
Supernova #2
Sedikit geleng-geleng baca novel ini. Bukan karena bahasanya yang ternyata tidak seberat Novel pertama, tapi lebih pada kejadian-kejadian konyol yang coba digambarkan oleh Dee sepanjang perjalanan sang Akar, Bodhy.
Well, sebelumnya saya belum pernah baca novel ini. Delapan tahun yang lalu saya cuman mentok dan benar-benar terpesona pada Supernova seri pertama; Kesatria, Putri dan Bintang jatuh. Senior-senior saya yang juga lebih dahulu membacanya rata-rata memberikan komentar yang kurang menarik, tidak sebagus yang pertama katanya dengan mimik muka kecewa. Saya seperti terhipnotis dan saya benar-benar tak pernah menyentuh novel ini.
Berbeda dengan Buku pertamanya yang bisa saya santap hanya dalam dua malam, buku Akar ini yang dari tampilan fisik lebih tipis justru saya selesaikan hampir seminggu. Apakah kurang menarik? Ohh tentu tidak, justru saya benar-benar menikmati perjalanan sang tokoh utama mencari kesejatian setelah lepas dari wihara tempatnya "lahir" dan menghabiskan masa remajanya.
Bodhy, adalah tokoh utama dalam serial ini. Sang akar dengan keanehan-keanehannya. Saya membayangkan Bodhy ini serupa Ang di film Avatar, berkepala gundul dengan tonjolan-tonjolan aneh. Bodhy bisa jadi tidak lahir dari rahim seorang ibu, hehe... entahlah! Dia ditemukan oleh seorang Biksu dalam sebuah peti dibawah pohon asam, orang tersebut yang akhirnya menjadi orangtuanya, guru sekaligus muridnya. Dia adalah Guru Liong.
Perjalanan hidup Bodhy dimulai saat dia memutuskan untuk meninggalkan wihara. Mencari kesejatian. Pergi sejauh-jauhnya tanpa tujuan yang jelas dan pasti. Dan dalam perjalanan inilah Bodhy banyak menemukan teman-teman yang dengan karakternya masing-masing mampu membuat novel ini menjadi lebih kuat. Semisal, Bong anak punk yang memiliki kharisma luar biasa dimata pengikut-pengikutnya yang tak sengaja ditemukannya saat kebingungan di Jakarta. Bong yang terlihat berantakan adalah bentuk pemberontakan yang tidak semata-mata karena ikut-ikutan, seperti kata Bodhy: Bong itu cerdas, berwawasan, Bong itu membaca! Bong mengerti realitas, Bong mengerti apa yang harus dia lakukan dalam keterbatasannya sebagai Individu. Dan Bong tahu betul kenapa pada akhirnya dia memilih jalan hidup seperti itu. Sayang, kisah tentang Bong tak banyak diceritakan dalam Novel ini.
Pada halaman-halaman berikutnya justru saya banyak tertarik pada tokoh Kell. Seseorang yang dipertemukan oleh "kondisi" mungkin juga "takdir" pada Bodhy. Kell adalah manusia aneh yang digambarkan berwajah tampan, yang mengajarkan ilmu tatto pada Bodhy. Yang tak bisa merasakan mati sebelum tubuhnya ditatto oleh Bodhy, Kell yang selama berbulan-bulan hidup bersama Bodhy hanya untuk memindahkan Ilmunya, setelah Bodhy bisa kemudian mereka berpisah dan pada akhirnya memang benar Mati ditangan Bodhy. Hmmm, sebenarnya tentang Kell ini tak bisa saya gambarkan dengan baik. Dia terlalu mempesonakan saya, sedikit membingungkan sih sebenarnya, terlalu banyak kata2 kasar yang tak henti keluar dari "mulutnya" hahaa... bacalah dan temukan dia benar sangat mempesona! Saya menikmati bagaimana hubungan Bodhy dan Kell terbentuk, saling menghargai dalam cacimaki. Nice!
Dihalaman lain ada Tristan, yang pada pertemuan pertamanya dengan Bodhy adalah seorang Backpaker dan pada pertemuan kedua dia berkepala gundul memutuskan untuk menjadi Biksu dan tergila-gila untuk menemukan sang Budha. Ada juga Star, gadis cantik yang membuatnya jatuh cinta tapi gadis tersebut malah jatuh cinta pada kepalanya. Hehehe... semua tentang star seperti lelucon! Cinta tanpa romansa, cinta Bodhy pada Star mewujud pada pasword emailnya yang akan mengeluarkan simbol bintang ketika ia ketik. Ada banyak lagi tokoh-tokoh ajaib lainnya yang menemani perjalanan Bodhy, melintas batas antar negara. Kadang saya dibuat begitu antusias, kadang sama sekali tidak menarik.
Membaca novel ini seperti membaca kisah-kisah perjalanan backpaker melakoni trip panjangnya. Mungkin hanya sedikit dibalut kalimat-kalimat sastra, percakapan-percakapan "dalam" dan kejadian yang terlampau konyol. Selebihnya, tak ubahnya seperti peta kecil wilayah Asia tenggara. Indonesia-Malaysia-Laos-Bangkok-Kamboja-Indonesia. Saya tercengang dengan kemampuan Dee meramu tempat-tempat yang didatangi oleh Bodhy, beserta bahasa yang dia gunakan. Hmmm, penulis pastinya punya wawasan yang lebih luas dari tokoh yang coba dibangunnya... salute to Dee!
"Kita tak pernah tahu apa yang kita rindukan sampai sesuatu itu tiba didepan mata" - Bodhy, dalam sebuah percakapan dengan pikirannya entah halaman berapa.
Makassar | 05/05/2012
posted from Bloggeroid
hobbi baca novel-novel bahasa yg konyol ya mbak
ReplyDeleteKita tak pernah tahu apa yang kita rindukan sampai sesuatu itu tiba didepan mata
ReplyDeletehusss bagian akhir yang juga bikin saya hish hish
maksih udah menginfokan sedikit isinya
ReplyDeletePinjem dong teh! :))
ReplyDeleteXixixi... lucu juga jatuh cinta pada kepalanya yang plontos ya mbak hehehe...
ReplyDeleteThanks mbak resensi bukunya :)
klo di cover novel yang edisi lama ada simbol tertentu mba.
ReplyDeletesy ngebayangi bodhi tu kaya sosok sang budha.
karakternya kuat banget.yg menarik sepertinya bodhi mengalami reinkarnasi....^^
gara2 baca novel ini jadi tau ttg kondisi negara2 tetangga kita...hehhehe....
bersambung di petir yaa mba :)"
pinjam novel2nya dong kak syaaammm :)
ReplyDelete@insan wedewww... hmm, iyyah... mungkin :)
ReplyDeletepakde sih bukan penggila novel, dulu sewaktu masih muda, pakde manik cerita silat kho ping ho
ReplyDeletesaya suka sekali membaca, tapi untuk novel, sampai sekarang kenapa ya kurang tertarik,, tp terkadang kalau baca ulasan2 di blog, kyknya menarik juga,,
ReplyDeletesangat bagus postingannya kawan, sebuah pengalaman yang matang dan luar biasa, saya dan novel yang penuh inspiratif sangat setuju dan menyukai postingan ini
ReplyDeleteterima kasih dan salam sukses untuk anda
budha, wihara wah pas nih postingannya di hari waisak seperti hari ini (kalo ga salah tadi liat live nya di metrotv hehe)
ReplyDeleteminjem doong bukuna :D
Beuh DEE selalu suka dengan karyanya =)
ReplyDeletetidak begitu banyak baca buku buku karya dee, mggu kemarin aja cuma lirik bukunya doang, itupun karena ada gambar dee yg gede yg bsa menarik perhatian pengunjung gramedia. hehe pulang cuma bawa buku paulo coelho: seperti sungai yang mengalir :D
ReplyDeleteaku mau banget tuh mba kalo dipinjemin... hehe.
ReplyDeletetrims atas reviewnya, menarik dan jadi memilikinya.... (ingin punya? Beli donk!), hehe.
aku kemarin mau beli itu buku tapi aku lebih tertarik sama buku yang disampingnya mba yaitu Travel In Love :)
ReplyDelete@naspard hehehe, jadi cowok jangan cengeng yah nash :)
ReplyDelete@halak sama-sama :)
ReplyDelete@Faizal Indra kusuma gak deh! :)
ReplyDelete@Anak Rantau hihi...
ReplyDeleteMakasih loh mas Bud :)
hmmm, saya baca buku ini dulu pas masi SMA. jadi sekarang dah lupa. pinjem dong mba' #kedip-kedip
ReplyDelete@cii yuniaty itu simbol Aum, milik agama Budha, cuma karena sempat ada gesekan jadi sampulnya direvisi ulang :)
ReplyDeleteiyyah, seperti petualangan yah mbak :)
@Athifah Dahsyamar pinjam bayar :)
ReplyDelete@pakde sulas hehehe, kl cewek sukanya novel pakdhe :)
ReplyDelete@belajar bisnis hihi, mungkin karena beda orang beda selera kali ya :)
ReplyDelete@penyuluh perikanan terimakasih, sukses untukmu juga :)
ReplyDelete@NF wedew, pada mau pinjam ineeee :((
ReplyDelete@Uzay ^,^ sama dong kite :p
ReplyDelete@Yayack Faqih yah jangan dilirik aja dong, sekali2 dibaca. pasti kecanduan deh :)
ReplyDeletekemarin jugamau ambil buku PC yg itutuh, cuman krn 4 seri supernova kemahalan jadinya dipending dulu deh :)
@alaika abdullah wah jauh mbaaaak :)
ReplyDeletebener bgt tuh, mau baca?beli dunk^^
@Andy hehehe, belum liat itu sih saya :)
ReplyDelete@Huda Tula wew, SMA? dah tuir bgt yah... haaha *another kedip2*
ReplyDelete