23/06/2018

Yang katanya, Better life ?!


Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama dalam mobil Travel yang membawa kami dari Pinrang menuju Makassar. Kami dulu pernah sekelas saat SMA, lalu waktu kuliah kami ada di Fakultas yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda. We not too intimated Friend, but we talk almost 3-hours.. hampir sepanjang perjalanan antar kabupaten kami ngobrol random.


Dari obrolan kami, saya bisa menarik kesimpulan bahwa Kemasan itu tak melulu sama dengan isi dalamnya. Sederhananya seperti ini, teman saya itu dulunya adalah termasuk anak sekolahan yang punya geng-hedon, geng orang kayah, dan sangat eksklusif disekolah. Dan lalu, saat kuliah tak begitu berubah.. Setiap orang akan saling tarik menarik dengan orang lain yang identik dengannya, kembali saya melihat dia ada dalam kelompok orang-orang eksklusif. Selesai kuliah bekerja di Bank BUMN yang cukup bergengsi dan lalu menikah dengan orang Bank juga. Seperti itulah dunianya berjalan, hingga dikaruniai 2 orang anak. She still being an independent woman with a high taste, semuanya menjadi lebih sempurna setelah memiliki penghasilan sendiri selama kurun waktu 8 tahun.

"Dalam waktu dekat saya mau mengajukan re-sign, Syam"
"Oh ya?"
"Why?"

Saya pribadi sedikit terkejut mendengar keputusannya itu. Dia lalu bercerita, tentang bagaimana beratnya menjalani kehidupan ber-keluarga yang tidak utuh dalam satu atap. Suami bertugas di pulau seberang, dirinya sendiri bertugas di Pinrang sementara kedua anaknya dititipkan di neneknya di Makassar. What a life. Melihat bagaimana dia menjalani masa lalunya, saya jelas terkejut dong. Se independent dan se hingar-bingar apapun kehidupan seorang wanita/pria dimasa mudanya, ketika mereka sudah berumah tangga dan memiliki anak, semuanya akan berubah. Hidup punya tujuan, punya prioritas yang terus berganti. Saya cukup kagum dengan cara fikirnya, hati saya meng-hangat mendengar alasan demi alasan yang coba disampaikannya. Keluarga adalah hal paling berharga yang dikasih Allah untuk manusia, dan ya.. Kita manusia, sebisa mungkin setiap yang berharga harus di jaga dengan sempurna.

Lalu saya teringat dengan cerita Mamak saya, tentang beberapa keluarga kami yang rela meninggalkan keluarganya untuk merantau ke negeri seberang untuk penghidupan yang menurut mereka "mungkin" akan jadi lebih baik. Tanpa bekal bahasa dan pengetahuan yang cukup, tanpa skill. Dan yang seperti ini semakin marak dan semakin popular. Pasalnya di kampung sana, semua perantau yang telah lebih dulu pergi bertahun-tahun akhirnya kembali dengan membawa hasil yang sangat memuaskan. Kemudian membangun/merenovasi rumah, membeli mobil, dan membagi-bagi THR ke keluarga dan tetangga. What a successful person, they might be think.. That’s why, jika saatnya mereka harus kembali ke perantauan, tak jarang ada satu sampai tiga orang lagi yang ingin ikut serta merantau mencari peruntungan serupa.

Sumi/Istri, meninggalkan pasangan dan anaknya;
Orang Tua meninggalkan anaknya yang masih sangat kecil;
Anak meninggalkan Orang Tuanya yang mulai sepuh;
Saya sedih melihat betapa manusia harus berkorban sedemikian rupa untuk hidup. Seolah dinegara sendiri sudah tak ada tempat. Seolah nantinya waktu yang mereka punya akan panjang untuk dihabiskan bersama orang-orang yang seharusnya mereka cintai. I know, hidup adalah pilihan.. tapi waktu tidak bisa menunggu kita sukses dulu untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Tak jarang ada yang kembali dengan tangan hampa, beberapa justru kena tipu – rugi besar, Oh God.. sungguh tidak ada jalan pintas untuk hidup sukses, untuk hidup enak dan itu yang banyak dilupakan oleh orang-orang. Selama kita terus berjuang, berusaha.. dimanapun kita berada, hidup akan pelan-pelan melunak. Saya masih sangat percaya bahwa tanpa campur tangan selera/gengsi, KEBUTUHAN hidup tidak pernah benar-benar mencekik manusia.

Dan lagi, manusia harus paham takaran rejeki tiap orang itu beda. Tidak ada yang sama, even mereka melalui cara yang sama dan pada waktu yang sama. 

4 comments:

  1. Karena biaya hidup adlh fixed cost, sedangkan gaya hidup adlh variable cost yang tidak terhingga :D

    ReplyDelete
  2. Kak, adem banget bacanya. Aku termasuk yang punya risiko bakal punya kemungkinan LDM. Sometimes, aku pikir aku kelak bakal kuat. Tetapi dari pengalaman yang sudah lewat, ternyata kadangkala aku ga sekuat itu.

    Semoga Allah selalu kasih aku kemudahan dan kekuatan.

    Thanks sharing hangatnya Kak Syam 😍

    ReplyDelete
  3. Saya...
    Nano Nano modelnya.

    ReplyDelete

< > Home
Powered by Blogger.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.