Setelah melakukan aktivitas wajib dipagi hari, saya langsung tidur-tiduran depan tivi… lapar menyerang, tak ada makanan pula, mau masak mie instan juga malas. Hmm, Alhamdulillah masih ada beberapa potong chunky choco white sisa semalam, *nyamnyamnyammm* so yummieee… rasanya manis, tapi hati saya menangis.
Yah saya menangis karena saat itu saya sembari melihat tayangan tivi, sebelumnya saya belum pernah melihat acara semacam Reality show ini. Judul acara ini Dari Hati yang tayang setiap hari minggu pagi di TransTV, dan tema yang mereka angkat pagi ini mengobok-obok hati nurani saya sebagai manusia yang masih saja selalu mengeluh dalam hidup. Saya menangis melihat anak-anak yang usianya bahkan belum sampai satu dekade itu harus hidup berteman penyakit kanker, yah... mereka muda dan sakit tapi tawa mereka lepas, tak ada beban dipikiran mereka, apalagi rasa takut. Saya merinding, Ya Allah terimakasih sudah menampar saya dengan begitu manis pagi ini ~ Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Kita (terlebih lagi saya) terkadang lupa bahwa kenikmatan paling besar dalam hidup ini adalah diberi kesehatan yang tak henti dari-Nya. Kita (terlebih lagi saya) masih banyak menuntut hal-hal yang mungkin belum tentu baik dan bermanfaat bagi kita, terlalu mementingkan dunia dan kehilangan esensi hidup. Kita (terlebih lagi saya), lihatlah kebawah… masih ada mereka yang dengan keterbatasannya, dengan penyakitnya ataukah dengan kelemahannya senantiasa mengajarkan kepada kita bagaimana hidup itu harus di Syukuri. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah, yang ditugaskan menampar kita yang mulai hidup dalam kesombongan dan ketidak perdulian.
Untuk kalian yang masih saja menyimpan ambisi dalam dada tentang suatu pencapaian, itu bukanlah sesuatu yang buruk. Tapi apakah mungkin ketika kita bisa meraih itu semua lantas membuat hidup kita bisa menjadi lebih bermakna? Entahlah… untuk saya pribadi, semakin saya bisa menaklukkan mimpi-mimpi saya satu persatu semakin dekat rasa “kosong” itu. Rasa yang kadang tak bisa diobati bahkan oleh kehadiran orang-orang yang saya cintai disisi saya. Rasa yang sedikit bisa saya redam ketika saya menangis saat melakukan percakapan “intim” dengan-Nya.
Ya Allah, sedikitpun jangan pernah Kau ragukan Cintaku kepada-MuWalau Ibadahku tak sempurna,Walau aku masih sering sakit dan menyakitiKumohon Genggam hatiku ya Allah…
Lantas apa yang bisa kita lakukan dari sekedar bersimpati? Heyyy Syam, apa yang bisa kamu lakukan selain menangis dan merenung?! Just do something… hidup sebenar-benarnya hidup adalah ketika kita bermanfaat bagi mereka yg membutuhkan.
itulah gunanya melihat sekeliling kita, agar kita tau masih banyak diluar sana yang kurang beruntung dibandingkan diri kita.. itulah yang selalu membuat kita (aku) bersyukur bahwa Alloh sangat sayang padaku...
ReplyDeleteaku jg sering nangis kalo nonton tipi acara tentang kehidupan...
*) kau sedang apah? ...mandi yuuk :-)
Heh?! Haahahahaha... mandi sana mbak ay, kalo saya hari minggu biasanya libur mandi juga #ups ;)
ReplyDeletedunia ini terlalu kejam bagi mereka, bahkan bermimpi aja mereka susah... nampaknya bersimpati udah cukup daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.. :)
ReplyDeleteYg jadi pertanyaan, kalau kita bisa berbuat lebih dr bersimpati? Kenapa tidak sam...
ReplyDeleteaku penasaran sama acara seminarnya itu. sayang ga dibahas lebih lanjut. :(
ReplyDeletehidup sebenarnya seperti musik metal,
ReplyDeletepenuh distorsi dan semangat..!
ooh, rasanya aku ingin menghajar seseorang hari ini..! haha..!
salam metal..!
#Nuel: Seminar yang mana?
ReplyDelete#Yudi: heyyyy?! Kamu kenapa datang2 ngamuk di blog saya hah? Kelamaan hiatus jadi lupa ingatan yah.... hahahahaha, anehhhh!
Terkadang kita memang harus melihat kisah orang lain agar diri kita sadar bahwa apa yang saat ini kita alami terkadang lebih baik dari apa yang di alami orang lain.
ReplyDeleteSalam blogger Makassar
loh ternyata Syam Matahari cewek ya.. amupn mbak, kapan hari di blog anda saya panggil mas hehe
ReplyDeletesaya suka melihat reality show macam Dari Hati, lumayan bisa melunakkan hati dan menyadarkan kita bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang kurang dari kita..
posting yang manis mbak
hmmmmm, jadi terharu, tadi pagi gue juga leat, bagaimana seandainya KITA yg diberi penyakit semacam itu apakah gue bsa melepas tawa ato memendam sakit
ReplyDeleteIya seminarnya gak dibahas :P
ReplyDeletetinggalkan komputermu dan hadapi hidup di luar sana
ReplyDeletetulisanya ngena banget...
ReplyDeleteIya saya sepakat seperti yg sudah di jabarkan di atas, terkadang kita belajar memaknai esensi hidup tidak melulu datangnya dari pengalaman kita sendiri tapi banyak juga yg bsa kita ambil dari pengalaman org lain. Cukup hanya bersimpati? Tentu tidak selagi masih ada ruang buat memberi peluang buat kita menjadi lebih tergerak memberi sesuatu buat org lain. Makasih tulisanya ya mbaak saya suka tulisan2 yg model kaya ginih. Hehe...
seharusnya emang kita harus lebih peka lagi, dan gak banyak menuntut dan mengeluh dgn apa yg kta dapatkan skrg :)
ReplyDeletejust do something!!
ReplyDeletecontohnya pergi makan roti canai sama saya, kakak :)
ahahahahahaha
wow very nice post :-)
ReplyDeletesetuju sangat dengan "hidup sebenar-benarnya hidup adalah ketika kita bermanfaat bagi mereka yg membutuhkan",
maka dengan memperbaiki nawaitu semata hanya karena dan untuk-NYA sering2-lah melihat ke yang berada di-bawah-mu, agar selalu hadir rasa syukur setiap saat akan keberadaan-mu kini,
dan sring2-lah melihat ke yang berada di-atas-mu, agar selalu termotivasi untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dunia dan akhirat..salam :-)
BlogS of Hariyanto
Kalimat ini : sebenar-benarnya hidup adalah ketika kita bermanfaat bagi mereka yg membutuhkan, pernah disampaikan oleh para orang-orang pinter dan aku setuju banget dengan fikiranmu De.
ReplyDeletesepakat dengan bagian yg ini:hidup adalah ketika kita bermanfaat bagi mereka yg membutuhkan..
ReplyDeletehidup adalah hidup penuh kejutan dan rintangan...
ReplyDelete:P
melihat ke bawah untuk lebih mensyukuri hidup.
ReplyDeletekalau saya sih, menonton film horror barat di bioskop demi kemudian bersyukur hidup saya ga sehoror film itu. hahaha xD
Ya. saya juga pernah melihat, Syam. Seorang peminta di pinggir jalan. Waktu itu di sekitar Prambanan. Seorang Ibu menggendong anaknya yang Batita. Kepalanya besar sekali. Seperti kanker mungkin. Karena di bagian atas, hampir dua kali lipat wajah. Ya Allah. Aku sampai menangis.
ReplyDeleteKita jauh lebih beruntung.
wah .. aku nggak bisa nonton dr sini ya acara TV itu.
ReplyDeletesaat berdialog horisontal akhir sepertiga malam memang sering bikin mbrebes mili kata org di kampungku sana alias bersimbuh air mata ... tapi menentramkan hati dan jiwa
nice post Syam. I like it :)
ini niih postingan yang saya suka.. jarang kan kamu nulis kayak gini? *eh, lebih tepatnya saya yang jarang mampir kesini buat baca posting yang beginian.
ReplyDeleteyak, terkadang dalam sehat kita lupa bersyukur, baru mengeluh dan mengaduh kalo udah ketiban sakitnya.
Suka dengan tulisannya. nikmat Allah memang berlimpah, hanya saja kita yang seringkali lupa untuk bersyukur :-(
ReplyDeletesama cham, sy juga merasakan : "Semakin saya bisa menaklukkan mimpi-mimpi saya satu persatu semakin dekat rasa “kosong” itu."
ReplyDelete...hm...mungkin karena semua mimpi kita saat ini hanya mimpi2 dunia ya cham, mimpi2 yg hanya memberi kepuasaan sesaat ketika kita berhasil mencapainya...:(
yak,sebaik2nya manusia ialah yg bermanfaat bagi orang lain.
ReplyDeleteSemoga kita bisa bermanfaat utk org lain, mulai dari keluarga, sahabat, lingkungan rumah, pekerjaan, dan lebih meluas lagi, amin.
#All: thankyou sudah menyempatkan diri buat baca tulisan ini. semoga kita bisa melakukan sesuatu yah untuk orang-oranh yang membutuhkan. Amin
ReplyDeleteHappy all :)
TransTV?
ReplyDelete*tepok jidat*
Udah setahun ini saya ga lihat TransTV lagi. Tipi di kosan saya cuma nangkep dua tipi, Trans7 ama TVOne. :(
Gak ada trans tv?! *tepok jidat*
ReplyDeletePadahal dibanding stasiun lain trans tv bisalah yang lebih atas dikit kualitas tayangannya.