| Sampul depan buku Membaca Sapardi |
Buku Membaca Sapardi ini saya beli di Gramedia Mall Ratu Indah (30/03/12) secara tak sengaja dan tanpa perencanaan sama sekali. Untuk seorang penggila Sapardi Djoko Damono (SDD) macam saya, melihat nama Sapardi terpampang pada satu design sampul buku yang entah isinya bagaimana saja akan membuat saya sedikit berfikir untuk membeli buku tersebut atau tidak, bagaimana jika benar-benar buku itu membahas soal karya-karya Sapardi? tanpa berfikir panjang, saya belilah buku tersebut. Sebenarnya pun saya sedang dalam upaya mengumpulkan kembali buku-buku SDD yang tergolong susah ditemukan lagi.
Membaca Sapardi adalah buku terbitan tahun 2010, sudah begitu lama maka wajar saja jika saya menemukannya terselip di rak buku-buku sastra, tanpa teman, tersisa hanya satu dan satu-satunya. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang bekerjasama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), terdapat 17 penulis yang coba mengkaji puisi dan beberapa cerita pendek yang ditulis oleh SDD dari tahun 1969-2009. Dari 17 sastrawan tersebut, hanya Hasan Aspahani dan Seno Gumira Ajidarma yang karya-karyanya pun tidak asing bagi saya. Akh, ini juga wajar toh saya memang bukan penggila sastra hanya penikmat.
Seperti biasa buku baru milik saya akan menjadi primadona, selalu ada didalam tas kemanapun saya pergi, berharap bisa membacanya saat sedang tidak ada kesibukan dan sedang sendirian. Saya membawa-bawa buku ini hampir sebulan lamanya, dan dari waktu sebulan itu saya membaca buku itu tidak kurang dari lima kali, sesekali saya hanya mencari-cari halaman yang isinya adalah puisi SDD yang sebelumnya belum pernah saya baca, lebih sering saya hanya membukanya sekedar melihat-lihat tanpa tahu mau diapakan buku itu. Buku yang bagi saya sangat menarik itu, tidak sama sekali pernah saya selesaikan sampai sekarang.
Yah, saya memang tidak pernah benar-benar menyukai sastra seperti cara sastrawan kebanyakan: membaca, meresapi, mengkaji kemudian menuliskan (opini) kembali dengan kata-kata yang entah apalah maknanya itu. Kadang saya berfikir, kok pikiran mereka harus sebegitu rumitnya yah? Mungkin juga karena kapasitas saya tidak disitu, kalau saya pribadi, untuk satu karya sastra indah saya akan membiarkannya tetap indah, menemukan diri/passion saya dalam setiap katanya, kemudian menulari saya tanpa ingin tahu kejadian/rasa si penulis yang melatarbelakangi lahirnya karya itu. Bukankah, makna dari satu karya (puisi) kembali kepada pembacanya?
| Halaman buku Membaca Sapardi |
Seperti biasa buku baru milik saya akan menjadi primadona, selalu ada didalam tas kemanapun saya pergi, berharap bisa membacanya saat sedang tidak ada kesibukan dan sedang sendirian. Saya membawa-bawa buku ini hampir sebulan lamanya, dan dari waktu sebulan itu saya membaca buku itu tidak kurang dari lima kali, sesekali saya hanya mencari-cari halaman yang isinya adalah puisi SDD yang sebelumnya belum pernah saya baca, lebih sering saya hanya membukanya sekedar melihat-lihat tanpa tahu mau diapakan buku itu. Buku yang bagi saya sangat menarik itu, tidak sama sekali pernah saya selesaikan sampai sekarang.
| Puisi Tentang Matahari |
Yah, saya memang tidak pernah benar-benar menyukai sastra seperti cara sastrawan kebanyakan: membaca, meresapi, mengkaji kemudian menuliskan (opini) kembali dengan kata-kata yang entah apalah maknanya itu. Kadang saya berfikir, kok pikiran mereka harus sebegitu rumitnya yah? Mungkin juga karena kapasitas saya tidak disitu, kalau saya pribadi, untuk satu karya sastra indah saya akan membiarkannya tetap indah, menemukan diri/passion saya dalam setiap katanya, kemudian menulari saya tanpa ingin tahu kejadian/rasa si penulis yang melatarbelakangi lahirnya karya itu. Bukankah, makna dari satu karya (puisi) kembali kepada pembacanya?
Tapi bagaimanapun buku ini adalah harta karun saya
Satu-satunya bukti kecintaan saya pada sosok Sapardi Djoko Damono
Sebagai Apresiasi untuk sebuah karya
Walau mungkin tidak benar-benar selesai saya baca
rupanya anak desa ini ketinggalan kereta soal buku, koleksi buku yang ada dirak, ngga ada satupun ciptaan SDD.
ReplyDeletetengkyu ilmunya, jadi tau ada sebuah buku bagus untuk digali ilmu sastranya.
salam sehat selalu
Sungguh penikmat sastra kamu sob. Pantesan kosa kata dan kemampuan membuat postingan tak di ragukan lagi.
ReplyDeleteBaru kenal siapa itu SDD? Bahkan baru tahu dan malah baru denger nama itu yg menurut mbak syam sendiri sbg seseorang yg karyanya tidak luput dari perhatianya utk segera di baca. Kalo sya msh suka bolak balik buku Tasaro yg muhammad pengeja hujan, tanpa pernah selesai buat di lahap habis. Hikz...
ReplyDeletewets...bukunya mo saya....
ReplyDeleteaku tuh ada buku yang selalu aku baca secara rutin
ReplyDeletepadahal tiap habis baca pasti bawaannya sedih mulu
namanya buku tabungan..
thanks referensinya mbak...siap untuk dicari...:D
ReplyDeleteKalo SDD aku belum pernah baca satu pun,
ReplyDeletekalau Seno Gumira aaa saya sukaaa :x :x
Keren~ tapi kadang ada juga yang gak paham sih :|
Toss mbak aku juga cuma penikmat, tapi gak gila sastra :p
@Desa Cilembu koleksi SDD itu tergolong lama loh,
ReplyDeletesaya pun belum lama ini baru tahu tentang beliau :))
@HP Yitno hahaha, terimakasih loh :))
ReplyDelete@Yayack Faqih wadduh! buku itu yak, TASARO... saya punya, dan Gak sama sekali pernah saya buka :((
ReplyDelete@hima-rain wetsss.....
ReplyDelete@Rawins dengernya aja saya langsung sedih mas :((
ReplyDelete:p
@fly yuly sip sip... happy reading Yuli :)
ReplyDelete@Tebak Ini Siapa Tosss~~~
ReplyDeleteayo coba liat2 puisi SDD, lebih ringan dan adem deh :D
SGA, HA, SDD...nama-nama yg tidak asing di cerpen kompas yg dulu sering kubaca...
ReplyDeletetp sekarang sudh jarang kubaca karena...terlalu sastrawi...semakin lama, semakin rumit saja mereka menulis...
btw, kembali lagi ini blog ke masa lalu
hmmm... mereka keren yah sky, cuman mmg kl yg terlalu pake kata2 sastra rasanya gimanaaa gituh. ndak mengerrr!
Deleteblognya bakal brubah2 terus keknya deh^^
masih bimbang mau bemana2
Pinjem dong Sky. :P
DeletePinjjem dong Syam. :D
Buku SGA saya masih kurang beberapa, yang tipe esai. Dan saya tak punya satu pun buku SDD. T_T
Buku Steinbeck saja saya tak mampuuuu. ~~ T_T
sama aja yuk, makanya kemarin sy titip untuk dibeliin :p
Deletesteinbeck siapa itu yah? hihi... #katrok
mbak kok bisa suka sastra gimana itu ceritanya mbak?
ReplyDeleteada keturunan nya kah? hehehe,,,
hahaha, suka emang bisa diturunkan yah?
Deleteada ada saja :)
Nice blog mbakk.. :))
ReplyDeleteTulisannya-tulisannya bagus... Ramaah.. :))
weiiiitsss pengen baca bukuny gan hehe
ReplyDelete