Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

18/03/2021

Satu Tahun

 
Lagu yang sedari kemarin menemani kusut dikepala; bercerita tentang Rindu, Sesal dan Bapak. Tepat 1 tahun beliau berpulang, 18mar20-18mar21 #ALFATIHA

21/05/2020

Apa iya cinta harus memiliki?


Hai blog..

Lama tidak menulis tetiba saya ingin sedikit bercerita tentang relationship.

Jika ada yang bertanya kepadamu, “apakah cinta harus memiliki?”

Jawaban saya ada pada dua pilihan tergantung pada masanya. Lah, maksudnya gimana sih Syam? Hmm.. begini begini, jika pertanyaan itu dilontarkan kepada saya satu atau dua tahun yang lalu mungkin jawaban saya adalah BIG NO!! ya ngapain coba mencintai orang yang jelas-jelas tidak bisa kita miliki, tidak bisa kita raih. Wasting time. Membuang energi dan sangat sangat bodoh. Cinta itu timbal balik, lo jual gue beli.. kamu suka, aku apalagi. Terdengar amat sangat transaksional memang tapi itu benar benar logic sih, walaupun terkesan sangat egosentris. Tapi kan, bukannya cinta adalah bentuk pemuasan diri?! 

Dan lalu jika pertanyaan itu disampaikan kepada saya disaat-saat sekarang, saya bisa menjawab dengan lantang.. BISA DONG!! Alasannya sederhana, cinta itu bukan transaksi perasaan, kenapa kita bisa mencintai seseorang itu karena adanya investasi-investasi perbuatan si-dia yang membuat kita nyaman hingga akhirnya kita memilih jatuh cinta. Ini keputusan sendiri lho, sadar atau tidak sadar. Paham sampai disini? In fact, terkadang kita tidak punya kuasa untuk memilih pada siapa kita akan jatuh cinta, yang kita bisa lakukan setelahnya adalah apakah kita akan menuruti ego kita untuk kemudian memaksakan diri memiliki si-dia. Ya kalau cinta kita mendapatkan balasan, Alhamdulillah. Jika tidak? Bagaimana?

Jalan satu-satunya adalah melepaskan saja perasaan itu, bukannya cinta itu adalah mainan orang dewasa? Orang-orang yang sudah tahu betul konsekuensi dari setiap pilihan-pilihan dalam hidupnya. Pada dasarnya tidak ada hal apapun yang akan berjalan dengan baik jika dipaksakan, yang terbaik adalah hidup dengan tidak begitu terpusat pada ke-akuan diri. Ya kalau kamu cinta, silahkan.. jika masih bisa diperjuangkan, ya dikejar. Kalau ternyata mentok, ya sudah. Dinikmati saja rasanya, toh hati tidak akan sebuntu itu kok.. akan selalu ada jalan untuk jatuh cinta lagi, hingga pada akhirnya menemukan muara yang didalamnya cintamu menemukan tempatnya. Pasangannya. Just make it simple guys. Tidak ada satupun orang diluar sana yang bertanggungjawab atas pergolakan rasa yang kamu alami, kalau kamu kadung baper.. ya kan kamu sendiri yang membuka ruang hatimu?!

Saya jadi punya gambaran baru bahwa jatuh cinta nowdays itu seperti investasi, dari awal kita sudah tau resiko dan keuntungannya. Tapi kembali lagi ke kita, si investor.. mau invest banyak atau dikit dikit dulu? kalau ditahap awal sudah lempar banyak modal dan berharap dapat keuntungan balik yang juga besar, yah.. **garuk-garuk kepala** Come on!!! Puas dan Kecewa adalah dua konsekuensi logis dari harapan.

Well perjalanan hati yang amat sangat kompleks yang saya lewati beberapa bulan belakangan ini membuat saya tidak lagi begitu demanding terhadap hal hal romance. Itulah yang membuat saya bisa merasa lebih bebas dalam mengekspresikan diri, mengekspresikan perasaan. Kalau dikit dikit bawa baper, bawa ego, bawa gengsi, ya.. akan susah. Walau saya perempuan, ketika saya memutuskan untuk mencintai, akan saya cintai, akan saya ungkapkan, saya tunjukan. Perkara dapat balasan atau tidak, itu urusan nanti. Jujur pada diri sendiri dan tau maunya diri sendiri itu jauh lebih penting sih.

Mungkin segitu dulu lah cerita saya tentang relationship, jujur saya merasa kok narasinya berantakan gini yah. Mungkin efek lama tidak menulis, sementara ide dikepala tumpah tumpah. Al hasil, kacau balau deh.. semoga yang baca paham yah. Haha. Terimakasih, 😊

-----
Pic Source : Pexels

30/03/2020

Istirahat, Pa..


Butuh beberapa waktu untuk pada akhirnya saya bisa menyelesaikan catatan ini, sebuah catatan tentang kehilangan. 

"Yes, he appears and he disappears, like a sunrise or sunset. Anything so ephemeral, just like our life. We appear and we disappear.. and we are so important to some but we are just passing through.."
Kehilangan seseorang artinya akan ada banyak potongan-potongan ingatan. Tentang seorang pria yang tidak pernah mengatakan cintanya tapi sanggup memberikan seluruh apa yang dimilikinya. Tentang seorang pria yang begitu keras watak dan pendiriannya tapi mampu melembutkan hati setiap orang yang ada disisinya. Tentang seorang pria yang bahkan tidak pernah terlihat lelah bekerja bahkan hingga beliau harus mengistirahatkan diri karena jatuh sakit dan tak lagi berdaya.

Saya kehilangan pria itu, seorang pria yang sepanjang hidup saya panggil dengan sebutan Bapak. Saya amat sangat merindukan beliau saat ini, teringat begitu banyak hal yang telah kami lewati bersama, banyak suka, banyak duka.. pun ada beberapa pertengkaran didalamnya. Hidup kami tidak mudah, saya tumbuh dan besar ditengah keterbatasan ekonomi, tapi beliau bahkan memberikan banyak dari yang dimilikinya, bekerja lebih dari yang seharusnya hingga pada akhirnya kami bisa merasakan hidup yang jauh lebih baik dari waktu ke-waktu.

Tiga bulan lamanya mendampingi Bapak, mulai dari bugarnya hingga tak lagi ada kesadaran dalam setiap lakunya. Hati saya luka tatkala disetiap hari jum'at Bapak terpaksa melewatkan Shalat Jum'at berjamaah di Masjid, atau ketika saya harus menyaksikan Bapak melaksanakan shalat wajib berdiri - berganti duduk - lalu berbaring, hingga ketika terdengar Adzan kami hanya mampu mengingatkan Bapak kalau waktu shalat sudah masuk, kemudian beliau mengangguk dalam kondisi tidak begitu sadar.

Dan lalu, saya masuk pada episode hidup yang mengingatkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bapak meninggal tidak dalam pelukan atau pandangan saya, hanya melalui kabar, lalu saya menemukannya telah terbujur kaku dikelilingi banyak pasang mata yang berduka di ruang tamu rumah kami. Wajahnya begitu bersih, dan begitu tenang. Saya telah lebih dulu mengeluarkan banyak air mata sebelum hari ini tiba, saya telah lebih dulu banyak memeluk erat dan mencium Bapak sebelum hari ini tiba, saya telah banyak mengucapkan Maaf dan Rasa Terimakasih telah membersamai sepanjang 33-tahun hidup saya, pun jauh sebelum hari ini tiba. Tapi dada saya tetap sesak, ternyata semua itu belum cukup, saya masih ingin lebih, rasanya masih butuh waktu.. Saya terluka begitu dalam. Teringat dalam kesadaran yang begitu terbatas, dua hari sebelum Bapak meninggal.. melalui sambungan Video Call ketika saya mengabari bahwa saya telah sampai dirantau, bapak hanya menyampaikan satu kata; "terimakasih anak" Duh!

Menyaksikan Bapak dimandikan, dikafankan, ikut serta men-shalatkan, mendampingi upacara pelepasan secara militer lalu dimakamkan. Huft. Hati saya tidak pernah sepatah ini sebelumnya, tiba-tiba semua terasa begitu cepat.. 

Satu tahun lalu kita baru menghabiskan banyak hari di Masjid Nabawi dan Tanah haram hanya berdua saling jaga saling memberi perhatian. Lima tahun lalu kita sama-sama mencari tempat tinggal untuk saya dirantau karena akhirnya saya mendapatakan pekerjaan yang ternyata begitu membanggakanmu. Sepuluh tahun lalu, kita sama-sama mengunjungi Gedung Baruga di Unhas untuk menyaksikan wisuda pertama putrimu yang telah kau sekolahkan jauh lebih tinggi dari pendidikan yang telah kau tempuh, dimana mampumu-pun disangsikan oleh sebagian orang. Lima belas tahun lalu, ketika kali pertama kau mengantarkan saya pada pukul tiga dini hari menempuh satu jam perjalanan Cendrawasih-Perintis mengendarai motor tuamu untuk mengikuti Ospek kampus hari pertama yang begitu menyusahkan kita selama satu minggu penuh.
Dan begitu banyak potongan ingatan lainnya, yang membuat saya sadar bahwa.. saya tidak membutuhkan Bapak sebagaimana pandangan publik tentang sosok seorang Bapak/Ayah yang Hebat. Engkau, jauh lebih dari cukup untuk saya.. darimu saya belajar bahwa kesederhanaan itu jauh lebih istimewa dan mengesankan. Saya mendapatkan banyak previlege dalam hidup ini, tanpa dunia terlebih dahulu menanyakan siapa Bapak saya. I can stand on my own (two) feet, dad.. Seperti katamu, dunia itu akan selalu adil untuk orang-orang yang selalu berusaha dan bisa menjaga Shalat wajibnya - diawal waktu.

Istirahat, Pa.. doaku sekarang tidak banyak. Hanya semoga, suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali, bersama orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang sepanjang hidupmu kau perjuangkan segala bentuk kebaikannya. Pun semoga saya bisa menjadi Putri yang Solehah seperti inginmu, hingga segala amal kebaikan dunia yang sekiranya ada pada diri saya bisa menjadi kebaikan untukmu di Akhirat. Saya akan menjaga dan merawat dengan baik setiap potongan kenangan tentang kita, tentang keluarga kita. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘aafihi wa’ fu’anhu

------------------------------------------------------------------
Untuk yang terkasih Bapak (59th), meninggal rabu pagi 18 Maret 2020
I love you, unconditionally ♥

21/11/2018

What i searching for?


Kalian tahu apa yang paling menyenangkan dari ngeblog?

Menemukan banyak cerita sederhana yang berasal dari kehidupan orang-orang yang juga sederhana. Saya perlu itu; untuk memperkaya isi kepala, pemahaman dan bisa jadi mempengaruhi bagaimana semestinya saya bersikap.

20/11/2018

A question about "Why?"

Hi, blog..

Aku baru sebenar-benarnya sadar kalau tahun ini aku amat sangat tidak produktif didunia literasi; buku yang aku baca cuman berapa biji, belum lagi tulisan yang aku publish di blog cuman satu. Sebenarnya di draft sih ada beberapa tulisan yang sebelumnya sudah pernah publish, tapi setelah aku timbang-timbang kembali mungkin lebih baik memang untuk tidak di publish.. too personally i think.

21/07/2018

Re-Setting


Entah kenapa ya kalau saya sedang feeling gloomy, feeling bad, down or feel something i can't handle jatoh-jatohnya buka laptop, ketik ketik ba bi bu di blog, rasanya itu ya nyamannn aja..  Aktifitas ini sudah puluhan kali berulang, ya sayalah manusia paling gampang berubah suasana hatinya dimuka bumi ini tapi tidak semua permasalahan membuat saya ingin cerita, ingin menulis. Hanya pada beberapa kasus saja, yang saya lewati mungkin lebih drama, lebih banjir air mata, lebih banyak ngerengek sama Allah, terus pas sudah nulis pun bingunglah saya mau nulis apa. Errrgh.

23/06/2018

Yang katanya, Better life ?!


Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama dalam mobil Travel yang membawa kami dari Pinrang menuju Makassar. Kami dulu pernah sekelas saat SMA, lalu waktu kuliah kami ada di Fakultas yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda. We not too intimated Friend, but we talk almost 3-hours.. hampir sepanjang perjalanan antar kabupaten kami ngobrol random.


Dari obrolan kami, saya bisa menarik kesimpulan bahwa Kemasan itu tak melulu sama dengan isi dalamnya. Sederhananya seperti ini, teman saya itu dulunya adalah termasuk anak sekolahan yang punya geng-hedon, geng orang kayah, dan sangat eksklusif disekolah. Dan lalu, saat kuliah tak begitu berubah.. Setiap orang akan saling tarik menarik dengan orang lain yang identik dengannya, kembali saya melihat dia ada dalam kelompok orang-orang eksklusif. Selesai kuliah bekerja di Bank BUMN yang cukup bergengsi dan lalu menikah dengan orang Bank juga. Seperti itulah dunianya berjalan, hingga dikaruniai 2 orang anak. She still being an independent woman with a high taste, semuanya menjadi lebih sempurna setelah memiliki penghasilan sendiri selama kurun waktu 8 tahun.

"Dalam waktu dekat saya mau mengajukan re-sign, Syam"
"Oh ya?"
"Why?"

Saya pribadi sedikit terkejut mendengar keputusannya itu. Dia lalu bercerita, tentang bagaimana beratnya menjalani kehidupan ber-keluarga yang tidak utuh dalam satu atap. Suami bertugas di pulau seberang, dirinya sendiri bertugas di Pinrang sementara kedua anaknya dititipkan di neneknya di Makassar. What a life. Melihat bagaimana dia menjalani masa lalunya, saya jelas terkejut dong. Se independent dan se hingar-bingar apapun kehidupan seorang wanita/pria dimasa mudanya, ketika mereka sudah berumah tangga dan memiliki anak, semuanya akan berubah. Hidup punya tujuan, punya prioritas yang terus berganti. Saya cukup kagum dengan cara fikirnya, hati saya meng-hangat mendengar alasan demi alasan yang coba disampaikannya. Keluarga adalah hal paling berharga yang dikasih Allah untuk manusia, dan ya.. Kita manusia, sebisa mungkin setiap yang berharga harus di jaga dengan sempurna.

Lalu saya teringat dengan cerita Mamak saya, tentang beberapa keluarga kami yang rela meninggalkan keluarganya untuk merantau ke negeri seberang untuk penghidupan yang menurut mereka "mungkin" akan jadi lebih baik. Tanpa bekal bahasa dan pengetahuan yang cukup, tanpa skill. Dan yang seperti ini semakin marak dan semakin popular. Pasalnya di kampung sana, semua perantau yang telah lebih dulu pergi bertahun-tahun akhirnya kembali dengan membawa hasil yang sangat memuaskan. Kemudian membangun/merenovasi rumah, membeli mobil, dan membagi-bagi THR ke keluarga dan tetangga. What a successful person, they might be think.. That’s why, jika saatnya mereka harus kembali ke perantauan, tak jarang ada satu sampai tiga orang lagi yang ingin ikut serta merantau mencari peruntungan serupa.

Sumi/Istri, meninggalkan pasangan dan anaknya;
Orang Tua meninggalkan anaknya yang masih sangat kecil;
Anak meninggalkan Orang Tuanya yang mulai sepuh;
Saya sedih melihat betapa manusia harus berkorban sedemikian rupa untuk hidup. Seolah dinegara sendiri sudah tak ada tempat. Seolah nantinya waktu yang mereka punya akan panjang untuk dihabiskan bersama orang-orang yang seharusnya mereka cintai. I know, hidup adalah pilihan.. tapi waktu tidak bisa menunggu kita sukses dulu untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Tak jarang ada yang kembali dengan tangan hampa, beberapa justru kena tipu – rugi besar, Oh God.. sungguh tidak ada jalan pintas untuk hidup sukses, untuk hidup enak dan itu yang banyak dilupakan oleh orang-orang. Selama kita terus berjuang, berusaha.. dimanapun kita berada, hidup akan pelan-pelan melunak. Saya masih sangat percaya bahwa tanpa campur tangan selera/gengsi, KEBUTUHAN hidup tidak pernah benar-benar mencekik manusia.

Dan lagi, manusia harus paham takaran rejeki tiap orang itu beda. Tidak ada yang sama, even mereka melalui cara yang sama dan pada waktu yang sama. 

31/12/2017

2017 on my pocket

Menjelang akhir tahun ini saya sebenarnya merasa begitu sedih, tapi tak sampai membuat saya menangis. Saya mengingat begitu kerasnya perjuangan hidup seorang kawan baik saya dirantau sana, bagaimana dia bisa bertahan dengan segala harap dan mimpi-mimpi yang selalu saja dihempaskan oleh kenyataan. Yang seperti ini yang kadang membuat kepala saya menjadi sakit akibat terlalu banyak memikirkan apa dan kenapa, padahal saya punya ilmu yang membenarkan bahwa segala apa yang terjadi dalam hidup ini sudah tentu ada campur tangan Allah didalamnya. Tapi, saya masih terus saja berfikir dengan perasaan gundah, seperti ada yang menganga jauh dalam lubuk hati.

Saya bertanya pada diri saya sendiri, kalau sudah seperti ini kamu bisa apa Syam?          
Saya hanya bisa terluka, dan lalu kembali melanjutkan hidup..

Memiliki hubungan emosional yang kuat dengan banyak orang dalam hidup membuat kita rentan terluka memang, sama seperti kita menitipkan sepotong hati pada orang lain untuk mereka rawat baik-baik.. dan ketika mereka terluka maka terasa pulalah luka itu. Akh. Saya benci sebenarnya menjadi orang yang seperti ini, terlalu perasa, tapi disisi lain saya betul bahagia.. bisa menjadi orang yang berguna dan berkontribusi dalam kehidupan orang lain. Disaat saya ikhlas merasakan bahagia, itu artinya saya pun harus ikhlas merasakan sedih, kecewa, dan segala rasa yang ada didalamnya.

Entah apa maksud Allah mendekatkan saya padanya, menyaksikan dan merasakan beberapa lapis luka yang terjadi silih berganti dalam hidupnya. Semakin dekat saya dengan dirinya semakin saya merasakan how blessed I am ya Allah.. sedih saya, luka saya, tidak ada apa-apa rupanya. Saya hanya perlu untuk terus bersyukur, bersyukur dan bersyukur.. kemudian bertekad menjadi orang yang selalu bisa menjadi penyembuh luka bagi orang-orang terdekat saya. Itu saja.

***

Huft. 2017 so tought for me. Beratttt bokk. Utamanya menghadapi emosi saya sendiri melewati masa-masa; naik turunnya mood, pekerjaan yang kian menumpuk, idealisme yang dipaksa susut, sahabat-sahabat yang mulai irit waktu bertemu, gagal beasiswa, dan beberapa hal yang saya sudah mulai lupa detail kejadiaannya tapi cukup membuat saya banyak berfikir, banyak nangis, juga banyak ketawa. Everythings passed by time. Dan pada akhirnya banyak merubah cara pandang saya tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Itulah barangkali kenapa kita harus terus belajar, karena ilmu dan pengetahuan akan membuat kita lebih fleksibel. Lebih lunak. Tidak semua kejadian buruk akan serta merta membuat kita menjadi hancur, berkeping keping.

2018 didepan mata, harapan saya sederhana saja.. menjadi lebih baik dalam segala aspek. Spiritual utamanya, saya betul-betul keteteran setahun belakangan ini. Semoga lebih khusyuk dan lebih konsisten lagi. Dan tentang mimpi saya untuk bisa menjadi PAHLAWAN BERTOPENG akan terus bersemayam dalam dada, semakin kuat, semakin membara. Bismillah.

28/05/2017

D i a m


Saya lebih memilih diam disaat saya marah. Saya tak pandai menahan emosi ketika melampiaskan marah saya. Terkadang saya sendiri tidak mengerti, dari mana semua perbendaharaan kata yang begitu menyakitkan bisa terjun bebas dari mulut saya.

Perkataan yang pada akhirnya saya sesali, kenapa bisa terucap begitu saja. Sama seperti hati saya, setiap hati diluar sana berhak untuk tidak disakiti sebenarnya. Padahal bagaikan bambu yang runcing pada dua sisinya, semakin tajam kita menusuk seseorang yang kita sayangi, disaat bersamaan pun tangan kita ikut terluka akibat tekanan yang kita berikan
.
Disitulah kadang kenapa hidup yang sebenarnya tidaklah begitu rumit mendadak menjadi berat. We lost our positive energy. We lost our happyness. We lost our smile. Kita hanya bisa bersandar pada iman dan keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa Allah selalu ada dibalik setiap apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Baik atau buruk. Who knows?
.
Diam memberi saya banyak kekuatan, memberi saya energi baik untuk bisa mengendalikan diri. Dalam diam saya berkompromi dengan diri, terkadang butuh waktu berjam-jam sampai berhari-hari untuk pulih. Lalu saya kembali seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa. Apa jadinya jika saya terlanjur menyakiti orang-orang dengan perkataan saya seperti yang sudah-sudah. Hati mereka akan retak dan lalu pergi. Itulah mungkin kenapa Allah memberi kita memori, ingatan, agar setiap kejadian itu bisa dijadikan pelajaran agar tak lagi ada kesalahan dan penyesalan yang berulang.
.
Don't let your ego lead you. Mengendalikan lebih baik dari pada dikendalikan. Mumpung sekarang sedang Ramadhan, mari kita melakukan penyerangan sistemik pada ego bahwa saat ini bukan waktunya mereka untuk unjuk gigi. Forget about selfrespect-harga diri, dan sebagainya, yakinlah, sometimes itu hanya serupa bisikan sayton untuk membenar-benarkan setiap marah yang terkadang penyebabnya terlalu sepeleh. Memangnya siapa kamu mau dihormati? Yakin, kamu sudah memberikan porsi hormat yang sama kepada orang-orang diluar kamu? Dibawah kamu?
.
Akhir kata, saya mau ucapkan; Have a blessed Ramadhan untuk teman-teman blogger se-nusantara, saya minta maaf kalau pernah ada salah atau menyinggung rasa dalam bercerita. Semoga Ramadhan kali ini membawa lebih banyak kebaikan, keberkahan, dan hidayah untuk kita agar menjadi manusia yang lebih-lebih-dan lebih baik lagi. Aamiin.
 .
.
#2nddayofRamadhankareeem
With💛, Syam.

25/03/2017

Mengalah


Sesekali, saya ingin mendendangkan sebuah bait yang terdapat pada lagu Seventeen..

"mengapa, harus aku yang selalu mengalah"

Well, berhadapan dengan seseorang yang egonya ada diatas kita memang tidak mudah. Pertama, kita harus senantiasa berkompromi pada diri sendiri, membujuk diri sendiri untuk menghadapi semua situasi dan kondisi dengan hati yang lebih dilembut-lembutkan. Kedua, kita mengalah sebagai manifestasi kemenangan pada diri sendiri. Ketika saya memilih mengalah, itu bukan karena keluhuran budi saya.. semata untuk kepentingan diri sendiri juga, bahwa saya tidak ingin membuat segala hal semakin berantakan yang justru akan berdampak jauh lebih buruk bagi saya kedepannya.

Sedikit berat ternyata. Setelah kita mengangkat bendera putih, maka serta merta syaiton dan gerombolannya mengadakan camping di "pikiran negatif" kita, dengan banyak topeng.. "kok dia ndak hargai usaha saya melunak?", "kok saya mau merendahkan diri saya?", "kok saya bisa selemah ini?" dan masih banyak kok kok kok lainnya. Yang memposisikan bahwa kita ini oke dari segala-galanya diluar kita. Huft. Tapi, saya akan selalu ingat bahwa, ketika kita merasa orang lain salah belum tentu kita pun ada diposisi benar. Terkadang kita hanya berlindung dibalik pembenaran-pembenaran yang membuat kita merasa menang saja.

Saya bersyukur, banyak banyak bersyukur.. dititipkan Allah pada situasi yang banyak membuat saya belajar untuk semakin mengasah kecerdasan emosi saya. Tidak gampang memang. Tertatih-tatih diawalnya, semoga bersama semua hal-hal emosional ini ada kesuksesan yang pelan-pelan juga mendatangi saya. InsyaAllah. Amin.


**catatan sebelum tidur, Gowa-24032017 at 23:29 p.m.

15/11/2016

Change!

 

Beberapa hari ini saya banyak berbicara dengan beberapa kawan baik saya, intinya.. semua masalah yang pada akhirnya kita hadapi saat ini adalah akumulasi dari masa lalu. Hal-hal yang dahulunya kita anggap sepeleh bisa jadi semakin membesar dan berat pada masanya. Ketika kita merasa ada yang salah, merasa bersalah dan ingin berubah/merubah semua menjadi baik terkadang kita tidak menemukan cara. Pada titik ini meminta maaf memang perkara mudah, tapi kondisi tidak akan serta-merta berbalik. Semuanya terlanjur berjalan pada jalurnya masing-masing, terbiasa asing.

Tapi, yang patut di syukuri adalah Allah tidak akan serta merta memberikan kepada kita kemauan untuk merubah/berubah, pasti ada sesuatu yg telah dirancangnya sehingga dia memilih saat ini, bukan kemarin-kemarin atau nanti-nanti. Ia maha kuasa, pasti tahu apa yang paling baik untuk kita.

With love,
SYAM.

25/09/2016

Generasi tak sabaran



Sadar gak sih, kadang-kadang kita dijebak oleh sosial media untuk menjadi manusia-manusia yang tidak sabaran. Kita menuntut dan dituntut untuk mengeluarkan banyak ide, komentar dan obrolan-obrolan yang pada akhirnya akan menjadi sampah. Kata tanpa 'pesan', asal ada respon dan cepat saja. Bukan nyinyir gaes, ini kenyataan.

Contohnya pada dua aplikasi yang rutin saya gunakan BBM dan WA. Aplikasi BBM dengan fitur D berwarna biru dan R berwarna hijau yang masing-masing artinya diterima dan dibaca. Kalau pesan kita lama dengan status D pasti ada rasa kesal walau sedikit, dan akan menjadi bencana ketika berhenti pada status R. “What? Pesan guweh cuman di Read doang?” Dan muncullah ribuan pertanyaan kenapa dan kenapa atas tragedi 'diread doang' itu.

Di WA pun lebih complicated lagi. Selain fitur pesan sampai dan dibaca oleh penerima, ada juga fitur last seen yang bisa membuat kita melihat kapan si pengguna terakhir kali membuka aplikasi WA. Dan nyatanya fitur ini bisa membuat perang dunia berkobar. Kalau di BBM ya paling tidak kita bisa mengelak yah,”sorry balasnya lama hape sayah tibatiba ngehang/lowbat/atau kelupaan”, dan lagi jika kita tidak meng-update status tidak akan kelihatan kalau ternyata kita memang mengabaikan pesan yang masuk. Sementara pesan via WA mah bahaya, pergerakan terdeteksi secara ketat. Ketahuan bangetlah kalau kita mengabaikan pesan orang. Dan karena diabaikan itu nyakitin, jadinya hanya gegara pesan tidak di ladeni dengan fast respon, tanpa sengaja kadang-kadang bisa melukai perasaan seseorang. Terdengar lebai sih ya.

Padahal mungkin si Penerima tidak maksud mengabaikan. Mungkin mereka sedang repot, mungkin ada yang lebih penting untuk diperhatikan, atau mungkin memang butuh waktu lama untuk memikirkan balasan yang tepat atas setiap pesan yang masuk. Dan masih banyak lagi kemungkinan yang bisa kita pertimbangkan. Positifnya sih begitu.

Kalau saya cari amannya saja. Dengan me non-aktifkan semua fitur dewa di WA. Jadi saya memastikan orang tidak bisa melihat kapan saya terakhir membuka apkikasi WA, dan apakah saya telah membaca pesan mereka atau belum. Konsekuensinya, saya pun tidak bisa melihat last-seen mereka, pun saya tidak lagi bisa melihat apakah mereka sudah membaca pesan saya. Dan mulai berharap, seandainya bisa status online dan sedang mengetik juga di-hidden. Dengan begitu, dunia jauh lebih damai dan sentosa. Untuk di BBM sendiri, saya juga mulai jarang pakai sih selain memang aplikasinya yang suka pending-pending pesan orang seenaknya saja.

Akhir kata, mari kita coba kembalikan social media kepada fungsinya. Just a messengger application. Sebagaimana namanya, fungsi messengger adalah sebagai penyampai pesan. Jadi, jangan berharap lebih yang terpentingkan pesannya sampai. Kalau memang urusan kita butuh respon cepat, gunakan fitur memanggil. Just call them, karena bicara jauh lebih baik. 


Salam super dari sayah,
SYAM.

13/09/2016

be positive


Hidup mengajarkan saya untuk tidak meletakkan kebahagiaan pada hal-hal rapuh, hal yang terlalu mudah untuk berubah-ubah, hal yang bahkan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, jika segala sesuatu berlalu dan tidak berjalan seperti biasanya;

Just let it flow, everythings change for a good reason..

Se- sederhana itu?
"IYA"

10/09/2016

Jika saya adalah Presiden (2)


Pic Source

 Yang kedua ini, masih ada kaitannya dengan Arogansi berbasis massa dijalan raya. Konvoi. Salah satu hal yang juga membuat saya gerah dan kadang-kadang jadi tukang gerutu. Demi apapun, saya membenci konvoi massal tanpa tujuan yang jelas. Tidakkah ada aturan tertentu yang mengatur perijinan mengumpulkan massa?

Coba lihat mereka, hanya dengan bermodal massa dan atribut kelompok, mereka turun kejalan, meneriakkan sirine dan memencet klakson membabi buta hanya untuk membuat para pengguna jalan diluar mereka menepi dan memberikan mereka ruang bak orang-orang yang amat sangat penting dan kita dengan segala urusan kita tidak penting. Mereka berkendara tanpa mematuhi rambu-rambu jalan, mereka banyak, mereka kuasa. Tidak hanya dilevel dewasa, bahkan anak-anak sekolahan pun sudah mengikuti cara ini, demi existensi semata. Apa yang bisa kita banggakan dari kelompok yang dengan terang-terangan menunjukkan arogansi seperti ini?

It's okay sih untuk turun kejalan beramai-ramai, tapi harus dengan rasa saling menghormati dengan pengendara lainnya dong. Apakah benar arak-arakan mereka itu sedemikian pentingnya untuk mendapatkan prioritas di Jalan raya. Bukankah untuk bisa turun kejalan harus memiliki ijin terlebih dahulu, dikawal forider bila perlu. Kenapa hal tersebut tidak diatur dengan amat sangat ketat, agar kita semua sadar bahwa hidup serba teratur itu menyenangkan dan tidak merugikan orang lain.

Setelah saya searching lebih jauh, memang mengenai konvoi massal sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1993. Dalam Pasal 65 ayat 1 disebutkan, pemakai jalan wajib mendahulukan sesuai urutan prioritas sebagai berikut:
  1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
  2. Ambulans yang mengangkut orang sakit 
  3. Kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas 
  4. Kendaraan Kepala Negara (Presiden dan Wakil Presiden) atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara
  5. Iring-iringan pengantar jenazah
  6. Konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat
  7. Kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.
Semua kendaraan tersebut di atas wajib didahulukan dalam berlalu lintas. Kendaraan yang mendapatkan prioritas tersebut, berdasarkan ayat 2 Pasal 65 PP diatas, harus disertai dengan pengawalan petugas yang berwenang atau dilengkapi dengan isyarat atau tanda-tanda lain. Dalam ayat 3 ditegaskan lagi, petugas yang berwenang melakukan pengamanan apabila mengetahui adanya pemakai jalan yang diprioritaskan tersebut. Dalam ayat 4 ditambahkan, perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu-lintas tentang isyarat berhenti tidak diberlakukan kepada kendaraan-kendaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 yang telah disebutkan diatas.

Polri-lah yang mempunyai wewenang pengawalan jalan, Polri bertugas melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan. Semua itu di lakukan demi kenyamanan kendaraan yang di kawalnya dan pengguna lain yang ada di sekitarnya.

Tapi kembali lagi, peserta konvoi harus tetap punya tata krama, tidak berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Dan meminimalisir penggunaan klakson yang memekikkan telinga. Konsekuensi untuk pengguna jalan lain atas adanya aturan tersebut adalah, memperlambat laju kendaraan dan memberikan jalan. Lalu, konsekuensi untuk pelaku konvoi tanpa pengawalan dan tidak mengantongi izin yang jelas yang nyatanya amat sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan apa dong? 

[Gowa,  Sept2016]

Jika saya adalah Presiden (1)

Judul diatas mungkin terdengar naif, sekedar berandai-andai tanpa ada selipan ambisi sedikitpun. Dan lagi, siapa juga yang mau repot-repot jadi Presiden? 

Well, berangkat dari perbincangan-perbincangan kecil antara saya dan pemikiran saya ketika melihat fenomena kota Makassar yang semakin hari semakin tak beraturan, jalanan yang sembrawut, manusia-manusia yang semakin hari pun semakin arogan, semakin semaunya, semakin “mau skali dibilang”, maka menurut saya dipandang perlu ada sedikit perhatian dari Presiden selaku pemangku jabatan dan kekuasaan tertinggi Negara yang dituangkan dalam peraturan tertulis yang diikuti dengan sanksi tegas atas pelanggarannya. Karena saya pribadi sudah amat sangat terlalu lelah dengan semuanya.
Hampir 2 tahun belakangan ini kemacetan mulai tak terbendung di Kota Makassar khususnya pada jam berangkat dan pulang kerja, saat weekend apalagi, TUMPAH. Apa pasal? Karena jumlah pertambahan kendaraan yang beredar di Kota Makassar tidak diiringi oleh perluasan/pelebaran Jalan.

Saat ini Industri otomotif sedang berjaya, semua dealer dari berbagai merek sedang gencar-gencarnya memproduksi Mobil dan Motor terbaru dengan harga yang cukup terjangkau. Hal ini sejalan dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik, sehingga mampu meningkatkan daya beli masyarakat pada barang-barang yang sifatnya complimentary-lux. Lupakanlah soal prestise/gengsi, nyatanya kepemilikan kendaraan bermotor ternyata mampu memberikan kenyamanan saat berada di Jalan raya yang tingkat stressnya mulai meninggi. Sementara disisi lain transportasi publik di Makassar tidak mampu memberikan apa yang dituntut oleh Masyarakat kelas menengah keatas.

Nah bayangkan saja, 2 atau 3 tahun kedepan. Jika daya beli masyarakat terus saja meningkat, target-target perusahaan dealer otomotif pun semakin menggila, ada supply and demand, sementara kondisi jalanan tidak juga di-dewasa-kan; tidak diperlebar atau di rancang sedemikian modern seperti misalnya kota Jakarta dengan jalan layangnya yang berlapis-lapis. Maka apa jadinya wajah kota Makassar? eh, by the way.. apa kabar yah soal penetapan PAJAK PROGGRESSIVE kemarin?

Belum lagi dengan kendaraan umum yang juga semakin banyak beredar. Pete-pete, becak, bentor, ojek, gojek, gocar, taxi, damri. Yang dimana sangat diketahui bahwa mereka punya rule sendiri-sendiri, amat sangat susah diatur dan ditaklukkan. Arogansi berbasis massa. Seharusnya pemerintah mengambil alih pe-recrutan sopir kendaraan umum, ya minimal ada standar Psikologi dan Emosi yang jelas untuk mereka biar tidak liar dijalan, koro-koroang, ugal-ugalan semaunya, tanpa mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan penumpang. Oh Allah, ampunilah saya yang tukang protes ini. Tapi kadang-kadang mereka memang brengsek. Coba saja menegur Petepete yang ugal-ugalan atau ngetam berjam-jam, pasti kita disuruh naik TAXI saja.

Hal lain, yang menyumbang kemacetan dijalan adalah Para penjaja barang dan Jasa di sepanjang bahu jalan maupun ditengah jalan. Semisal pedagang kaki lima yang seenaknya membangun kios, penjual-penjual yang menggunakan mobil parkir sebagai etalase, pedagang-pedagang dilampu merah jalan, dan pak Ogah yang entah semakin lama semakin membludak disetiap titiknya. Kembali lagi pada prinsip; Supply and Demand. Kenapa mereka tetap saja ada padahal tak sedikit orang yang mengeluhkan keberadaan mereka? Karena dihidup yang serba praktis ini jalan adalah lahan basah untuk menjajakan barang atau jasa yang mereka tawarkan, ada kok orang yang tetap protes tapi tetap memberikan receh ke pak Ogah, ada kok orang yang merasa terganggu dengan pedagang-pedagang pinggir jalan tapi kadang-kadang singgah juga membeli sesuatu karena kalau masuk pasar atau supermarket akan jauh lebih repot. Tidak mungkin ada pasar yang tetap survive jika pembelinya tidak ada. Semua masalah yang ada dijalanan saat ini benar-benar dari rakyat, untuk rakyat dan karena rakyat juga, sementara pemerintah terkait lamban menangani.

Saya tahu tidak mudah mengatur banyak hal yang melibatkan banyak orang dengan berbagai karakter didalamnya, tapi kalau itu sudah ditetapkan sebagai aturan baku, yang betul-betul diterapkan dan jelas sanksinya, cepat atau lambat semua orang akan menyesuaikan diri. Kalau di cermati lebih jauh, anak-anak di Jepang, Singapura, Hongkong dll.. itu tidak terlahir sedemikian kaku dan tahu aturan, tapi mereka dibiasakan untuk mentaati apa yang dilarang. Regulasinya jelas. Aturan itu mengandung edukasi, yang hanya perlu pembiasaan. Berulang-ulang, terus menerus. Sehingga menjadi karakter.

 /Gowa. 
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.