
Butuh beberapa waktu untuk pada akhirnya saya bisa menyelesaikan catatan ini, sebuah catatan tentang kehilangan.
"Yes, he appears and he disappears, like a sunrise or sunset. Anything so ephemeral, just like our life. We appear and we disappear.. and we are so important to some but we are just passing through.."
Kehilangan seseorang artinya akan ada banyak potongan-potongan ingatan. Tentang seorang pria yang tidak pernah mengatakan cintanya tapi sanggup memberikan seluruh apa yang dimilikinya. Tentang seorang pria yang begitu keras watak dan pendiriannya tapi mampu melembutkan hati setiap orang yang ada disisinya. Tentang seorang pria yang bahkan tidak pernah terlihat lelah bekerja bahkan hingga beliau harus mengistirahatkan diri karena jatuh sakit dan tak lagi berdaya.
Saya kehilangan pria itu, seorang pria yang sepanjang hidup saya panggil dengan sebutan Bapak. Saya amat sangat merindukan beliau saat ini, teringat begitu banyak hal yang telah kami lewati bersama, banyak suka, banyak duka.. pun ada beberapa pertengkaran didalamnya. Hidup kami tidak mudah, saya tumbuh dan besar ditengah keterbatasan ekonomi, tapi beliau bahkan memberikan banyak dari yang dimilikinya, bekerja lebih dari yang seharusnya hingga pada akhirnya kami bisa merasakan hidup yang jauh lebih baik dari waktu ke-waktu.
Tiga bulan lamanya mendampingi Bapak, mulai dari bugarnya hingga tak lagi ada kesadaran dalam setiap lakunya. Hati saya luka tatkala disetiap hari jum'at Bapak terpaksa melewatkan Shalat Jum'at berjamaah di Masjid, atau ketika saya harus menyaksikan Bapak melaksanakan shalat wajib berdiri - berganti duduk - lalu berbaring, hingga ketika terdengar Adzan kami hanya mampu mengingatkan Bapak kalau waktu shalat sudah masuk, kemudian beliau mengangguk dalam kondisi tidak begitu sadar.
Dan lalu, saya masuk pada episode hidup yang mengingatkan saya bahwa kematian itu begitu dekat. Bapak meninggal tidak dalam pelukan atau pandangan saya, hanya melalui kabar, lalu saya menemukannya telah terbujur kaku dikelilingi banyak pasang mata yang berduka di ruang tamu rumah kami. Wajahnya begitu bersih, dan begitu tenang. Saya telah lebih dulu mengeluarkan banyak air mata sebelum hari ini tiba, saya telah lebih dulu banyak memeluk erat dan mencium Bapak sebelum hari ini tiba, saya telah banyak mengucapkan Maaf dan Rasa Terimakasih telah membersamai sepanjang 33-tahun hidup saya, pun jauh sebelum hari ini tiba. Tapi dada saya tetap sesak, ternyata semua itu belum cukup, saya masih ingin lebih, rasanya masih butuh waktu.. Saya terluka begitu dalam. Teringat dalam kesadaran yang begitu terbatas, dua hari sebelum Bapak meninggal.. melalui sambungan Video Call ketika saya mengabari bahwa saya telah sampai dirantau, bapak hanya menyampaikan satu kata; "terimakasih anak" Duh!
Menyaksikan Bapak dimandikan, dikafankan, ikut serta men-shalatkan, mendampingi upacara pelepasan secara militer lalu dimakamkan. Huft. Hati saya tidak pernah sepatah ini sebelumnya, tiba-tiba semua terasa begitu cepat..
Satu tahun lalu kita baru menghabiskan banyak hari di Masjid Nabawi dan Tanah haram hanya berdua saling jaga saling memberi perhatian. Lima tahun lalu kita sama-sama mencari tempat tinggal untuk saya dirantau karena akhirnya saya mendapatakan pekerjaan yang ternyata begitu membanggakanmu. Sepuluh tahun lalu, kita sama-sama mengunjungi Gedung Baruga di Unhas untuk menyaksikan wisuda pertama putrimu yang telah kau sekolahkan jauh lebih tinggi dari pendidikan yang telah kau tempuh, dimana mampumu-pun disangsikan oleh sebagian orang. Lima belas tahun lalu, ketika kali pertama kau mengantarkan saya pada pukul tiga dini hari menempuh satu jam perjalanan Cendrawasih-Perintis mengendarai motor tuamu untuk mengikuti Ospek kampus hari pertama yang begitu menyusahkan kita selama satu minggu penuh.
Dan begitu banyak potongan ingatan lainnya, yang membuat saya sadar bahwa.. saya tidak membutuhkan Bapak sebagaimana pandangan publik tentang sosok seorang Bapak/Ayah yang Hebat. Engkau, jauh lebih dari cukup untuk saya.. darimu saya belajar bahwa kesederhanaan itu jauh lebih istimewa dan mengesankan. Saya mendapatkan banyak previlege dalam hidup ini, tanpa dunia terlebih dahulu menanyakan siapa Bapak saya. I can stand on my own (two) feet, dad.. Seperti katamu, dunia itu akan selalu adil untuk orang-orang yang selalu berusaha dan bisa menjaga Shalat wajibnya - diawal waktu.
Istirahat, Pa.. doaku sekarang tidak banyak. Hanya semoga, suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali, bersama orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang sepanjang hidupmu kau perjuangkan segala bentuk kebaikannya. Pun semoga saya bisa menjadi Putri yang Solehah seperti inginmu, hingga segala amal kebaikan dunia yang sekiranya ada pada diri saya bisa menjadi kebaikan untukmu di Akhirat. Saya akan menjaga dan merawat dengan baik setiap potongan kenangan tentang kita, tentang keluarga kita. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘aafihi wa’ fu’anhu
------------------------------------------------------------------
Untuk yang terkasih Bapak (59th), meninggal rabu pagi 18 Maret 2020
I love you, unconditionally ♥

