaan saya masih menumpuk? Itu karena ending dalam film Negeri 5 menara ini 'menganga'. Saya justru menemukan klimaks dari film ini saat Baso akhirnya berhenti mondok karena harus merawat neneknya yang sakit parah. Dan setelah itu? Terlalu banyak adegan yang 'dangkal', entahlah... semua adegan terlewat begitu saja tanpa ada pendalaman tentang apa dan bagaimana adegan tersebut menjadi bagian penting dalam film ini. Dan saya terlebih bingung dengan tokoh Alif yang sepanjang film memang terlihat bingung.

Saya memutuskan untuk membeli buku Negeri 5 Menara untuk lebih mengenal sosok yang justru mengambil banyak perhatian saya, Baso. Serupa Lintang dalam cerita Laskar Pelangi. Mereka adalah anak-anak sederhana yang justru menjadi mewah karena kesederhanaannya. I heart you boy!


Negeri 5 Menara! Akhirnya....

posted from Bloggeroid

09/12/2011

Sesobek Buku Harian Indonesia


Gusti, cinta kami kepada-Mu tak terperi
Namun itu tak diketahui oleh diri kami sendiri
Tolong ajarilah kami untuk berlatih
Menyebut nama-Mu seribu kali sehari
Sungguhpun satu huruf saja dari-Mu tak kan tertandingi
Pembuka; Emha Ainun Najib.

Potongan puisi diatas adalah bagian dari puisi yang berjudul Pembuka karya Emha Ainun Najib yang beliau tulis pada tahun 1981, wew… tahun itu saya belum ada dijagat dunia ini. Sejak tahun 2009 potongan sajak diatas terpampang di-sidebar blog saya ini, sebagai pemanis sekaligus pengingat saat saya “terlupa”.

Well, Puisi Pembuka tersebut saya temukan dalam buku antologi Emha Ainun Najib yang berjudul Sesobek Buku Harian Indonesia, bukunya pun saya peroleh dari seorang kakak senior dijurusan Akuntansi-Unhas angkatan 2001 yang juga sangat mencintai permainan kata, pada tahun 2006 dia meminjamkan buku itu pada saya dan sampai sekarang buku itu masih saya simpan dengan baik saya tak rela mengembalikan buku itu dia pun tak pernah memintanya kembali.

Lantas apa yang istimewa dari buku itu? Oh jelas sangat istimewa karena…

Pertama. Saya adalah pencinta Emha, saya suka dengan semua pemikiran-pemikiran Emha yang dia tuangkan dalam tulisan baik itu puisi, essay, cerpen ataupun lirik lagu. Disaat saya merasakan kekosongan yang takterdefinisikan, biasanya saya bisa menemukan diri saya kembali ketika saya membaca tulisan emha yang memang sangat kental dengan hal-hal keTuhanan. Emha sering menampar saya, kemudian membuat saya menangis. Pokoknya saya ngefans sama Emha, terlepas bagaimana citra dia dihadapan sebagian orang yang mungkin tidak begitu senang dengannya.

Kedua. Buku itu merangkum karya-karya dari Emha Ainun Najib dari tahun 1975-1992, sungguh wowww… sekali bukan?! Sebenarnya kumpulan puisi di buku ini pernah diterbitkan dalam 4 buku berbeda yaitu, (1) ‘M’ Frustasi dan sajak-sajak cinta: 1975 (2) Sajak-sajak Sepanjang Jalan: 1978 (3) Nyanyian Gelandangan: 1982 (4) Sesobek Buku Harian Indonesia: 1983. Total keseluruhan puisi dalam antologi ini adalah 123, hmmm… jiwa saya mendadak kaya tatkala menggenggam buku ini! buku ini adalah harta karun bagi saya.

Ketiga. Saat membuka halaman pertama buku ini, disana tertera mengenai informasi kepemilikan buku ini. Untuk nama pemiliknya saya kurang jelas karena menggunakan huruf arab tanpa tanda baca, ukirannya pun tidak begitu tegas, saya tak mendapatkan informasi apa-apa dari situ. Sementara untuk informasi lainnya adalah, nama kota dan tanggal buku itu dia miliki. Disitu tertera: Jogja, 31 Mei 1993. Akh Jogjaaa…. Kota yang telah lama memikat hati saya, tapi entah saya tak pernah berjodoh untuk bisa bertandang kesana. Tapi suatu hari nanti, saya akan kesana… pasti! InsyaAllah.

Untuk teman-teman yang juga penikmat kata, buku ini keren loh… saya saja tak pernah memasukkan buku ini kedalam rak, dari dulu sampai sekarang tempat buku ini adalah diatas meja belajar bersama buku-buku baru yang belum selesai saya baca. Saya tak pernah bosan untuk membaca buku ini lagi, lagi dan lagi… yah tapi walau ada dari teman-teman yang tertarik dengan buku ini, jangan Tanya saya dimana buku ini bisa didapatkan yah. Hehehe ;)

09/09/2011

Curhat Setan


Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya
by Fahd Djibran

My rating: 4 of 5 stars

Kita sering lupa bahwa cinta adalah kata lain dari saling mendengarkan… sebab mendengarkan adalah saling membuka diri: saling memberi dan menerima dengan tulus (Page 41)

...ternyata sebuah "batas" tidak selamanya merupakan "pembatas". Ternyata sebuah "batas" juga adalah "penghubung" yang tak tergantikan... Batas adalah sebuah kesadaran ruang, "jarak antara" yang membuat kita dengan yang di seberang batas masing-masing memiliki maknanya sendiri-sendiri. (Page 53)

Dua Quote diatas merupakan quote pamungkas yang saya dapatkan dalam buku Curhat Setan, seperti itulah Fadh Jibran seolah mampu merumuskan setiap detail dari perasaan saya yang sebelumnya tak pernah bisa saya ungkap indah dalam deretan kata. Akh… manis!!!

Curhat Setan, saat pertama orang dikantor melihat judul buku yang sedang saya baca mereka menertawakan saya. Katanya jangan-jangan saya mulai berkoloni dengan setan, mencari tahu bagaimana bisa mengakrabkan diri dengan setan. Sial!!! Hahaha… tapi Satu judul yang menguatkan buku ini pada dasarnya memang adalah Halaman yang berisi cerita Si Setan ini, bagaimana dia bermimpi berada di suatu tempat “antara” yang didalamnya tak ada yang benar tak ada yang salah, tak ada nilai. Akh saya suka betul bagaimana dia menggambarkan alam antara itu. Dan percakapan percakapan yang timbul antara tokoh aku dan si Setan.

Inikah Dunia-Antara? Sesuatu di luar hitam-putih realitas, sesuatu di antara jangkauan dua pilihan. Sebuah tempat yang tak pernah dijanjikan dalam kitab suci manapun, sebuah dunia tanpa pahala dan dosa, tanpa benar dan salah, tanpa nilai-nilai, tanpa nama-nama. Begitu saja kutahu dan kuyakini: mungkin semacam alternatif ketiga selain positif dan negatif, benar dan salah, baik dan buruk, harus dan jangan, panas dan dingin, ya dan tidak, dan semua pilihan-pilihan lainnya.

Ruang ini adalah netralitas yang tak terdistorsi nilai-nilai, selalu lolos dari jebakan takdir. Ruang yang mengambang saat sebuah koin dilemparkan di udara, saat rauang pengadilan ditekan tombol pause-nya. Saat kebaikan berdamai dengan kejahatan. Saat Tuhan absen dari kemestian rivalitas setan dan malaikat

Si Aku: Entahlah. Tapi, kau tak seperti yang selama ini orang-orang katakan tentangmu. Kau tak seperti yang digambarkan buku-buku, kitab-kitab suci.
Setan: Ya, ya, memang begitu. Selama ini, aku difitnah!
Si Aku: Difitnah? Maksudmu?
Setan: Semacam pembunuhan karakter!
Si Aku: Pembunuhan karakter?
Setan: Ya.
Setan: Kau tahu, kebaikan dan keburukan adalah keniscayaan. Tuhan gagal menjadi dirinya sendiri jika tak ada yang mewakili keburukan dan kejahatan. Dan, aku melengkapinya. Aku jadi semacam korban!
(Bab.20, Curhat Setan hal.127-128 )

Ada banyak pengalaman yang dia ceritakan dalam bukunya, dia meramunya menjadi sebuah antologi yang sangat indah. Kumpulan cerita semi biografi, haha… entahlah. Sebelumnya saya tak pernah membaca biografi ataupun buku karya Fadh jibran lainnya, yah bisa dikata ini adalah perkenalan pertama kami, sesama manusia kelahiran 86 *akhhh saya iri saya jatuh cinta dan saya penasaran dengan buku-buku fadh Jibran lainnya.

View all my reviews

11/05/2011

Galaksi Kinanthi


Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta..

Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila. Berhati-hatilah...

Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat, menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua berpikir hidupmu telah sempurna.

Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah... Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin telah haram bagimu.


-Tasaro, Galaksi Khinanti-

Well, baru-baru ini saya membaca Novel yang sebenarnya menjadi ambisi saya. hehehe, sudah lama saya mencari Novel ini cuman yah di Gramedia stoknya selalu kosong, dan Alhamdulillah Sabtu kemarin saya dapat Minjem dari teman - Alfia, Lop yu dah:)

Galaksi Khinanti, Novel romantis yang menambah pemahaman saya tentang Kota Yogyakarta, tentang pengalaman TKW yang mengadu nasib di Negri Arab sana, dan tentang kekuatan seorang Perempuan. Novel ini membuat kantong air mata saya lembab, hahahay... emang yah dimana-mana perempuan itu selalu kuat bahkan dalam kondisi rapuh sekalipun.

Saya suka Novel ini, tapi tidak dengan Endingnya. Tidak ada perpisahan, tidak ada penyatuan antara dua manusia yang menyimpan cinta sedemikan lama, itu yang membuat perasaan saya ikut mengambang ketika membaca novel ini. But, okeylah... Novel ini pantas untuk dibaca.

09/02/2011

Habibie & Ainun


My rating: 3 of 5 stars

Well, akhirnya saya telah menyelesaikan bacaan saya yang tergolong mengharu biru ini. Buku Ainun dan Habibie, yang menceritakan tentang pertemuan Bapak BJ. Habibie dengan Alm. Ibu Ainun kembali sebagai orang dewasa sampai pada akhirnya mereka dipisahkan oleh Maut, Alm. Ibu Ainun meninggal dunia di Jerman.

Beberapa bagian mungkin akan sangat membosankan, mengingat antara judul dan bagian tersebut tidak begitu sinkron. Tapi bagi saya justru hebat, yah saya bisa banyak tahu tentang isi kepala tokoh favorit saya itu. Pokoknya saya ngeFansssss… dan setelah saya dibikin terpesona, pun kembali saya dibikin menangis sejadi-jadinya. Entahlah, pesan bahwa Bapak Habibie benar-benar mencintai Alm. Ibu Ainun benar-benar sampai kedalam sanubari saya. Bahwa saya benar-benar merasakan kehilangan yang dirasakan oleh Bapak Habibie.

Banyak hal-hal penting yang dipaparkan dalam buku ini, khususnya bagian tengah (bagian tidak sinkron tadi) yang menceritakan tentang perjuangan Bpk. Habibie yang didampingi dengan setia dan bijak oleh Alm. Ibu Ainun dalam membangun Bangsa, silahkan dibaca sendiri. Kali ini saya hanya ingin menulis kembali kata-kata pamungkas dalam buku ini, yah menurut versi saya ini adalah magnetnya…

Testimoni Alm. Ibu Ainun dalam buku A. Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie: Hal 388 yang disalin kembali oleh Bapak Habibie dalam bukunya Habibie dan Ainun hal.64, sbb:

“…..memang, tuntutannya banyak. Terhadap isteri. Terhadap anak. Terhadap anak buanya. Ia ingin mencapai setinggi-tingginya. Dia memberikan segalanya dan menunut segalanya. Dia member dan menuntut secara mutlak. Begitulah sifatnya. Itulah yang membuat hidup dengannya tidak mudah”

“Tetapi ia juga member secara mutlak, semua yang ada padanya diberikannya pada anak isterinya: impian-impiannya,kepandaiannya, semangatnya, marahnya, kekecewaannya, perhatiannya, kesehatannya, pengorbanannya. Di dalam segala kehebatannya ia sangat peka: perhatian kami, pengertian kami, dukungan kami, baginya segala-galanya. Itulah yang membuat semuanya ada gunanya.”

Dihalaman lain, kembali Bapak Habibie menuliskan testimony Alm. Ibu Ainun yang juga diambil dari buku A.Makmur, Setengah Abad Burhanuddin Jusuf Habibie, sbb:

“……kami berdua suami isteri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati.”

Lantas tentang Alm. Ibu Ainun… Tak ada pujian yang terlalu bertele-tele yang dituliskan oleh Bpk. Habibie untuk Alm. Istrinya tercinta, selain ucapan terimakasih pada Gusti Allah untuk pertemuan yang telah menyatukan mereka. Manunggal jiwa, batin dan roh.

“48 Tahun 10 Hari, Allah ENGKAU telah menitip cinta abadi yang menjadikan kami Manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi” Doa terakhir yang dibisikkan pada telinga jasad Alm. Ibu Ainun. Habibie dan Ainun: Hal.296.

“Terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya. Terima kasih Allah, Engkau telam mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya” Habibie dan Ainun: Hal.320.

Begitu luarbiasanya hubungan diantara dua insan yang saling memuji hingga akhir hayatnya, semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan cinta pada mereka dan keluarga mereka yang tak putus-putus. Mereka adalah inspirasi untuk kita-kita yang baru akan menjalin hubungan serius dalam ikatan pernikahan, dan pada tulisan ini saya pun ingin menitip doa semoga Allah segera mempertemukan saya dengan Habibie-ku. Bukan Habibie yang sempurna seperti satu kesatuan diri beliau, tapi cukuplah menjadi Habibie yang sederhana, setia dan amanah. Amin.
“Jika sampai waktunya
Tugas kami di alam dunia dan alam baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi
Dalam raga yang abadi,dibangun
Ainun manunggal dengan saya sesuai kehendakMu dialam baru sepanjang masa
Jiwa, roh, batin, “raga” dan nurani kami, abadi sampai akhirat”
Doa Penutup, Ainun dan Habibie: Hal.323

View all my reviews

03/02/2011

Rich Dad, Poor Dad


Rich Dad, Poor Dad by Robert T. Kiyosaki
My rating: 2 of 5 stars

Pertengahan bulan Januari kemarin saya sempat membaca sebuah buku terjemahan karya Robert T koyasaki, Rich Dad Poor Dad. Tentang buku ini sebenarnya telah lama di rekomendasikan oleh beberapa kawan, hanya saja saya belum begitu tertarik dengan buku genre seperti ini. Awalnya saya kira buku ini banyak memberikan advice untuk menuju sukses secara cepat dan tepat, tapi saya salah. Setelah saya membacanya, barulah saya sedikit mengerti bahwa Buku ini lebih menjadi pedoman dalam mengelola keuangan, kurang lebih seperti itu. Walaupun pembahasan yang diberikan tidak merinci, tapi sedikit banyak membuka pemahaman kita untuk bagaimana memperlakukan uang.

Saya tak menitik beratkan pada bagaimana uang itu masuk, kemudian di olah menjadi sesuatu yang juga menghasilkan (perputaran uang), yang paling menyita pikiran saya adalah bagaimana uang menjadi sesuatu momok yang sangat diinginkan dan juga menjadi hal yang sangat menakutkan bagi seorang pekerja seperti saya pada umumnya. Inilah perangkap uang.

Ada sebagian orang merasa takut andai saja saya tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki penghasilan pasti yang datang secara rutin, takut di cibir, takut tidak diterima dalam masyarakat dan ketakutan itulah yang menjadikan kita fanatic untuk terus bekerja untuk bagaimana memperoleh uang sebanyak-banyaknya, membangun citra diri dan kehormatan keluarga. Membaca ini saya tersenyum, mungkin inilah perasaan saya yang tak pernah bisa saya terjemahkan dalam kata. Sebuah emosi negatif yang perlahan-lahan menjadikan kita bak budak zaman.

Hal yang menggelitik mungkin ketika penulis mengatakan bahwa “pertama, kita bekerja untuk para pemilik perusahaan kemudian untuk pemerintah melalui pungutan pajak, dan akhirnya untuk bank yang membeli hipotek kita” atau ketika dikatakan bahwa “kita sebenarnya hanya bekerja keras untuk membayar tagihan bulanan dirumah tanpa pernah kita menikmati manfaatnya dan tentunya untuk membayar tagihan plus bunga kartu kredit” ~~~mungkin itu sebabnya kartu kredit adalah musuh sekaligus godaan terbesar bagi saya, saya tidak ingin terjerumus jauh dan dalam. Kuatkan saya ya Allah, Lol!

Well, sebenarnya buku ini bukan ingin mengungkap bahwa uang bukan hal yang penting tapi lebih untuk memberikan ajaran untuk kita bagaimana sebenarnya cara mengumpulkan uang yang paling tepat. Tanpa perlu mengorbankan seluruh waktu dan tenaga terlebih lagi tidak dibawah bayang-bayang ketakutan. Kita haruslah mengerti terlebih dahulu sebelum mencari cara untuk mendapatkannya.

“Teruskanlah pekerjaan harian anda, jadilah karyawan yang bekerja keras dan bagus, tetapi teruslah membangun kolom asset itu” (Halaman 101)

Happy reading all… I must read this book again, again and again!

View all my reviews

21/01/2011

Isabella


Isabella by Maulana Muhammad Saeed Dehlvi
My rating: 2 of 5 stars

Tentang buku ini, kerenlah... True story yang menceritakan tentang kisah seorang putri kepala rahib dari daerah cordova bernama Isabella yang mengikrarkan diri memeluk agama Islam setelah menemukan banyak kejanggalan-kejanggalan dalam Injil yang selalu dikajinya, dan lagi dia adalah sarjana Teologi.

Dalam buku ini kita akan menemukan dialog-dialog singkat antara cendikiawan muslim dan rahib-rahib nasrani, yang membahas tentang hal hal mendasar dalam agama islam dan kristen. Bisa dibilang ini adalah sebuah taruhan, dimana pihak yang tidak dapat mempertahankan rasionalisasi agama mereka harus masuk ke agama lawannya. tapi, saya tak akan membahas banyak mengenai bahasan dalam buku ini... silahkan dibaca dan diresapi sendiri. untuk kalian yang bukan peminat teologi, akan kalian temukan banyak pelajaran dan pengetahuan baru.

25/02/2010

“Ibu, aku ingin merubah bintang...” (Es Ito – Negara Kelima)


Negara kelima, buku ini sebenarnya telah lama terbit tepatnya pada Oktober, 2005. Tapi, saya pribadi mendapatkan buku ini kira2 3/4bulan yang lalu (2009) dalam bentuk file exe (ebook), dari seorang teman yang memang sangat sering membaca buku2 “keras”. Sayangnya buku ini sudah tak beredar di pasaran, mau tidak mau saya harus membacanya dengan duduk berjam-jam di depan leptop. Ahh, selalu saja saya tertinggal hunting buku kereeeen!

Adalah ES Ito, pengarang dari buku semi nasionalis ini *subjektif* seseorang yang saya tak tahu apa2 tentangnya selain tahun kelahirannya pada 1981. Pun itu saya temukan di halaman biografi dibuku Negara Kelima tersebut, ditambah dengan keterangan bahwa dia adalah keturunan dari seorang ibu Petani dan Ayah Pedagang di daerah Bukit Barisan. Hmhm... mirip2 dengan tokoh central dalam novelnya sendiri, Timur Mangkuto - seorang polisi idealis. Yang pasti Es Ito adalah nama samaran seorang aktivis kampus UI yang sedari dulu memang sering mencurahkan pemikiran dan kegelisahan2nya lewat mading BOE (Badan Otonomi Economica) FE-UI. Mantappp deeh untuk karya2nya, semoga dalam beberapa waktu kedepan saya bisa menyelami pemikiran2nya lagi lewat buku Rahasia Medee.

Kembali ke Negara Kelimaa...

“Ibu, aku ingin merubah bintang...”

Sedaaap deh quote pembukanya, mampu mengurangi underestimate orang2 yang mungkin tidak begitu tertarik dengan sampulnya yang tak eyecatching, cenderung gelap dengan dominasi warna coklat tua. Ditambah lagi nama pengarangnya yang belum begitu komersil. Hihi..! Buku ini menjanjikan bakti dan mimpi, itu kesan awal yang saya tangkap.

Apa yang kalian tahu tentang “masa lampau” dari negri kita ini, Indonesia? Tentang perjuangan dan semangatnya, atau mungkin tentang pionir2nya, ataauu tentang sejarah ribuan tahun silam?! Yang sengaja di timbun untuk meneggakan hegemoni asing bahwa kita kaum selatan adalah kaum yang kesekian dalam peradaban. Bisa jadi pemahaman saya dan kalian sama saja, terbatas pada lembaran2 buku sejarah saat sekolah dulu, isi atlas dan sedikit tentang isi museum2 yang mulai terlupakan.

Buku ini akan banyak membahas tentang sejarah, mulai dari tenggelamnya peradaban awal (atlantis) ribuan tahun lalu, kemudian perjalanan sisa2 peradaban ke arah utara, berdirinya peradaban di utara, sampai pada keturunan2 yang melakukan perjalanan ke posisi atlantis semula, di Nusantara. Ito pun banyak bercerita tentang sejarah Kerajaan2 tertua di Indonesia, dan pastinya sedikit Narsis tentang masyarakat minang. Hihi, tapi terpuaskan! Setidaknya saya sedikit tahu bagaimana tata adat masyarakat, hukum dan asal muasal sistem matrialkal di daerah minang, tentang integrasi ide/gagasan dan integrasi wilayah... oh iyya tentang PDRI juga banyak dibahas, pemerintahan darurat di hutan belantara Sumatera untuk mempertahankan kesatuan RI dibawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara setelah tertangkapnya Soekarno-Hatta di Jogjakarta pada tahun 1948. Yang kemudian terlupakan begitu saja. Aaahhh, pokoknya ada banyak yang terkuak, sejarah telah dipermainkan untuk kepentingan sekelompok orang.

Tidak hanya sejarah, buku ini juga banyak menyinggung tentang idealisme, egoisme, keserakahan, intrik, pergaulan bebas, kepercayaan, semangat nasionalisme, pengabdian, cinta dan cita2.

Tentang alur ceritanya, yang dimulai dengan pembunuhan berantai terus dikaitkan dengan pencarian serat ilmu yang konon katanya adalah peninggalan peradaban atlantis yang memanfaatkan rasa nasionalis buta dari generasi muda yang gelisah. Hihi... banyak yang tak terduga, tapi tentang ending dimana Timur Mangkuto akhirnya akan bersanding dengan partner kerjanya Eva Duana sudah ketebak.

Buku ini memang buku lama, tapi pembahasannya tak lekang oleh zaman. Buku ini adalah mulut kegelisahan dari penulisnya yang mencoba berteriak “Biar semua dunia tahu dan mengerti bahwa Nusantara ini bukan sekedar serpihan bekas kolonial belanda! Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri2 selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri” (Paragraf terakhir dalam buku Negara Kelima). Buku ini juga mencoba menarik sisi2 idealisme kita dengan mencoba membangun kembali harapan2 tentang indonesia yang lebih baik. Sangat sangat sangat Layak untuk dibaca dan di koleksi. 


19/11/2009

9 Matahari

Hmhmh… tentang isi dari novel ini mending baca saja langsung, dijamin bagus. Yah rohnya, beda2 tipislah sama sang pemimpinya Andrea Hirata. Sama2 bercerita tentang manusia2 yang komitmen dengan mimpi dan cita2nya, bedanya kalau di buku ini berlatar kehidupan orang2 yang menekuni ilmu komunikasi and broadcasting di bandung, yah lumayanlah nambah2 pengetahuan baru. Jika cocok, akan ada banyak pelecut yang ditemukan dalam novel ini (seperti aku). Thanks GOD, untuk selalu memberi jalan untuk menemukan makna dan penambah semangat, bahwa aku tak sendirian banyak orang lain yang jauh lebih terseret2 hidupnya, kondisi finansialnya. Akh, di dunia ini tak ada yang sepeleh memang…!

Sama seperti Matari dan Genta, pun aku selalu menjadikan matahari sebagai simbol dalam hidupku, cahayanya, energinya, bahkan pengorbanannya. Tapi kalo lagu favorit gak ikutan ke Mengejar Matahari juga, tetep dong HOME, lebih homey… well, aku ada 2 kutipan manis dari novel ini, barisan kata2 yang selama ini selalu menari2 di imajinasiku, secara berantakan tapi oleh Adenita (penulis buku 9 Matahari) telah di susun rapi dalam paragraf2 yang juga menjadi kekuatan dalam novel ini. Tentang Matahari dan Angka 9… keduanya favoritku!

9 Matahari, Halaman 296
“ Tar, semua orang pasti tahu angka sepuluh adalah angka tertinggi. Tapi buat gue, sembilan itu angka yang pas buat diri gue melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu itu buat gue. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 masih terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dari bentuknya , angka 9 lebih menawan. Kalau lu perhatiin angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut gw itu adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang itu bisa terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Dan, sembilan itu adalah nilai buat seorang yang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang matari. “

9 Matahari, Halaman 297
“Jangan pernah berhenti buat menggenggam matahari, Tar. Seperti nama lu, Matari, lu pasti diharapkan menjadi seperti matahari. Matahari yang nggak akan bergeser kalau bulan dan bintang belum muncul. Matahari yang akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya buat alam semesta. Kadang dia dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi… nggak peduli apapun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang, justru dia lagi bersinar hangat dibelahan bumi yang lain. Matahari yang mengajarkan banyak pada kita untuk terus berbagi. Supaya kita benar-benar tahu peran kita dan bisa merasakan jiwa kita hidup”

Keren kan?! Dan masih banyak lagi kutipan2 lain yang juga oke2, fresh dan berENERGI… makanya baca, novel ini tergolong ringan loh.

Eh.. eh.. tentang buku ini, tebalnya 359 Hal dengan harga Rp.55.000,- itu harga Gramedia, dan mungkin akan lebih murah di toko buku lain yang memberikan diskon khusus. SO, TAKE YOUR TIME… and HAPPY READING!

09/02/2008

AKU, BUKU dan SEPOTONG SAJAK CINTA


Hari ini ndak ada kuliah, tapi tetap kekampus menunaikan kewajiban.

Dalam perjalanan kekampus, seperti biasanya saya memilih buku menemani saya selama 1jam di pete-pete. maklumlah, saya orang kota tinggalnya di daerah cendrawasih, sementara kampus letaknya jauh di pelosok, dekat2 perbatasan kota Makassar. Nah, seminggu ini saya lagi ditemani oleh Muhidin M Dahlan dengan buku lawasnya (lagu kapang^_^) Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta. buku ini dah lama saya cari, tapi baru dapat saja. kata orang, kalo baca nie buku bisa langsung buat orang yang ndak suka nulis jadi mau menulis. apa iya??? entahlah... bukunya juga blum abis dibaca.

So, saya mau cerita apa???

Mmm, saya bukan mau nulis resensi. Cuman mau ungkapkan saja tentang responku sama buku ini. awalnya sih biasa saja, tapi... semakin dalam saya membuka lembaran2, semakin jauh saya di bawah terbang ke suatu masa. Masa dimana ketika saya mengingatnya, rasa sesal selalu saja memburu. Masa yang tak pernah bisa saya lupa.

Dan... kesalahan terbesarku pada Masa itu adalah, salah memilih.

Intinya, hidup manusia selalu dihadapkan pada pilihan2, dimana disetiap pilihan dah ada konsekuensi yang bergelantungan. suka tidak suka, senang tidak senang atas pilihan2 yang ada... we must choice. Peluang kesalahan itu mutlak. jadi wajar saja ketika sesal di iringi dengan statement "seandainya" itu ada. toh manusia hanya manusia, sebagaimana kodratnya. Tak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok, peramal sekalipun. Wuuuuuihhhhh, kenapa juga rasa sesal mesti ada dalam deretan rasa manusia??? buang2 energi, dan sumpah!!! Sesal itu batu, di usir sekalipun masih hinggap juga. Nyamuk saja gak segitunya......

Aaaaarghhhh.... saya jadi pusing sendiri, apa yang sudah saya tulis yah???

04/02/2008

7 Latifah (kehalusan dan kelemahlembutan)


Latifah pertama: Cinta dunia dan senantiasa ragu,
Latifah kedua: selalu merasa khawatir, rakus, tamak dan bakhil.
Latifah ketiga: pencemburu, kalap, dan membunuh.
Latifah keempat: iri, dengki, fitnah.
Latifak kelima: ujub atau mengagung-agungkan diri, riya, sombong dan merasa paling benar sendiri.
Latifah keenam: panjang angan-angan.
Latifah ketuju: masa bodoh.
Ketujuh latifah tersebut adalah pintu hidayah
Ketujuh latifah tersebut yang menjadi inti pencapaian dan kedamaian sejati. Yang senantiasa harus dijaga ketujuhnya agar senantiasa halus dan lembut agar nurilahi akan dapat tertangkap oleh jiwa.

Cinta dunia dan senantiasa merasa ragu adalah penyakit yang ditimbulkan jika latifah pertama tidak terjaga. Obatnya adalah cinta akhirat.

Penyakit yang muncul jika latifah kedua tidak terjaga adalah selalu khawatir, rakus, dan tamak. Obatnya adalah berkecukupan atau merasa cukup.

Pencemburu, kalap dan membunuh obatnya adalah sabar. Iri, dengki, fitnah obatnya adalah ikhlas. Ujub, sombong, mengagung-agungkan diri sendiri, merasa paling benar sendiri obatnya adalah rendah hati. Panjang angan-angan obatnya adalah memikirkan yang perlu. Masa bodoh obatnya adalah mutmainnah.

Pemurnian keinginan akan tercapai jika ketujuh latifah tersebut dijaga tetap latif, halus, lembut. Nur, sirr, ruh, nafsu, akal, maka semua itu akan senantiasa terjaga pada fungsi dan tempatnya secara`proporsional, dan rapat.


Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.