Showing posts with label Life in Parepare. Show all posts
Showing posts with label Life in Parepare. Show all posts

27/02/2016

Janji patung Habibie - Ainun

Sekitar pertengahan tahun 2015 Pemerintah Kota Parepare menyelesaikan pembangunan Patung Habibie-Ainun yang terletak di Lapangan Andi Makkasau Parepare. Saat itu, lapangan benar-benar banjir kunjungan dari orang-orang dari segala penjuru, untuk melihat-lihat dan tentu saja mengabadikan gambar.

Suatu waktu saya pernah berjanji pada diri saya, bahwa saya hanya akan berfoto dengan latar belakang patung Habibie-Ainun saat saya akan meninggalkan kota ini untuk menuju kota dinas berikutnya. Lalu tibalah kunjungan sahabat saya ke kota Parepare, saya menemaninya menikmati malam di Kota ini, menyusuri sepanjang jalan andi makkasau, mengitari lapangan yang sedang ramai, lalu berhentilah kami di depan patung Habibie-Ainun. Jelas, tujuannya mengabadikan gambar didepan icon kota Parepare yang belum lama berdiri, siapa yang tidak kagum dan bangga dengan sosok pak Habibie dan Alm. ibu Ainun? dan saya pun ikut serta, sempat terlintas difikiran saya tentang janji saya sebelumnya, saya hanya tersenyum lalu mencoba mengabaikannya.

Lalu, tak berapa lama setelah kejadian itu SK mutasi saya turun. Sepertinya janji saya dan takdir saya bersatu padu melawan saya, saya harus segera meninggalkan kota Parepare. "apa-apaan ini?" gerutu saya dalam hati. Pahit. Tapi, dari kejadian ini saya belajar bahwa kita tidak semestinya meremehkan kata-kata sendiri, janji, harapan, doa apapun itu. Sekali dia terlontar dan mengangkasa, kita harus konsekuen dengan segala apa yang akan terjadi besertanya. 

Tidak ada pilihan lain, maka terimalah syaaam.. walau itu pedih diawalnya.

30/01/2016

Mutasi Pertama


Saya tidak pernah menyangka bahwa akhir dari lembur panjang terisolasi dalam rangka menyusun LK ķemarin akan menjadi sebegitu dramanya, mutasi depan mata.

Iya, hanya 1 tahun 3 bulan di Kota Parepare. Akhirnya saya mendapat kabar bahwa surat mutasi ke Kabupaten Pinrang sudah diterima atasan saya, mundur selangkah. Jauh, semakin jauh dari kota Makassar. Saya sedih, tentu saja. Saya kecewa, pasti. Lelah saya terkhianati. Maka saya menangis dan melampiaskan amarah saya. Lalu saya mengadu kepada Allah ta'ala. Kepada orang tua, kepada sahabat-sahabat dan kepada kepala kantor saya sendiri. Terlalu banyak kenapa dalam kepala saya.

But, life must go on. Saya berusaha mengambil hal positif. Mungkin, ada hikmah yang haŕus saya jemput sendiri ke Pinrang sana, sesuatu yang besar menanti saya, sesuatu yang akan mengejutkan saya luar biasa. Saya cukup merasa berharga dengan usaha Kepala kantor saya untuk mengajukan permohonan untuk revisi keputusan mutasi saya ke wilayah, atas marahnya beliau kepada orang-orang yang (barangkali) punya andil atas keputusan mutasi saya tanpa seizinnya.

Tidak ada yang salah dengan mutasi, pada beberapa kasus yang salah hanya "caranya". Seseorang merasa punya kuasa untuk mengatur jalan hidup orang lain, seolah dia lupa kalau ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Saya akan membuktikan kepada mereka, tanpa harus mendompleng nama orang tua saya bisa survive, bisa jadi orang dan seseorang. Tanpa harus menggeser saya bisa duduk. InsyaAllah. Orang kecil tidak selamanya kecil. Semua ada masanya, ada waktunya.

22/01/2016

(sok) sibuk awal tahun


Akhir tahun dan awal tahun adalah masa-masa paling hectic untuk mereka-mereka yang bekerja dibidang keuangan, baik itu diperusahaan swasta maupun pemerintahan. Akhir tahun merupakan periode penutupan sehingga segala transaksi yang tertinggal pada tahun berjalan harus segera diselesaikan, dan akan berlanjut di awal tahun sebagai dasar pembuatan laporan pertanggungjawaban kepada pihak lain berupa laporan keuangan dan laporan-laporan pendukungnya.

Dikantor saya sendiri, dari akhir tahun sampai hari ini masih sangat sibuk mengurus hal-hal yang terkait dengan penyelesaian pekerjaan tahun anggaran 2015 beserta pelaporannya di tahun 2016, apalagi ditambah dengan pendampingan dari tim pemeriksa internal dari kantor pusat (Inspektorat) dalam rangka persiapan menghadapi uji petik review BPK yang rencananya akan masuk awal tahun ini. Permintaan data dari kantor wilayah amat sangat banyak sebagai bahan sinkronisasi saat pendampingan nanti.

Maka welcome-lah, busy day.. welcome-lah, lembur..

Tapi, ada enaknya juga sih setidaknya tgl 25 s.d. tgl 31 januari ini saya dapat perdin ke kantor wilayah di Makassar dalam rangka pendampingan tersebut, alhamdulillah ya bisa pulang kerumah dan dalam waktu yang lama.

Maka nikmat Tuhan yang mana yang bisa saya dustakan?!

Beauty-tears, hoho.. :p

10/01/2016

Menghirup aroma hujan

31/12/2015

Menjadi hebat


Ada kalanya menjadi anggota dalam tim kerja yang isinya orang-orang payah akan membuatmu kepayahan. Pun akan ada saatnya ke-muak-an mendominasi perasaan yang pelan-pelan mengikis rasa ikhlas, rasa ingin bekerja dan mengabdi dengan kesungguhan. Tapi tidak ada pilihan lain, pola seperti ini adalah lingkaran iblis yang entah kenapa tidak bisa dihilangkan justru di-budidayakan turun temurun. Menjadi berbeda menciptakan keterasingan. Orang hebat tidak akan jadi apa-apa, bukan siapa-siapa jika tidak "mampu" mendengarkan. Menjadi sabar mungkin satu-satunya jalan untuk bertahan. Maka jadilah sabar, mungkin dengan begitu kamu akan kuat hal yang justru jauh lebih hebat dari sekedar hebat.

When you feel tired of everythings around you, just remember why you started..

25/10/2015

Konsultasi teknis SKMPP 2015


Well seminggu lalu mendadak dapat undangan konsultasi teknis dari kantor pusat untuk para operator SKMPP, alhamdulillah.. walau sebenarnya saya sedikit malas perdin ke Jakarta, setidaknya adalah kesempatan bertemu teman-teman prajabatan se-nusantara, pasalnya dikebanyakan kantah yang menjadi operator adalah teman-teman angkatan saya, anak-anak baru yang dianggapnya lebih paham dengan soalan IT.
 

I'm so excited! soalnya ini adalah perjumpaan pertama setelah kami lepas diklat setahun lalu, mungkin karena itu pula setibanya di Jakarta bersama beberapa orang rombongan kanwil, saya selalu mencari kesempatan untuk "misah" dan berkumpul dengan mereka-mereka, saat breakfast, saat coffe break, bahkan waktu-waktu makan siang dan malam pun selalu disempatkan janjian bertemu. 4 hari 3 malam. Rasanya seperti diklat kembali, bedanya: disini tidak ada pressured

Sampai jumpa teman-teman, semoga jodoh bertemu kembali.

02/02/2015

1 Tahun

Baru ngeh ternyata sudah satu tahun saya resmi menjadi pegawai organik disatu instansi pelayan masyarakat. Masih adalah sedikit rasa takjub, pun masih banyak orang-orang yang belum juga bisa menerima kenyataan bahwa saya lulus tanpa membayar sepeserpun. Tapi itu bukan urusan saya untuk membuat mereka yakin. Dalam setahun ini saya melewati masa-masa yang luar biasa harus disyukuri.


Dimulai dari adegan menunggu kepastian pemanggilan setelah resmi nama saya sudah terpampang dalam list orang-orang lulus dan menunggu panggilan selanjutnya. Pengumuman bulan Desember 2013, pemberkasan bulan Januari 2014. Selebihnya kami disuruh menunggu tanpa tanda, beberapa teman sudah resign dari kantornya dan menjadi pengaguran dari awal tahu mereka lulus. Saya sendiri tetap bekerja. Membuat kesepakatan dengan Pak Supervisor bahwa saya bisa keluar secara mendadak jika sewaktu-waktu panggilan saya datang. Saya menunggu dalam sibuk. Tapi hati saya campur aduk, tak-terdefinisikan.

Minggu kedua Mei 2014, panggilan untuk ikut pembekalan di Jakarta dan diklat di Bogor datang juga. Drama hidup saya dimulai dari sini. Saya akan hidup dikota orang selama 3 bulan lamanya, tanpa penghasilan. Tidak ada pesangon dari kantor lama, sementara saya punya kewajiban rutin yang mengharuskan saya tetap berpenghasilan. Saya sempat berfikir untuk mundur saja, Bapak saya murka dibuatnya. Mamak memilih jalan negoisasi secara halus, menyentuh hati saya jauhhhh kedalam hingga menimbulkan percikan listrik yang pada akhirnya menyalakan bohlam dalam otak saya. Selama ini saya punya banyak teman baik yang benarbenar baik. Saya belajar untuk bercerita, menyimpan sebentar saja wajah riang saya. Sedikit berharap dapat solusi. Dan Allah itu tidak akan mencoba hambanya lebih dari takarannya.

Dan saya mulai mengikuti pendidikan. Satu minggu pertama saya beserta teman-teman lain mengikuti pembekalan di Rindam Jaya. Saya sebenar-benarnya sudah tidak sanggup dihari ke-3, tapi hanya dengan mendengarkan suara Bapak dan Mamak dirumah saya kembali berfikir. Mungkin ini sama sekali tidak membahagiakan saya, tapi saya bisa apa kalau hal itu justru membuat mereka bahagia sekaligus bangga. Fikiran yang sama sekali tidak membuat saya jadi lebih kuat, tapi membuat saya bertahan. Satu minggu, dan selesai.

Mei 2014 Prajabatan di Bogor. Ketidak senangan saya membuat saya menutup diri. Saya belajar setiap hari, layaknya sarden. Badan ada ditempat entah kepalanya dimana. Alhasil, saya tidak begitu nyaman dengan anak-anak sekelas, paling hanya beberapa orang. Selebihnya, saya malas untuk memulai. Hanya suara dibalik teleponlah yang menguatkan saya, selalu.

Juli 2014 DDP, di Bogor. Ini adalah diklat teknis tentang pengetahuan dasar setelah prajab. Kelas prajab dibongkar, dan bertemulah saya dengan orang-orang baru. Wow, entah energi dari mana sehingga dikelas ini saya kembali menemukan diri saya. Menemukan passion dan tujuan. Saya lebih terbuka, lebih ekspresif. Hasilnya? Saya punya beberapa teman yang belakangan jadi sahabat. Saya punya geng, sekaligus menjadi ketua geng. Setelah DDP selesai, kelas dibubarkan sementara waktu. Kita boleh pulang untuk berlebaran dengan keluarga dikota asal masing-masing. Saya pulang. Ketemu Bapak ketemu Mamak, masih dengan wajah bangga dan bahagia yang tak terjelaskan.

Agustus 2014, diklat keuangan di Bogor. Kembali ke Bogor dengan rasa rindu yang mulai mengumpul. Jadi ingat awal pertama ke Jakarta: saya sudah tanamkan dikepala untuk tidak mencari teman fokus belajar dan pulang bawa SK dan Ijazah. Tapi Allah tidak pernah merancang hidup saya berlalu biasa, selalu luar biasa diantara orangorang yang tak kalah luar biasanya.

Inipun drama, ketika kami yang sudah dekat dan akrab harus berpisah. Terkadang hidup itu sekejam ini yah, kita diketemukan untuk dipisahkan. Kembali ke kampung halaman masing-masing, dan segala kebersamaan itu pada akhirnya akan menjadi kenangan. Kemungkinan bertemu tanpa direncanakan 10%, bahkan ketika direncanakan sekalipun hanya ada di angka 50%. Oh Allah. Sakit sih, perih perih gimana gitu di hati. Tapi ini hidup. Jika kita tidak beranjak meninggalkan bisa jadi kita yang akan jauh tertinggal. Tidak semua bentuk cinta ditakdirkan selalu bersama.

September 2014. Waktunya bekerja nyata, setelah lama berbulanbulan disekolahkan oleh negara. Mengabdi. Saya dan teman-teman ternyata tidak langsung dioper ke satker masing-masing, kami harus “parkir” dikantor wilayah selama sebulan penuh. Oke, itu artinya kembali menyesuaikan lingkungan baru, orangorang baru dan ritme kerja baru. Selama sebulan, saya mendapatkan banyak hal. Entahlah, saya tidak berfikir akan jadi apa mereka pada akhirnya dihidup saya. Saya hanya mengikuti aliran sosialisasi ini saja, banyak belajar, banyak bertanya. Dan sayalah orang yang akan sangat rese’ saat penasaran dengan satu hal. Nanya gak abis abis.

Oktober 2014. Waktunya masuk satker masing-masing, diantar sama Bapak dan Mamak ke Parepare. kembali lagi menyesuaikan diri, orangorang baru, lingkungan baru dan bahasa baru tentunya. Disini saya belajar cepat, saya tidak butuh waktu lama untuk merasa aman dan nyaman. Punya genggongan, untuk makan bareng dan ketawa bareng. Sampai sekarang. Sometimes, saat saya merasa stuck! saya rindu untuk pulang, kalau bisa mau stay di kota kelahiran saja. Menikah dan beranak pinak disana. Karena sebesar apapun masalah itu, kalau sudah lihat wajah “keluarga” bawaannya adem. Cooling down.

Alhamdulillah.

23/10/2014

2W, di Parepare


Duapuluh satu oktober duaribu empat belas, genap dua minggu sudah saya dinas di kota Parepare. Rasanya itu, masih selalu ingin pulang. Padahal selepas dinas dihari Jum'at, selama dua minggu berturut-turut saya pulang ke Makassar pulang ke rumah dan kembali lagi ke Parepare di hari minggu sorenya. Capek sih, ngongkos juga, tapi suasana rumah itu tak bisa digantikan dengan apapun juga. Sementara jiwa saya nyamannya dengan pola pergi-pulang-pergi seperti itu.

Dua minggu ini pun kegiatan saya belum begitu beragam, cenderung monoton dan membosankan. Kerjaan dikantor pun belum begitu banyak, belum punya tanggungjawab. Tapi saya berkomitmen, setidak-sibuk apapun, saya tidak akan datang kantor terlambat, saya tidak akan mencuri-curi waktu. Datang tepat pukul delapan pagi teng! dan pulang setelah pukul empat sore. Hihi.. entah saya merasa harus menuntut diri saya jauh lebih banyak ketimbang waktu bekerja di perusahaan swasta kemarin.

Selama di Parepare;

  1. Saya belajar dengan cara memaksakan diri untuk bisa tidur sendirian, hasilnya.. BERHASIL! saya mensugesti diri dengan kalimat "sleep alone or you DIE!" haha, tidak ada pilihan lain memang.
  2. Pola tidur saya teratur dengan sendirinya, pukul sepuluh malam saya sudah menguap tak karuan (((ngantuk))) dan akan selalu terbangun di pukul lima subuh. Selalu begitu, dan begitu selalu.
  3. Hobby baru saya adalah beres-beres kamar, haha.. everybody's change dude!
  4. Berat badan saya turun, dalam dua minggu kena 4 kilo kurangnya. So waoww...
  5. Selama hidup "sendiri" seperti ini, saya jauh merasa lebih dekat dengan Allah. Terimakasih untuk jarak dan kesempatan untuk berjarak dengan siapapun orang-orang yang selalu ada untuk saya. 
  6. Saya mulai peduli dengan setiap rupiah yang keluar dari kantong/dompet saya, kalau yang dulunya asal jajan asal beli barang lucu, dan sebagainya.. sekarang musti dipikirin berkali-kali, bahkan untuk barang yang saya butuhkan sekalipun, kalau sifatnya tidak urgent saya tidak akan beli. Belajar mengelola uang, membelanjakannya lebih bijak.
  7. Saya punya notes khusus yang berisikan catatan-catatan hal-hal yang saya suka. Yang menggembirakan saya, yang membuat saya selalu berucap syukur.
  8. Saya berfikir (((belum bertindak))) untuk membeli gitar kayu, terus belajar gitaran. Hehe.. entahlah, semakin kesini saya semakin excited untuk bisa main gitar, mupeng to the max! apalagi sekarang saya sendiri kan yah, jadi harus cari cara untuk menghibur diri dengan melakukan hal-hal yang disenangi. Mau belajar nanam juga, mau kristikan lagi, hmm... banyak maunya saya nih :p

Sementara seperti ini saja dulu, pastinya akan ada banyak cerita tentang saya di kota kecil ini, tentang teman-teman, sahabat dan orang-orang spesial yang mungkin akan saya temukan disini. "Semoga betah syaaaammm..."

*smile!
    Powered by Blogger.
    emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.