Powered by Blogger.

A short trip to Lombok


Sudah lama saya menghapus travelling dari buckcet list "hal-hal yang membuat bahagia" versi saya. Alasannya banyak, terlebih lagi saat ini saya memandang bahwa salah satu cara menghemat pengeluaran adalah dengan jauh-jauh dari hobi yang memang membutuhkan modal besar. Tapi, disinilah saya pada akhirnya terbang ke Lombok, menghabiskan waktu di Gili Trawangan bersama teman-teman terbaik saya di tanah Rantau.

Sewaktu masih berkeliling di wilayah Mataram saya melihat Lombok tidaklah begitu jauh berbeda dari kabupaten di Sulawesi selatan. Tenang, tidak begitu crowded. Tapi yang memanjakan mata adalah masih banyak hal-hal yang sifatnya sangat tradisional yang justru dimana-mana sudah mulai susah ditemukan, semisal keberadaan delman/bendi (kendaraan umum bertenaga kuda), antusiasme warga menghadiri upacara dan ritual kedaerahan dengan menggunakan baju adat. Secara kasat mata, penampilan sebagian orang disini masih begitu sederhana dan bersahaja. Dan lalu semua berubah sesaat kami menepi di Pulau Gili Trawangan setelah sailing kurang lebih 30 menit menggunakan fast-boat.

Gili Trawangan

Sebelum sampai ditempat penyeberangan menuju Giltraw, kami melewati jalan berkelok di Senggigi. Dari ketinggian kita bisa melihat bentangan laut luas yang begitu memanjakan mata, cantik sekali. Hanya saja kami tak punya banyak waktu untuk singgah dan menikmati indahnya pantai dari ketinggian, tapi saya bisa bilang mulai dari sini, lombok itu punya pantai yang JUARA!


Hopping 3 Gili

Matahari belum begitu terik ketika kami akhirnya tiba di Gili Trawangan, kami disambut oleh pasir putih yang begitu lembut dan pemandangan yang berubah kontras. Mataram yang begitu tenang Vs. Gili trawangan yang begitu penuh dengan berbagai aktivitas untuk memanjakan diri, wajah-wajah multikultural. International taste! Saya terperangah diawalnya, dan jatuh cinta pada akhirnya. Dalam hati saya berbisik, I'll be back here. Dan lalu kami pun melebur dengan keriuhan pulau kecil ini, berjalan kaki menyusuri jalan utama sembari mencari penginapan untuk semalam.

Baru saja selesai check-in kamar, kami diajak oleh penjaga penginapan untuk ikut kegiatan snorkeling diseputaran 3 Gili yang saling berdekatan. Tak begitu jauh dari gili trawangan terdapat Gili Meno dan Gili Air yang juga menjadi destinasi favorit para wisatawan, hanya saja dua Gili lainnya itu tidak seramai Gili Trawangan. Kebetulannya memang kapal yang akan digunakan sudah waktunya berangkat. Hanya dengan membayar Rp. 90.000,-/pack sudah termasuk didalamnya penyewaan alat snorkeling dan live jacket


Melihat angin dan arus yang lumayan deras, saya memilih untuk tidak ikut snorkeling. Tapi saya amat sangat menikmati setiap detik waktu terombang-ambing diatas kapal sendirian menunggu mereka-mereka yang turun menikmati pemandangan bawah laut. Mereka yang menjadi pemandangan buat saya sendiri, baru kali ini saya melihat kegiatan snorkling massal seperti ini. Bayangkan saja, untuk kapal yang saya tumpangi saja berisi sekitar 30-40an orang, sementara kapal yang sedang berlayar membawa wisatawan tidak hanya satu, dua atau tiga. Banyak!

Sunset Gili Trawangan

Salah satu view yang tidak akan saya lewatkan tatkala berkunjung kesuatu tempat adalah Sunrise/Sunset, and lucky me.. sehabis shalat ashar saya dan teman saya memutuskan bersepeda berkeliling pulau Giltraw. Saya memulai dengan menuju menelusuri ke arah Barat, semakin ke sana pemandangan yang disajikan semakin terasa privat dan tentu mahal adanya, yang mendominasi pun adalah orang-orang "bule", dan lalu kami memutuskan untuk menikmati matahari tenggelam di-Sunset Bar Cafe, menikmati angin senja. Hingga lepas magrib, saya memutuskan tiduran depan pantai sambil menikmati kelapa muda dan ditemani dua teman lainnya. Tanpa harus berpasangan, suasana yang diciptakan bisa begitu romantis dan memanjakan diri. Saya jelas suka sekali.


Makan malam di Pasar seni Gili Trawangan

Saya bilang ke teman saya, gak usah makan di cafe, kita makan di Pasar Seni saja. Dari literatur yang saya baca, di Giltraw pada malam hari terdapat pasar seni yang menyajikan berbagai macam jenis kuliner dengan harga yang cukup terjangkau. Saya jelas penasaran dong, dan (masih) menggunakan sepeda kami menuju pasar seni dan memesan makanan yang membuat kami kebingungan. Kenapa bingung? Karena makanan disajikan secara prasmanan, dan sudah dipatok harga Rp.20.000,-/Porsi dengan catatan boleh memilih 5-jenis dari apa yang disajikan oleh si penjual. Sudah termasuk nasi didalamnya. Jika ingin mencoba sate seafood, cukup menambahkan Rp. 20.000,-/Tusuk. So Pricey guys. Tapi sumpah ya, makanan di Lombok itu asli uenaaaaaaak. 


Sarapan tepi pantai



See you soon Gili Trawangan



Desa Sade dan Tanjung Aan



xxx


Sejauh ini, pada sekali kunjungan, yang terbaik dari lombok adalah Gili Trawangan. Walaupun banyak dari mereka yang bilang bahwa Giltraw sudah tidak seindah dulu, tapi bagi saya yang tidak punya bahan perbandingan masih menganggap bahwa Gili Trawangan adalah tempat yang paling Istimewa. Pulau kecil yang tidak pernah tidur. Saya selalu suka berada dalam keramaian yang dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Do whatever you wanna do. Just be you!


I'll be back soon!




(Postingan ini masih dalam proses editing, berhubung mood penulisnya lagi susah bwat nulis panjang-panjang. Haha)

2 comments

  1. Caaaam, kangen uy.
    Dan aku nggak kesampean ksitu. Belum pernah ๐Ÿ˜† may banget.
    Apa itu sarapan tepi pantai, mewaah ya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. halow ucil, semoga besokbesok bisa kesampaian yah. itu serius indah loh :)

      Delete