Showing posts with label Hangout. Show all posts
Showing posts with label Hangout. Show all posts

30/06/2017

Birthdate 31-Yo!



Esok kan masih ada, lagu lawas milik Uta Likumahua sedang live dinyanyikan oleh penyanyi dari atas panggung, bersamaan dengan cerita yang tidak ada putus-putusnya yang saya dan sahabat saya Ratih bagikan dalam Birthdate dinner kami malam ini di Cafe Chopper Jl. Kasuari, Makassar. Entah kenapa lagu-lagu yang dinyanyikan oleh dua penyanyi secara bergantian sepanjang sesi curhat, merupakan list lagu-lagu lawas favorit saya. That's why, saya begitu menikmati malam ini sembari menikmati green tea jasmine dan ice cream double scoope.

Birthdate adalah perayaan tahunan ala kami yang diselenggarakan pada tanggal 29 juni, untuk mengingat tanggal kelahiran saya ditanggal 27 Juni dan Ratih ditanggal 28 Juni. Cerita ini bermula dari Jogja, ditahun 2012. Waktu itu kami sedang mengambil cuti dikantor masing-masing, dan lalu berinisiatif mengelilingi Jogja-Malang-Surabaya dalam waktu seminggu, tepat pada hari-hari dimana tanggal kelahiran kami berulang. Dan lalu, kami menyebutnya Birthdaytrip. Lalu tahun berikutnya berlanjut di Bogor, tahun berikutnya hanya di Makassar, berikutnya lagi tetap di Makassar dan sampai malam ini kami masih di Makassar. Dengan satu pandangan yang sama, bahwa bahagia itu tidak musti dihampiri dengan hal-hal yang terdengar dan terlihat WAH! Dan lagi, diusia yang dimana seharusnya kami memiliki pemikiran matang ini, kami mulai berfikir tentang manajemen keuangan level financial plannerHoho. Hura-hura itu bukan kebutuhan pokok, penting mungkin untuk kesehatan jiwa tapi sifatya tidak mendesak. Jadi bisa di-skip. I'll tell you later bout this-lah ya.

 

If you need someone to believe, make it sure that is Me [Home Alone-2]

Inilah cara kami mengapresiasi hidup yang telah diberikan Allah. Untuk semua hal-hal baik yang telah terjadi dan akan terjadi. Tanpa cake tanpa tiup lilin, bahkan tanpa ucapan selamat ulang tahun satu sama lain. Everythings naturally. Bertemu, bertukar kado, bertukar doa: berharap semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan keberkahan yang tidak putus-putusnya, dan semoga Allah menjadikan kami manusia penghantar bahagia untuk orang-orang yang kami sayangi. Aamiin.



Happy belated birthday my bestie, and me 💛

25/09/2016

Generasi tak sabaran



Sadar gak sih, kadang-kadang kita dijebak oleh sosial media untuk menjadi manusia-manusia yang tidak sabaran. Kita menuntut dan dituntut untuk mengeluarkan banyak ide, komentar dan obrolan-obrolan yang pada akhirnya akan menjadi sampah. Kata tanpa 'pesan', asal ada respon dan cepat saja. Bukan nyinyir gaes, ini kenyataan.

Contohnya pada dua aplikasi yang rutin saya gunakan BBM dan WA. Aplikasi BBM dengan fitur D berwarna biru dan R berwarna hijau yang masing-masing artinya diterima dan dibaca. Kalau pesan kita lama dengan status D pasti ada rasa kesal walau sedikit, dan akan menjadi bencana ketika berhenti pada status R. “What? Pesan guweh cuman di Read doang?” Dan muncullah ribuan pertanyaan kenapa dan kenapa atas tragedi 'diread doang' itu.

Di WA pun lebih complicated lagi. Selain fitur pesan sampai dan dibaca oleh penerima, ada juga fitur last seen yang bisa membuat kita melihat kapan si pengguna terakhir kali membuka aplikasi WA. Dan nyatanya fitur ini bisa membuat perang dunia berkobar. Kalau di BBM ya paling tidak kita bisa mengelak yah,”sorry balasnya lama hape sayah tibatiba ngehang/lowbat/atau kelupaan”, dan lagi jika kita tidak meng-update status tidak akan kelihatan kalau ternyata kita memang mengabaikan pesan yang masuk. Sementara pesan via WA mah bahaya, pergerakan terdeteksi secara ketat. Ketahuan bangetlah kalau kita mengabaikan pesan orang. Dan karena diabaikan itu nyakitin, jadinya hanya gegara pesan tidak di ladeni dengan fast respon, tanpa sengaja kadang-kadang bisa melukai perasaan seseorang. Terdengar lebai sih ya.

Padahal mungkin si Penerima tidak maksud mengabaikan. Mungkin mereka sedang repot, mungkin ada yang lebih penting untuk diperhatikan, atau mungkin memang butuh waktu lama untuk memikirkan balasan yang tepat atas setiap pesan yang masuk. Dan masih banyak lagi kemungkinan yang bisa kita pertimbangkan. Positifnya sih begitu.

Kalau saya cari amannya saja. Dengan me non-aktifkan semua fitur dewa di WA. Jadi saya memastikan orang tidak bisa melihat kapan saya terakhir membuka apkikasi WA, dan apakah saya telah membaca pesan mereka atau belum. Konsekuensinya, saya pun tidak bisa melihat last-seen mereka, pun saya tidak lagi bisa melihat apakah mereka sudah membaca pesan saya. Dan mulai berharap, seandainya bisa status online dan sedang mengetik juga di-hidden. Dengan begitu, dunia jauh lebih damai dan sentosa. Untuk di BBM sendiri, saya juga mulai jarang pakai sih selain memang aplikasinya yang suka pending-pending pesan orang seenaknya saja.

Akhir kata, mari kita coba kembalikan social media kepada fungsinya. Just a messengger application. Sebagaimana namanya, fungsi messengger adalah sebagai penyampai pesan. Jadi, jangan berharap lebih yang terpentingkan pesannya sampai. Kalau memang urusan kita butuh respon cepat, gunakan fitur memanggil. Just call them, karena bicara jauh lebih baik. 


Salam super dari sayah,
SYAM.

08/11/2013

Menikmati Sarabba & gorengan di topi susan

Saya punya rekomendasi tempat nongkrong paling murah sedunia di Makassar, biasanya saya mengunjungi tempat itu bersama Arie dan Fuad dimalam minggu. Selain kami bertiga ada beberapa teman lainnya yang juga kami panggil, baru-baru ini kami mengajak Odhani dari Balikpapan untuk temu kangen disana.


Tempat nongkrong yang saya maksudkan disini adalah penjual gorengan dan sarabba disepanjang jalan Sungai cerekang, patokannya lorong pertama sebelah kanan setelah Smansa (SMA Neg 1) Makassar yang ada di jalan Gn. Bawakaraeng atau lorong pas depan RS Akademis di jalan Bulusaraung, tempat ini tak bernama, tidak juga menjadi incaran para traveller, tidak begitu terkenal sih, tapi tidak juga pernah sepi pengunjung. Kalau lagi ingin nongkrong disana saya paling kirim sms "topi susan deh!".

Asal mula nama topi susan itu muncul karena keisengan kami, jadi waktu itu kami memilih tempat yang ada didepan pos jaga, tempat tersebut punya pelayan pria, wajah datar, berambut gimbal panjang melewati pundak dan selalu saja menggunakan topi berwarna putih. Kami berandai-andai, jangan-jangan kalau topi itu diangkat ternyata rambut yang menempel dibalik topi itu juga ikut terangkat, haha.. ingat jaman masih SD dulu, saat Susan dan kak Ria enes lagi jaya-jayanya, ditoko-toko banyak dijual topi yang nyambung dengan rambut palsu panjang persis seperti rambutnya susan, ada yang modelnya lurus ada yang dikepang dua. Terilhami dari situ, makanya kami menyebutnya topi susan, hehe.. asli jahil. Tapi gara-gara topi susan itulah kami selalu datang lagi ketempat yang sama.

Menu yang disajikan ditopi susan tidak begitu beragam, hanya Sarabba dan gorengan. Apa itu sarabba? Sarabba adalah minuman khas kota Makassar, berbahan dasar jahe, gula aren dan santan. Disajikan dalam kondisi panas, Rasanya enak, manis dan menyegarkan tenggorokan. Satu gelas Sarabba' polos ukuran sedang dihargai Rp.5.000,- kalau pakai tambahan telur ayam kampung harganya Rp.10.000,-. Rasanya bolehlah, nendang, maknyussss, leher saya yang lumayan pilih-pilih berasa cocok-cocok saja, saya suka.. kalau gorengannya sendiri cuman menyajikan dua varian; ubi goreng dan pisang goreng dengan sambel. Rasanya biasa saja, tidak ada racikan khusus, orang pisang sama ubinya cuman dikupas, dipotong-potong dan digoreng seadanya. Harga persajiannya itu Rp.5.000,- untuk sepiring ubi goreng dan Rp.5.000,- untuk sepiring pisang goreng. Tidak dijual perbiji, sudah dipatok untuk dimakan massal. Haha..

Topi susan mulai buka jam 7 malam hingga menjelang dinihari. Daya tarik dari topi susan ini adalah suasana pinggir jalan dan harganya. Kalau di tempat-tempat nongkrong sekelas Starbucks (dll...) satu gelas minuman panas/dingin saja dihargai Rp.30.000,- keatas. Belum lagi suasananya yang terlalu dingin, yah cuman badan saja yang terlihat kumpul sama-sama tapi konsentrasi ada di gadget masing-masing. Sepenglihatan saya selalu saja begitu. Kalau ditopi susan suasananya lebih hangat, berbaur, bercerita, ketawa-ketawa, dan harganya dijamin murah, mungkin karena lokasinya juga yang dipinggir jalan jadi suasana malam itu benar-benar terasa, seumur-umur nongkrong disitu belum pernah saya keluarkan duit, alias gratisan.. hehe. Ada saja yang mau jadi bandar, yang terakhir nongkrong berempat bareng Odhani cuman menghabiskan Rp.35.000,-. Itupun kami masih berbagi sepiring ubi goreng ke pasangan suami-isteri usia menjelang kakek-nenek yang ikut duduk dimeja kami, katanya mereka singgah sebentar sepulang dari resepsi pernikahan.

Satu hal lagi, kemarin itu saya sempat melihat ada live music yang nampil disana, posisinya paling depan kalau dari jalan Gn. bawakaraeng, agak sedikit jauh dari topi susan yang terletak ditengah, kalau dilihat-lihat bisa jadi itu anak-anak smansa yang coba unjuk kebolehan tampil akustikan didepan para penikmat sarabba dan gorengan, modalnya cuman gitar, mic, speaker dan alat yang entah apa namanya tapi saya sebut "kucrekkucrek", hehe... maklum #awam (:p). Mereka bukan pengamen loh, apa disawer atau tidak, entahlah. Kapan-kapan saya akan coba nongkrong ditempat itu. Lumayan, nongkrong murah terus ada yang nyanyiin.. semoga gratis. Amin.

:)))

11/10/2013

Nongkrong bareng Odhani

Tiga hari yang lalu, saya dan Odhan menghabiskan malam bersama di salah satu cafe anak muda di Kota Balikpapan. Ditemani penganan manis, minuman hangat dan hujan yang turun hebat, kami duduk manis sambil membicarakan banyak hal. Salah satunya tentang pekerjaan. Dunia kerja.

Hampir tiga tahun lamanya saya kehilangan sahabat saya Odhani secara fisik, beruntunglah teknologi sudah sedemikian canggih, LDR tak lagi jadi masalah. Selepas kuliah dia bekerja di perusahaan milik kakaknya di Jakarta, setelah itu dia sempat bekerja sebagai Auditor salah satu KAP di Jakarta, dan pada tahun 2011 dia memutuskan untuk menerima pinangan om dan tantenya untuk menempati posisi strategis diperusahaan milik om dan tantenya itu di Balikpapan. Diusianya yang tergolong masih muda dia dipercayakan memimpin banyak orang, menangani masalah accounting perusahaan. Terdengar keren memang tapi yang namanya tanggung jawab tidak semudah mengucapkan kata keren; penuh perjuangan doa dan air mata untuk bisa istiqamah, amanah dan mempesonah.

Malam itu pun, untuk kesekian kalinya dia meminta saya untuk bergabung diperusahaan itu. Dan untuk kesekian kalinya pula saya menolak dengan alasan yang sama, saya bukan orang yang pintar dibidang saya. Akuntansi dan saya ibarat kata air dan minyak, susah menyatu. Tapi dia berkeras, dia tidak butuh orang pintar tapi butuh orang yang bisa bekerja dalam tim dan *ehem..* bisa diandalkan. Saya sempat terfikir untuk ikut merantau, tapi tanggung jawab saya jauh lebih besar ditempat yang sekarang yah walau belum sepenuhnya jatuh hati saya tetap memilih untuk tetap setia #uhhuk

Dia begitu membutuhkan siapa saja temannya yang bisa diajak bicara dan diandalkan untuk ditariknya sebagai partner kerja disana. Saling berbagi energi positif, memandang hidup lebih sederhana dan menyenangkan. Seperti itulah kurang lebih yang bisa saya tangkap. Saat ini dia terperangkap dalam pikiran yang rumit tentang setiap keputusan yang dia ambil, tentang bagaimana dia memilih untuk bersikap dalam lingkungannya saat ini, membentuk image, membangun "benteng pertahanan", menciptakan kenyamanannya sendiri, menjadi wanita mandiri dikampung orang lain. Hidup membuatnya terlihat jauh lebih dewasa sekarang, salute..

Saya jadi ingat, waktu kuliah dulu kami sering sekali bertengkar. Mulai dari level rendah, ngambek-ngambekkan sok cuek tak perduli, sampai level tinggi, saling mendiamkan dan merasa tidak butuh satu sama lain padahal sama-sama possesive. Tapi saya rasa jodoh kami cukup kuat, pada akhirnya selalu saling meluluhkan hati juga. Hahaha, kocak! masalalu selalu menyenangkan untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang kembali.


Untuk sahabat saya Odhan, pesan saya cukup sederhana jadilah pemimpin bukan pimpinan. Kuncinya ya yang satu itu, kosmik... saya pun belajar hal yang sama, banyak yang telah saya hancurkan akibat tidak pandai berkomunikasi.

Apa yang kita jalani hari ini disatu sisi adalah sebuah proses, disisi lain adalah sebuah jawaban dari apa yang telah kita upayakan/abaikan dimasa lalu. Jadi seperti yang nabilang bapak es-ye-el, dont stop komandanG! Jalan saja, pasti ketemuji itu jalan keluarnya.. akan selalu ada akhir dari setiap fase sebelum memasuki fase selanjutnya.

Setelah ke Bromo, kemana lagi bagus di? #kodekeras


;)


07/08/2011

Saturday Random


Satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup seorang karyawan swasta seperti saya adalah hari Sabtu dimana bekerja itu lebih bebas dan hanya setengah hari. Hari sabtu rasanya waktu itu menjadi lebih panjang dari biasanya, sebelum ke kantor deretan rencana telah tersusun rapi dikepalaku, harus kemana dan bagaimana. Tinggal menghubungi beberapa nomor di kontak telepon maka sempurna-lah hari panjang ini. Selalu begitu dan akan selalu begitu, mumpung masih jomblo jaya !!!


Sabtu kali ini saya tidak ada rencana vacation kemana-mana, karena puasa juga sih jadi apa-apa harus dibatasi dulu. Rencananya hanya akan ngabuburit bareng Alfia dan Yani disuatu tempat yang belum kami sepakati, sudah kangen dimanapun ndak jadi masalah yang penting kita ketemu.

Jam 12 teng, jam kerja berakhir. Rencananya saya mau pulang dulu, mau istirahat sambil menunggu waktu ketemuan sm ibu ibu arisan tadi (halahhh). Tapi karena ada teman kantor yang mau ditemani beli aksesoris gadget barunya dia plus survey ke tempat calon customernya. Jadilah saya menemaninya, hari saya banyak dijalan sentral-butung yang ramenya bikin uji emosi. Sabar… sabarrr…

Jam 4 lewat sedikit, muka mulai minyakan badan juga mulai bau asem tapi saya tetap pede mendamparkan diri di Mall. Seperti biasa meeting point di Gramedia Mall Ratu Indah, belum tau juga mau buka puasa dimana. Yang penting ketemuan dulu, lepas kangen dulu. Pas sudah kumpul eng ing eng… kita jadinya ada 4 orang, Alfia; Dina; Yani; saya dan yang puasa cuman 1 orang, 3 lainnya cuman tim hore di acara ngabuburit kali ini. haddeeeehhh -_-"

Jam 6 kita baru keluar dari gramedia, dasar semua oon jadinya lupa waktu. Kita keluar, semua tempat makan sudah full ndak ada yang kosong lagi. Kita ke samudra foodcourt padatnya bikin nafsu makan hilang, apa daya kita cuman pesan es buah dan makan sambil nyender berdiri di depan eskalator. Nasib nasib… Sambil menunggu Alfia shalat magrib, kita masuk ke texas lumayan di pojokan ada kursi kosong walau awalnya musti duduk satu kursi berdua sama Yani. Dina pesan 1 Friench rice, ini juga lumayanlah buat ganjel perut yang tak begitu kelaparan. Sambil mendiskusikan akan kemanakah kita berlayar malam ini, dan tereeeng… kesimpulannya malam ini kita makan malamnya di Bakso mappanyukki. Udeeee deeehh, selalu begituh selalu menu itu kalau Nyonya Alfia ada.

Dari Mall ratu indah ke Mappanyukki dekatlah, yang lama cuman ngantri di parkirannya. Sampe di lokasi, pesan ini pesan itu, foto-foto, ketawa ketiwi, bosan dan kenyang sudah. Next, kita memutuskan berkeliling menuju pantai Akkarena. Karena kita mayoritas tidak berpuasa, makanya malam ini hampirlah sama dengan malam malam biasa, bedanya kalau malam biasa jalanan so crowded malam ini tidak. Leluasa deh kita mau menggalau gila di jalan raya, yang lain pasti sedang ibadah Taraweh. Hehehe, maap ya Tuhan kami sedang sibuk ***mengutip judul buku yang tadi saya lihat di Gramedia.

Pas di jalan Metro Tanjung Bunga, mobil bukannya berbelok ke arah Akkarena malah melaju terus lurus memburu angin sampai pada tempat yang mulai gelap dan jarang di lalui oleh kendaraan, makin kesana makin ngeri; mobil belok arah dan kita kembali ke peradaban *halaaah*. Belum juga sampai depan belokan masuk ke arah Akkarena kembali, rencana baru tercipta. Kita nongkrong di SAGA (Sate Gaul) sebentar terus lanjut ke Double Dips café, hmmm… okey. Jalan! Dalam perjalanan keluar dari jalan panjang Metro, kami sembari bernyanyi kemudian adalah lagi yang nyeletuk "bagaimana kalau kita karaokean saja", okeee… ayyyoook! Jadilah rencana belok kanan untuk ke tempat makan di SAGA tadi cancel, mobil melaju luruss menuju e-club jalan penghibur dan ternyata tempat karaokenya tutup. Kecewa penonton…!

Sudah jam 9, akhirnya kita meluncur ke Double dips café. Setiap kesini pasti alasannya sama, tidak ada pilihan lain. Paling enak memang nongkrong disini, ditemani double choco oreo, 4 frozen dan 1 set Uno balok. Belum lagi dengan sensasi potongan 10% yang simpang siur itu, hahahaha… sebenarnya disini sempat dibicarakan rencana untuk kembali ke SAGA sebagai cita-cita tertunda malam ini, tapi saya kalah komandaaaan… capeeek sudah! Perjumpaan kita malam ini sudah cukup keren, sama seperti perjumpaan kita sebelum-sebelumnya. Bukankah apa-apa yang ada Kita didalamnya memang akan selalu keren? Hahaha… saya suka malam ini.

Namun… mungkin karena saya yang mulai letih dan tidak konsen, jadinya di-akhir malam panjang ini saya memecahkan gelas berisikan seperempat Dhouble Choco Oreo milik saya. Tangan saya teriris tapi tak berdarah, serpihan kaca berserakan dimeja. Bon susulan datang, 1 unit gelas Rp. 20.000,- Hufffft… Tragis!

12/07/2011

Yang Tersisa di Bulan Juni


24 Juni 2011: Berlayar bersama Sheila On7


Kejutan untuk saya sih sebenarnya tiba2 saja saya mendapat kabar kalau band kesayangan saya dari jaman SD ini akan tampil di Makassar. Walau sebenarnya saya kurang sreg dengan jam performancenya; pukul 10 malam sampai selesai kebayang kan pastinya akan pulang pagi ini, yah semua karena cinta akhirnya untuk pertama kali saya menggelandang bersama beberapa orang teman di dunia malam pada salah satu club di kota Makassar.

Pas di lokasi acara, awalnya sih aneh saja, masuk di ruangan besar yang gelap sesekali disambar lampu disko dan music yang benar benar memancing kita untuk goyang, belum lagi melihat beberapa orang (baca cewek) berpakaian serba minim (gak pake baju, hanya dalaman :p) berlenggak lenggok dengan gaya yang memang diciptakan untuk menggoda nafsu pengunjung *IMO. Huff, parah ah untung saya datang gak sendiri dan Alhamdulillah ada banyak yang berjilbab juga, yang memang tujuan kami sama *cuman mau nonton konser* hahaha… tak berapa lama akhirnya sang bintang pun hadir menemui kami dari atas panggung.

Aihhh, mereka keren euuyyy… Duta, Eross, Adam dan Anton. walau bisa dikata band lawas penampilan mereka tetap fresh. Belum lagi Duta yang benar2 allout disetiap lagu yang mereka bawakan. Saya salut banyak untuk Band kesayangan saya ini, banyak kenangan yang saya titip dalam lagu lagu mereka. Saya dan teman2 larut dalam pesta, hahaha… kalau nyanyinya lagu mellow kita ekspresinya ikutan mellow giliran lagu yang upbeat yah gak ada alasan untuk tak jingkrak-jingkrak


Kupetik bintang, untuk kau simpan cahayanya terang berikanku perlindungan, 
Sebagai pengingat teman juga sebagai jawaban segala tantangan...


Kapan kapan main lagi ke Makassar yah Om Om cakeeep, hahahaha…


27 Juni 2011: An Exclusive experience with Trio Lestari


Ada Glenn Fredly, Sandy Sandoro dan Tompi; mereka mengatasnamakan diri Trio lestari. Uh yeeee… adakah alasan untuk tidak melestarikan suara-suara emas mereka? Persetan dengan selera industry, mereka yang terbaik *IMO

Well, mungkin ini yang dibilang "rejeki tak kemana" "banyak teman banyak rejeki" saya mendapatkan durian runtuh di hari special saya, hari Ulang tahun saya 27 Juni 2011. Awalnya sih saya tak begitu berniat menonton perform trio lestari ini di Makassar, walau sangat ngeFans juga tapi banyak hal yang harus saya pertimbangkan salah satunya yah soal keuangan. Boross baanget lahhhh saya ini rasanya kalau harus mengeluarkan dana lagi untuk konser lagi, hehe…

Tapi sebuah penawaran tiba2 mengalihkan duniaku, mematahkan kalkulasi keuangan yang telah saya buat, hahaha… satu hari sebelum konser teman saya mengabari saya bahwasanya salah satu dari rombongan mereka cancel untuk menonton maka jadilah saya yang mengambil alih tiket itu tanpa berfikir banyak lagi. Kenapa? Karena tiket yang dia tawarkan itu tiket Platinum yang notabene posisi kursinya itu dibarisan terdepan, hahaha semua performer yang ada dipanggung jelas terlihat sebadan-badan dari posisi itu. Saya tak bisa menolak, apalagi harga yang ditawarkan benar2 miring yah samalah dengan harga tiket yang duduknya jauhhhhhh dibelakaang, yang view kepanggung cuman bisa liat lampu sama bayangan orang bergerak-gerak, itu juga bagus kalau dapat kursi. Aih, beruntung deh saya… Thankyou Allah, Thankyou Alf, Thankyou Dinooo… hihihi, emang rejeki itu takkan kemana. Anggap saja ini hadiah 25 tahun usia saya, dari Langit.

Kalau soal performance mereka saya tak usah banyak basa basi, ya sudah begitulah adanya sudah TOP BGT dari sononya. Huaaaaahhh, asli kita yang hadir dibikin menjerit2 disetiap lagu yang mereka bawakan. Baik itu saat menyanyi solo atau pun trio. I heart you lah…

03/04/2011

Seminar Sehari Bersama Onliner Makassar


Okedeh langsung saja, Sabtu – 02 April 2011 m erupakan acara yang lumayan saya nanti semenjak bulan Maret kemarin. Pada hari ini diselenggarakan Seminar Online Media Citizen Journlism & Entrepreneurship kerjasama Detikcom dan Telkomsel, dengan menghadirkan pembicara dari Detikcom, Telkomsel dan Onliner sukses. Kalau saya sendiri bisa berada di sana karena mengisi 50 kuota khusus yang disediakan Detikcom untuk warga Anging Mammiri (Komunitas Blog Makassar), Thanks to AM. sebenarnya sebelum sampai dilokasi, saya membayangkan peserta seminar ini tak begitu banyak dan ternyata surpriseeeee, ballroom hotel Horizon pagi itu sudah sesak dengan tamu seminar. Padahal saya datang belum begitu terlambat, luar biasa sambutan Makassar untuk acara ini adapun Makassar adalah kota terakhir setelah 6 kota penyelenggara. Entah bagaimana antusias kota2 lainnya, yang saya tahu yah Makassar itu Luar Biassaaaa!

Sebenarnya ada 3 Variable penting yang menjadi daya tarik tersendiri sehingga acara ini diminati banyak orang: 1) Jurnalisme, mungkin ini sebab banyak orang2 media yang ikut serta. Utamanya teman2 dari penerbitan kampus, radio kampus, teman-teman dari jurusan komunikasi UNHAS dll… yang datang bersama rombongan, beberapa diantaranya masih ada yang saya kenali. Maklumlah, kami sudah beda generasi. 2) Entrepreneurship, mungkin juga banyak yang datang ke acara ini karena embel2 ini. Berharap mendapatkan tips biar jadi jutawan, seperti Asri Tadda yang memanfaatkan Blog Adsense ataukah seperti Raditya Dika yang mem-buku-kan tulisan2nya diBlog. Hahhaa, saya cuman asal nebak, karena sejauh saya jumping di internet orang-orang mulai berlomba menghasilkan pundi-pundi lewat tuyul2 yang berkeliaran di dunia maya, dengan berbagai cara. Walau sebenarnya saya sedikit tidak nyaman memasuki blog pribadi yang membahas hal-hal pribadi tapi penuh dengan iklan. Dan jujur saja, inilah bargaining utama yang menarik minat saya. hehehe. 3) Onliner Sukses a.k.a Raditya Dika sebagai pembicara, acara ini pun di penuhi dengan Radivers (atau Dikavers yak? Whatever!) dan cewe-cewe abegeh itu… cckckckc. Saya pun… ckckckckc, kami menyatu dalam tawa yang bukan main saat dika memperolok sesuatu/seseorang yang entah fiksi atau nyata. “semoga tawa kami bukan sesuatu yang berlebihan ya Allah”

Acara ini secara berturut-turut diisi oleh empat pembicara dengan agenda coffebreak ditengah-tengahnya. Pembicara pertama adalah bapak Andry, beliau adalah orang dari Detikcom yang memperkenalkan kami mengeni Portal-LoKal. Dimana, dari detikcom disediakan semacam ruang untuk menjadi reporter di lingkungan kita sendiri entah itu membahas kuliner, wisata, perayaan ataukah berita yang sifatnya actual yang terjadi disekitar kita. Adapun perkembangan situs itu akan diawasi oleh detik dan jika berkembang ujung-ujungnya akan mendatangkan keuntungan untuk kita sendiri. Kalau mau tau lebih jelas materinya bisa di download di sini => http://de.tk/portallokal.

Pembicara kedua diisi oleh Om Budiono Darsono, adapun beliau adalah founder Detik com. Ah orangnya asli ramaaaah, dan jawa’ banget. Saya sukaaaa sama Om deh. Hehehe. Om yang hanya suka di panggil dengan sebutan BDI (be de i) ini membahas tentang asal usul berdirinya Detikcom hingga bisa bernilai miliaran sekarang ini. Dan kembali lagi, semua hanyalah iseng-iseng belaka yang berujung pada keberuntungan, kekayaan materi dan popularitas. Dengan menggunakan prinsip ATM (Amati Tiru dan Modifikasi), BDI mampu mengembangkan situs yang dikelolanya itu sampai seperti sekarang ini. Berita yang disajikannya real time, detik per detik. Luar biasa! Saya suka bertemu dengan orang-orang hebat, walau saya hanya sekedar duduk, diam, mendengar dan menatap. Rasanya seperti saya menemukan kembali puing-puing motivasi saya yang jatuh berserakan.

Pembicara ketiga, di-isi oleh orang dari Telkomsel sebagai sponsor utama acara ini yang diwakili oleh Bapak Ricardo Indra. Yah, walau saya menggunakan provider ini, saya tak ingin berbicara banyak tentang konten2 pembicaraan beliau yang isinya “iklan” banget, hahaha… Sekip ahhh!


Dan inilah diaaaa, pembicara yang paling dinaanti-nanti 50% bahkan 80% dari peserta seminar, Raditya Dikaaaaaaa. Hueeeek! Dika berbicara lagi-lagi tentang pengalaman sukses dia yang awalnya hanya seorang blogger, penulis diary yang akhirnya menemukan jalan menuju kesuksesan seperti apa yang jalani sekarang-sekarang ini. Saya pribadi cukup kagum dengan dika ini, karena dalam situasi apapun sesuatu itu bisa berisi cerita lucu ketika diungkapkan olehnya baik itu lewat Buku, blog atau twitternya. Mungkin itulah maksud dia menitik beratkan pada Perspektif, dalam pembahasannya kali ini. Ada banyak ribuan orang yang punya blog/FB/twitter dan menceritakan mungkin tentang hal yang sama, kejadian sehari-hari. Tetapi, jika kita bisa melihat dan menyampaikan dari perspektif lain tentang kejadian itu maka hal itulah yang istimewa dan menjadi cirri khas anda. Akhhh, kurang lebih begitulah kata-kata dika tadi. Manis bukan?!

Dika berhasil mengguncang perut dan perasaan saya selama lebih satu jam, dan tepuk tangan untuk kemampuannya memusatkan perhatian peserta hanya tertuju kepadanya. Hahaha, jujur setelah saya amati, dari semua pembicara ya memang hanya dika yang diperhatikan oleh semua. Tadi saja ada yang main game depan saya waktu mas Andry bawa materi, atau waktu Om BDI berbicara malah ada yang sibuk mondar mandir ke WC, atau keluar ruangan. Dan waktu Mas Ricardo Indra pun sibuk promo telkomsel malah sayanya yang sibuk nelpon/sms2an sama teman dikantor, hahaha… Uppppsssss, baru ingat hari ini saya Izin tak masuk kantor karena ikut seminar ini. Maap ya Boss, maklum anak buahmu ini perlu dicharge.

13/02/2011

Ini adalah Haru - Bertemu Pak Habibie

Mungkin ini adalah sabtu yang paling mengharukan untuk saya, karena bisa melihat dengan mata kepala saya sosok yang paling saya kagumi selama ini Bapak BJ Habibie.

Sebenarnya sebelum ke Gramedia untuk agenda Signing book, ada agenda yang jauh lebih penting yaitu Pembahasan buku Ainun Habibie langsung oleh Bapak Habibie di Graha Pena Makassar, tapi karena jamnya kurang bersahabat dengan pekerja swasta seperti saya ini dan lagi saya tak bisa ijin dulu karena saya sudah banyak ijin dikantor akibat sakit ringan yang menimpa saya beberapa hari lalu. Jujur saya kecewa pada diri saya, tapi mau diapa… setidaknya saya masih diberi pilihan lain untuk bisa melihat beliau dari dekat.

Ya Allah, saya menangis sungguh dari dalam hati ketika melihat beliau berjalan memasuki Gramedia Panakkung setelah 30 menit saya berdiri antri menunggu kedatangan beliau. Disaat yang sama puluhan orang (mungkin ratusan) juga menunggu penuh harap, sambil menenteng buku Ainun Habibie. Ketika beliau datang, saya hanya ingin melihat rupa dan gerak-gerik beliau dari jarak dekat, sementara mengikuti antrian yang panjang ini membuat saya tak bisa melihat apa-apa tak juga bisa memotret apa-apa maka dari itu saya keluar dari antrian dan membuyarkan harapan bahwa saya akan mendapatkan tandatangannya pada buku saya itu sekaligus bersalaman bersama beliau, tapi saya tetap berusaha menitip buku pada teman yang mengantri. Setelah meninggalkan barisan, saya leluasa menerobos kedepan hingga akhirnya berhasil berada di saf paling depan, sehingga bisa melihat beliau dengan seksama dan seketika kamera saya bungkam, tak ada ide untuk mengambil gambar. Saya seperti orang yang terhipnotis. Ada rasa bangga tersendiri ketika melihat beliau secara nyata.

Makin lama barisan semakin tak beraturan, antrian semakin berantakan dan tak lagi satu baris. Dari belakang dorongan sangat kuat, sementara dari depan pun penjaga terus menekan kebelakang. Saya terjepit, nyaris terinjak dan parahnya saya sedang menenteng kamera tetapi Alhamdulillah… kondisi itu membawa berkah, tidak sampai limabelas menit signing book dibuka tiba-tiba kepala saya disentuh oleh penjaga untuk mendapat giliran selanjutnya, wowww! Hehehe… terimakasih Oom penjaga, dan maaf buat teman2 yang sudah lama mengantri bukan maksud mau menerobos tapi yang “ini berkaaah” disaat terjepit. Jika saya menolak, mungkin saya akan terluka karena dorongan yang makin gila dari belakang. Kemudian saya buru-buru meminta buku saya kembali dari teman saya. Mungkin ini miniatur kehidupan, bahwa terkadang kita akan mendapatkan apa yang telah direlakan. Ajarkan saya Ikhlas ya Allah…

Dan tahukah kalian, akhirnya saya bisa berada dekat dari orang kebanggan saya itu… Bapak Habibie sudah semakin tua, ayunan ukir tangannya di Buku saya tak begitu tegas, saya bisa mendengarkan desahan nafasnya, mendengarkan suaranya saat mengeja nama saya, saya menjabat dan menciumi tangan yang luarbiasa hebat dan “dingin” itu. Untuk beberapa detik beliau hanya tersenyum untuk saya, dan melihat kedalam mata saya. Kekecewaan saya terbayar dalam sekejap. I love this moment!

Dengan speechless saya meninggalkan tempat itu, dan saya kembali lagi pada posisi saya semula. Sehingga saya bisa memandangi beliau dari jarak dekat. Dan saya baru menyadari ternyata sedari tadi ada Om Adrie Subono yang sedari tadi berdiri menemani Bapak Habibie, tampangnya kecut memperlihatkan Aura ketidak senangan dengan budaya Antri ala Makassar yang tergolong Brutal? (mungkin), sangat terdesak dan ribut. Penyelenggara acara benar2 kewalahan, tapi adakah yang mengalahkan kewalahan yang seharusnya dirasakan oleh bapak Habibie? Satu jam Lalu beliau baru saja selesai membagi pengalaman tentang bukunya selama 3jam ditempat lain, dan sekarang untuk beberapa jam kedepan beliau harus melayani antrian yang MasyaAllah…

Belum selesai acara, saya meninggalkan gramedia bersama Nube. Gramedia terlalu padat. Orang-orang media juga sudah mulai berdatangan, tidak ada tempat yang nyaman lagi untuk berdiri, setidaknya saya sudah puas melihat beliau dari jarak dekat.


Terimakasih Pak Habibie, untuk segalanya. Terlebih untuk inspirasi yang kau cipta…
Terimakasih Oom Adri, jangan kapok ya membawakan kami (Makassar) orang2 Hebat!
Dan, Terimakasih Allah… sudah mengatur jodoh saya bersama Bapak kebanggaan saya itu.
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.