Ansbhaaibdihasbdhjasbdhiabsdhisad dbaJksbjabsjab jdahkzbaijasbjkaaebkjSbdjsbdjSbdjsbdjANDjk jangankan begitu begini dasas
09/07/2025
09/11/2024
Just update
Hai blog;
Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir menulis blog. Tidak ada lagi niatan hati untyk sekedar menumpahkan uneg uneg. My life going amazing. Tapi, jauh dalam hati masih ada rasa sepi yang entah apa obatnya. Saya sibuk menerjemahkan mau kemana jalan hidup aku ini, aku bersyukur atas semua berkat yang ada. Sangat bersyukur. Tapi tetap ada yang rasanya belum sempurna.
Masih dibersamai oleh seseorang yang mungkin tidak untuk aku.
HIKS.
Aku rindu sama diri aku yang polos dahulu kala itu, aku rindu sosok anak anak dalam diri aku pada masanya. Sekarang aku justru banyak menelan hal hal yang pahit karena perbuatan aku sendiri. Kecewa gak? Jelas dong... banyak melepaskan hubungan pertemanan, banyak melepaskan hubungan yang tidak semestinya terlepas. I loose my self deeply.
18/03/2021
Satu Tahun
Lagu yang sedari kemarin menemani kusut dikepala; bercerita tentang Rindu, Sesal dan Bapak. Tepat 1 tahun beliau berpulang, 18mar20-18mar21 #ALFATIHA
14/02/2021
First Trail
One fine day. Back to childhood-life. Dua kali terpeleset. Satu kali nyasar. Mandi hujan sepanjang track balik. Ditolong orang-orang baik. Berat but worthed; namanya juga pemula. I love my sunday to the bone, 💗
21/05/2020
Apa iya cinta harus memiliki?
Hai blog..
Lama tidak menulis tetiba saya ingin sedikit bercerita tentang relationship.
Jika ada yang bertanya kepadamu, “apakah cinta harus memiliki?”
Jawaban saya ada pada dua pilihan tergantung pada masanya. Lah, maksudnya gimana sih Syam? Hmm.. begini begini, jika pertanyaan itu dilontarkan kepada saya satu atau dua tahun yang lalu mungkin jawaban saya adalah BIG NO!! ya ngapain coba mencintai orang yang jelas-jelas tidak bisa kita miliki, tidak bisa kita raih. Wasting time. Membuang energi dan sangat sangat bodoh. Cinta itu timbal balik, lo jual gue beli.. kamu suka, aku apalagi. Terdengar amat sangat transaksional memang tapi itu benar benar logic sih, walaupun terkesan sangat egosentris. Tapi kan, bukannya cinta adalah bentuk pemuasan diri?!
Dan lalu jika pertanyaan itu disampaikan kepada saya disaat-saat sekarang, saya bisa menjawab dengan lantang.. BISA DONG!! Alasannya sederhana, cinta itu bukan transaksi perasaan, kenapa kita bisa mencintai seseorang itu karena adanya investasi-investasi perbuatan si-dia yang membuat kita nyaman hingga akhirnya kita memilih jatuh cinta. Ini keputusan sendiri lho, sadar atau tidak sadar. Paham sampai disini? In fact, terkadang kita tidak punya kuasa untuk memilih pada siapa kita akan jatuh cinta, yang kita bisa lakukan setelahnya adalah apakah kita akan menuruti ego kita untuk kemudian memaksakan diri memiliki si-dia. Ya kalau cinta kita mendapatkan balasan, Alhamdulillah. Jika tidak? Bagaimana?
Jalan satu-satunya adalah melepaskan saja perasaan itu, bukannya cinta itu adalah mainan orang dewasa? Orang-orang yang sudah tahu betul konsekuensi dari setiap pilihan-pilihan dalam hidupnya. Pada dasarnya tidak ada hal apapun yang akan berjalan dengan baik jika dipaksakan, yang terbaik adalah hidup dengan tidak begitu terpusat pada ke-akuan diri. Ya kalau kamu cinta, silahkan.. jika masih bisa diperjuangkan, ya dikejar. Kalau ternyata mentok, ya sudah. Dinikmati saja rasanya, toh hati tidak akan sebuntu itu kok.. akan selalu ada jalan untuk jatuh cinta lagi, hingga pada akhirnya menemukan muara yang didalamnya cintamu menemukan tempatnya. Pasangannya. Just make it simple guys. Tidak ada satupun orang diluar sana yang bertanggungjawab atas pergolakan rasa yang kamu alami, kalau kamu kadung baper.. ya kan kamu sendiri yang membuka ruang hatimu?!
Saya jadi punya gambaran baru bahwa jatuh cinta nowdays itu seperti investasi, dari awal kita sudah tau resiko dan keuntungannya. Tapi kembali lagi ke kita, si investor.. mau invest banyak atau dikit dikit dulu? kalau ditahap awal sudah lempar banyak modal dan berharap dapat keuntungan balik yang juga besar, yah.. **garuk-garuk kepala** Come on!!! Puas dan Kecewa adalah dua konsekuensi logis dari harapan.
Well perjalanan hati yang amat sangat kompleks yang saya lewati beberapa bulan belakangan ini membuat saya tidak lagi begitu demanding terhadap hal hal romance. Itulah yang membuat saya bisa merasa lebih bebas dalam mengekspresikan diri, mengekspresikan perasaan. Kalau dikit dikit bawa baper, bawa ego, bawa gengsi, ya.. akan susah. Walau saya perempuan, ketika saya memutuskan untuk mencintai, akan saya cintai, akan saya ungkapkan, saya tunjukan. Perkara dapat balasan atau tidak, itu urusan nanti. Jujur pada diri sendiri dan tau maunya diri sendiri itu jauh lebih penting sih.
Mungkin segitu dulu lah cerita saya tentang relationship, jujur saya merasa kok narasinya berantakan gini yah. Mungkin efek lama tidak menulis, sementara ide dikepala tumpah tumpah. Al hasil, kacau balau deh.. semoga yang baca paham yah. Haha. Terimakasih, 😊
-----
Pic Source : Pexels
30/03/2020
Istirahat, Pa..

Butuh beberapa waktu untuk pada akhirnya saya bisa menyelesaikan catatan ini, sebuah catatan tentang kehilangan.
"Yes, he appears and he disappears, like a sunrise or sunset. Anything so ephemeral, just like our life. We appear and we disappear.. and we are so important to some but we are just passing through.."
Kehilangan seseorang artinya akan ada banyak potongan-potongan ingatan. Tentang seorang pria yang tidak pernah mengatakan cintanya tapi sanggup memberikan seluruh apa yang dimilikinya. Tentang seorang pria yang begitu keras watak dan pendiriannya tapi mampu melembutkan hati setiap orang yang ada disisinya. Tentang seorang pria yang bahkan tidak pernah terlihat lelah bekerja bahkan hingga beliau harus mengistirahatkan diri karena jatuh sakit dan tak lagi berdaya.
Saya kehilangan pria itu, seorang pria yang sepanjang hidup saya panggil dengan sebutan Bapak. Saya amat sangat merindukan beliau saat ini, teringat begitu banyak hal yang telah kami lewati bersama, banyak suka, banyak duka.. pun ada beberapa pertengkaran didalamnya. Hidup kami tidak mudah, saya tumbuh dan besar ditengah keterbatasan ekonomi, tapi beliau bahkan memberikan banyak dari yang dimilikinya, bekerja lebih dari yang seharusnya hingga pada akhirnya kami bisa merasakan hidup yang jauh lebih baik dari waktu ke-waktu.
Tiga bulan lamanya mendampingi Bapak, mulai dari bugarnya hingga tak lagi ada kesadaran dalam setiap lakunya. Hati saya luka tatkala disetiap hari jum'at Bapak terpaksa melewatkan Shalat Jum'at berjamaah di Masjid, atau ketika saya harus menyaksikan Bapak melaksanakan shalat wajib berdiri - berganti duduk - lalu berbaring, hingga ketika terdengar Adzan kami hanya mampu mengingatkan Bapak kalau waktu shalat sudah masuk, kemudian beliau mengangguk dalam kondisi tidak begitu sadar.
Dan lalu, saya masuk pada episode hidup yang mengingatkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bapak meninggal tidak dalam pelukan atau pandangan saya, hanya melalui kabar, lalu saya menemukannya telah terbujur kaku dikelilingi banyak pasang mata yang berduka di ruang tamu rumah kami. Wajahnya begitu bersih, dan begitu tenang. Saya telah lebih dulu mengeluarkan banyak air mata sebelum hari ini tiba, saya telah lebih dulu banyak memeluk erat dan mencium Bapak sebelum hari ini tiba, saya telah banyak mengucapkan Maaf dan Rasa Terimakasih telah membersamai sepanjang 33-tahun hidup saya, pun jauh sebelum hari ini tiba. Tapi dada saya tetap sesak, ternyata semua itu belum cukup, saya masih ingin lebih, rasanya masih butuh waktu.. Saya terluka begitu dalam. Teringat dalam kesadaran yang begitu terbatas, dua hari sebelum Bapak meninggal.. melalui sambungan Video Call ketika saya mengabari bahwa saya telah sampai dirantau, bapak hanya menyampaikan satu kata; "terimakasih anak" Duh!
Menyaksikan Bapak dimandikan, dikafankan, ikut serta men-shalatkan, mendampingi upacara pelepasan secara militer lalu dimakamkan. Huft. Hati saya tidak pernah sepatah ini sebelumnya, tiba-tiba semua terasa begitu cepat..
Satu tahun lalu kita baru menghabiskan banyak hari di Masjid Nabawi dan Tanah haram hanya berdua saling jaga saling memberi perhatian. Lima tahun lalu kita sama-sama mencari tempat tinggal untuk saya dirantau karena akhirnya saya mendapatakan pekerjaan yang ternyata begitu membanggakanmu. Sepuluh tahun lalu, kita sama-sama mengunjungi Gedung Baruga di Unhas untuk menyaksikan wisuda pertama putrimu yang telah kau sekolahkan jauh lebih tinggi dari pendidikan yang telah kau tempuh, dimana mampumu-pun disangsikan oleh sebagian orang. Lima belas tahun lalu, ketika kali pertama kau mengantarkan saya pada pukul tiga dini hari menempuh satu jam perjalanan Cendrawasih-Perintis mengendarai motor tuamu untuk mengikuti Ospek kampus hari pertama yang begitu menyusahkan kita selama satu minggu penuh.
Dan begitu banyak potongan ingatan lainnya, yang membuat saya sadar bahwa.. saya tidak membutuhkan Bapak sebagaimana pandangan publik tentang sosok seorang Bapak/Ayah yang Hebat. Engkau, jauh lebih dari cukup untuk saya.. darimu saya belajar bahwa kesederhanaan itu jauh lebih istimewa dan mengesankan. Saya mendapatkan banyak previlege dalam hidup ini, tanpa dunia terlebih dahulu menanyakan siapa Bapak saya. I can stand on my own (two) feet, dad.. Seperti katamu, dunia itu akan selalu adil untuk orang-orang yang selalu berusaha dan bisa menjaga Shalat wajibnya - diawal waktu.
Istirahat, Pa.. doaku sekarang tidak banyak. Hanya semoga, suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali, bersama orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang sepanjang hidupmu kau perjuangkan segala bentuk kebaikannya. Pun semoga saya bisa menjadi Putri yang Solehah seperti inginmu, hingga segala amal kebaikan dunia yang sekiranya ada pada diri saya bisa menjadi kebaikan untukmu di Akhirat. Saya akan menjaga dan merawat dengan baik setiap potongan kenangan tentang kita, tentang keluarga kita. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘aafihi wa’ fu’anhu
------------------------------------------------------------------
Untuk yang terkasih Bapak (59th), meninggal rabu pagi 18 Maret 2020
I love you, unconditionally ♥
01/01/2020
HELLO 2020

Hai,
Senyum dulu.
Hari pertama tahun 2020. Alhamdulillah, wa syukurillah Allah masih kasih kesempatan untuk tetap bisa merasakan nikmat-Nya.
Well, seharian tadi niatnya beres-beres donk ya, apa apa diatur lagi, niatnya sih pen bongkar kamar, re-putting sekaligus mensortir barang-barang yang sekiranya sudah tidak layak pakai, atau yang sudah out of taste. Hehe. Saya kepingin buat kamar saya itu lebih lapang dengan mengurangi barang-barang yang use-less. Termasuk buku-buku yang sdh out-off genre buat saya.
Dan lalu, saya nemu buku diari HAPPY EXISTENCE dong, buku Diary saya jaman usia 20-an. Pas dibuka, beugh!!! Isinya memori semua, kebanyakan sih yang pait-pait, ya iyalah saya adalah manusia yang imajinasinya sangat liar ketika sedang dalam kondisi tersakiti, hehe.. malu sih bacanya, dulu saya selebay itu yak. Duh. Saya lupa sih beli dan punya buku ini kapan, tapi tulisan pertama itu tercatat ditanggal 13 Oktober 2011, dan saya mulai berhenti menulis itu di bulan Januari 2016. Lama juga saya make buku itu, 5 tahun. Masih banyak halaman kosong, sepertinya manggil-manggil buat diisi deh. Hehe, tadi sudah coba sih nulis-nulis lagi tapi tiba tiba kaku, dan sepertinya tangan saya lebih doyan buat ngetik. Haha. Makanya, belum juga selesai nulis, saya langsung buka laptop.. pindah aja deh.
Dan lalu, saya nemu buku diari HAPPY EXISTENCE dong, buku Diary saya jaman usia 20-an. Pas dibuka, beugh!!! Isinya memori semua, kebanyakan sih yang pait-pait, ya iyalah saya adalah manusia yang imajinasinya sangat liar ketika sedang dalam kondisi tersakiti, hehe.. malu sih bacanya, dulu saya selebay itu yak. Duh. Saya lupa sih beli dan punya buku ini kapan, tapi tulisan pertama itu tercatat ditanggal 13 Oktober 2011, dan saya mulai berhenti menulis itu di bulan Januari 2016. Lama juga saya make buku itu, 5 tahun. Masih banyak halaman kosong, sepertinya manggil-manggil buat diisi deh. Hehe, tadi sudah coba sih nulis-nulis lagi tapi tiba tiba kaku, dan sepertinya tangan saya lebih doyan buat ngetik. Haha. Makanya, belum juga selesai nulis, saya langsung buka laptop.. pindah aja deh.
Mungkin ini bukan resolusi yah, karena khusus ditahun 2020 ini saya gak ada yang namanya resolusi-resolusi, saya pembelajar, gak musti pergantian tahun yang menjadi trigger saya untuk berubah ini itu, masang target ini itu, ya I'ii do it when I needed, everytime.. not must be at the beginning of the year. Kembali ke topik, tentang hal yang bukan resolusi tapi memang sekarang saya butuh amat sangat untuk ber-meditasi lewat tulisan. Maunya sih, kalau bisa setiap hari kembali rutin nulis. Ya gapapa sebaris dua baris, asal toxic yang ada dalam pikiran bisa kebuang. Yang hari ini ya selesaikan hari ini, lalu tidur, bangun bangun ya bener-bener a new day..
Ntah kapan dimulainya, saya ngerasa sekarang tuh saya jauh lebih bawel, lebih cerewet. Setiap hari mau ngomong aja, ini itu, mungkin karena saya juga kecanduan Podcast ya, jadi dikepala tuh materi muter-muter, mikirin ini mikirin itu, hasil pikirannya pengen aja di keluarkan gitu. Ya mau buat podcast juga, haha.. kayaknya belum pantas deh. Suara saya burukkk!!! Dan lagi, kalau cuman buat karena ingin ingin doang mah, buat apa.. ntar juga hilang. Saya kan manusia maha pembosan. Hehe. Ya kecuali nulis kek gini, saya taulah.. ini sudah jadi hal sangat menyenangkan buat saya, sometimes being my healing. So.. I will do it, when I wanna do it. I love writing, not for people.. but for my self.
Akhir kata, happy writing for my self
Then.. happy reading for you gaes. Yakali masih ada yang baca. Haha.
25/01/2019
Cerita Awal Tahun
Hi, 2019..Thankyou for being so hard at the beginning
Well, ini baru permulaan ditahun 2019, dan sejauh ini sepertinya saya harus menarik nafas panjang-panjang, berulang-ulang. Huft. Begitu banyak cerita yang sepertinya sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mungkin tidak begitu mendetail, tapi saya akan coba menuliskan se-sederhananya saja;
21/11/2018
What i searching for?
Kalian tahu apa yang paling menyenangkan dari ngeblog?
Menemukan banyak cerita sederhana yang berasal dari
kehidupan orang-orang yang juga sederhana. Saya perlu itu; untuk memperkaya isi
kepala, pemahaman dan bisa jadi mempengaruhi bagaimana semestinya saya bersikap.
20/11/2018
A question about "Why?"
Hi, blog..
Aku baru sebenar-benarnya sadar kalau tahun ini aku amat sangat tidak produktif didunia literasi; buku yang aku baca cuman berapa biji, belum lagi tulisan yang aku publish di blog cuman satu. Sebenarnya di draft sih ada beberapa tulisan yang sebelumnya sudah pernah publish, tapi setelah aku timbang-timbang kembali mungkin lebih baik memang untuk tidak di publish.. too personally i think.
21/07/2018
Re-Setting
Entah kenapa ya kalau saya sedang feeling gloomy, feeling bad, down or feel something i can't handle jatoh-jatohnya buka laptop, ketik ketik ba bi bu di blog, rasanya itu ya nyamannn aja.. Aktifitas ini sudah puluhan kali berulang, ya sayalah manusia paling gampang berubah suasana hatinya dimuka bumi ini tapi tidak semua permasalahan membuat saya ingin cerita, ingin menulis. Hanya pada beberapa kasus saja, yang saya lewati mungkin lebih drama, lebih banjir air mata, lebih banyak ngerengek sama Allah, terus pas sudah nulis pun bingunglah saya mau nulis apa. Errrgh.
23/06/2018
Yang katanya, Better life ?!
Beberapa waktu lalu, tanpa
sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama dalam mobil Travel yang membawa
kami dari Pinrang menuju Makassar. Kami dulu pernah sekelas saat SMA, lalu
waktu kuliah kami ada di Fakultas yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda.
We not too intimated Friend, but we talk almost 3-hours.. hampir sepanjang
perjalanan antar kabupaten kami ngobrol random.
Dari obrolan kami, saya bisa
menarik kesimpulan bahwa Kemasan itu tak melulu sama dengan isi dalamnya.
Sederhananya seperti ini, teman saya itu dulunya adalah termasuk anak sekolahan
yang punya geng-hedon, geng orang kayah, dan sangat eksklusif disekolah. Dan
lalu, saat kuliah tak begitu berubah.. Setiap orang akan saling tarik menarik
dengan orang lain yang identik dengannya, kembali saya melihat dia ada dalam
kelompok orang-orang eksklusif. Selesai kuliah bekerja di Bank BUMN yang cukup
bergengsi dan lalu menikah dengan orang Bank juga. Seperti itulah dunianya
berjalan, hingga dikaruniai 2 orang anak. She
still being an independent woman with
a high taste, semuanya menjadi lebih sempurna setelah memiliki penghasilan
sendiri selama kurun waktu 8 tahun.
"Dalam waktu dekat saya mau
mengajukan re-sign, Syam"
"Oh ya?"
"Why?"
Saya pribadi sedikit terkejut
mendengar keputusannya itu. Dia lalu bercerita, tentang bagaimana beratnya
menjalani kehidupan ber-keluarga yang tidak utuh dalam satu atap. Suami
bertugas di pulau seberang, dirinya sendiri bertugas di Pinrang sementara kedua
anaknya dititipkan di neneknya di Makassar. What a life. Melihat bagaimana dia
menjalani masa lalunya, saya jelas terkejut dong. Se independent dan se
hingar-bingar apapun kehidupan seorang wanita/pria dimasa mudanya, ketika
mereka sudah berumah tangga dan memiliki anak, semuanya akan berubah. Hidup
punya tujuan, punya prioritas yang terus berganti. Saya cukup kagum dengan cara
fikirnya, hati saya meng-hangat mendengar alasan demi alasan yang coba
disampaikannya. Keluarga adalah hal paling berharga yang dikasih Allah untuk
manusia, dan ya.. Kita manusia, sebisa mungkin setiap yang berharga harus di
jaga dengan sempurna.
Lalu saya teringat dengan cerita
Mamak saya, tentang beberapa keluarga kami yang rela meninggalkan keluarganya
untuk merantau ke negeri seberang untuk penghidupan yang menurut mereka
"mungkin" akan jadi lebih baik. Tanpa bekal bahasa dan pengetahuan
yang cukup, tanpa skill. Dan yang seperti ini semakin marak dan semakin popular.
Pasalnya di kampung sana, semua perantau yang telah lebih dulu pergi bertahun-tahun
akhirnya kembali dengan membawa hasil yang sangat memuaskan. Kemudian membangun/merenovasi
rumah, membeli mobil, dan membagi-bagi THR ke keluarga dan tetangga. What a successful person, they might be
think.. That’s why, jika saatnya mereka harus kembali ke perantauan, tak
jarang ada satu sampai tiga orang lagi yang ingin ikut serta merantau mencari
peruntungan serupa.
Sumi/Istri, meninggalkan pasangan dan anaknya;Orang Tua meninggalkan anaknya yang masih sangat kecil;Anak meninggalkan Orang Tuanya yang mulai sepuh;
Saya sedih melihat betapa manusia harus berkorban
sedemikian rupa untuk hidup. Seolah dinegara sendiri sudah tak ada tempat. Seolah
nantinya waktu yang mereka punya akan panjang untuk dihabiskan bersama
orang-orang yang seharusnya mereka cintai. I
know, hidup adalah pilihan.. tapi waktu tidak bisa menunggu kita sukses
dulu untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Tak jarang ada
yang kembali dengan tangan hampa, beberapa justru kena tipu – rugi besar, Oh
God.. sungguh tidak ada jalan pintas untuk hidup sukses, untuk hidup enak dan
itu yang banyak dilupakan oleh orang-orang. Selama kita terus berjuang, berusaha..
dimanapun kita berada, hidup akan pelan-pelan melunak. Saya masih sangat
percaya bahwa tanpa campur tangan selera/gengsi, KEBUTUHAN hidup tidak pernah
benar-benar mencekik manusia.
Dan lagi, manusia harus paham takaran rejeki tiap orang itu
beda. Tidak ada yang sama, even mereka melalui cara yang sama dan pada waktu
yang sama.
31/12/2017
2017 on my pocket
Menjelang akhir tahun ini saya
sebenarnya merasa begitu sedih, tapi tak sampai membuat saya menangis. Saya mengingat
begitu kerasnya perjuangan hidup seorang kawan baik saya dirantau sana,
bagaimana dia bisa bertahan dengan segala harap dan mimpi-mimpi yang selalu
saja dihempaskan oleh kenyataan. Yang seperti ini yang kadang membuat kepala
saya menjadi sakit akibat terlalu banyak memikirkan apa dan kenapa, padahal
saya punya ilmu yang membenarkan bahwa segala apa yang terjadi dalam hidup ini
sudah tentu ada campur tangan Allah didalamnya. Tapi, saya masih terus saja berfikir
dengan perasaan gundah, seperti ada yang menganga jauh dalam lubuk hati.
Saya bertanya pada diri saya sendiri, kalau sudah seperti ini kamu bisa apa Syam?
Saya hanya bisa terluka, dan lalu kembali melanjutkan hidup..
Memiliki hubungan emosional yang
kuat dengan banyak orang dalam hidup membuat kita rentan terluka memang, sama
seperti kita menitipkan sepotong hati pada orang lain untuk mereka rawat
baik-baik.. dan ketika mereka terluka maka terasa pulalah luka itu. Akh. Saya benci
sebenarnya menjadi orang yang seperti ini, terlalu perasa, tapi disisi lain
saya betul bahagia.. bisa menjadi orang yang berguna dan berkontribusi dalam
kehidupan orang lain. Disaat saya ikhlas merasakan bahagia, itu artinya saya
pun harus ikhlas merasakan sedih, kecewa, dan segala rasa yang ada didalamnya.
Entah apa maksud Allah
mendekatkan saya padanya, menyaksikan dan merasakan beberapa lapis luka yang
terjadi silih berganti dalam hidupnya. Semakin dekat saya dengan dirinya
semakin saya merasakan how blessed I am
ya Allah.. sedih saya, luka saya, tidak ada apa-apa rupanya. Saya hanya
perlu untuk terus bersyukur, bersyukur dan bersyukur.. kemudian bertekad menjadi
orang yang selalu bisa menjadi penyembuh luka bagi orang-orang terdekat saya. Itu
saja.
***
Huft. 2017 so tought for me. Beratttt
bokk. Utamanya menghadapi emosi saya sendiri melewati masa-masa; naik turunnya
mood, pekerjaan yang kian menumpuk, idealisme yang dipaksa susut, sahabat-sahabat
yang mulai irit waktu bertemu, gagal beasiswa, dan beberapa hal yang saya sudah
mulai lupa detail kejadiaannya tapi cukup membuat saya banyak berfikir, banyak
nangis, juga banyak ketawa. Everythings passed
by time. Dan pada akhirnya banyak merubah cara pandang saya tentang
bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Itulah barangkali kenapa kita harus
terus belajar, karena ilmu dan pengetahuan akan membuat kita lebih fleksibel. Lebih
lunak. Tidak semua kejadian buruk akan serta merta membuat kita menjadi hancur,
berkeping keping.
2018 didepan mata, harapan saya
sederhana saja.. menjadi lebih baik dalam segala aspek. Spiritual utamanya,
saya betul-betul keteteran setahun belakangan ini. Semoga lebih khusyuk dan lebih
konsisten lagi. Dan tentang mimpi saya untuk bisa menjadi PAHLAWAN BERTOPENG
akan terus bersemayam dalam dada, semakin kuat, semakin membara. Bismillah.
24/08/2017
A short trip to Lombok
Sudah lama saya menghapus travelling dari buckcet list "hal-hal yang membuat bahagia" versi saya. Alasannya banyak, terlebih lagi saat ini saya memandang bahwa salah satu cara menghemat pengeluaran adalah dengan jauh-jauh dari hobi yang memang membutuhkan modal besar. Tapi, disinilah saya pada akhirnya terbang ke Lombok, menghabiskan waktu di Gili Trawangan bersama teman-teman terbaik saya di tanah Rantau.
16/07/2017
Men are from mars Women are from venus
"when men and women are able to respect and accept their differences then love has a chance to blossom"
― John Gray, Men Are from Mars Women Are from Venus
10/07/2017
What a mess!
Bulan juli tiba, itu artinya
kerja ekstra untuk semua teman-teman keuangan di-instansi manapun mereka
berada. Sinkronisasi Laporan Keuangan Semester I, sebagai bentuk pertanggung
jawaban kegiatan selama bulan 01 s/d 06 2017. Lembur sehabis libur, sounds ZONK sekali yah. Haha. Saya sudah
melewati 5 kali kegiatan sinkronisasi, didua kantor yang berbeda. Rasanya ya
sama saja sih, bolak balik rekon, bikin laporan, lembur, semua demi apa? Ya demi
penghasilan yang halalan dan toyyiban.. Negara sudah kasih gaji, sudah kasih
makan dan tugas saya adalah mengabdi dan memberikan performa yang terbaik.
Shedaap!
Untuk sinkronisasi semester I ditahun anggaran 2017 ini, saya kedatangan tamu istimewa dari Bone. Awalnya kita cuman tukar-tukar ilmu dan informasi via phone, tapi karena volume pekerjaan begitu besar sementara tenggat waktu yang diberikan amat sangat singkat, maka tercetuslah keinginannya untuk datang ke Pinrang dan kita kerjakan semua permintaan data dari pusat sama-sama. Perbaiki data sama-sama, bagaimanapun kedepannya saya dan dia adalah penanggung jawab level pelaksana atas segala kegiatan yang berkaitan dengan jabatan baru yang kami sama-sama emban dari kantor masing-masing, belum lama ini.
Dari yang awalnya cuman mau datang berkunjung, malah menginap, yang tadinya mau nginap hanya 1 malam, jadinya 3 malam 4 hari. Hoho. Super sekali teman saya ini, dia betul-betul mengerjakan tugasnya dengan baik dan tanpa menuntut orang lain perduli apa tidak. Kalau saya sendiri, tetap meminta bantuan dari Pak Bendahara dan Ibu Boss karena merasa bahwa pekerjaan ini bukan tunggal tanggung jawab saya sendiri, walaupun secara structural ada dibawah naungan pekerjaan saya. Tapi namanya kerja team, tidak ada orang yang mampu berdiri sendiri. Disinilah kita berproses, untuk berguna bagi orang lain dan bagaimana orang lain pun berguna buat kita. Lagi pula, honor juga sama-sama dinikmati kan yah, masa giliran kerja maunya lepas tangan. Kan, bangsat!
Saya punya mimpi, bahwa suatu
hari nanti pandangan miring orang-orang tentang kinerja buruk PNS itu adalah
salah besar. Minimal pandangan saya sendiri dulu-lah yang diluruskan,
ternyata.. PNS itu tidak selamanya kerja kosong. Saya kadang lelah kakak, sama
pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. But, I’m happy enough kok.
Smile!😄
30/06/2017
Birthdate 31-Yo!
Esok kan masih ada, lagu lawas
milik Uta Likumahua sedang live dinyanyikan oleh penyanyi dari atas panggung,
bersamaan dengan cerita yang tidak ada putus-putusnya yang saya dan sahabat saya Ratih bagikan dalam
Birthdate dinner kami malam ini di Cafe Chopper Jl. Kasuari, Makassar. Entah
kenapa lagu-lagu yang dinyanyikan oleh dua penyanyi secara bergantian sepanjang
sesi curhat, merupakan list lagu-lagu lawas favorit saya. That's why, saya
begitu menikmati malam ini sembari menikmati green tea jasmine dan ice cream
double scoope.
Birthdate adalah perayaan tahunan ala
kami yang diselenggarakan pada tanggal 29 juni, untuk mengingat tanggal kelahiran saya
ditanggal 27 Juni dan Ratih ditanggal 28 Juni. Cerita ini bermula dari Jogja,
ditahun 2012. Waktu itu kami sedang mengambil cuti dikantor masing-masing, dan
lalu berinisiatif mengelilingi Jogja-Malang-Surabaya dalam waktu seminggu,
tepat pada hari-hari dimana tanggal kelahiran kami berulang. Dan lalu, kami
menyebutnya Birthdaytrip. Lalu tahun berikutnya berlanjut di Bogor, tahun
berikutnya hanya di Makassar, berikutnya lagi tetap di Makassar dan sampai
malam ini kami masih di Makassar. Dengan satu pandangan yang sama, bahwa
bahagia itu tidak musti dihampiri dengan hal-hal yang terdengar dan terlihat WAH! Dan lagi, diusia yang dimana seharusnya kami memiliki pemikiran matang ini, kami mulai berfikir tentang manajemen keuangan level financial planner. Hoho. Hura-hura itu bukan kebutuhan pokok, penting mungkin untuk kesehatan jiwa tapi sifatya tidak mendesak. Jadi bisa di-skip. I'll tell you later bout this-lah ya.

If you need someone to believe, make it sure that is Me [Home Alone-2]
Inilah cara kami mengapresiasi hidup
yang telah diberikan Allah. Untuk semua hal-hal baik yang telah terjadi dan akan
terjadi. Tanpa cake tanpa tiup lilin, bahkan tanpa ucapan selamat ulang
tahun satu sama lain. Everythings naturally. Bertemu, bertukar kado, bertukar doa: berharap semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan keberkahan yang tidak putus-putusnya, dan semoga Allah menjadikan kami manusia penghantar bahagia untuk orang-orang yang kami sayangi. Aamiin.
Happy belated birthday my bestie, and me 💛
29/06/2017
Belanja Tanaman
Uceng menghubungi saya via BBM,
mengajak untuk sama-sama berburu kaktus diseputaran wilayah Makassar. Awalnya saya
heran, setelah hampir 3-tahun tidak pernah bertemu dan bertukar kabar tiba-tiba
kami akan bertemu dan berburu kaktus. Kecuali bahwa mungkin dia menemukan
banyak jejak love dan komentar dari
akun instagram saya di akun-akun instagram pecinta/penjual kaktus.
27/06/2017
31, tanpa 30.
Saya masih
ingat hari dimana saya menuliskan catatan ini, pun dengan bagaimana perasaan saya saat itu..
31/05/2017
Introduce my new gun; Canon EOS M3
Ternyata saya butuh 3 tahun 1 bulan untuk menunaikan
keinginan saya untuk memiliki kamera mirorrless seperti yang telah saya tuliskan di-Postingan ini. Fiuh. Tapi, seperti yang saya
percaya dan yakini semua hal yang kejadian dan tidak kejadian itu dirancang
sama Allah, sang pemilik skenario kehidupan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.





