Dalam pelajaran agama di sekolah dasar dulu saya diperkenalkan dengan ciri-ciri orang munafik oleh guru agama saya. Ada tiga hal dan saya selalu mengingatnya sampai sekarang.
Jika berkata dia berdusta
Jika berjanji dia ingkari
Jika dipercaya dia khianat
Dan kenapa justru saya semakin mendekati ketiga hal tersebut? Saya tak lagi menjaga perkataan saya, terlalu banyak mengumbar janji. Awalnya mungkin saya hanya belajar untuk bagaimana itu bernegoisasi, bagaimana untuk berdiplomasi, bagaimana menyenangkan hati boss, rekan kerja dan customer, karena itu adalah bagian dari pekerjaan saya. Saya dituntut untuk bisa menguasai "bahasa marketing" dan belakangan saya mulai nyaman dan terbiasa. Damn it!
Yah pada kenyataannya saya menemukan diriku terjebak dalam dosa sistematis, mungkin ini hal biasa sebagai tindakan penyelamatan diri ataukah sekedar menjaga image bahwa semua hal baik-baik saja ditangan saya. Saya bisa diandalkan. Toh ini adalah tuntutan pekerjaan. Tapi efeknya justru luar biasa, jauh dari yang saya bayangkan. Tindakan berbohong kecil-kecilan saya itu membuat saya kurang respect pada diri sendiri dan menggerogoti hati saya perlahan. Saya menyesal tapi toh saya mengulanginya, lagi... lagi... lagi.
Ampuni saya ya Rabb... mungkin bagi mereka refleksi ini terlalu berlebihan tapi bagi saya penting, saya tidak mau peningkatan kepercayaan diri saya tidak sebanding dengan kepercayaan orang pada saya. Ini sudah 2012, mungkin tahun yang tepat untuk saya berubah. Saya bukan orang munafik dan tak ingin menjadi orang munafik karena saya benci orang munafik.
kalau di sini malah orang terbiasa datang setengah atau satu jam sebelum janji yg ditentukan .... kebiasaan lingkungan sekitar juga mempengaruhi ?
ReplyDeletemet tahun baru ya :)
menjadi orang yang apa adanya aja itu memang lebih baik... tetapi terkadang sistem yang melingkupi kita tak mendukung untuk bisa seperti itu. Kalau memang bisa dihindari sebisa mungkin, ada baiknya dihindari.
ReplyDelete#perkataan untuk diri sendiri juga berlaku... :)
berarti terlambat dengan konfirmasi itu dibolehkan ya mbak...
ReplyDelete:P
hmm besok lagi berarti bukan janjian aja namanya.. tapi perkiraan. hahaha..
ReplyDeletebiar ngga dituduh nggakk menepati janji :P
#Mbak Ely: orang luar memang terkenal dg komitmen mereka yang tak biasa. Dan itu adalah yang paling susah ditiru. selamat tahun baru mbak :)
ReplyDelete#sam: begitulah sam... tapi sebelum menghakimi sistem yang ada alangkah lebih baik dikembalikan pada diri sendiri. kok mau maunya terjebak. Hehehh...
#Zone: yah tergantunglah... kalau orangnya ikhlas yah mungkin gakpapa. hehehehh
Yuk kita barengan berdoa dan mohon ampun sama Allah.
ReplyDeleteSalam
Ups... untungnya tempat saya kerja sekarang gak terlalu mengumbar janji... :(
ReplyDeleteSemoga saya pun bisa terhindar dari ketiga tanda kemunafikan tsb. Aamiin. :)
Perihal tepat waktu, saya jengkel dengan orang yang gak bisa menepati waktu janji.
@zone: aku rasa telat kalu udah konfirmasi juga enggak dosa kok. kecuali kalo gak bilang sama sekali. hehehe...
ReplyDeletehuaaa, ini namanya sentilan dipagi hari. huffft, bohong sistematis di dunia kerja itu rasanya emang biasa ya, biar juga sudah bilang tidak mau mengulanginya lagi tapi toh tetap terulang (lagi, lagi, dan lagi) huuffftt
ReplyDeletesemoga kita dijauhkan dari kemunafikan itu, fufuufhh
Muhasabah Awal Tahun SYAMsiyah,,, yang bikin gemetar, Mbak...
ReplyDeleteidza kalama kadzzaba
wa idza wa'ada akhlafa
wa idza amana khoona
Hiks,,, T_T
mungkin pake iklan LA aja kali ya... yang lain pada pake topeng, kita apa adanya aja... He,,he,,,
#Gaphe: Apaaa coba???
ReplyDelete#Obrolan Blogger: Salam :)
#Asop: sama nih, sy juga bermasalah dengan urusan "tepat waktu" paling malas kalau janjian pake nunggu :)
#Nuel: hahaha... tergantung yang nunggu sih, beda orang beda rasa. hahaa
ReplyDelete#Diah: hal klasik yang cenderung disepelehkan, padahal dosssaaaa! hahaha
#Samaranji: oh iya yah... iklan topeng-topeng itu. yeyyy, you got the point!
system by design..ya..mbak..
ReplyDeleteguru agama sy pas SD juga pernah blg gtu lho kak..
ReplyDeletek'inget sampe skrg :)
bahasa marketing :D wah ngeri klo ada dosa sistematis gitu
ReplyDeleteDosa sistematis @_@
ReplyDeleteThanks mbak renungannya T.T
#Fajar: yah. mungkin seperti itu teorinya...
ReplyDelete#Efa, Ucil & Una: thanks yooo ibu ibu sekalian. Dan ingat jangan melakukan kesalahan yg sama, kelian masih muda. hahahaha *OOt sendiri* :p
dateng buat ngomentarin headernya mbak syam yang baru
ReplyDeletekeyeeen :3
#Ninda: Oh terimakasihhhh... saya memang keren :p
ReplyDeletesebaiknya dihindarin aja cara lama, selama masih bisa untuk mau berubah..
ReplyDeletesebuah kesalahan bukan berarti tidak bisa diperbaiki..
#Herry: yah, saya pun penganut "selalu ada maaf dan jalan keluar". Terimakasih untuk inputnya :)
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletememang ya klo dosa sekecil apapun klo dibiasakan akan menumpuk.
ReplyDeletebingung juga ya bagaimana cara menghindar dari dosa sistematik tersebut atau syam sudah ada solusinya?
baru tau ada dosa sistematis...:D
ReplyDeletewah jadi agak bingung juga..
ReplyDeletepilih patuhi aturan agama atau jaga karir..
tapi bisa dua2nya kan :)..
#Baha: yang nulis tugasnya curhat dan pembaca yg mustinya kasi solusi dong. ahahahahha....
ReplyDelete#Kak Patta: ndak ada yah kak?! Ahahah.. brarti istilah baru untuk menggambarkan dosa yg terbentuk secara sistematis. rapi dan terselubung. ahahahah, ampuuun.
#Reza: bisalah... mungkin sayanya sj yg belum pandai menjaga keduanya ;)
ReplyDeleteIya juga ya :) namanya juga lagi sharing, pasti syam berharap ada yg ngasih solusi ya hahaha @sYam
ReplyDeletekalo kata Insya Allah menjadi bungkus dari alasan untuk tidak datang?
ReplyDelete@Baha Andes solusinyaaaaa???? Nah tugas kak baha yg musti ngasih masukannya dong :)
ReplyDelete@Yayack Faqih nah itu fatal! Hati-hati berucap insyaAllah kl gak ngerti makna dn fungsi sesungguhnya.
ReplyDeletewaduh...dosa sistematis? :D
ReplyDeletesaya juga pernah jadi marketer atau sales. akan tetapi, saya selalu memegang prinsip bahwa memasarkan tidak boleh membohongi prospek/pelanggan. itu juga yang saya ajarkan kepada kawan saya yang pernah mengatakan "namanya juga marketing, yang penting dagangan laku." "no! marketing bukan seperti itu," kata saya kepada kawan saya itu, "dalam kelas marketing selama kuliah dulu tidak pernah ada bab menipu prospek/pelanggan."
ReplyDeletekalau kita menjual/memasarkan dengan jujur, insya' allah ke depannya akan sama-sama baik untuk kita dan pelanggan.
@Kombor Makasih banget inputnya kang :)
ReplyDeletekeren judulnya. dosa sistematis..
ReplyDelete