Showing posts with label Belitung. Show all posts
Showing posts with label Belitung. Show all posts

13/11/2011

Rainbow in Belitung




All Pict taken by Nikon D3000 + Nikkor 18-55mm + UV Vilter

12/11/2011

Belitongtrip #16; Tanjung Binga

Kalau biasanya dalam perjalanan dari satu tempat ketempat lain kami melewati jalan besar, kali ini beda. Mobil bang Artha memasuki lorong-lorong kecil yang entah menuju kemana, banyak rumah disini kecil dan seperti biasa SEPI. Mobil menepi dan kami parkir. Saya yang tidak tahu menahu ikut turun tanpa membawa sesuatu apapun, dan ternyata setelah tracking sekitar 1km didepan kami Matahari siap-siap terbenam. Huhuhu… mau kembali ke Mobil juga susah karena Rizky sudah lebih dulu ke Mushallah, hiks… hilanglah satu kesempatan saya mengoleksi Sunset dari sisi lain P. Belitung ini.


Foto Punya Diana Delima

Tempat ini namanya Tanjung Binga, itu kata bang Arta. Tanjung Binga dihuni oleh penduduk mayoritas nelayan, sepanjang pantai yang ada malah rumah-rumah kecil dan bale-bale (apa yah namanya, hehehe) untuk mengeringkan ikan. Dan ditempat ikan-ikan itu dijemurlah kami menyantap makan malam. Huaaaaa, romantisss tapi bauuuu. Hahaha, sebagian bahkan setres karena areanya yang kurang bersahabat. Yang paling kasihan yah Abduh, bobot tubuhnya lumayan berat untuk berjalan di area yang hanya ditopang oleh bambu-bambu kecil yang ditempel saling berdekatan satu-samalain. Yah kalau jatuh lumayanlah, mandi lagi… hahaha. Disinilah si Mbak Guidenya memberikan pengakuan bahwa dia itu takut Kedalaman dan Ketinggi, jiwa Belitungnya ceteeek ah mbak… ahahaha. Dua hal yang justru menjadi hal yang dicari-cari orang dari tanah kelahirannya ini.

Setelah makan malam yang super duper romantic ala Kaki Gatel itu, kami kembali ke Tanjung Pandan check-in di hotel yang sama saat pertama menginjak Belitung.


Dalam perjalanan menuju Tanjung Pandan mobil tiga kembali tenggelam dalam dunianya, setiap tikungan di-iringi dengan gerakan badan yang tajam yang sama tujuan sucinya yah untuk menggencet teman disampingnya, hahaha… BOY dan Dee lah yang beatle, dan saya korbannya karena duduk ditengah. Capedeh! Kami menikmati setiap tanjakan dan turunan, akan selalu terdengar kata “ihiiiiyyyy” atau “siap-siap” hahaha. Dan akan selalu terkenang adalah “jangan tidur- jangan tidur” walau pada akhirnya akan tidur juga. Gilaaaa! Saking menggilanya, mobil kami tertinggal dan kami meraba-raba jalan sendiri menuju hotel. Yaaaakkk, boleh boleh boleh… hampir hilang rame-rame di Belitung. Bagoooos!
Tiba di Tanjung Pandan, kami menempati kamar semula dengan Roommate yang sama. Taro tas, mandi, packing dan jalan lagi. Kalau mobil Bang Arta memilih jalan menelusuri kota di Tanjung Pandan, saya ikut mobil Dimas, cari Oleh-oleh. Hahaha, saya bela-bela ke toko Oleh-oleh karena sudah dapat amanah dari BOSS uang sejumlah Rp. 150.000,- kalau tak terganti oleh makanan bisa berabeee deh.

Ahhhh, hari ketiga pun berakhir… sebenarnya saya tak ingin tidur, karena tidur akan lebih mempersingkat waktu. Tidurku kali ini mengindikasikan bahwa LIBURAN telah berakhir, huaaaaaa… tapi karena capek yah Tepar deh!

End!

Belitongtrip #15; Pulau Babi – Belitung Utara


Foto Punya Bayu Murti

Setelah puas bermain di Pulau Burung, kapal berlayar menuju pulau Babi… huh yeaah! Apa yang kami lakukan disini? Hanya duduk sekitar lima menit foto-foto dan kembali berlayar, padahal saya penasaran kok pulau sekecil ini bisa dinamai pulau Babi? Saya tak melihat satupun Babi yang wara-wiri, batu yang menyerupai Babi pun tidak. Whateverlah yah… yang pasti Batu disini lebih lapang. Tetap dengan vegetasi khas pantai, dan pasir putih mengelilingi pulau ini. Saat kami tiba di P. Babi, ada beberapa orang yang sedang asyik bersnorkeling ria. Dan kesimpulannya, Kemanapun mata memandang yang ada yah, INDAH. TITIK…


Foto Punya D Dee Kuswidyastuti

Setelah berlayar Tak jauh dari P. Babi, jangkar diturunkan dan itu artinya snorkeling time! Yuhuuuu… mereka turun satu persatu, dan sayaaa? Huhu… masih belum bernyali. Tapi katanya ini spot terakhir dan kita akan kembali ke Tanjung Kelayang, dengan berat hati dan penasaran yang menggebu akhirnya saya nyemplung juga. Tanpa VIN, saya hanya menggunakan kacamata renang dan Live Jacket. Waaaaahhh, panorama bawah lautnya boleh juga yah walau di bagian ini air tidak sejernih tempat pertama. Tak lama saya kembali lagi naik ke kapal, mengganti kacamata renang dengan alat Snorkeling… tak lupa mengambil satu bungkusan kecil nasi dan bereksperimenlah saya dibawah sana. Yang lain sibuk foto-foto dengan terumbu karang dengan kamera underwater Rizky dan Dee, saya sibuk sendiri dengan ikan-ikan yang menggerogoti kantong nasi saya. hahaha, nikmatnya tunggal! Tak ada kesempatan buat bernarsis-narsis ria, yang penting sensasinya terasa dalam dada #lebay

Tak lama bermain dalam air, waktunya pelayaran berakhir… yaaaaah, padahal lagi asyik-asyiknya. Saya pun naik lagi ke kapal dan Ups, huhu tanpa sepengetahuan saya celana yang saya pakai sobek. Untung yang menegur pertama kali adalah Dee dan saya masih berharap tak ada yang sempat melihatnya, aihhh AIB itu. Hahaha… salah saya memang tak menggunakan pakaian renang yah memang tak sukalah saya “terlalu ketat”. Saya justru menggunakan celana kain. Ini pelajaran buat saya!

Tiba ditanjung kelayang, kami mengantri untuk bilas badan satu persatu. sambil menunggu ada yang menikmati Kelapa Muda, enaklah… cukup mengembalikan energy yang hilang. Pukul Enam kurang, kami semua sudah siap sedia meninggalkan Tanjung Kelayang. Huhuhu… masih tersisa satu itenary lagi sebelum meninggalkan P. Belitung, baying-bayang perpisahan pun sedikit-sedikit menghantui… aaaaahhhh waktu yang kita sangat nikmati kadang berlalu terlalu cepat.

Bersambung...

Belitongtrip #14; Pulau Burung – Belitung Utara

Hujan masih mengguyur sisi Utara Pulau Belitung, saat kami tiba di Pulau Burung. Kapal mendarat dan kami lari berhamburan menuju teras penginapan yang berdiri tunggal dan kokoh di Pulau Burung ini, kami berteduh menahan gigil yang mengusik. Masih ada kue sisa sarapan tadi pagi, yang menjadi lebih enak saat dingin begini. Kami makan rame-rame, dan satu hal yang juga unik dari rombongan ini adalah sistem sharing minuman, yah… satu botol untuk semua. Dalam beberapa hari kita disulap sudah seperti saudara. Yang jago pasti Komandannya dong, bang Arta gitu loooh!

Hujan mulai reda, tertinggal titik-titik air yang jatuh satu-satu. Dari teras resort tempat kami berteduh ada jembatan menuju pantai dan mulailah kami menceburkan diri satu persatu disana, saya masih lengkap dong dengan live jacket saya. maklum tak bisa berenang… tapi saya menikmati bermain air di daerah yang dalam, karena berenangnya berjamaah dan hanya ada kami dong. Kami bermain seperti anak kecil yang lari dari tugas tidur siang, bebas menertawakan hal-hal lucu, yang cowoknya sibuk lompat gaya dari balkon ke dalam air yang paling jago dialah Bayu Murti yang terkenal sebagai pengarah gaya disetiap pose pengambilan gambar rombongan. Tadinya kami berniat untuk memutari P. Burung ini dengan berenang, tapi ditengah jalan Iman dan Novi malah terkena sengatan Ubur-ubur, kasian mereka. Iman malah teriak-teriak menahan sakitnya sengatan itu, untung ada ibu-ibu yang memberikan pertolongan pertama dengan tepat. Tadinya sih mau disiram air kencing, tapi gak ada yang kebelet pipis.

Setelah puas berenang dan bercanda dalam air, kami bangkit dan mengambil botol-botol aqua yang telah diisi dengan air plus Holly Powder tadi. Tereeeeng! Saatnya bermain Holly colour… semua berganti baju dan memakai kaos putih, saya mendapat jatah memegang warna biru, dan kembalilah kami larut dalam candaan khas bocah-bocah cilik. Saling menyiramkan air berwarna warni satu sama lain, berlari menghindar satu sama lain, yang curang adalah Bang Artha dia akhirnya berhasil mengoleskan bubuk berwarna hijau ke muka saya sebagai salam perkenalan “jauh-jauh dari Makassar nih” itu komentarnya waktu berhasil membuntuti saya dari belakang. Hahaha… alhasil! Baju kami yang tadinya berwarna putih berubah menjadi warna warni, dan dari semua motif cipratan warna terbaik adalah di bajunya Atria… hahaha, kereeeeeen! romantis dan fantastis!

Disini juga Teguh mengalami kecelakaan ringan, saat dia menghindari serangan kami yang ingin mengeroyoknya dengan cairan warna-warni. Bang Arta terlalu semangat menerkamnya, jadilah dia tertindih dan behelnya bergeser. Giginya goyang dan berdarah, bang Artha sempatlah panic. Hahaha…

Bersambung...

Belitongtrip #13; Pulau lengkuas - Belitung utara


Lengkuas adalah pulau kecil, terletak di arah Utara desa Tanjung Binga. Luas totalnya kurang dari satu hektar. Di seputar pulau ada banyak pulau batu-batu granit yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki melintasi laut yang dangkal dengan kedalaman kurang dari 1.2m. Struktur batu-batu granitnya juga unik dan berbeda dengan tempat-tempat lain dengan kombinasi pantai yang berpasir putih dan pepohonan. Air lautnya benar-benar jernih, anda bisa dengan jelas melihat ke dasar laut termasuk ikan-ikan yang berenang didalamnya. Ini adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain di air laut atau snorkeling (Source: Google/Random)


Foto: Kaki Gatel

Yup, Pulau lengkuas memang pulau kecil dan cantiknya luar biasa! Mahkota dari lengkuas ini adalah mercusuar yang tinggi menjulang di tengah-tengah pantai yang dibangun oleh pemerintah belanda pada tahun 1882, disisinya terdapat banyak batu-batu granit dengan berbagai macam ukuran dan tentunya dibalut oleh pasir putih dan pohon kelapa yang tersebar disepanjang pantai. Berenang di pulau lengkuas merupakan satu cita-cita terbesar saya, saya lupa apa motif dibalik cita-cita ini, dan Alhamdulillah saya bisa melaksanakannya… tiba di lengkuas, hoop! Saya berbasah-basah ria, agak mengerikan juga sih sebenarnya karena saya membawa Nikoy (Kamera) bersama saya. ini dilematis, antara mau mengabadikan setiap penjuru atau menikmati asiknya bermain air secara bebas. Hahahay!


Foto: Bayu Murti

Apa yang kami lakukan dilengkuas? Yup… berfoto-foto ria! Kami melompati satu batu ke batu yang lainnya untuk mendapatkan best Angle, hahaha tapi asik lohhh tak terasa keringat bercucuran deras membasahi badan. Panasnya juga luar biasa, tapi ya sudahlah… semua bercampur bersama kekaguman terhadap panorama lengkuas. Tidak ada yang mengeluh, semua menikmatinya. Waktu jalan menuju batu di sisi pulau tadinya saya kira airnya cetek, ternyataaa huhu… sepinggang! Saya membawa dua tas, tas kamera dan tas kecil yang selalu saya bawa. Huhuhuu, tas saya terendam padahal HP Nokiem saya ada didalamnya, hiks… untung tas kamera saya tetap pegang diatas kepala. Akhirnya saya memberatkan si Boy deh untuk menenteng2 tas kamera saya, berhubung dia tidak punya barang bawaan. Tapi kenapa saya tak begitu perduli yah? Hahaha… dasar!


Foto: Bayu Murti

Foto-foto sudah, dan kami bermain bola pantai. Entah apa nama permainannya yang jelas kami membagi diri dalam beberapa kelompok dan memperebutkan bola, hahaha… asiklahhh. Panasnya nampool permainanya juga pool. Sementara kami bermain, beberapa orang yang memang tidak ingin berbasah-basah ria memilih untuk duluan menaiki mercusuar yang tinggggiiiiii itu. Saat mereka telah sampai di puncak mercusuar kami saling menyapa dengan melambaikan tangan, yah berharap mereka mengambil gambar kami dari atas. Hahaha!


Setelah puas bermain air, saya, Dee, Bayu, Boy, Rizky dan Teguh pun menuju mercusuar! Ayeeey… sebelum masuk ke pintu utama mercusuar ini kita akan menemui seorang Bapak setengah baya, dialah penjaga mercusuar yang dikabarkan merupakan penghuni tetap pulau lengkuas ini. Adapun prosedur memasuki mercusuar adalah, alas kaki dibuka kemudian kaki kita direndam dalam genangan air yang sudah disiapkan, setelah itu kita akan ditanya apakah membawa makanan atau tidak? Hal ini untuk menjaga kebersihan Mercusuar, sebelumnya sering ditemukan sampah yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya.

Dan setelah memasuki bangunan tua ini… tereeeeng! Suara menggema pastinya, dan kita dibuat penasaran untuk menaiki setiap anak tangga yang ada. Saya pun dengan semangatnya menaiki anak tangga satu persatu, setiap lantai dipisahkan oleh 18 anak tangga. Di lantai 8 saya benar-benar ngos-ngosan, saya lupa bawa air. Dan saya mempersilahkan anak-anak lainnya untuk jalan duluan, dilantai 8 ini saya berhenti untuk istirahat sejenak. Saat duduk berdiam diri, Nafas saya memburu detak jantung saya abnormal gerakannya sangat kencang, saya benar-benar takut terjadi sesuatu dengan saya. saya hanya bisa menenangkan diri… berdoa agar saya baik-baik saja. Saya sempat terfikir untuk turun lagi, tapi… ada sesuatu yang Indah yang menanti saya diatas sana “belum tentu saya bisa kembali ke Belitung!” akhhhh, bayangan itu lagi… semangat syaaam semangat! dan saya pun dengan semangatnya menjajaki 10 lantai lagi sendirian, mungkin rombongan saya sudah sampai di Puncak.


Jadi, coba bayangkan… Mercusuar itu terdiri dari 18 lantai yang semakin keatas semakin mengkerucut. Setiap lantai dipisahkan oleh 18 anak tangga, sementara tiap anak tangga itu berjarak setengah betis orang dewasa. Apa anda sanggup menjajakinya? Tentunya sanggup dong, saya saja bisa! Dan sebelum anda mencoba anda terlebih dulu harus tahu apa yang akan kita dapatkan ketika kita berhasil menaklukkan 18x18 anak tangga, sebagai motifasi. Apa yang saya lihat? Subhanallah… indah! Indah yang lebih dari sekedar kata Indah, indah yang tak terwakilkan oleh saksi dari siapapun bertualang, indah yang tak bisa sepenuhnya terekam sebagaimana indahnya walau dengan kamera apapun. Benar-benar Indah! kalian harus melihatnya sendiri. Perjuangan saya tidak sia-sia hingga bisa sampai diatas mercusuar ini.


Selesai menikmati panorama dari atas mercusuar, turunlah kami… turunnya malah lebih enteng. Tak ada beban, hahaha… hanya sebentar saja sampailah kami. Dan waktunya makan siang, dibawah pohon kelapa yang sejuuk. Suasana di P. Lengkuas ini cukup ramai, banyak pendatang dari luar kota yang berkunjung. Yah namanya juga hari Minggu, dan P. Lengkuas ini adalah salah satu spot paling terkenal di Belitung.

Setelah menikmati indahnya P. Lengkuas, kami berlayar kembali menuju perairan lepas… asiiik^^. Tak beberapa lama meninggalkan P. Lengkuas, kapal melemparkan jangkarnya. Dan kita snorkeling di spot itu yang saya tak tahu (tak juga bertanya) dimanakah kami saat itu. Anggap saja kami berSnorkeling ria di perairan antah berantah. Hahaha… sebenarnya bukan kami sih, tapi mereka. Di Spot ini saya tak ikut serta.

Saat teman-teman terjun kedalam air satu persatu, saya mulai mempersiapkan diri mempersiapkan nyali. Padahal alat-alat sudah lengkap terpasang. Tak berapa lama, disaat saya sudah siap untuk lompat kedalam air tiba-tiba awan mendung datang, teman-teman yang sedang menikmati keindahan laut di Perairan antah berantah itu dipanggil satu persatu dan harus naik ke Kapal sekarang juga. Agak ngeri sih, tapi saya menikmati semua prosesnya… juga kepanikan-kepanikan yang tercipta. Setelah semua naik kekapal, kami kembali berlayar dan tereeeenggg! Hujan deras dan ombak yang kian bergelombang menemani kami berlayar menuju Pulau Burung. Makin kereeeenlah perjalanan saya kali ini, kapan lagi saya berlayar dibawah Hujan deras dan awan mendung menghitam. Saya benar-benar menikmati setiap detik dan titik air yang turun, romantisnya OVER! Hahaha… dan semakin sempurnalah saat Bola plastik yang kami bawa terbang dibawa angin dan tenda kapal kami robek karena menahan angin. Aaaahhhh, sukaaaaa! This is an Other best moment in Belitung Island!

Bersambung...

Belitongtrip #12; Tanjung Kelayang – Belitung Utara

Setelah mengunjungi daerah yang menjadi titik-titik penting dalam cerita Laskar pelangi di hari kedua, saatnya untuk basah-basahan dihari ketiga, ayeeeeey! Agenda hari ini adalah islands hopping, mengunjungi beberapa pulau cantik yang tersebar disepanjang Belitung Utara. Hari ketiga ini adalah hari yang paling dinanti-nanti oleh sebagian rombongan Kaki Gatel.

Minggu - 30 Oktober 2011, sekitar pukul tujuh kami bersiap untuk meninggalkan Tanjung Tinggi tempat kami camping semalam menuju Tanjung Kelayang. Jarak antara Tanjung Tinggi menuju Tanjung Kelayang memakan waktu sekitar 30 menit, mungkin karena begitu bersemangat waktu tak terasa tiba-tiba kami sudah sampai saja di Tanjung Kelayang.


Waktunya sarapan pagi, yeyy… kami singgah di warung pinggir jalan tepat diseberang tanjung kelayang. Diwarung ini kami sebagian makan nasi goreng yang dibuat oleh ibu yang punya warung, sebagian cuman ngemil kue basah yang dijajakan di warung. Nasi gorengnya enak, walau penampakannya tidak seperti nasi goreng di café atau resto di kota-kota. Belum lagi kerupuk ikannya, yang disuguhkan dan boleh dimakan sesuka hati. Waktu meninggalkan warung ini bahkan si Ibu membungkuskan semua kerupuk yang ada di toples besarnya, buat bekal katanya. Wuiihhhh… terimakasih buuu.

Sarapan selesai, dan kami menuju dermaga tempat kapal-kapal menanti penumpangnya. Kesan saat tiba di Tanjung kelayang ini, ramai… selain rombongan kami, banyak rombongan lain yang juga siap untuk berlayar menjelajahi pulau-pulau kecil tak berpenghuni yang tersebar di utara pulau Belitung. Disepanjang Tanjung Kelayang ini kita tidak akan menemukan batu granit besar seperti di daerah-daerah lainnya, tapi setelah kita berlayar sekitar 100 meter dari pantai barulah kita akan menemukan Bentuk pulau granit yang mirip seperti burung. Itulah yang menyebabkan tempat ini dinamakan Tanjung Kelayang (Kelayang adalah salah satu nama jenis burung yang banyak dijumpai di sana). Ukuran dari pulau kecil itu kira-kira 50m persegi.


Setelah kami menemukan perahu yang akan kami tumpangi yang sebelumnya telah di booking oleh bang Arta, kami mempersiapkan segala sesuatunya. Pertama, Live Jacket… yuhuuu, saya sengaja memilih ukuran yang lebih kecil tapi pas dibadan tujuannya agar saat dalam air nanti live jacket ini bisa tetap melekat sempurna dibadan. Kedua, Snorkle gear… sebenarnya saya tidak berniat untuk snorkeling tapi dalam hati sempat terbersit dorongan “jauh-jauh ke Belitung buat apa kalau panorama bawah lautnya tak saya nikmati, belum tentu pas saya jago berenang saya bisa kembali kesini” hahaha, iyalah… walau tak jago renang setidaknya saya masih punya nyali. Oke, saya mengambil satu set snorkel gear itu dan mengambil vin/sepatu katak ukuran 38. Lengkap sudah! Ketiga, setelah alat2nya lengkap waktunya mengisi air dalam botol-botol aqua dan mencampurkannya dengan Holly powder (serbuk warna-warni). Rencananya kita akan bermain Holly Colour disalah satu pulau yang akan kami kunjungi.


Foto Punya Syam dan Kaki Gatel dan Teguh Prasetyo

Didepan kami ada 2 boat yang akan di pakai, satu itu untuk penumpang lebih dari 15 orang dan satunya lagi hanya untuk 8 orang. Saya dan teman-teman dari mobil avanza Hitam memilih untuk menumpangi kapal kecil, anggap saja team kami ini tim paling kompak. Ditambah Bayu dan Abduh, plus bapak yang menjalankan kapalnya… Waktunya berlayar!


Subhanallah… subhanallah… subhanallah… Belitung memang harta karun terpendam. Sepanjang pelayaran saya tak hentinya mengagumi panorama yang disuguhkan. Awan-awan yang bebas bermain dan berkumpul satu sama lain, langit biru yang benar-benar membiru ditambah permukaan air yang jernih menghijau. Dibeberapa titik terdapat batu-batu granit yang berkumpul, tak banyak tapi sangat memancing perhatian. Salah satunya Pulau kecil bernama Pulau kepala Burung, terdapat beberapa batu-batu kecil yang menyerupai kepala burung. Sempurna! Sebelumnya saya tak pernah melihat pemandangan seperti ini. aaarrrrrgggghhhh speechless saya!

Dalam pelayaran ini, waktu terasa berhenti bagi saya… tak pula ada jarak, yang ada hanya keindahan. Jadi postingan kali ini saya hanya menyuguhkan cerita tanpa ikatan waktu. Ahahaha, apacobaaaa!

Bersambung...

07/11/2011

Belitongtrip #7/11 Selamat datang di Negeri Laskar Pelangi

Setelah perjalanan yang luar biasa dihari pertama mengunjungi banyak pantai dengan sensasinya masing-masing, saatnya untuk itenary hari kedua! Menyusuri lokasi laskar pelangi, ayeeeey!

Sabtu – 29 Oktober 2011, Pukul empat kurang saya sudah terbangun, Novi dan Mbak Maura pun ternyata sudah bangun duluan. Bisa dibilang kebiasaan bangun pagi ini pun merupakan hal langka setiap kali saya melakukan trip ke luar kota, saya suka dengan rombongan ini, tanpa asap! Bangunnya pun juara! Hahaha… setelah mengantri mandi, pakaian, kami pun bercerita satu sama lain sambil menunggu rombongan dari kamar lain selesai. Sesuai pesan dari komandan Arta, kami akan check out dari hotel pagi ini itu berarti semua barang akan kembali kami bawa persiapan untuk camping malam kedua. Packing yuk Packing!

Setelah Packing saya berniat mencari Aqua botol bersama mbak Diana, eh malah ketemu penjual bubur Ayam Bandung. Wew… langka ini. Dan sarapanlah kami di sini, enaaak sih… rasanya tidak berbeda dengan bubur ayam di Makassar yang juga dijual oleh orang asli bandung. Yang beda hanya suasananya, sensasinya itulohhh…

Oh iyya, berhubung karena Max mulai menderita karena kakinya itu jadilah dia akan diantar ke resort terdekat untuk menikmati Belitung ala Bule manja, hahaha… dia mulai kewalahan ikut trip ini. Tapi penduduk mobil avanza hitam tak berkurang dong, setelah Max di drop ke Baginda Hotel ada Mister Boy yang baru saja di jemput dari Bandara siap mengganti kedudukan Max di Mobil. Boy baru bisa bergabung dengan kami dihari kedua berhubung karena ada tugas kantor yang tidak bisa ditinggal “katanya sih”, hahaha…

Dalam perjalanan dari Tanjung Pandan menuju Desa gantung kita akan melihat banyak pemukiman penduduk khas Belitung. Rumah mereka nyaris sama satu sama lain, berbentuk kotak dan berlantai satu. Setiap menuju satu tempat kami melewati jalan yang berbeda, tapi identik. Dan sama seperti kemarin, saya tak melihat angkutan umum yang melaju bebas di jalan raya. Hanya ada mobil truk, mobil2 pribadi, motor dan sepeda.

#7 Bendungan Pice (Desa Gantung, Belitung Timur)


Bendungan ini berfungsi untuk mengatur aliran air sungai Linggang di Desa Gantong, bendungan ini dibuat oleh Belanda entah pada tahun berapa dan sudah di Rehabilitasi ulang pada tahun 2006 (info didapat dari papan informasi, hahaha… untung sempat di Jepret). Bendungan Pice ini sebenarnya bukan daerah wisata di Belitung, tapi berhubung karena bendungan ini ada dalam satu scene film laskar pelangi jadilah banyak tamu yang singgah untuk melihat-lihat dan mengabadikan kunjungan mereka disana. Rombongan kami juga dong, ndak boleh ketinggalan.

#8 Pasar Gantung (Desa Gantung, Belitung Timur)


Tak jauh dari bendungan Pice, kita akan disuguhi pemandangan Pasar tradisional khas kota Belitung. Samalah dengan pasar pada umumnya, padat dan beraroma khas. Kami singgah di pasar ini untuk menikmati Kopi Baba Akiong, salah satu tokoh yang ada dalam cerita Laskar Pelangi. Benar adalah dia teman kecil Andrea Hirata, seorang keturunan cina dengan kulit yang menghitam. Kontras tapi nyata, saya sebelumnya pernah melihat beliau di program Kick Andy Metro TV. Dia menyuguhi kami kopi racikannya sendiri, banyak pertanyaan yang terlontar tentang kisah laskar pelangi dan dia menjawab dengan ramah sambil terus tersenyum. Hmm, bukan tersenyum sih tapi mukanya memang muka senyum. “Lintang itu cuman karangan” begitu katanya…


#9 Daerah Festival Laskar Pelangi (Desa Gantung, Belitung Timur)


Foto Punya Kaki Gatel

Dibelakang Pasar Gantung, terdapat daerah yang susah saya definisikan apakah itu. Sepertinya semakin kedalam merupakan pemukiman penduduk PN Timah, kami hanya mampir sebentar untuk berfoto-foto ria di Bangunan menyerupai Rumah Adat pasca Festifal Laskar Pelangi 2010. Kalau saya tidak salah ingat dan tak salah duga didaerah inilah bekas gedung pertunjukan MPB yang diceritakan sebagai tempat menonton film Pulau Putri dibintangi S Bagio di dalam cerita Laskar Pelangi. Kalau pun salah maaf yah, saya lupa nanya sama Mbak Guidenya. Hehehe…


#10 SDN Muhammadiyah (Desa Gantung, Belitung Timur)


Foto Punya Kaki Gatel

Tidak berapa lama dari Pasar Gantung, kami memasuki daerah yang gersang. Panasnya nampol disini euy! Dan ternyata setelah mobil parkir, didepan mata kami di tunggu oleh bangunan tua bersejarah… replika SDN Muhammadiyah Gantung. Sekolah para prajurit pelangi dalam cerita laskar pelangi. Bangunan ini di topang oleh sebuah batang pohon besar, hanya ada satu tempat sampah, 2 pohon dan sapi-sapi yang sedang berteduh di bawah pohon. Ternyata kedatangan kami mengganggu sang sapi, tak berapa lama kedatangan kami mereka pergi berbondong-bondong. Penting yah bagian ini dibahas… hehehe J. Oh iyya, Menurut mbaknya wilayah SDN Muhammadiyah awalnya bukan disini, ini hanyalah relokasi berhubung daerah gersang ini akan dibangun beberapa fasilitas dan nantinya akan menjadi daerah tujuan wisata. Dulu SDN Muhammadiyah hanyalah sekolah untuk anak-anak yang tak mampu, tapi sekarang SDN Muhammadiyah Gantung adalah peninggalan budaya warga Belitung.



#11 Tanjung Tinggi (Desa Keciput, Belitung Utara)


Setelah menelusuri beberapa titik utama dalam film/cerita laskar pelangi di daerah Gantung, kami kembali ke Tanjung Pandan menjemput Max yang tadi dititipkan di Hotel Baginda. Tapi eng ing eng… Doi sudah cabut, kembali ke Jakarta tanpa mengabari. Katanya kakinya semakin parah, kasiaaan dan yessss bebas! Itu artinya mobil akan lebih longgar dan tak ada lagi mister complain. Sorry Max J

Well, sebelum menuju Tanjung Tinggi kami singgah di toko oleh-oleh di daerah Tanjung Pandan. Rata-rata dari kami hanya membeli beberapa kaos untuk dipakai esokan harinya, saya sendiri membeli satu kaos bertuliskan “Holiday in Belitung” berwarna putih persiapan untuk bermain Holly Colour. Dari toko baju kami singgah di toko makanan ringan, ada banyak macam kerupuk olahan laut yang dijajakan disana, saya hanya beli beberapa untuk persiapan camping malam harinya. Dari situ kami berangkat menuju Tanjung Tinggi, tapi sial… mobil tiga (mobilku) dan mobil dua malah kena tilang. Sementara mobil bang Artha melaju kencang meninggalkan kami. Katanya kami melanggar forbidden, dan pak polisinya ngotot. Untung masalah ini tak terlalu panjang, hanya dalam 10 menit proses diplomasi berlangsung kami diperbolehkan lagi kembali ke jalan. Ini pengalaman unik, sebelumnya saya pun pernah kena tilang di daerah kuta- Bali gara-garanya naik motor kagak pake helm. Hahaha…


Tanjung Tinggi terletak kurang lebih 37 Km dari kota Tanjung Pandan, kami pun sempat singgah di warung Dedek untuk mengambil pesanan makan siang hari ini. Padahal waktu menunjukkan sudah pukul dua lebih, wadduh… makan siangnya delay deh. Tapi ndak terasa lapar karena di mobil ngemilnya lancar jaya!

Tanjung Tinggi merupakan kawasan wisata yang sedang aktifnya dikembangkan, apalagi disini pun merupakan salah satu titik yang dijadikan sebagai lokasi syuting dalam film Laskar Pelangi. Barulah di Tanjung Tinggi ini saya menemukan pengunjung lain, ada yang datang dengan rombongan-rombongannya, ada yang datang berpasangan, ada yang juga datang untuk melakukan pengambilan gambar prewedding. Seperti tempat wisata pada umumnya, ramai bo!

Setelah makan siang dan melaksanakan sholat berjamaah bersama Rizky, Teguh dan Nouval, saya pun ikut menyusuri Tanjung tinggi ini dari sudut ke sudut, manjat dan melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kereeeeen! Pasir putihnya halus, terus disini batunya lebih gila. Banyaaakkk dan besaaaar. Ada yang sebesar saya, ada pula yang sebesar rumah. Beberapa batu bahkan tersusun rapi sehingga menyerupai Gua, yang kepanasan bisa deh berteduh dibawahnya. Yang suka foto-foto landscape akan autis disini, saking banyaknya view yang bisa dijadikan best capture. Mengambil gambar pemandangan dari satu batu ke batu lainnya itu beda, ada kesan tersendiri. Uniklah!



Setelah masing-masing menikmati panorama di Tanjung Tinggi rombongan Kaki Gatel ini berkumpul di tepi pantai sebelah Barat Tanjung Tinggi, hmmm enak eyy duduk diatas pasir putih lembab. Terus didepan kami ada Teguh, Rizky, Boy dan Abduh beraksi “foto lompat” dengan berbagai macam pose. Lucu…! Perasaan dari kemarin deh setiap foto rombongan disuruhnya lompat mulu, dan hari ini yang paling gila. Dan tak terasa waktunya matahari terbenam, saya seperti orang gila mencari-cari kemanakah matahari berada. Setelah berkeliling akhirnya matahari itu saya temukan juga. Dibalik pohon depan rumah makan disebelah barat Tanjung Tinggi, dari sana sunsetnya romantis banget. Ada batu-batu kecil, gumpalan awan, dan satu rumah yang kesepian. Ahhh, kereeeeenlah. Buat nambah koleksi sunset :)


Foto Punya Kaki Gatel

Hari mulai gelap, warung-warung yang ada sebagian sudah beres-beres. Saya dan teman-teman berjalan menuju arah Timur Tanjung Pandan, sebenarnya disanalah kami akan camping tapi berhubung tenda yang ada tidak mencukupi jadinya kami masing-masing di suruh tag tempat untuk tidur. Hahaha, terlantar deh… makin ke arah timur suasana makin gelap, disini lampu juga menjadi barang langka. Tapi tetaplah beberapa diantara kami berjalan menyisir tanjung Tinggi ini, dan eng ing eng… disana airnya hangat. Padahal selepas magrib loh, si Boy dan Rizky yang dari tadi memang sudah main basah-basahan langsunglah dia nyemplung. Saya belum ganti baju, tapi karena mupeng maksimal makanya dengan jeans dan kostum lengkap saya pun ikut nyemplung. Brrrrr… Hangat! Puas main air kemudian disinilah aksi foto loncat kami praktekkan secara berjamaah dan berpegang-pegangan. Hahaha… malam gelap gulita, bulan munculnya malu-malu, tapi Subhanallah… saya tidak pernah melihat bintang sepenuh dan seterang itu. Kerlap kerlip, cantik, romantis, anti galau!


Foto Punya Kaki Gatel

Saya basahhhh tapi saya happy, hahaha… frase yang tidak nyambung tapi nyata. Makan malam tiba, tedeeeenggg… masih di warung tadi dengan menu yang berbeda. Tapi saya tidak nafsu makan, jadinya dengan badan yang masih basah saya hanya icip-icip ikan bakar dan cumi goreng tepungnya. Enaaaak! Muka rasanya mulai mengeras, kulit tangan menghitam. Aih aih… di kamar mandi saya tidak benar-benar mandi, hanya bilas dan mengelap badan. Kamar mandinya mengerikan euy, terbuka banget! Setelah bersih-bersih badan dan ganti baju saya kembali ke Mushallah untuk shalat berjamaah bersama Rizky, Nouval, Teguh dan Abduh.

Selepas sholat Isya di depan mushallah sudah ada mobil satu dan mobil dua yang menunggu, katanya mereka akan ke Tanjung Pandan untuk Karokean sekalian membeli handuk buat Boy. Yang mau ikut cuman Abduh, sementara saya Teguh, Rizky dan Nouval kembali ke warung. Disana juga ada beberapa anak-anak yang menolak ikut, ingin istirahat katanya. Malam masih panjang euy, mobil satu dan mobil dua sudah punya acara sendiri dan kami anak-anak penghuni mobil tiga akhirnya bikin acara sendiri, gelar plastik dan main kartu di tepi pantai tempat kami lompat massal magrib tadi. Ini pun menjadi satu moment yang paling indah dalam trip kali ini, kami melebur satu sama lain saling mengakrabkan diri. Main kartu, menyanyi, ketawa… ada Dee, Nouval, Teguh, Rizky, Kakak Rose, minus Boy nih soalnya doi lagi cari handuk. Ada Maria dan Chandra juga cuman mereka bubarnya lebih cepat, ngantuk katanya.

Pukul dua belas kurang anak-anak yang tadi keluar karokean berdatangan, sudah lengkap dengan sleeping bag masing-masing. Ternyata mereka ngTAG tempat ini untuk tidur, ahhh kita tergusur deh. Sudah larut juga dan akhirnya permainan kartu dibubarkan, saya, Dee dan Rose tidur bergabung dengan beberapa anak-anak lainnya di bale-bale yang ada di warung. Sementara Rizky, Nouval, Teguh dan Abduh tidur di Mushalla.

Perjalanan hari kedua berakhir dengan indah, banyak momen penting dan tak terlupakan hari itu… saya sempat posting satu statement di twitter malam itu, bunyinya seperti ini “Sangat menyenangkan berada diantara orang2 menyenangkan, i love this trip so so :)"
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.