Showing posts with label Life in Bogor. Show all posts
Showing posts with label Life in Bogor. Show all posts

01/12/2014

Apartemen B!


Mungkin kita sama-sama pernah dengar sebuah kutipan yang kurang lebih seperti ini:

Ketika segalanya berjalan tidak seperti yang kau inginkan, percayalah ada takdir yang bekerja-yang akan membawamu ke jalan yang lebih baik.
~herricahyadi

Kutipan tersebut adalah satu dari banyak kutipan yang mengajak kita untuk lebih memahami rencana Allah. Ya, kita selalu menganggap yang terbaik adalah apa yang kita inginkan sementara hanya Allah-lah yang tahu apa sebenarnya yang kita butuhkan, apa yang terbaik dan paling baik untuk kita. So classic!

Dan kutipan ini kembali lagi 'bermain' dalam kehidupan saya selama dipusdiklat. Tepatnya saat pembagian kamar, untuk saya tempati bersama dua kawan lainnya selama saya belajar dipusdiklat.

Rani Septalisa, Silta Emalia dan Syam. Begitu suara yang kemudian terdengar, akhirnya nama saya dipanggil juga. Segeralah saya membawa koper, ransel dan tentengan menuju sekretariat panitia untuk berkumpul dengan dua orang lainnya. Disana, kami kemudian diberi kunci dan diarahkan menuju kamar yang letaknya di gedung C, lantai 3. Wow! Saat-saat seperti ini, jangan pernah berharap untuk dibantu orang lain, semua orang repot dengan barangnya masing-masing, disini juga tidak ada porter jadi ya usahakan saja sendiri bagaimana bawaan kami masing-masing bisa sampai diatas dengan selamat. Haha. Sangat mengesankan, kami dan beberapa rombongan kamar lainnya antri ditangga menuju kamar, menyeret koper masing-masing. Saya memilih jalan dua kali, jadi kopernya dulu yang diseret keatas lalu turun lagi untuk mengambil barang lainnya. Fiuhhh, luar biasa menguras energi.

Sampainya dilantai 3, dikamar 301. Tepat didaun pintu terpampang nama-nama penghuni kamar, ya, 3 orang dan dari ketiga nama tersebut tidak ada nama kami. Dan setelah kami tanya kepanitia, ternyata memang benar kamar itu bukan untuk kami. Kamar kami dilantai 3 gedung sebelah, gedung B! gedung tambahan akibat kapasitas peserta yang melebihi kuota asrama. Itu artinya, saya, dua kawan kamar saya dan penghuni empat kamar lainnya harus pindah kegedung sebelah, tidak hanya kami tentunya, tapi semua barang-barang yang banyak dan beratnya minta ampun ini musti ikut dipindahkan juga. Dan, artinya lagi kami harus turun dari lantai 3 ke basement, lalu menyeberang ke gedung sebelah, lalu naik kelantai 3 lagi. Oke, sakitnyaitudisini #pegangbetis

Jangan pernah tanyakan bagaimana repotnya aktivitas kami pagi itu. Dengan seragam tentara lengkap, topi bundar dileher plus sepatu laras. Ada rasa ingin menggerutu, tapi sudahlah. Selain pindah memang kami tidak punya pilihan lain, kami turun dengan tertatih-tatih, beruntung saat dibasement ada beberapa peserta cowok yang ternyata tanpa dimintai tolong, berinisiatif untuk membantu kami, membawakan koper kami kelantai 3 gedung B.

Hop! kami tiba digedung B, gedung yang berisi 5 kamar darurat akibat over kuota. Melihat kondisi kamar-kamar di gedung B dimana beberapa jendela tidak ada kacanya, kondisi toiletnya yang masih onprogress, ditambah lagi letaknya yang seolah-olah terasing itu, membuat kami ngomel berjama'ah. Akh, kami bukan mengeluh tapi yah.. menuntut agar diperlakukan lebih layak. Dari 179peserta, hanya 15orang yang ada digedung ini. 164nya lagi ada digedung sebelah, menempati lantai 2, 3 dan 4. Fikiran kami sama, kenapa bukan 15peserta cowok saja yang dioper kegedung ini? kenapa harus kami, cewek-cewek? nanti kalau ada apa-apa bagaimana? begini, begitu, dan lain sebagainya. Haha.. kebiasaan manusia pada umumnya, menganggap orang lain lebih pantas untuk mendapatkan hal yang tidak menyenangkan. Hihi, pokoknya luculah kami waktu itu. Protes, protes dan protes.. tapi hanya protes kesesama kawan dikamar atau kamar sebelah. Coba protes kepanitia, kami bisa dapat hukuman mati! Haha.. #okeinilebay

Lantai 3 gedung B ini adalah gedung tua, dulunya adalah gudang kemudian dirombak menjadi kamar-kamar. Dindingnya saja dari asbes, jadi kalau kami rusuh dalam kamar otomatis terdengar dari kamar sebelah. Diluar kawasan yang disterilkan, terdapat satu ruangan yang digunakan sebagai ruang kelas. Dilantai duanya, ada dua kelas lagi, dan dilantai satunya adalah ruang tunggu dan sekretariat panitia. Suasana gedung ini ramai dipagi-sore hari, dan sepi dimalam hari.

Piknik di Apartemen #selfentertaining :p

Hampir dua bulan kami melewati hari dan malam di gedung ini. Kami menyebutnya Apartemen B! Dari yang awalnya ngomel gak ada juntrungannya, sampai ada rasa iri dengan anak-anak gedung sebelah lalu kemudian berubah merasakan nyaman karena kamar mandi kami jauh lebih banyak (2 kamar mandi + 4 mata shower), dekat dari kelas, dan yang paling penting adalah jauh dari gonjang-ganjing dunia persilatan. Iyalah, dipusdiklat kami hidup berdampingan dengan bergabagi macam karakter dan dengan motifnya masing-masing. Hidup kami tentram di apartemen ini, satu sama lain seolah tidak perduli dengan omongan/gossip yang ada dipusdiklat. 

Pada setiap kesempatan ngobrol kami hanya membicarakan diri kami, aturan yang diberlakukan diasrama dan menertawakan diri kami masing-masing. Jumlah kami sedikit, jadi bisa lebih kompak. Aturannya memang sekamar 3 orang, tapi diluar jam tidur semua anak bisa jadi ngumpul dikamar B.301 untuk sesi CURHAT karena kamar kami yang paling heboh dan berantakan dari kamar-kamar lainnya. Kebersamaan yang naik kepermukaan bukan dengan teman kamar masing-masing, tapi satu kesatuan apartemen B! anak-anak terbuang yang bahagia. Sedaaap :)



Photosession, Photograper by Jimbo

Banyak kenangan manis yang kami lewati digedung tua ini, apalagi kami melewati Ramadhan bersama. Kami buka puasa bersama diluar jadwal ciecie tapinya.., taraweh berjamaah walaupun pada akhirnya ricuh gegara gak ada yang mao jadi Imam selain Kekey, pun saat sahur tiba kami hanya mengambil nasi dari dapur kemudian makan bareng di asrama seadanya, kadang hanya dengan lauk abon dan boncabe. Hehe, luar biasaaaaa!

Di gedung B kami punya Pak Asep, Bapak serbabisa.. kepada Pak Aseplah anak-anak selalu bermanja-manja minta dibelikan segala macam mulai dari makanan sampai perlengkapan pribadi disaat-saat kami tidak bisa keluar dari asrama, cucian kami bersih dan wangi ditangan pak Asep, asrama kinclong disulap olehnya disetiap pagi hari walau malamnya akan diberantakin lagi oleh kami.

Kamar anak gadis, haha... B301!

Hal yang paling berkesan mungkin adalah ketika kami satu gedung, 15orang terlambat pada satu apel malam, kami dideret dalam satu barisan khusus dan setelah apel malam selesai kami diadili oleh panitia. Panitia hanya bisa geleng-geleng, kami sedikit takut tapi lebih banyak ketawa. Menertawakan kekonyolan kami, yah.. kami memang terkenal sebagai anak-anak yang sering lari-larian menjelang apel pagi dan malam hari, nyaris terlambat. Tapi kali ini, benar-benar terlambatnya fatal. Gimana enggak, setiap kali dandan menjelang apel kami menghabiskan banyak waktu lama didepan cermin yang digunakan bersama, sambil bercanda, dengar musik, nyanyi dan joget-joget gak jelas. Sekedar menghibur dirisendiri dan kawan-kawan segedung. Apel10menit, dandan 30 menit. Busettt gak tuh?! Hihi...

Akh, memori memori.


Postingan ini terkhusus untuk kawankawan se-Apartemen B! SILTA, RANI, DADA, EPIN, YESSIE, ANNUR, KEKEY, WILA, SUCI, YUNI, APREL, TYAS, ANIN dan MALA. Sakses ya kalian... :))

I'll always rember you, Beb! #cipokinsatusatu #mmmuuachhh!

06/09/2014

Yang tertinggal dipusdiklat Bogor


: Kenangan

Terimakasih untuk apapun yang telah kita lewati sama-sama, kalian ISTIMEWA gaesss.. memberi warna dihitam-putihnya hidup di pusdiklat. Kalian dah kaya' Tsunami, yang tetiba datang, hanya sebentar, tapi efeknya dahsyat kemana-mana. Memorable. Kita Ciecieee, kita patriot agraria unyu-unyu :p

For sure.. someday, we'll miss this momment gaes
Keep fight, strong and happy..

InsyaAllah, masih ada JODOH antara kita.
Sampai jumpa dicuti-cuti selanjutnya, NO PHP, NO TIPU-TIPU :))


Backsound: Bird song, Letto.

31/08/2014

Diklat jabfung, H +7


Well, besok pagi ujian pengadaan barang jasa. Sementara teman-teman yang lain pada sibuk belajar, saya justru melarikan diri kedunia maya ini. Sumfekkkkkk cuy! Ibarat kata sebuah kotak yang diisi barang-barang secara random dan terus-terusan, alhasil jadinya penuh tak-beraturan, ya bingunglah.

Secara keseluruhan, dari rangkaian 4 diklat yang saya ikuti selama kurang lebih tiga bulan lamanya, otak saya hanya bisa menyerap materi tidak sampai 50%. Parah! Haha, tapi dari sini saya semakin memahami metoda pembelajaran yang paling cocok untuk saya. Praktik. Kalau dengar materi rasanya itu masuk telinga kiri, keluar telinga kiri pula. Susah nembus, jadinya mental. Kemudian merasa menjadi peserta paling bego sepusdiklat. Fiuh!

Well, dari semalam pusdik heboh. Setelah penutupan disore harinya, farewell party dimalam harinya, disambung dengan tangan yang saling berjabat, pelukan-pelukan erat pertanda kita “hanya sampai disini”. Bikin sepiclesss, bikin mewek juga.. aih.. aih.. emosional sekaleeeh. Anak-anak formasi PGT dan HTPT sudah pulang duluan, malam ini pastinya ada yang sudah lehaleha dirumah, balas dendam atas tidur yang kurang selama di pusdiklat, ada yang mungkin masih diperjalanan berharap dengan segera sampai dirumah. Sementara kami, anak perencana masih sibuk berkutat dengan materi ujian.

Tapi saya tidak mau berpusing-pusing dengan bahan ujian. Saya mau mereview sepak terjang saya dalam hal bergaul/menjalin hubungan pertemanan di pusdiklat ini. Yang awalnya saya banyak menutup diri, hingga membuat hari-hari saya dipusdik sangat-sangat membosankan, stuck! Saya ternyata butuh teman. Kemudian saya memutuskan membuka diri, bayangan ketakutan tentang “sakitnya” perpisahan saya hapuskan. Saya menemukan banyak teman, teman dan teman. Saya nyaman, saya tidak sendiri dan saya tidak boleh sendiri. Dan ketika kami tertawa dengan begitu bahagianya, dan adanya rasa “kehilangan” saat sudah waktunya berpisah, saya semakin sadar bahwa kami disini saling menemukan dengan cara kami masing-masing.

Ditempat yang luar biasa ini, saya memahami bahwa dalam setiap pertemuan akan selalu ada akhir, pada setiap akhir adalah permulaan untuk sesuatu yang jauh lebih baik. Ini ilmu dasarnya, dan selanjutnya akan terimplementasi dalam hidup kita secara berulang dan terusmenerus, dalam level kesukaran yang berbeda-beda. AMAT SANGAT KLASIK cuy!

Saya melewati 3 bulan yang istimewa. Tentang perpisahan, akh.. tidak usah banyak diambil pusing. Sakit memang, bikin dada sesak. Tapi ketika kita membayangkan indah-indah saat bersama, dan percaya hidup kita akan selalu dinaungi oleh kebaikan-kebaikan yang dititipkan Allah lewat orang-orang berhati nyaman, sakitnya itu hilang, berganti dengan rasa Syukur.

Terimakasih Allah, untuk hidup yang atas Izin-Mu, bisa terlalui dengan amat sangat luarbiasa.

Besok ujian, besoknya pulang kampung.
asekkkasekkkjosss!

28/08/2014

Diklat Jabfung, H +4

Menuju tidur, dengan kondisi fisik yang amat sangat lelah. Cuapeeek cuy!

Well, saat ini saya sedang menjalani dua diklat sekaligus, dipagi sampai sore hari saya mengikuti diklat fungsional anggaran kemudian malam harinya dilanjut dengan diklat pengadaan barang dan jasa. Kegiatan belajar mengajar dimulai dari pukul 7:30AM sampai 10:00PM selama 8-hari, termasuk hari minggu nanti.

Rasanya mengikuti diklat yang kejar tayang ini adalah, mumettt dan lapar. Kalo mumet pastilah ya, karena berkutat dengan istilah-istilah baru terkait dengan keuangan pemerintah, sistem, prosedur dan lain sebagainya terkait bidang pekerjaan kami nantinya. Dan kenapa lapar? Entahlah, bukan cuman saya sih teman teman lain pun merasa sama, gampang melapar. Kalau sudah dihadapan meja makan bawaannya kalap, sekali kedip tau-tau nasi dan lauk pauk ludesss. Paling mengandalkan rejeki anak soleh, mengumpulkan sisa-sisa makanan dari meja satu kemeja lainnya.. ekstrimnya kadang musti ngambil makanan dari meja panitia. Ini langka! secara di-diklat-diklat sebelumnya, selalu saja makanan sisa jauh lebih banyak dari makanan yang dimakan peserta.

Sudah hari keempat, sudah mulai terbiasa dengan ritmenya. Diklat kali ini agak susah bergaul dengan anak-anak dari formasi lain. Yang biasanya lepas apel malam masih bisa kongkow dikantin ini malah masih harus mengikuti kelas kejar tayang. Bubar kelas, energi pun ikut bubaran.

Angkatan VII, Diklat Fungsional PP&PA 2014

Semangat! tinggal empat hari lagi...

04/08/2014

Hidup di Rindam jaya (6D)

Dua bulan empat hari saya berada jauh dari rumah, terhitung mulai tanggal 18 Mei - 22 Juli 2014. Untuk sementara saya hidup di dua kota berisik, Jakarta dan Bogor. Keberadaan saya di dua kota tersebut adalah dalam rangka tugas belajar dari negara bersama 178 orang lainnya yang berasal dari sabang sampai merauke. Saya belum cerita disini soalan saya yang diterima menjadi salah satu abdi negara di salah satu lembaga negara non kementrian per tanggal 24 Desember 2013 lalu. Mungkin bagi beberapa orang yang mengenal saya, utamanya teman semasa SMA dan KULIAH takjub mendengar keputusan saya, ya dulu saya ada dalam barisan menolak menjadi PNS garis keras, tapi yah... semesta ini cair, hidup mengalir seperti air. Pada satu kesempatan, saya akhirnya memutuskan untuk resign, niat saya jelas ubah haluan.. menjadi PNS. Harapan saya tidak muluk-muluk, saya ingin bekerja-berpenghasilan-berkeluarga.

Man proposes, GOD disposes.
Semoga Allah menjaga saya..

Hidup mengajarkan saya untuk tidak lagi mudah mempersilahkan orang-orang baru masuk dalam kehidupan saya. Untuk seorang yang posesif plus melankolik seperti saya, perpisahan itu sakit bung! Keberadaan kami disini jelas, ada untuk bersama kemudian akan dikirim kepenempatan masing-masing, dan kemudian hanya takdir yang bisa mempertemukan kami lagi.. Maka dari itu, sejak awal saya menginjakkan kaki di Markas besar Rindam Jaya Jakarta Timur, saya bertekad bahwa saya disini hanya untuk melaksanakan tahapan hidup saya demi menjadi bagian dari pelayan masyarakat. Belajar, bergaul seperlunya saja dan hati tidak boleh ikut-ikutan.

Kehidupan di Rindam itu amat sangat keras, kami dilatih dan dididik layaknya calon tentara yang memang dipersiapkan untuk perang, untuk dibunuh.. akh, diawal-awal saya benar-benar tidak bisa menyesuaikan diri. Waktu sosialisasi kami pun sedikit. Saya hanya berbicara kepada orang yang memulai duluan, tidak ada sama sekali niatan saya untuk bergaul, dipikiran saya hanyalah saya harus bisa bertahan hidup ditempat ini. Ditempat yang mana saya hanya bisa menjadi diri saya sendiri hanya dalam hitungan empat jam setiap harinya, pukul 11:00PM-03:00AM. Sisanya saya menjadi robot dengan seragam hijau, sepatu laras yang rasanya kadang lebih berat dari beban hidup saya, kopel rim dan topi yang selalu harus ada diatas kepala. Ruang makan dan kamar mandi yang... ah, sudahlah. Saya mungkin akan selalu mengingat setiap moment selama di Rindam Jaya, tapi tidak akan merindukannya.

Bapak saya tentara. Enam hari saya melihat dengan mata kelapa sendiri bagaimana tentara-tentara itu dilatih disini, membuat saya berfikir: kelak, anak saya tidak usah jadi tentara. Kasian. Tapi yah, setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing.. saya yakin, mereka para tentara-tentara baru itu pasti sudah siap jiwa dan raga menerima perlakuan yang bagi saya tidak masuk akal ini, tugas kenegaraan yang mereka emban nantinya menuntut fisik dan mental baja. Mereka memang hanya bisa diam dan menerima semua perintah dan sanksi dari para pelatih, melanggar perintah/aturan pelatih adalah dosa besar disini. Setiap dinding ditoilet dan barak "berbicara" banyak, mereka hanya bisa menulis dan menumpahkan semua perasaannya lewat media itu; kangen keluarga, suami/istri, anak, pacar, kehidupan dan kebebasan. Istimewanya adalah, dinding-dinding tersebut adalah hiburan tersendiri bagi saya, rasanya seperti membaca kehidupan para sosialita di akun sosial media. Mungkin lewat tulisan-tulisan ditoilet itu mereka hanya ingin memberi sinyal kepada orang-orang baru yang "terpaksa" harus melewati hari-hari dirindam, bahwa rasanya ya memang seperti itu. PAHIT tapi harus ditelan juga. You're not alone.

Kami disini anak didik titipan instansi kami, latihan kami jauh berkali-kali lebih ringan dari mereka, kami masih bisa pegang hape dan menelepon orang-orang yang bisa menguatkan mental kami. Lewat telepon, setiap malam Mamak menemani saya. Sesekali Bapak ikut bercerita bahwa memang seperti itulah sukaduka menjadi tentara. Ah, sepenglihatan saya tidak ada sukanya pak.. hanya memang, situasi seperti ini hanya bisa kita lewati dengan mudah ketika kita berdamai dengan "kenyataan", saya mulai bisa menikmati alur hidup dirindam setelah hari ketiga, tepatnya setelah baju seragam ijo kami yang dipakai sejak dari hari senin sampai hari rabu malam dari pukul 03:00AM-10:00PM, dengan aktivitas yang luarbiasa mengalirkan keringat, mandi debu, selonjoran ditanah/lantai pada setiap sudut rindam jaya, setiap dalam kondisi baris ataupun saat kerumun dengan teman kelompok aroma kami bercampur dan tak terdefinisikan lagi apa jenis aroma campuran yang kami hasilkan, diperintahkan untuk dicuci.. melepaskan baju ijo itu rasanya seperti melepaskan 75% beban hidup saya dirindam, i'm aliveeee... *fiuhhh!

Saya belajar banyak di Rindam Jaya, banyak banget.. 
  1. Belajar hidup dalam kesusahan dan ya, kata mereka kebersamaan dalam kesusahan.. apalah, intinya dirindam inilah makan nasi putih didorong pake aer putih, makan bukan karena lapar tapi karena badan butuh asupan energi, mandi superduper cepat karena waktu yang dikasih juga cuman sebentar, yang paling bikin setres toiletnya itu. Jauh dari kata sehat, tapi yang penting bisa boker sih sudah cukup. Ini rindam cuy, bukan hotel..
  2. Belajar pakai sepatu laras yang luar biasa ribetnya itu hanya dalam waktu tak kurang dari satu menit.
  3. Belajar merapikan tempat tidur, bersih dan kencang sampai kalo ada koin yang jatoh ke kasur koinnya mental saking kencengnya. Ini kalo sepreinya gak kenceng, terus masih ada barang-barang selain bantal disekitaran tempat tidur, gantungan handuk atau baju/kain, kita dapat ekstra push-up dan sit-up dibawah sinar matahari. Ada satu orang yang salah, semualah kena.
  4. Ini belajar apa bukan, entahlah. Pokoknya hanya dirindam inilah saya bisa tidur diruang kelas, tidur dalam barisan, dan paling sempurna tidur saat apel malam. Luar biasa bukan?! Skejul kami dirindam padat luarbiasa, dan sangat menguras energi sementara asupan makanan dan waktu istirahat tidak mengimbangi, wajarlah kami semua capek. Tidur itu manusiawi. Dan kami manusia, bukan robot..
  5. Pelajaran pamungkas dirindam jaya adalah disiplin dan kebersamaan. Semua materi yang sifatnya sangat teoritis itu, plus pelajaran baris-berbaris itu semua cuman kedok.. tidak akan ada pelajaran yang diperoleh jika fisik, otak dan mental tidak dalam kondisi yang "enak". 
  6. Tentara jago goyang dan nyani dangdutan, satu lagi.. OTAK MEREKA NGERESSS. Setres! Saya belajar senam komando ya sejenislah dengan goyang poco-poco, backsoundnya pakai lagu Rita sugiarto yang judulnya dua kursi, lagu dangdut yang belakangan sangat menghibur. Saya suka :))
  7. Saat apel, secara acak kami akan dipanggil untuk memimpin membacakan PANCASILA. Dan ternyata banyak diantara kami yang terbata-bata melafalkan pancasila, entah karena grogi, tidak fokus atau memang tidak hafal. Dari rindam inilah kemudian muncul gerombolan yang menamakan diri PKI, anggotanya mereka-mereka yang tidak bisa hafalkan pancasila. Buseeeet! Pelajarannya adalah, hmm.. kelompok akan terbentuk bukan hanya jika ada tujuan bersama, tapi juga latar belakang yang sama yang akhirnya juga melahirkan tujuan yang sama. Mungkin mereka mau ngapalin pancasila sama-sama. Entahlah.
  8. Terkadang, kita memang harus menjalani tahapan hidup yang bukan mau kita, tapi sadar/tidak sadar itu adalah pilihan kita. Ya itulah hidup, kalau kata teman saya: Tidak semua tentang kamu. 

Pasukan Pleton 3!

Itulah, saya dan semua hal yang saya alami di rindam jaya.. saya melewati enam hari diRindam jaya 19-24 Mei 2014 bersama teman-teman di pleton 3 yang entah siapa mereka, benar-benar kami satu sama lain tidak lagi sempat berkenalan pun kami hanya berfoto ria saat setelah outbond dan penutupan. Saat kulit sudah nyaris sama dengan warna tanah. Tidak ada sosialisasi yang berarti. Selain itu, saya juga menjadi bagian dari teman-teman yang tidur dibarak 1 berjumlah 46 orang perempuan yang berasal dari berbagai daerah. Senang bisa bersama kalian semua, walau saya tak sempat bicara dengan kalian satu persatu tapi setidaknya kita masih bisa menertawakan kesulitan yang kita lalui sama-sama dalam satu nada, dan yang paling penting kita bisa keluar dan dinyatakan sebagai Alumni Rindam Jaya dengan kondisi masih hidup, sehat jiwa sehat raga, ya.. walau kita semua kena penyakit yang sama: BIANG KERINGAT. 

Tanggal 25 Mei 2014, dari Rindam Jaya kami diangkut dengan 4 unit mobil tentara bak besar ke Bogor untuk memasuki tahapan selanjutnya..

RINDAM JAYAAAAAA!!!

08/07/2014

Prajab angkatan XLV, yess goo!


Aci, Armawadin, Azizul, Andi, Ardian
 
 
 
 
 

28/06/2014

Lost in Bogor

 

Ber-sweet escape ria, dalam rangka merayakan birthday trip 27-28 seperti yang sudah-sudah, bersama sahabat kesayangan di bilangan kota Bogor.

ps. semua foto di-take pake hape samsung GT-C3520



Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.