02/02/2015

1 Tahun

Baru ngeh ternyata sudah satu tahun saya resmi menjadi pegawai organik disatu instansi pelayan masyarakat. Masih adalah sedikit rasa takjub, pun masih banyak orang-orang yang belum juga bisa menerima kenyataan bahwa saya lulus tanpa membayar sepeserpun. Tapi itu bukan urusan saya untuk membuat mereka yakin. Dalam setahun ini saya melewati masa-masa yang luar biasa harus disyukuri.


Dimulai dari adegan menunggu kepastian pemanggilan setelah resmi nama saya sudah terpampang dalam list orang-orang lulus dan menunggu panggilan selanjutnya. Pengumuman bulan Desember 2013, pemberkasan bulan Januari 2014. Selebihnya kami disuruh menunggu tanpa tanda, beberapa teman sudah resign dari kantornya dan menjadi pengaguran dari awal tahu mereka lulus. Saya sendiri tetap bekerja. Membuat kesepakatan dengan Pak Supervisor bahwa saya bisa keluar secara mendadak jika sewaktu-waktu panggilan saya datang. Saya menunggu dalam sibuk. Tapi hati saya campur aduk, tak-terdefinisikan.

Minggu kedua Mei 2014, panggilan untuk ikut pembekalan di Jakarta dan diklat di Bogor datang juga. Drama hidup saya dimulai dari sini. Saya akan hidup dikota orang selama 3 bulan lamanya, tanpa penghasilan. Tidak ada pesangon dari kantor lama, sementara saya punya kewajiban rutin yang mengharuskan saya tetap berpenghasilan. Saya sempat berfikir untuk mundur saja, Bapak saya murka dibuatnya. Mamak memilih jalan negoisasi secara halus, menyentuh hati saya jauhhhh kedalam hingga menimbulkan percikan listrik yang pada akhirnya menyalakan bohlam dalam otak saya. Selama ini saya punya banyak teman baik yang benarbenar baik. Saya belajar untuk bercerita, menyimpan sebentar saja wajah riang saya. Sedikit berharap dapat solusi. Dan Allah itu tidak akan mencoba hambanya lebih dari takarannya.

Dan saya mulai mengikuti pendidikan. Satu minggu pertama saya beserta teman-teman lain mengikuti pembekalan di Rindam Jaya. Saya sebenar-benarnya sudah tidak sanggup dihari ke-3, tapi hanya dengan mendengarkan suara Bapak dan Mamak dirumah saya kembali berfikir. Mungkin ini sama sekali tidak membahagiakan saya, tapi saya bisa apa kalau hal itu justru membuat mereka bahagia sekaligus bangga. Fikiran yang sama sekali tidak membuat saya jadi lebih kuat, tapi membuat saya bertahan. Satu minggu, dan selesai.

Mei 2014 Prajabatan di Bogor. Ketidak senangan saya membuat saya menutup diri. Saya belajar setiap hari, layaknya sarden. Badan ada ditempat entah kepalanya dimana. Alhasil, saya tidak begitu nyaman dengan anak-anak sekelas, paling hanya beberapa orang. Selebihnya, saya malas untuk memulai. Hanya suara dibalik teleponlah yang menguatkan saya, selalu.

Juli 2014 DDP, di Bogor. Ini adalah diklat teknis tentang pengetahuan dasar setelah prajab. Kelas prajab dibongkar, dan bertemulah saya dengan orang-orang baru. Wow, entah energi dari mana sehingga dikelas ini saya kembali menemukan diri saya. Menemukan passion dan tujuan. Saya lebih terbuka, lebih ekspresif. Hasilnya? Saya punya beberapa teman yang belakangan jadi sahabat. Saya punya geng, sekaligus menjadi ketua geng. Setelah DDP selesai, kelas dibubarkan sementara waktu. Kita boleh pulang untuk berlebaran dengan keluarga dikota asal masing-masing. Saya pulang. Ketemu Bapak ketemu Mamak, masih dengan wajah bangga dan bahagia yang tak terjelaskan.

Agustus 2014, diklat keuangan di Bogor. Kembali ke Bogor dengan rasa rindu yang mulai mengumpul. Jadi ingat awal pertama ke Jakarta: saya sudah tanamkan dikepala untuk tidak mencari teman fokus belajar dan pulang bawa SK dan Ijazah. Tapi Allah tidak pernah merancang hidup saya berlalu biasa, selalu luar biasa diantara orangorang yang tak kalah luar biasanya.

Inipun drama, ketika kami yang sudah dekat dan akrab harus berpisah. Terkadang hidup itu sekejam ini yah, kita diketemukan untuk dipisahkan. Kembali ke kampung halaman masing-masing, dan segala kebersamaan itu pada akhirnya akan menjadi kenangan. Kemungkinan bertemu tanpa direncanakan 10%, bahkan ketika direncanakan sekalipun hanya ada di angka 50%. Oh Allah. Sakit sih, perih perih gimana gitu di hati. Tapi ini hidup. Jika kita tidak beranjak meninggalkan bisa jadi kita yang akan jauh tertinggal. Tidak semua bentuk cinta ditakdirkan selalu bersama.

September 2014. Waktunya bekerja nyata, setelah lama berbulanbulan disekolahkan oleh negara. Mengabdi. Saya dan teman-teman ternyata tidak langsung dioper ke satker masing-masing, kami harus “parkir” dikantor wilayah selama sebulan penuh. Oke, itu artinya kembali menyesuaikan lingkungan baru, orangorang baru dan ritme kerja baru. Selama sebulan, saya mendapatkan banyak hal. Entahlah, saya tidak berfikir akan jadi apa mereka pada akhirnya dihidup saya. Saya hanya mengikuti aliran sosialisasi ini saja, banyak belajar, banyak bertanya. Dan sayalah orang yang akan sangat rese’ saat penasaran dengan satu hal. Nanya gak abis abis.

Oktober 2014. Waktunya masuk satker masing-masing, diantar sama Bapak dan Mamak ke Parepare. kembali lagi menyesuaikan diri, orangorang baru, lingkungan baru dan bahasa baru tentunya. Disini saya belajar cepat, saya tidak butuh waktu lama untuk merasa aman dan nyaman. Punya genggongan, untuk makan bareng dan ketawa bareng. Sampai sekarang. Sometimes, saat saya merasa stuck! saya rindu untuk pulang, kalau bisa mau stay di kota kelahiran saja. Menikah dan beranak pinak disana. Karena sebesar apapun masalah itu, kalau sudah lihat wajah “keluarga” bawaannya adem. Cooling down.

Alhamdulillah.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.