Powered by Blogger.

2017 on my pocket


Menjelang akhir tahun ini saya sebenarnya merasa begitu sedih, tapi tak sampai membuat saya menangis. Saya mengingat begitu kerasnya perjuangan hidup seorang kawan baik saya dirantau sana, bagaimana dia bisa bertahan dengan segala harap dan mimpi-mimpi yang selalu saja dihempaskan oleh kenyataan. Yang seperti ini yang kadang membuat kepala saya menjadi sakit akibat terlalu banyak memikirkan apa dan kenapa, padahal saya punya ilmu yang membenarkan bahwa segala apa yang terjadi dalam hidup ini sudah tentu ada campur tangan Allah didalamnya. Tapi, saya masih terus saja berfikir dengan perasaan gundah, seperti ada yang menganga jauh dalam lubuk hati.

Saya bertanya pada diri saya sendiri, kalau sudah seperti ini kamu bisa apa Syam?           
Saya hanya bisa terluka, dan lalu kembali melanjutkan hidup..

Memiliki hubungan emosional yang kuat dengan banyak orang dalam hidup membuat kita rentan terluka memang, sama seperti kita menitipkan sepotong hati pada orang lain untuk mereka rawat baik-baik.. dan ketika mereka terluka maka terasa pulalah luka itu. Akh. Saya benci sebenarnya menjadi orang yang seperti ini, terlalu perasa, tapi disisi lain saya betul bahagia.. bisa menjadi orang yang berguna dan berkontribusi dalam kehidupan orang lain. Disaat saya ikhlas merasakan bahagia, itu artinya saya pun harus ikhlas merasakan sedih, kecewa, dan segala rasa yang ada didalamnya.

Entah apa maksud Allah mendekatkan saya padanya, menyaksikan dan merasakan beberapa lapis luka yang terjadi silih berganti dalam hidupnya. Semakin dekat saya dengan dirinya semakin saya merasakan how blessed I am ya Allah.. sedih saya, luka saya, tidak ada apa-apa rupanya. Saya hanya perlu untuk terus bersyukur, bersyukur dan bersyukur.. kemudian bertekad menjadi orang yang selalu bisa menjadi penyembuh luka bagi orang-orang terdekat saya. Itu saja.

***

Huft. 2017 so tought for me. Beratttt bokk. Utamanya menghadapi emosi saya sendiri melewati masa-masa; naik turunnya mood, pekerjaan yang kian menumpuk, idealisme yang dipaksa susut, sahabat-sahabat yang mulai irit waktu bertemu, gagal beasiswa, dan beberapa hal yang saya sudah mulai lupa detail kejadiaannya tapi cukup membuat saya banyak berfikir, banyak nangis, juga banyak ketawa. Everythings passed by time. Dan pada akhirnya banyak merubah cara pandang saya tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Itulah barangkali kenapa kita harus terus belajar, karena ilmu dan pengetahuan akan membuat kita lebih fleksibel. Lebih lunak. Tidak semua kejadian buruk akan serta merta membuat kita menjadi hancur, berkeping keping.

2018 didepan mata, harapan saya sederhana saja.. menjadi lebih baik dalam segala aspek. Spiritual utamanya, saya betul-betul keteteran setahun belakangan ini. Semoga lebih khusyuk dan lebih konsisten lagi. Dan tentang mimpi saya untuk bisa menjadi PAHLAWAN BERTOPENG akan terus bersemayam dalam dada, semakin kuat, semakin membara. Bismillah.

1 comment

  1. semangatki yeeek.
    kadang Tuhan maunya qt belajar dri "kisah" orang lain.
    aamiin untuk smua harapannya buk

    ReplyDelete