Beberapa waktu lalu, tanpa
sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama dalam mobil Travel yang membawa
kami dari Pinrang menuju Makassar. Kami dulu pernah sekelas saat SMA, lalu
waktu kuliah kami ada di Fakultas yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda.
We not too intimated Friend, but we talk almost 3-hours.. hampir sepanjang
perjalanan antar kabupaten kami ngobrol random.
Dari obrolan kami, saya bisa
menarik kesimpulan bahwa Kemasan itu tak melulu sama dengan isi dalamnya.
Sederhananya seperti ini, teman saya itu dulunya adalah termasuk anak sekolahan
yang punya geng-hedon, geng orang kayah, dan sangat eksklusif disekolah. Dan
lalu, saat kuliah tak begitu berubah.. Setiap orang akan saling tarik menarik
dengan orang lain yang identik dengannya, kembali saya melihat dia ada dalam
kelompok orang-orang eksklusif. Selesai kuliah bekerja di Bank BUMN yang cukup
bergengsi dan lalu menikah dengan orang Bank juga. Seperti itulah dunianya
berjalan, hingga dikaruniai 2 orang anak. She
still being an independent woman with
a high taste, semuanya menjadi lebih sempurna setelah memiliki penghasilan
sendiri selama kurun waktu 8 tahun.
"Dalam waktu dekat saya mau
mengajukan re-sign, Syam"
"Oh ya?"
"Why?"
Saya pribadi sedikit terkejut
mendengar keputusannya itu. Dia lalu bercerita, tentang bagaimana beratnya
menjalani kehidupan ber-keluarga yang tidak utuh dalam satu atap. Suami
bertugas di pulau seberang, dirinya sendiri bertugas di Pinrang sementara kedua
anaknya dititipkan di neneknya di Makassar. What a life. Melihat bagaimana dia
menjalani masa lalunya, saya jelas terkejut dong. Se independent dan se
hingar-bingar apapun kehidupan seorang wanita/pria dimasa mudanya, ketika
mereka sudah berumah tangga dan memiliki anak, semuanya akan berubah. Hidup
punya tujuan, punya prioritas yang terus berganti. Saya cukup kagum dengan cara
fikirnya, hati saya meng-hangat mendengar alasan demi alasan yang coba
disampaikannya. Keluarga adalah hal paling berharga yang dikasih Allah untuk
manusia, dan ya.. Kita manusia, sebisa mungkin setiap yang berharga harus di
jaga dengan sempurna.
Lalu saya teringat dengan cerita
Mamak saya, tentang beberapa keluarga kami yang rela meninggalkan keluarganya
untuk merantau ke negeri seberang untuk penghidupan yang menurut mereka
"mungkin" akan jadi lebih baik. Tanpa bekal bahasa dan pengetahuan
yang cukup, tanpa skill. Dan yang seperti ini semakin marak dan semakin popular.
Pasalnya di kampung sana, semua perantau yang telah lebih dulu pergi bertahun-tahun
akhirnya kembali dengan membawa hasil yang sangat memuaskan. Kemudian membangun/merenovasi
rumah, membeli mobil, dan membagi-bagi THR ke keluarga dan tetangga. What a successful person, they might be
think.. That’s why, jika saatnya mereka harus kembali ke perantauan, tak
jarang ada satu sampai tiga orang lagi yang ingin ikut serta merantau mencari
peruntungan serupa.
Sumi/Istri, meninggalkan pasangan dan anaknya;Orang Tua meninggalkan anaknya yang masih sangat kecil;Anak meninggalkan Orang Tuanya yang mulai sepuh;
Saya sedih melihat betapa manusia harus berkorban
sedemikian rupa untuk hidup. Seolah dinegara sendiri sudah tak ada tempat. Seolah
nantinya waktu yang mereka punya akan panjang untuk dihabiskan bersama
orang-orang yang seharusnya mereka cintai. I
know, hidup adalah pilihan.. tapi waktu tidak bisa menunggu kita sukses
dulu untuk bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Tak jarang ada
yang kembali dengan tangan hampa, beberapa justru kena tipu – rugi besar, Oh
God.. sungguh tidak ada jalan pintas untuk hidup sukses, untuk hidup enak dan
itu yang banyak dilupakan oleh orang-orang. Selama kita terus berjuang, berusaha..
dimanapun kita berada, hidup akan pelan-pelan melunak. Saya masih sangat
percaya bahwa tanpa campur tangan selera/gengsi, KEBUTUHAN hidup tidak pernah
benar-benar mencekik manusia.
Dan lagi, manusia harus paham takaran rejeki tiap orang itu
beda. Tidak ada yang sama, even mereka melalui cara yang sama dan pada waktu
yang sama.
Karena biaya hidup adlh fixed cost, sedangkan gaya hidup adlh variable cost yang tidak terhingga :D
ReplyDeleteYuhuwww!!!
DeleteKak, adem banget bacanya. Aku termasuk yang punya risiko bakal punya kemungkinan LDM. Sometimes, aku pikir aku kelak bakal kuat. Tetapi dari pengalaman yang sudah lewat, ternyata kadangkala aku ga sekuat itu.
ReplyDeleteSemoga Allah selalu kasih aku kemudahan dan kekuatan.
Thanks sharing hangatnya Kak Syam 😍
Saya...
ReplyDeleteNano Nano modelnya.