Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi Selatan. Show all posts
27/05/2017
21/05/2017
Pinrang, 14 Bulan
Tidak
terasa, saya menetap semi nomad di tempat ini selama 1 tahun 2 bulan 18 hari. Selama
itu pula, saya tidak henti-hentinya berdamai dengan diri saya sendiri bahwa ini
adalah konsekuensi dari pilihan saya untuk mengabdi pada Negara ini, jauh dari
rumah, jauh dari keluarga, jauh dari sahabat-sahabat, tapi justru semakin
mendekatkan diri saya pada diri saya sendiri. Merantaulah, maka kau akan tahu
seberapa besar kemampuanmu bertahan di dunya fana ini, shedaaap!
17/05/2017
[BIRA] New face of Appalarang Beach
Label:
PHOTOS,
Sulawesi Selatan,
Travelicious
+ SHARE
[BIRA] New face of Appalarang Beach
22/04/2017
Wisata Malino
Weekend kemarin saya dan teman-teman kantor memenuhi undangan piknik Bapak kepala kantor periode sebelumnya di daerah wisata Malino, sebenarnya ajakan piknik ini sudah lama disampaikan oleh beliau hanya saja berhubung tidak ada kecocokan waktu makanya barulah minggu kemarin (14-16 April 2017), akhirnya bisa terealisasi. Itupun tidak semua orang dikantor bisa ikut serta.
Malino merupakan objek wisata yang paling sering saya kunjungi sepanjang usia saya, dengan orang yang selalu berbeda-beda jadinya ya gregetnya pun selalu beda. Jarak tempuh dari Makassar ke Malino itu sekitar 45 menit sampai 1 jam, kondisi jalan belum begitu bagus karena setiap hari dilalui oleh truk-truk pengangkut pasir dan batu. Saya pribadi selalu memilih untuk (memaksakan) tidur setiap dalam perjalanan pulang ataupun pergi, karena sedikit ngeri melihat jalanan kecil berkelok dan ketemunya selalu dengan truk-truk besar tadi.
Well, Jum’at 14 April 2017 rombongan kami berangkat dari Pinrang itu artinya akan memakan waktu yang jauh lebih lama. Pinrang ke Makassar menghabiskan waktu tempuh 4-5 jam, itu tergantung kondisi jalanan juga sih. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Malino, kami singgah dulu untuk menginap dirumah pak Rusman untuk beristirahat dan perjalanan akan dilanjutkan pada keesokan harinya.
Sabtu, 15 April 2017. Setelah
mengunjungi kebun milik tuan rumah, kami dapat tugas untuk menyiapkan
perbekalan sebelum dan selama ada di Malino nanti. Konsepnya tidak pyur travel
sih, makanya saya menyebutnya piknik. Selain karena kita tinggalnya nanti
dirumah pak dusun Desa Malino, kita juga tetap memasak dan menyediakan apa-apa
seperti dirumah sendiri. Oia, yang paling saya sukai ketika berkunjung ke rumah
Bpk Rusman ini adalah kami selalu dijamu dengan ikan-ikan besar dan segar, yah
beliau punya empang yang besar dan cukup menghasilkan ikan-ikan dengan kualitas
daging yang legit dan Alhamdulillah sekali bisa menyantap secara gratis,
tinggal kunyah lagi.. maklum, saya tidak punya keahlian didapur makanya disaat
teman-teman saya memasak, saya memilih beres-beres rumah dan kamar saja.

Sekitar pukul dua siang kami
meninggalkan rumah pak rusman menuju malino, seperti yang saya bilang tadi saya
selalu memilih tidur ketika dalam perjalanan dan sesaat saya bangun kami sudah
ada didaerah Tinggi Moncong, tepatnya disekitaran lapangan tembak. Rumah yang
kami tempati itu tergolong luas, dengan 9 kamar dimana 5 kamar sudah lengkap
dengan kamar mandi dalam, ruang tamu, ruang TV dan full akses ke area dapur,
disewakan hanya 2juta permalam. Mungkin karena yang punya penginapan dan pak
kakan punya hubungan yang baik, kami dapat harga sewa yang cukup murah.
Oia, setibanya di Malino cuaca tidak cukup bersahabat, hujan mengguyur dan kami
harus menyiapkan makan malam. Ho..ho..!
Minggu, 16 April 2017. Sebelum
mandi dan bersiap untuk berkeliling, saya dan 2 gadis sekamar memutuskan
jalan-jalan kedepan. Rugi kalau tidak liat matahari terbit didaerah orang, hehe. Ya, suasana
Malino itu amat sangat menyegarkan fikiran. Sepi, tapi tidak sunyi. Matahari
yang kelihatannya menyegat, tapi hangat menyentuh kulit. Saya suka, tetiba
hal-hal berat dan membosankan yang menguras banyak energy baik beberapa waktu
belakangan ini tidak lagi menumpuk di kepala. Memang benar slogan-slogan yang
mengatakan “ayo PIKNIK biar WARAS”.


Setelah sarapan pagi, dan ngobrol-ngobrol soalan kantor masing-masing kami bersiap menuju derah-daerah primadona di wilayah Malino ini. Absolutely, Hutan Pinus. Deretan pohon tinggi menjulang itu memanggil-manggil untuk diabadikan. Apa yang menarik dari hutan pinus? Selain sangat-sangat instagram-able, hmm.. entah lah, mungkin karena mereka banyak, berkoloni tanpa ego, dan hanya ada ditempat yang sejuk barangkali, jadi kesan hijau dan sejuknya itu dapat. Selain Pinus, kami juga diajak berjalan lebih jauh ke dataran yang lebih tinggi melihat pemandangan dari atas sembari menikmati mie instan dan tawa yang tiada putus-putusnya. For sure, i’m happy enough!

Bahagia itu tidak sederhana.
Kitanya yang harus sederhana, harus!
***

Malino, 14-16 April 2017
Dihost oleh Bpk Drs. Rusman B. M.M., terimakasih amat sangat.
23/12/2016
Toraja | 1st Rafting at Maiting river
Sejak bulan juni/juli lalu, teman saya @ervantangke sudah sibuk meng-arrange rencana outing kami (Prajabpn2014-Sulsel) untuk kesekian kalinya. Kali ini tujuannya lebih jauh, lebih lama dan lebih ekstrim dari biasanya, Rafting a.k.a Arung jeram di sungai Maiting Kabupaten Toraja utara - Sulawesi selatan. Untuk perjalanan menuju Kabupaten toraja saja, menghabiskan waktu hampir setengah hari atau kurang lebih 11-12 jam perjalanan sampai di Kota Rantepao (Ibu kota kabupaten Toraja), lalu dari situ -pada keesokan harinya/11des2016- kami menuju strating point kegiatan Rafting di Kecamatan Dende Piongan dengan jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil penumpang melawati jalur yang kebanyakan menanjak.
Ditengah perjalanan, kami terpaksa berganti mobil penumpang menjadi mobil bak terbuka dikarenakan urusan teknis. Mungkin kalau kejadiannya di kota, ini akan sangat menjengkelkan tapi karena ini dalam rangka berwisata-alam saya pribadi amat sangat menikmatinya. KAPAN LAGI!!! Kami yang tadinya ada dalam 2 mobil terpisah, disatukan bersama logistik Rafting plus beberapa orang guide dari Toraja One Stop Adventure (TOSA), bertumpukan seperti sayur mayur. HAHA. Tapi ke-seruan petualangan kami justeru dimulai dari sini.
Disempanjang perjalanan kami bertanya-tanya, dimanakah
kiranya sungai itu berada? tidak ada tanda-tanda atau suara-suara aliran
air deras, kecuali hamparan sawah dan bukit-bukit tinggi. Hingga
akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti, logistik dibongkar dan waktunya memasang perlengkapan safety yang akan kami gunakan untuk ber-arung jeram. Pelampung-Helm-Dayung. Setelah semuanya siap, kami diajak menyusuri jalur trekking sepanjang 2 km yang cukup melelahkan tapi menyenangkan hingga akhirnya kami benar-benar melihat sungai yang diselimuti tebing dan vegetasi hutan. Masya Allah, indahnya.
Bagi pemula seperti saya, pasti ada rasa takut yang tiba-tiba mendominasi fikiran. Tentang apa-apa dan akan kenapa-kenapa. Kaki saya gemetar sesaat akan menaiki perahu, yang saya pastikan pertama adalah saya ada dalam satu perahu dengan teman yang saya percaya akan menolong saya pada situasi-situasi sulit seperti yang sudah-sudah. Selebihnya teman-teman dari TOSA akan mengecek ketepatan penggunaan pelampung dan helm, membagi rombongan yang berjumlah 12 orang kedalam 3 perahu karet ditambah 2 orang pemandu dimasing-masing perahu, yang kemudian memberikan instruksi terkait hal-hal yang akan kami hadapi selama mengarungi Sungai Maiting dan bagaimana untuk melaluinya, mendengarkan dan mematuhi aba-aba yang diberikan oleh pemandu. Saya suka bagaimana mereka menjelaskan dan memberikan rasa aman/nyaman. Full of positive suggestion.. sepertinya mereka benar-benar sudah di berikan training yang cukup untuk bagaimana membuat petualang-petualang pemula tidak merasa takut. From regret being gregett.
Kami mengarungi sungai kurang lebih 4 jam lamanya, mengikuti arus sungai yang kadang tenang kadang deras menuju titik pemberhentian di Desa Tamparan - Kecamatan Rantetayo. Beberapa kali perahu tertubruk tebing yang justru kami sambut dengan tawa-super excited, atau sensasi perahu akan terbalik saat melewati area dengan arus deras dan jeram yang cukup dalam. Beberapa kali menepi untuk saling menunggu, atau sekedar untuk mengambil foto dan menyantap makan siang bersama yang sudah disiapkan oleh pengelola. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar indah, rasanya ingin banyak mengambil gambar landscape, tapi apa daya tak ada kamera anti air yang saya bawa, dan lagi kadang-kadang bahagia itu cukup untuk dirasakan, bukan untuk diperlihatkan. Over all, saya bahagia, saya puas dan saya benar-benar segerrr lahir batin, hehe.. hanya saja ke-esokan harinya dan beberapa hari setelahnya badan terasa remuk redam seperti berat badan saya bertambah ber-kilo-kilo.
Kami mengarungi sungai kurang lebih 4 jam lamanya, mengikuti arus sungai yang kadang tenang kadang deras menuju titik pemberhentian di Desa Tamparan - Kecamatan Rantetayo. Beberapa kali perahu tertubruk tebing yang justru kami sambut dengan tawa-super excited, atau sensasi perahu akan terbalik saat melewati area dengan arus deras dan jeram yang cukup dalam. Beberapa kali menepi untuk saling menunggu, atau sekedar untuk mengambil foto dan menyantap makan siang bersama yang sudah disiapkan oleh pengelola. Pemandangan yang disuguhkan benar-benar indah, rasanya ingin banyak mengambil gambar landscape, tapi apa daya tak ada kamera anti air yang saya bawa, dan lagi kadang-kadang bahagia itu cukup untuk dirasakan, bukan untuk diperlihatkan. Over all, saya bahagia, saya puas dan saya benar-benar segerrr lahir batin, hehe.. hanya saja ke-esokan harinya dan beberapa hari setelahnya badan terasa remuk redam seperti berat badan saya bertambah ber-kilo-kilo.
***
[About guide]
Well seperti yang telah banyak saya sebutkan dalam cerita diatas, kami dipandu oleh teman-teman dari Toraja One Stop Adventure (TOSA). High recomended for you-lah, to enjoying Toraja with different taste. Karena toraja ternyata tidak melulu soal wisata budaya dan adat istiadat, soal kuburan, soal lautan awannya. Saya pribadi baru tahu dan YES! it's AMAZE ME! Untuk kegiatan Rafting kemarin kami membayar sebesar IDR 550K/Org, harga sudah termasuk peralatan dan perlengkapan untuk rafting, makan siang, snack, softdrink, dan pelayanan yang super ramah. Worth-lah.
For future just Call/Whatsapp Miss Aurora (+62812-2128-0714) atau kunjungi situs mereka di http://www.torajaonestopadventure.com/
Welcome adventure!!!
With Love,
SYAM.
30/10/2016
Bulukumba #3 | Super Flashtrip
Tepat seminggu lalu (23/10) saya ada
dalam perjalanan pulang selepas trip singkat ke daerah wisata Tanjung Bira,
Bulukumba – Sulawesi selatan. Trip ini adalah trip paling melelahkan, paling
dipaksakan dan paling drama, tapi entah kenapa efek bahagianya jauh lebih
berkualitas.
Awalnya saya dapat ajakan main dari
seorang teman di Balikpapan sana, ke Bandung atau kalau bukan ke Jogja, pun
saya sudah sangat ingin main juga sudah lama tidak kemana-mana. Tapi karena
saya punya agenda lain di hari sabtunya yang sifatnya amat sangat penting maka
saya tidak bisa meninggalkan kota Makassar sampai tanggal 22 Oktober siang, dan
lalu saya ajaklah dia main ke tempat saya saja. Dengan mengiming-imingi main ke
Pantai Bira. Yes. Sebelumnya saya sudah menghubungi seorang teman yang
kira-kira bisa Sopirin kita ke Lokasi, dan Alhamdulillah
bersambut. Doi main IYA saja, yang jelas bensin ditanggung sama yang punya
planning. Haha.
Semuanya berjalan sesuai rencana
sampai H-1, Nay sudah mendarat di Makassar satu hari setelah diskusi kami soal
mau main kemana, saya juga mengajak Nure biar rame, dan ternyata dia mengajak
dua orang temannya lagi. Almost perfect!
Sampai tiba-tiba Tuan Sopir menelepon dan tiba-tiba cancel, damn! Saya biasanya
emosi kalau seperti ini, tapi sudahlah.. ya kalau orangnya tidak bisa musti
gimana lagi? Jalan satu-satunya adalah, lupakan dan cari jalan keluar lainnya. Pokoknya
mendadak semua jadi berantakan, tidak ada yang mengantar, berarti penginapan di
lokasi pun harus di-cancel sesuai dengan jumlah rombongan saja. Dan diperparah
dengan hujan yang tidak pernah berhenti. Mak, bagaimana ini? Saya tidak ingin
mengecewakan teman saya yang sudah jauh-jauh datang dari luar kota. Hiks.
Singkat cerita, saya memutuskan
untuk ke Bulukumba dengan menumpangi kendaraan umum lalu di Bulukumba akan
dijemput oleh sopir dari kantor lama saya untuk menemani kami sepanjang
berwisata ke Pantai Bira. Untuk penginapan terpaksa saya menghubungi Kak Deddy,
cowok teman saya yang memang seorang guide di Bira. Penginapan yang
dulu-dulunya selalu saya tempati setiap kali berkunjung. Fix-nya mungkin
seperti itu, tapi sepanjang perjalanan menuju terminal saya masih saja berdoa
semoga menemukan alasan untuk tiba-tiba cancel, lucu sih, tapi saya juga tidak
bilang ke Nay kalau kita cancel saja berhubung hujannya kok ndak nyantee
begini. Saya sibuk dengan fikiran sendiri. Padahal dari awal Nay sudah
mewanti-wanti, “JANGAN REPOTIN DIRIMU”.
Mobil yang kami tumpangi berangkat
meninggalkan Makassar sekitar pukul 4 sore, selepas Ashar. Hujan deras, lapar, macet,
kecelakaan, sopir yang singgah-singgah semaunya, membuat liburan yang
dibayangan saya akan sempurna mendadak suram. Tapi kami tetap mendiamkannya
dalam pikiran masing-masing, kami hanya bercerita tentang banyak hal yang
menyenangkan saja. Kami tiba di Bulukumba pukul 9 lebih, terlambat 1 jam dari
waktu yang ditentukan. Tak lama, kami diantarlah oleh tuan sopir ke Bira dan
kami baru bisa benar leyeh-leyeh di penginapan pada pukul 10 malam. Lelahnya itu
dimana-mana. Sampai pagi hujan masih turun dengan derasnya, alamat wisata
pantai gagal inih. Tapi alhamdulillahnya, pukul 7 pagi hujannya berhenti.. dan
dimulailah perjalanan kami yang amat sangat menyenangkan di endingnya. Saya suka
kebersamaan dengan orang-orang asing ini, saya suka terik matahari yang sangat
mengerti maunya kami, saya suka dengan setiap candaan dan tawa yang keluar
dengan spontanitas. Trip ini saya nobatkan menjadi trip yang paling
berkualitas, bagaimana tidak kami hanya menikmati exploring Bira dari pukul 7
pagi sampai pukul 1 siang. Lebih lama waktu dijalannya. Tapi bahagia-lah. Lelah karena piknik itu jauh lebih enak dari pada lelah karena kerjaan/masalah.
KE PANTAI BARA

Kalau niatnya sudah tulus ingin membahagiakan orang lain, pasti mudah saja urusannya, dan pastinya akan kecipratan bahagianya juga.
“Alhamdulillah”
With love,
SYAM.
25/07/2016
Flashtrip ke Kodingareng keke
Sekedar memanfaatkan waktu-waktu
terjepit ditengah-tengah kesibukan mutasi kepala kantor lintas kabupaten.
Bersama teman-teman angkatan Prajab Sulawesi selatan
Everyone need vacation,
dudee..
02/04/2015
Bulukumba #2 | Appalarang beach
Hari kedua,
Karena ini adalah flash trip maka dari itu kami memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, masih pagi kami sudah siap-siap menuju Appalarang, tempat yang sebenarnya menjadi tujuan utama kami. Appalarang ini merupakan daerah wisata baru, yang lagi booming-boomingnya dikalangan anak muda pecinta travelling, terletak tidak jauh dari tanjung bira.
Setelah dari Appalarang kami langsung menuju pulang, cuaca sedikit tidak bersahabat sebenarnya karena sejak dari Appalarang sampai saya diantarkan ke rumah hujan tidak berhenti mengguyur, tahnks for the awesome holiday fellas.. see you again in our next escaping :)
01/04/2015
Bulukumba #2 | welcomeback to Bara beach..
Ceritanya saya (di)ikut(kan) open trip ke Bulukumba yang di arrange oleh junior kampus dulu, dan ternyata setelah semua peserta kumpul rasanya seperti reunian anak akuntansi, it’s kind a nice holiday with a nice people :)


Hari pertama
Jam sepuluh jemputan saya sudah datang, dan melajulah kami menuju Kabupaten Bulukumba yang waktu tempuhnya kurang lebih 3 jam perjalanan.
Jam sepuluh jemputan saya sudah datang, dan melajulah kami menuju Kabupaten Bulukumba yang waktu tempuhnya kurang lebih 3 jam perjalanan.


luv it! bersambung ke hari ke dua..
Label:
Sulawesi Selatan,
Travelicious
+ SHARE
Bulukumba #2 | welcomeback to Bara beach..
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.





































